INTERN YANG DIPAKSA MENJADI BARISTA KANTOR KARENA MEREKA MENGIRA DIA “ORANG MISKIN”HINGGA SEBUAH USB YANG KUBERSIHKAN TERJATUH… DAN MEMBUAT SELURUH KANTOR DI MAKATI TERDIAM

Maricar Santos melempar folder evaluasiku ke atas meja.

“Isabella Reyes, enam bulan intern di departemen strategi, nilai tertinggi di seluruh divisi Manila.”

Ia tersenyum dingin.

“Dan sekarang?”

Aku berdiri di depan meja kacanya, memegang erat tali tasku.

“Sesuai pengumuman internal, kandidat dengan performa tertinggi akan dipertimbangkan untuk posisi tetap.”

Maricar tertawa kecil.

“Ini Del Rosario Holdings, bukan sekolah.”

Di sana sudah ada Camille Vergara—anak konglomerat media—yang langsung dipilih menggantikanku.

HR mulai menertawakan aku.

Lalu kontrakku dirobek di depan semua orang.

“Mulai sekarang kamu jadi pantry assistant.”

“Bikin kopi, bersihin meja, gaji minimum.”

Camille tersenyum mengejek.

“Memang cocok.”

“Biar kamu tidak perlu berpura-pura jadi orang penting.”

Aku hanya diam.

Lalu berkata pelan:

“Bagaimana kalau saya tidak tanda tangan?”

Maricar tersenyum.

“Kamu akan dihancurkan di seluruh jaringan HR Makati.”

Aku melihat gelang Cartier di tangannya.

“Aneh,” kataku pelan.

“Bulan lalu yang membawanya ke butik Greenbelt… bukan Anda yang tercatat sebagai pemilik.”

Suasana langsung membeku.

Aku keluar dari ruangan itu.

Dan di lobi…

Seorang pria tua berhenti menatapku dan liontin di leherku.

Dia tidak berkata apa-apa.

Tapi matanya berubah.


Beberapa jam kemudian

Di café seberang gedung Del Rosario Holdings, aku menerima telepon.

“Señorita…”

“Situasinya lebih buruk dari dugaan?”

Aku menatap gedung itu.

“Lebih buruk.”

Aku adalah cucu dari pendiri perusahaan itu, Alejandro Del Rosario, tapi identitasku disembunyikan.

Aku masuk sebagai intern untuk melihat siapa yang mengkhianati keluarga ini.

Dan hari ini…

Aku melihat semuanya.


Keesokan paginya

Aku kembali.

Bukan sebagai staf strategi.

Tapi sebagai pantry assistant.

Camille menertawakanku.

“Benar-benar kembali?”

Maricar mengejek.

“Tidak ada harga diri?”

Aku hanya bekerja seperti biasa.

Sampai siang hari…

Aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka di VIP meeting room:

“Delapan juta peso selisihnya tetap lewat perusahaan perantara.”

“Semua sudah kita kontrol.”

“Audit tidak masalah.”

Tanganku berhenti.

Aku merekam semuanya.

Lalu—

“APA YANG KAMU LAKUKAN DI SINI?!”

USB di sakuku jatuh ke lantai.

Silver USB dengan logo matahari keluarga Del Rosario.

Simbol tingkat tertinggi perusahaan.

Pintu ruang meeting terbuka.

Dan orang pertama yang keluar…

Adalah Don Ramon Castillo.

Ruangan itu tidak lagi terasa seperti kantor.

Lebih seperti tempat eksekusi yang baru saja kehilangan waktunya.

Don Ramon Castillo berhenti tepat di ambang pintu.

Tatapannya jatuh ke USB di lantai.

Lalu ke wajahku.

Tidak ada panik di matanya.

Hanya satu hal—

pengakuan yang terlambat.

“Jadi… akhirnya kamu muncul juga,” katanya pelan.

Suasana langsung berubah.

Camille mundur setengah langkah.

“Don Ramon… apa maksud Anda?”

Tidak ada jawaban.

Maricar mencoba tertawa, tapi suaranya patah di tengah jalan.

“Ini cuma intern, Sir. Dia tidak tahu apa-apa—”

“Diam.”

Satu kata itu membuat seluruh ruangan jatuh sunyi.

Don Ramon menutup pintu meeting room di belakangnya.

Klik.

Seperti mengunci nasib semua orang di dalam gedung itu.

Aku membungkuk, mengambil USB itu perlahan.

Debu kecil di lantai tidak lagi penting.

Yang penting adalah satu hal:

semua yang mereka sembunyikan… sudah ada di tanganku.

Aku menatap Don Ramon.

“Delapan juta peso itu hanya untuk proyek Pacific Star?” tanyaku tenang.

Tidak ada getaran di suaraku.

Tapi seluruh HR room langsung tegang.

Dia tersenyum tipis.

“Kamu mendengar banyak hal untuk seorang ‘pantry assistant’.”

Aku mengangguk kecil.

“Karena saya memang bukan itu.”

Hening.

Lalu aku melangkah ke depan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Setiap sepatu hakku di lantai marmer terdengar seperti ketukan palu.

Aku berhenti tepat di depan Camille.

Dia tidak lagi tersenyum.

“Siapa… kamu sebenarnya?” suaranya nyaris tidak keluar.

Aku menatapnya.

Lalu ke Maricar.

Lalu ke semua orang yang pernah tertawa kemarin.

“Aku orang yang kalian pikir tidak penting,” jawabku pelan.

“Kesalahan kalian adalah… kalian terlalu nyaman merendahkan orang yang tidak kalian kenal.”

Aku menoleh sedikit ke arah Don Ramon.

“Dan terlalu percaya bahwa keluarga Del Rosario sudah mati.”

Wajah Don Ramon berubah.

Untuk pertama kalinya.

Aku mengangkat USB di tanganku.

“Di sini ada semua transfer ilegal.”

“Semua perusahaan boneka.”

“Semua nama yang kalian pakai untuk mencuri dari perusahaan ini.”

Aku berhenti sejenak.

Lalu menambahkan:

“Termasuk nama kalian.”

Sunyi.

Tidak ada yang berani bernapas keras.

Camille akhirnya berbisik, “Kamu tidak bisa membuktikan itu…”

Aku tersenyum kecil.

“Sudah terbukti sejak aku masih intern.”

Aku menekan tombol di USB.

Dan dalam hitungan detik—

layar meeting room otomatis menyala.

Grafik.

Transfer bank.

Rekaman suara.

Nama-nama.

Semuanya muncul.

Wajah Don Ramon langsung pucat.

Maricar jatuh terduduk di kursinya.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

“Server itu… hanya bisa diakses level tertinggi…”

Aku menatap mereka.

“Ya.”

“Dan aku adalah salah satunya.”

Sunyi total.

Lalu suara langkah terdengar dari luar.

Banyak.

Cepat.

Pintu terbuka lagi.

Security perusahaan masuk, diikuti oleh staf legal.

Di belakang mereka…

seorang pria tua dengan rambut putih.

Alejandro Del Rosario.

Seluruh ruangan membeku.

Dia tidak menatap siapa pun.

Hanya menatapku.

Lalu ke layar.

Lalu menutup mata sebentar.

“Akhirnya…” katanya pelan.

“Aku tidak salah memilih.”

Don Ramon mundur setengah langkah.

“Itu tidak mungkin… kamu seharusnya di rumah sakit—”

Alejandro mengangkat tangan.

“Bawa mereka semua.”

Satu kalimat.

Dan semuanya runtuh.

Camille mulai menangis.

Maricar mencoba bicara tapi tidak ada suara keluar.

Don Ramon hanya menatapku lama.

Lalu tersenyum kecil.

“Kamu masuk ke perusahaan sebagai intern hanya untuk ini?”

Aku mengangguk.

“Tidak.”

Aku menatapnya lurus.

“Aku masuk untuk memastikan… apakah perusahaan ini masih bisa diselamatkan.”

Aku berhenti.

“Dan jawabannya sudah jelas.”

Aku berjalan melewati mereka.

Sekarang tidak ada lagi yang tertawa.

Tidak ada yang merendahkan.

Tidak ada yang berani memandangku seperti kemarin.

Saat aku sampai di pintu, Alejandro berbicara pelan di belakangku.

“Kamu akan kembali ke posisi resmi?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku menatap gedung besar itu.

Tempat yang kemarin menganggapku tidak ada.

Lalu aku berkata:

“Tidak.”

Aku menoleh sedikit.

“Aku akan membangun ulang semuanya.”

“Dari awal.”

“Tanpa orang seperti mereka.”

Aku keluar.

Angin Makati menyambutku.

Di belakangku, pintu kaca Del Rosario Holdings tertutup.

Tapi kali ini…

bukan aku yang ditinggalkan.

Mereka yang akhirnya ditinggalkan oleh masa depan mereka sendiri.