Rafi menatapku begitu masuk ke rumah.
“Iya,” jawabku tenang. “Ada masalah?”
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa kamu tidak membicarakannya denganku dulu?”
Aku hampir tertawa mendengar itu.
“Kalau begitu, kenapa selama enam tahun kamu tidak pernah membicarakan transfer bulananmu kepada orang tuamu denganku?”
Rafi terdiam.
Aku melanjutkan:
“Kamu mengirim Rp18 juta setiap bulan kepada orang tuamu. Aku hanya melakukan hal yang sama untuk orang tuaku.”
“Itu berbeda!”
“Apa bedanya?”
Nada suaraku mulai dingin.
“Orang tuamu adalah orang tua. Orang tuaku juga orang tua.”
“Kamu bilang berbakti kepada orang tua itu hal yang wajar. Aku setuju. Jadi kenapa saat aku melakukannya, tiba-tiba menjadi masalah?”
Rafi membuka mulutnya, tetapi tidak bisa menjawab.
Malam itu kami bertengkar hebat untuk pertama kalinya sejak menikah.
Dan sejak hari itu, setiap tanggal lima belas, aku mengirim Rp18 juta kepada kedua orang tuaku tanpa pernah absen.
Awalnya Rafi terus mengeluh.
Katanya biaya rumah tangga semakin berat.
Katanya tabungan keluarga akan berkurang.
Katanya aku terlalu emosional.
Namun aku hanya mengembalikan satu kalimat yang dulu pernah dia katakan kepadaku.
“Berbakti kepada orang tua adalah hal yang wajar.”
Dia tidak bisa membantah.
Empat bulan berlalu.
Suatu malam, kami sedang makan malam bersama.
Suasana rumah sangat sunyi.
Lulu yang saat itu berusia lima tahun sedang menggambar di samping meja makan.
Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya.
“Mama?”
“Ada apa, Sayang?”
“Kenapa Papa selalu mengirim uang ke Nenek Lina, lalu Mama mengirim uang ke Nenek Maya?”
Aku tersenyum.
“Karena mereka sudah membesarkan kami.”
Lulu mengangguk seolah mengerti.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan langsung membeku.
“Kalau begitu nanti saat Lulu besar, Lulu cuma perlu mengirim uang ke Mama saja ya?”
Sendok di tangan Rafi jatuh ke meja.
Aku juga terpaku.
Lulu melanjutkan dengan polos:
“Karena yang membesarkan Lulu kan Mama.”
“Papa selalu berangkat pagi dan pulang malam.”
“Kalau Lulu sakit, Mama yang menjaga.”
“Kalau ada PR, Mama yang mengajari.”
“Kalau Lulu takut petir, Mama yang menemani tidur.”
Anak kecil itu menghitung dengan jari-jarinya.
“Jadi nanti Lulu kirim uang ke Mama saja.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Untuk pertama kalinya, aku melihat wajah Rafi berubah pucat.
Dia menatap putrinya dengan tidak percaya.
“Lulu… Papa juga sayang sama kamu.”
“Aku tahu.”
Lulu mengangguk.
“Tapi Mama lebih capek.”
Kalimat sederhana itu menghantam hati kami berdua.
Aku menunduk dan tidak berkata apa-apa.
Sedangkan Rafi terdiam sangat lama.
Malam itu, setelah Lulu tertidur, dia duduk sendirian di balkon.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, dia meminta maaf.
“Aku salah.”
Aku menoleh.
Dia menatap lampu-lampu kota di kejauhan.
“Selama ini aku selalu menganggap pengorbananku untuk orang tuaku adalah hal yang benar.”
“Tapi aku tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanmu.”
“Aku juga tidak pernah memikirkan orang tuamu.”
Angin malam berhembus pelan.
“Aku bahkan tidak sadar kalau selama bertahun-tahun, kamu selalu mengalah.”
Mataku sedikit memanas.
Karena selama enam tahun itu, tidak sekali pun dia pernah mengatakan hal tersebut.
“Kita kurangi pengiriman bulanan untuk kedua keluarga menjadi jumlah yang sama,” katanya perlahan.
“Lalu sisanya kita tabung untuk masa depan Lulu.”
“Aku ingin memperlakukan kedua orang tua kita dengan adil.”
Aku menatapnya cukup lama.
Lalu akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Sejak hari itu, tidak ada lagi pertengkaran tentang uang.
Kedua orang tua kami menerima jumlah yang sama.
Tabungan pendidikan Lulu juga semakin bertambah.
Dan yang paling penting…
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menikah, aku merasa benar-benar dihargai sebagai pasangan, bukan sekadar seseorang yang selalu diminta mengerti.
Kadang-kadang, orang dewasa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami sebuah kebenaran.
Namun seorang anak kecil hanya membutuhkan satu kalimat sederhana untuk mengatakannya.
“Kalau nanti aku besar, aku akan membalas orang yang paling banyak berkorban untukku.”

Epilog
Tiga tahun kemudian.
Lulu sudah duduk di bangku sekolah dasar.
Suatu hari, sekolahnya mengadakan acara “Hari Keluarga”.
Setiap murid diminta menulis sebuah surat untuk orang yang paling mereka syukuri dalam hidup.
Malam sebelum acara, Lulu duduk di ruang tamu sambil menggigit ujung pensilnya.
“Mama, kalau aku menulis untuk dua orang boleh tidak?”
“Tentu boleh.”
“Kalau tiga orang?”
Aku tertawa.
“Boleh juga.”
Lulu mengangguk puas lalu kembali menulis.
Keesokan harinya, aku dan Rafi menghadiri acara sekolah bersama.
Satu per satu anak naik ke atas panggung untuk membacakan surat mereka.
Saat nama Lulu dipanggil, dia berjalan ke depan dengan langkah kecilnya.
Mikrofon hampir setinggi dagunya.
Seluruh aula tertawa pelan.
Lalu Lulu membuka kertasnya.
“Saya ingin berterima kasih kepada tiga orang.”
“Pertama, Mama.”
Mataku langsung memanas.
“Karena Mama selalu menemani saya belajar, menjaga saya saat sakit, dan selalu mendengarkan cerita saya.”
“Yang kedua, Kakek dan Nenek Maya.”
“Mereka tidak punya banyak uang waktu Mama masih kecil, tapi mereka bekerja keras supaya Mama bisa sekolah dan menjadi orang baik.”
Aku terdiam.
Bahkan kedua orang tuaku yang duduk di belakang ikut menundukkan kepala.
Lalu Lulu melanjutkan.
“Yang ketiga…”
Dia menoleh ke arah Rafi.
“Papa.”
Rafi langsung membeku.
“Papa pernah membuat Mama sedih.”
Seluruh aula tiba-tiba sunyi.
Aku hampir tersedak.
Namun Lulu melanjutkan dengan wajah polos.
“Tapi Papa sekarang sudah berubah.”
“Papa sering memasak.”
“Papa sering membantu mencuci piring.”
“Papa juga sering mengantar saya ke sekolah.”
“Saya senang karena Papa sekarang lebih menyayangi Mama.”
Suara kecil itu terdengar sederhana.
Namun aku melihat mata Rafi langsung memerah.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku melihatnya menangis di depan banyak orang.
Setelah acara selesai, Lulu berlari menghampiri kami.
“Papa kenapa menangis?”
Rafi berjongkok dan memeluk putrinya erat-erat.
“Karena Papa sangat beruntung punya Lulu.”
Malam itu, setelah Lulu tertidur, Rafi mengeluarkan sebuah kotak kecil dari laci.
Aku menatapnya heran.
Dia tersenyum canggung.
“Aku sebenarnya sudah menyiapkan ini selama berbulan-bulan.”
Ketika kotak itu dibuka, di dalamnya terdapat sebuah cincin baru.
Bukan cincin mahal.
Bukan pula berlian besar.
Namun di bagian dalamnya terukir kalimat sederhana:
“Terima kasih karena tidak menyerah pada keluarga ini.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Semua luka, semua pertengkaran, semua air mata selama bertahun-tahun terasa seperti akhirnya menemukan jawabannya.
Rafi menggenggam tanganku.
“Dulu aku selalu berpikir bahwa berbakti berarti hanya memberi kepada orang tua.”
“Tapi Lulu membuatku sadar.”
“Orang yang selalu berada di samping kita juga pantas dihargai.”
“Dan orang yang paling banyak berkorban untuk keluarga ini…”
Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Adalah kamu.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena setelah bertahun-tahun mengalah, berjuang, dan menunggu…
Akhirnya ada seseorang yang benar-benar melihat semua pengorbananku.
Di kamar sebelah, terdengar suara dengkuran kecil Lulu.
Aku tersenyum sambil menggenggam tangan suamiku.
Kadang-kadang, keluarga tidak menjadi lebih baik karena uang yang lebih banyak.
Tetapi karena seseorang akhirnya belajar untuk menghargai orang yang selama ini diam-diam berkorban untuk mereka.
Dan bagi kami, orang itu adalah seorang gadis kecil bernama Lulu.