Kakak perempuanku adalah Campus Queen.
Namanya Lianne Soriano.
Sementara aku… hanya “versi diskon”-nya.
Semua pria yang mendekatinya selalu melewatiku dulu, hanya untuk mengambil hati Kakakku.
Dan pria-pria yang menyukaiku? Mereka adalah orang-orang yang bahkan tak pernah dilirik olehnya.
Aku hanya ingin keluar dari bayangannya.
Sampai suatu hari, satu-satunya mantan pacar yang paling ia cintai menatapku dan bertanya:
“Menikahlah denganku.”
Aku menatap wajah dingin tapi tampan Thiago Reyes, dan entah kenapa yang keluar dari mulutku adalah:
“Baik.”
Kami hidup diam-diam selama enam tahun, dalam pernikahan yang tidak diketahui siapa pun.
Sampai Kakakku kembali ke Filipina.
Semua orang menantikan hari “kesempatan kedua” mereka.
Sementara aku… dengan tenang memesan tiket pesawat.
“Aku masih ada urusan. Aku pergi duluan.”
1
Kabar kepulangan Kakakku, aku justru jadi orang terakhir yang tahu.
Aku mengetahuinya dari grup chat lama teman-teman SMA kami di Manila.
Mantan Ketua Kelas kami memamerkan screenshot percakapannya dengan Lianne, lalu memposting:
“Dewi kita, Lianne Soriano, akan pulang ke Filipina! Siapa yang ikut jemput ke bandara? Absen sekarang!”
Lianne memang selalu jadi pusat perhatian.
Belum sepuluh menit, balasan sudah lebih dari 99+.
Entah siapa yang pertama menulis:
“Harus ajak Thiago juga!”
Dan obrolan langsung meledak.
“Mereka dulu power couple paling legendaris di sekolah!”
“Ingat debat nasional? Thiago pembuka, Lianne penutup — lawan sampai tak bisa bernapas.”
“Video promosi universitas mereka dulu manis banget!”
“Sayang banget, habis lulus malah putus.”
“Katanya dua-duanya masih single… mungkin ini reuni cinta, hahaha!”
Semua kenangan lama hidup kembali.
Mereka ingat saat Lianne memainkan biola di rooftop kampus, begitu indah seolah seluruh cahaya dunia hanya tertuju padanya.
Mereka ingat Thiago yang dingin dan tak peduli siapa pun, tapi hanya melembut di depan Lianne.
Yang tidak mereka tahu…
Thiago sekarang adalah suamiku.
Tiba-tiba mantan teman sebangkuku menandai namaku.
“Thanh, curang banget! Kamu adiknya Dewi tapi kami malah tak dapat kabar kepulangannya. Kami yang dari provinsi tak sempat ke bandara!”
Aku lama menatap layar, tak tahu harus menjawab apa.
Apa harus bilang kami tak dekat?
Bahwa hubungan kami di rumah tak pernah baik?
Ia pulang tanpa memberitahuku. Bahkan orang tuaku pun tak tahu sebelumnya.
Aku hampir mengetik balasan… lalu teringat, aku bahkan belum menanyakan ini pada Thiago.
Tujuh tahun ia belajar di luar negeri.
Enam tahun kami menikah.
Aku ingin mengirim pesan padanya.
Tapi kupikir… lebih baik bicara langsung.
Namun… harus berkata apa?
“Thiago, ‘The One That Got Away’-mu sudah kembali. Haruskah aku menyingkir?”
Sepulang kerja, aku mulai memasak.
Thiago suka nasi yang sedikit lembek.
Sup jamur dan scallop harus di suhu yang pas — tidak terlalu mendidih, tapi juga tidak dingin.
Belum selesai memasak, ponselku berdering.
Thiago.
“Thanh, ibumu menelepon. Katanya kurang enak badan. Kalau kamu sempat, tolong jenguk dia… untukku.”
Dia berkata “untukku,” bukan “kamu harus.”
Aku bersyukur untuk itu.
Thiago tahu hubunganku dengan Mama tidak baik.
Beberapa tahun terakhir, ia bahkan lebih perhatian pada ibu mertuanya dibanding menantu pada umumnya.
Wajar saja.
Sejak kecil ia dan Lianne sudah dekat.
Keluarga kami berteman lama.
Saat mereka masih pacaran, semua orang iri.
Saat mereka putus, semua orang menyesal.
Ketika Lianne berangkat ke Eropa, Mama pernah berkata dengan sedih:
“Sayang sekali. Kukira Thiago akan jadi menantuku selamanya.”
Kalau Mama tahu bahwa wanita yang dinikahi Thiago adalah anak yang selalu ia benci…
Mungkin ia akan lebih menyesal lagi.
Sebelum ke rumah orang tua, aku membeli buah di pinggir jalan.
Harganya hanya 500 peso satu kantong.
Begitu aku mengetuk pintu, terdengar suara ceria seorang wanita dari dalam:
“Thiago, kamu sudah datang…”
Saat melihatku berdiri di depan pintu, senyum Lianne langsung menghilang.
Mama dan Papa muncul dari dapur dengan wajah muram.
“Kami menelepon Thiago. Kenapa kamu yang datang?”
Aku menaruh buah di meja dan menjawab tenang:
“Aku hanya datang menjenguk Mama.”
Bagaimanapun… aku juga anak di rumah ini.
Mama mengerutkan kening saat mengambil kantong buah itu.
“Lianne (Thur Cẩn) baru pulang dari Eropa, dan kamu cuma bawa ini?”
Sepanjang dinding ruang tamu penuh oleh oleh-oleh dari Eropa — tas bermerek, parfum mahal, cokelat impor berharga ribuan peso.
Dibandingkan itu, buah murahku tampak seperti sampah.
Aku mengabaikan nada kecewa Mama.
“Thiago bilang Mama sakit. Dia sibuk, jadi menyuruhku datang.”
Mama tak peduli kenapa aku yang datang.
Ia menoleh ke Papa dan berkata:
“Telepon lagi Thiago. Lianne susah payah pulang, mereka harus bertemu.”
Aku melirik meja makan.
Semua hidangan di sana adalah favorit Thiago.
Jadi ini alasan mereka memanggilnya.
Mama masih sempat memperingatkanku:
“Thanh, nanti kalau Thiago datang, bersikaplah baik.”
“Kalau kamu merusak kesempatan kakakmu… kamu akan berurusan denganku!”
Aku tersenyum pahit.
“Bagaimana kalau… Thiago sudah tidak single?”
Mata Mama membesar.
“Jangan bicara sembarangan!”
“Kakakmu menunggunya bertahun-tahun! Dia pulang untuk memperbaiki semuanya!”
Amarah terasa menyumbat tenggorokanku.
Aku hendak membalas—
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari pintu.
Suara yang sopan, tegas, dan sangat dingin.
Thiago sudah datang.
Dan kalimat pertamanya…
membuat seluruh ruangan terdiam.

Thiago tersenyum pelan.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut.
“Kepercayaan diri itu biar aku yang bangun untukmu… pelan-pelan.”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa seperti bayangan siapa pun.
Beberapa hari kemudian, kabar pernikahan kami menyebar.
Bukan karena kami sengaja mengumumkannya.
Tapi karena Thiago.
Ia mengunggah satu foto sederhana di media sosial.
Bukan foto mewah.
Bukan pesta besar.
Hanya foto tangannya menggenggam tanganku.
Di jari manisku ada cincin yang sudah kupakai enam tahun ini — cincin yang selama ini kusembunyikan di balik alasan “aksesoris biasa”.
Caption-nya singkat:
“Enam tahun lalu aku menikahi wanita yang memilih tinggal saat semua orang pergi.
Dan hari ini, aku masih memilihnya.
Istriku.”
Tak ada nama yang disebut.
Tapi semua orang tahu.
Grup chat SMA kembali meledak.
“Thiago sudah menikah?!”
“Sejak kapan?!”
“Kenapa tidak pernah ada kabar?”
“Lianne baru pulang dan…”
Kali ini, tak ada yang berani melanjutkan kalimatnya.
Mama meneleponku malam itu.
Untuk pertama kalinya, suaranya tidak keras.
“Kamu… benar-benar menikah dengannya?”
“Ya, Ma.”
Hening beberapa detik.
Lalu pelan sekali, ia berkata:
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku tersenyum pahit.
“Karena dulu… tidak ada yang mau mendengar.”
Di ujung sana, Mama terdiam.
Ia akhirnya berkata pelan:
“Dia datang hari itu… bukan karena Lianne.”
“Dia datang karena kamu.”
Air mataku hampir jatuh.
Enam tahun.
Enam tahun hidup diam-diam.
Bukan karena malu.
Tapi karena aku selalu merasa aku hanyalah pilihan kedua.
Padahal kenyataannya…
Aku adalah pilihan yang dipertahankan.
Beberapa minggu kemudian, Lianne kembali ke Eropa.
Tanpa pesta perpisahan besar.
Tanpa airport ramai.
Sebelum pergi, ia mengirimiku satu pesan:
“Jaga dia baik-baik.
Kali ini… aku kalah bukan karena kurang bersinar.
Tapi karena aku pergi.”
Aku membaca pesan itu lama sekali.
Lalu membalas singkat:
“Terima kasih sudah pernah mencintainya.
Karena kalau tidak, mungkin aku tidak akan pernah mengenalnya.”
Aku tidak lagi membencinya.
Karena aku akhirnya mengerti sesuatu—
Orang yang paling bersinar bukan selalu orang yang menang.
Kadang, yang menang adalah yang bertahan.
Suatu malam, aku dan Thiago makan malam di apartemen kecil kami.
Bukan mansion.
Bukan rumah penuh hadiah impor ribuan euro.
Hanya rumah sederhana yang kami beli bersama dengan tabungan enam tahun.
Aku bertanya padanya:
“Kalau hari itu aku menolak lamaranmu… apa yang akan kamu lakukan?”
Thiago tersenyum.
“Aku akan tetap menikahimu.”
Aku tertawa.
“Percaya diri sekali?”
Ia menggeleng.
“Bukan. Karena waktu itu, aku sudah tahu satu hal.”
“Apa?”
Ia menatapku dalam-dalam.
“Dalam hidupku, aku tidak butuh ratu kampus.”
“Aku butuh rumah.”
Tanganku berhenti di udara.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku tidak lagi merasa seperti “versi diskon”.
Karena cinta tidak memilih yang paling bersinar.
Cinta memilih yang tinggal.
Dan kali ini—
Aku bukan bayangan siapa pun.
Aku adalah istri Thiago.
Dan yang lebih penting—
Aku akhirnya menjadi diriku sendiri.