Saat melewati meja kerjaku, langkahnya sempat melambat, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya ia hanya menundukkan kepala dan pergi.
Pukul sepuluh pagi, Zoe Putri kembali memanggilnya ke ruangannya.
Kali ini, suara pertengkaran mereka terdengar jauh lebih jelas.
“Kalau memang tidak mampu, kenapa dari awal kamu bilang bisa?!”
Suara Zoe terdengar tajam dan penuh amarah.
Patrick menjawab dengan suara pelan.
“Saya memang bisa bahasa Prancis, Bu Zoe, tapi istilah-istilah teknik ini terlalu rumit. Bahkan kalau diberi waktu satu bulan pun belum tentu saya bisa menguasainya…”
“Diam!”
Zoe membanting meja.
“Direktur Lucas sudah percaya pada saya! Kalau proyek ini gagal, reputasi saya habis!”
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Patrick keluar dengan wajah pucat.
Dia berhenti di depan mejaku.
Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi kesombongan di matanya.
“Pak Sean…”
Aku mengangkat kepala.
“Ada apa?”
Dia menggigit bibirnya.
“Bisakah… bisakah Bapak membantu saya?”
Aku tersenyum tipis.
“Bukankah Anda lulusan sekolah bisnis di Lyon? Bukankah kemampuan bahasa Prancis Anda jauh lebih profesional dibanding saya?”
Wajah Patrick langsung memerah.
“Aku salah…”
“Pak Sean, aku benar-benar salah.”
“Kalau proyek ini gagal, aku pasti habis.”
Aku menatapnya beberapa saat.
“Lalu, menurutmu siapa yang membuat semua ini terjadi?”
Patrick terdiam.
Beberapa detik kemudian, dia menundukkan kepala.
“Bu Zoe.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Orang yang paling bersalah adalah dirimu sendiri.”
“Kamu tahu kemampuanmu tidak cukup, tapi tetap menerima posisi itu demi menyenangkan atasan.”
“Kalau proyek bernilai Rp270 miliar ini benar-benar gagal, apakah kamu mampu menanggung akibatnya?”
Tubuh Patrick langsung gemetar.
Dia akhirnya sadar.
Yang diperebutkan Zoe bukan sekadar jabatan.
Melainkan masa depan banyak orang di perusahaan ini.
Kedatangan Madame Sophie
Hari Senin pun tiba.
Seluruh pimpinan WS Construction sudah berkumpul di lobi.
Tepat pukul sembilan pagi, seorang wanita Prancis berusia sekitar lima puluh tahun berjalan masuk bersama rombongannya.
Wanita itu adalah Sophie Laurent, Wakil Presiden MBT Construction Group.
Begitu melihatku berdiri di belakang kerumunan, matanya langsung berbinar.
“Sean!”
Ia tersenyum lebar dan langsung menghampiriku.
Semua orang terkejut.
Madame Sophie bahkan memelukku seperti seorang teman lama.
“Mon Dieu! Sean! Akhirnya kita bertemu lagi!”
“Tahun lalu kau bilang ingin belajar membuat rendang Padang, aku sudah mencobanya di Prancis!”
Aku tertawa.
“Bagaimana rasanya?”
“Wah, terlalu pedas! Aku hampir menangis!”
Seluruh orang yang berdiri di sekitar kami tercengang.
Mereka baru sadar.
Selama enam tahun terakhir, hubungan antara WS Construction dan MBT Group bukan hanya dijaga oleh kontrak.
Tetapi juga oleh kepercayaan yang perlahan dibangun.
Dan orang yang membangun semuanya…
Adalah aku.
Mimpi Zoe Hancur Seketika
Wajah Zoe Putri langsung berubah.
Ia buru-buru maju.
“Madame Sophie, saya Zoe Putri, Manager Administrasi yang baru.”
Namun Sophie hanya tersenyum sopan.
Lalu bertanya kepadaku dalam bahasa Prancis:
“Sean, siapa dia?”
Aku belum sempat menjawab.
Patrick yang berdiri di samping Zoe sudah mulai menerjemahkan dengan gugup.
Sayangnya…
Dia salah menerjemahkan.
Kalimat sederhana “Siapa dia?” justru diterjemahkannya menjadi:
“Madame Sophie bertanya apakah Anda puas dengan pelayanan perusahaan kami.”
Suasana mendadak menjadi hening.
Sophie mengernyitkan dahi.
“Apa?”
Ia mengulangi pertanyaannya.
Patrick semakin panik.
Dan kali ini…
Terjemahannya malah semakin kacau.
Madame Sophie akhirnya menatapku dengan bingung.
“Sean, apa yang terjadi?”
Aku tersenyum tenang.
“Lupakan saja.”
“Lama sekali kita tidak bertemu.”
Mari kita mulai inspeksi hari ini.”
Sophie mengangguk senang.
Lalu, tepat di depan semua orang, ia berkata:
“Kalau Sean tidak ikut mendampingi, aku rasa kunjungan kali ini tidak perlu dilanjutkan.”
Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.
Wajah Zoe langsung memucat.
Patrick hampir jatuh karena panik.
Bahkan Direktur Lucas ikut terkejut.
Kebenaran Akhirnya Terungkap
Setelah pertemuan selesai, Direktur Lucas langsung memanggil seluruh pimpinan ke ruang rapat besar.
Begitu pintu ditutup, ia membanting berkas di atas meja.
“Zoe Putri!”
“Siapa yang memberimu hak menghapus tunjangan Sean tanpa persetujuanku?!”
Zoe gemetar.
“Tapi… tapi itu bukan pekerjaan resmi—”
“Bukan pekerjaan resmi?”
Lucas tertawa dingin.
“Selama enam tahun, siapa yang menjaga hubungan dengan MBT Group?”
“Siapa yang menerjemahkan ribuan dokumen?”
“Siapa yang menyelamatkan puluhan negosiasi penting?”
“Dan sekarang kamu bilang itu bukan pekerjaan resmi?”
Zoe sudah hampir menangis.
“Saya… saya hanya ingin memperbaiki sistem…”
“Memperbaiki sistem?”
Direktur Lucas menunjuk ke arah pintu.
“Kamu hampir menghancurkan proyek Rp270 miliar!”
“Mulai hari ini, kamu diberhentikan dari jabatan Manager Administrasi!”
“Sementara Patrick Wijaya, kembali ke posisi staf biasa dan menjalani evaluasi.”
Keduanya langsung terdiam.
Akhir yang Memuaskan
Sore harinya, Direktur Lucas datang sendiri ke mejaku.
Ia meletakkan sebuah amplop tebal.
“Sean.”
“Aku berutang maaf padamu.”
“Mulai bulan depan, kamu resmi diangkat menjadi Manager Hubungan Internasional.”
“Selain itu, seluruh tunjangan yang sempat dihentikan akan dibayarkan kembali secara penuh, termasuk kompensasi enam tahun terakhir.”
Aku tersenyum kecil.
“Pak Lucas, saya tidak pernah mempermasalahkan uang.”
“Saya hanya tidak ingin usaha seseorang dianggap tidak ada.”
Direktur Lucas mengangguk pelan.
“Karena itulah aku tidak boleh kehilangan orang seperti kamu.”
Sebulan kemudian, kabar pemecatan Zoe Putri sudah menyebar ke seluruh kantor pusat.
Konon, tidak ada satu pun perusahaan besar yang mau menerimanya lagi.
Sedangkan Patrick, setelah mengalami kejadian itu, berubah total.
Ia mulai belajar dengan rendah hati.
Bahkan sesekali masih datang kepadaku untuk bertanya tentang istilah-istilah teknik dalam bahasa Prancis.
Dan setiap kali Madame Sophie datang ke Indonesia, ia selalu membawa oleh-oleh dari Prancis.
Sambil tertawa, ia akan berkata:
“Sean, kalau suatu hari kau pensiun, aku yang akan merekrutmu ke Prancis!”
Aku hanya tersenyum.
Karena aku tahu, di dunia kerja…
Kemampuan mungkin bisa dipelajari.
Tetapi rasa hormat terhadap kerja keras orang lain, serta kerendahan hati untuk mengakui batas diri sendiri…
Adalah kualitas yang jauh lebih berharga daripada gelar apa pun.

Namun, cerita itu belum benar-benar berakhir.
Tiga bulan kemudian, kantor pusat WS Construction mengirimkan tim audit khusus dari Jakarta.
Alasannya sederhana.
Setelah menyelidiki laporan pemecatan Zoe Putri, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih serius.
Selama menjabat sebagai Manager Administrasi, Zoe ternyata bukan hanya bertindak semena-mena.
Ia diam-diam telah menggunakan wewenangnya untuk memotong berbagai tunjangan karyawan, memaksa bawahan bekerja lembur tanpa kompensasi, dan bahkan memanipulasi laporan evaluasi pegawai untuk membangun “prestasi” palsu demi mempercepat kenaikan jabatannya.
Berita itu langsung mengguncang seluruh perusahaan.
Dan orang yang paling ketakutan bukanlah Zoe.
Melainkan para petinggi di kantor pusat yang sebelumnya merekomendasikan namanya.
Tidak lama kemudian, hasil investigasi diumumkan.
Zoe Putri diberhentikan secara permanen dari seluruh jaringan perusahaan WS Group.
Namanya bahkan masuk ke daftar hitam internal.
Sementara itu, Patrick Wijaya secara terbuka datang ke ruang kerjaku.
Di depan seluruh rekan satu departemen, ia membungkukkan badan sembilan puluh derajat.
“Pak Sean, terima kasih.”
“Kalau bukan karena Bapak, mungkin saya akan terus hidup dalam kesombongan.”
“Saya akhirnya mengerti bahwa gelar dan pengalaman di luar negeri bukan berarti apa-apa jika tidak disertai kerendahan hati.”
Semua orang di kantor terdiam.
Karena mereka tahu, permintaan maaf itu keluar dari hati yang tulus.
Aku tersenyum.
“Patrick, tidak ada orang yang terlahir hebat.”
“Yang membedakan seseorang hanyalah apakah dia mau belajar setelah melakukan kesalahan.”
Mata Patrick memerah.
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku melihatnya sebagai seorang rekan kerja yang sesungguhnya.
Enam bulan kemudian.
WS Construction berhasil menandatangani perpanjangan kontrak strategis senilai Rp1,8 triliun dengan MBT Construction Group dari Prancis.
Dalam acara penandatanganan tersebut, Madame Sophie berdiri di depan para pemegang saham dan berkata sambil tersenyum:
“Selama enam tahun, saya percaya pada WS Construction.”
“Tetapi alasan terbesar saya mempertahankan kerja sama ini…”
“… adalah karena saya percaya pada seorang pria bernama Sean Mateo.”
Seluruh ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan.
Direktur Lucas bahkan berdiri dan ikut bertepuk tangan paling keras.
Setelah acara selesai, beliau menghampiriku sambil menyerahkan sebuah map merah.
“Sean.”
“Mulai hari ini, kamu resmi diangkat sebagai Director of International Affairs.”
“Aku sudah tua.”
“Suatu hari nanti, perusahaan ini membutuhkan orang yang mengerti bahwa kepercayaan lebih berharga daripada keuntungan sesaat.”
Aku membuka map itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat surat pengangkatan jabatan dan bonus khusus sebesar Rp3 miliar.
Namun, yang membuat mataku memanas bukanlah angka itu.
Melainkan kalimat yang tertulis di bagian bawah surat tersebut:
“Untuk enam tahun dedikasi yang tidak pernah tercatat dalam jabatan, tetapi selalu tercatat dalam hati seluruh perusahaan.”
Aku tersenyum pelan.
Tiba-tiba teringat pada diriku enam tahun lalu.
Seorang staf administrasi biasa.
Tidak memiliki jabatan.
Tidak memiliki gelar mewah.
Bahkan tidak memiliki siapa pun yang memperhatikannya.
Tetapi aku tidak pernah mengeluh.
Karena aku selalu percaya.
Kerja keras mungkin tidak langsung dihargai.
Kejujuran mungkin tidak langsung terlihat.
Dan orang yang tulus mungkin sering dianggap biasa.
Namun waktu…
Tidak pernah mengkhianati orang yang sungguh-sungguh.
Pada akhirnya, emas akan tetap bersinar.
Dan mereka yang hanya mengandalkan kesombongan…
Pada akhirnya akan dikalahkan oleh orang-orang yang diam-diam terus bekerja dan tidak pernah berhenti menjadi lebih baik.
Karena di dunia ini…
Bakat bisa membuat seseorang melangkah cepat.
Tetapi karakterlah yang menentukan seberapa jauh seseorang dapat berjalan.