PART 1
Saat aku mengetahui bahwa tiket lotto yang kubeli bersama teman sekamarku memenangkan jackpot sebesar ₱70.000.000 (tujuh puluh juta peso), aku langsung berlari pulang ke asrama.
Aku pikir dia akan memelukku.
Aku pikir kami akan menangis bersama karena bahagia.
Tapi Clarisse hanya tersenyum tipis, mengirim ₱20 ke GCash-ku, lalu berkata dingin:
“Besh, ide beli tiket itu dari aku. Ambil kembali saja ₱20-mu. Kamu sudah tidak ada urusan.”
Aku tertawa karena tidak percaya.
Namun sebelum aku sempat marah, terdengar suara retakan dari meja.
Krak.
Patung kecil Santo Niño peninggalan nenekku retak.
Tangannya patah.
Dan saat itu, udara di ruangan langsung terasa dingin.
PART 2 – LANJUTAN
Aku menatap Clarisse.
“Clarisse… jangan lakukan ini.”
Dia menghela napas, kesal.
“Lara, jangan lebay. Itu cuma tiket.”
“Tapi itu hak kita berdua.”
Dia berdiri, merapikan rambutnya.
“Bukan. Itu milikku. Aku yang punya tiket. Aku yang mulai. Kamu cuma ikut.”
Dadaku terasa sesak.
Mylene mencoba bicara pelan, “Clarisse, kalian beli bareng…”
“Diam!” potong Clarisse.
Ruangan langsung sunyi.
Bea hanya menunduk, takut ikut campur.
Aku menatap tiket di tangannya.
₱70 juta.
Uang yang bisa mengubah hidup keluargaku.
Namun sebelum aku melangkah, terdengar suara kecil dari meja.
Krak…
Semua menoleh.
Patung Santo Niño itu kini tidak hanya retak—ada bagian kecil yang terbuka di dalamnya.
Aku mendekat dengan tangan gemetar.
Dan aku melihatnya.
Sebuah kertas tua, disembunyikan di dalam patung.
Tulisan tangan nenekku.
“Jika rezeki datang bersama retaknya perlindungan, jangan sentuh dulu—karena yang pertama memegang, akan menjadi yang pertama kehilangan.”
Darahku dingin.
“Clarisse…” suaraku bergetar. “Jangan cairkan tiket itu.”
Dia tertawa keras.
“Kamu mulai lagi dengan tahayulmu?”
Aku menggeleng keras.
“Ini bukan tahayul. Ini peringatan.”
Tapi dia sudah tidak mendengarkan.
Dia memasukkan tiket ke dalam dompet.
“Besok aku ambil uangnya. Dan hidupku berubah.”
Lalu dia pergi.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Aku jatuh berlutut di depan patung yang patah itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menangis karena uang.
Tapi karena ketakutan yang tidak bisa kujelaskan.
KEESOKAN PAGI
Berita itu muncul di grup asrama:
“Pemenang lotto ₱70 juta meninggal dalam kecelakaan motor jam 6 pagi.”
Tanganku langsung gemetar.
Mylene berbisik, “Itu Clarisse…”
Bea jatuh terduduk.
Aku tidak bisa bergerak.
Telingaku berdenging.
Polisi datang ke asrama sore itu.
Dan saat mereka menggeledah barang Clarisse, mereka menemukan satu hal di dompetnya.
Tiket lotto itu.
Masih utuh.
Belum sempat dicairkan.
Seorang petugas menatapku.
“Siapa yang terakhir bersama dia?”
Aku menatap patung Santo Niño yang masih retak di meja.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengerti arti kata nenekku:
“Bukan semua rezeki itu hadiah… beberapa adalah gantian.”

Tiga minggu setelah kejadian itu, asrama kami tidak lagi sama.
Clarisse sudah tidak ada.
Tapi yang lebih menakutkan… bukan kematiannya.
Melainkan tiket itu.
Masih tergeletak di kantor polisi sebagai barang bukti, namun anehnya, menurut petugas, tidak ada satu pun klaim yang bisa diproses.
Nomornya valid.
Hadiah ₱70 juta masih tercatat aktif.
Tapi setiap kali sistem mencoba memverifikasi pemilik resmi, datanya selalu “tidak ditemukan”.
Seolah-olah… tiket itu tidak pernah benar-benar dimiliki siapa pun.
Suatu malam, aku dipanggil kembali ke kantor asrama.
Petugas polisi menyerahkan sebuah amplop kecil.
“Ini ditemukan di saku jaket korban,” katanya.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Di dalamnya ada secarik kertas lusuh.
Tulisan tangan Clarisse.
“Lara… kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak sempat ambil uangnya.”
“Aku ingin bilang… aku tidak pernah benar-benar ingin mengkhianati kamu.”
“Tapi sejak patung itu retak… aku mulai melihat sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan.”
“Seseorang terus berdiri di belakangku setiap kali aku memegang tiket itu.”
Aku membeku.
Petugas melanjutkan, “Korban sempat bilang hal aneh sebelum kecelakaan. Dia bilang… ada ‘tangan kecil’ yang menarik setir motornya.”
Aku tidak bisa bicara.
Malam itu aku pulang sendirian.
Di meja kos, Santo Niño yang patah masih di tempat yang sama.
Tapi ada yang berubah.
Retakan di dadanya… kini terlihat lebih dalam.
Dan di sampingnya, ada sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.
Sebuah lembaran kecil tiket fotokopi.
Nomor yang sama.
₱70 juta.
Aku tidak pernah membuat salinan itu.
Tiba-tiba lampu kamar berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Dan dalam keheningan itu, aku mendengar suara sangat pelan.
Seperti anak kecil berbisik.
“Hindi lahat ng swerte… dapat kunin.”
Aku mundur perlahan.
Tanganku gemetar saat menyentuh patung itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar sesuatu yang lebih dalam dari rasa takut.
Bukan Clarisse yang salah.
Bukan aku yang benar.
Tapi ada sesuatu yang sejak awal… tidak ingin tiket itu jatuh ke tangan siapa pun.
PENUTUP
Keesokan paginya, aku membuang semua salinan, semua bukti, dan semua kenangan tentang tiket itu.
Dan sejak hari itu…
aku tidak pernah lagi membeli satu pun tiket undian.
Bukan karena aku takut kehilangan uang.
Tapi karena aku tahu sekarang—
tidak semua rezeki datang untuk mengubah hidup.
Beberapa datang hanya untuk memilih… siapa yang akan diambil terlebih dahulu