Ketika aku keluar dari kamar mandi, langkahku terhenti.
Seorang perempuan asing berdiri di tengah ruang tamu apartemenku.
Ia mengenakan piyama bunga-bunga, memakai sandal rumah yang baru kubeli kemarin seharga ¥399, dan bahkan memegang toples acar—seolah-olah dialah pemilik tempat ini.
Saat melihatku, ia tidak terkejut. Ia malah menatapku dari atas sampai bawah, lalu mengernyit.
“Baru pindah ya? Kamu perempuan, jangan berpakaian seperti itu di dalam rumah. Gedung ini banyak laki-laki. Harus tahu jaga diri.”
Butuh dua detik sebelum otakku kembali bekerja.
“Anda siapa?”
“Saya di unit 902. Nama saya Nyonya Noemi.”
Ia meletakkan toples itu di lantai dengan santai.
“Dulu saya yang menjaga unit ini waktu kosong. Masih ada barang saya di balkon. Kamu pindah tanpa bilang-bilang, saya sampai kira saya salah masuk.”
Aku menatapnya, lalu ke arah pintu di belakangnya.
Terbuka.
Tidak rusak—dibuka dengan kunci.
Punggungku terasa dingin.
Baru tiga hari lalu aku membeli apartemen ini seharga ¥2,8 juta dari pemilik lama, Vanessa Cruz. Hari ini adalah hari pertamaku resmi tinggal di sini. Kardus-kardus pindahan bahkan belum selesai kubuka.
Dan seharusnya—
hanya aku yang punya kunci.
Namun Nyonya Noemi tampak tidak merasa bersalah.
“Dan jangan pindahkan kotak-kotak di balkon itu. Itu punya saya. Rak sepatu di luar juga jangan kamu sentuh—itu sudah biasa dipakai bersama di lantai ini. Kamu tinggal sendiri saja, jangan terlalu susah diajak hidup bertetangga.”
Aku hampir tertawa karena marah.
Dia ada di rumahku. Memakai sandalku.
Lalu mengajariku cara hidup?
Aku mengambil ponsel dan menyalakan kamera.
“Tolong ulangi.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu sedang apa?!”
“Mengumpulkan bukti.”
Aku mengencangkan handukku dan menatapnya lurus.
“Dari mana Anda dapat kunci? Rumah siapa yang Anda masuki? Dan Anda pikir sedang berbicara dengan siapa?”
Nada suaranya meninggi.
“Kamu kurang ajar! Saya cuma menasihati, malah direkam! Dulu Vanessa tidak seperti ini—”
Aku menekan tombol panggilan polisi.
“Halo, saya baru pindah ke unit baru. Ada tetangga yang masuk menggunakan kunci tanpa izin. Dia masih ada di dalam.”
Wajahnya langsung pucat. Ia mencoba merebut ponselku.
“Kamu gila?! Masalah kecil begini panggil polisi?!”
Aku mundur dan mendorong vas di antara kami.
“Satu langkah lagi, saya tambah laporan percobaan pencurian.”
Ia terdiam.
Tiba-tiba terdengar suara dari pintu.
“Perlu saksi?”
Aku menoleh.
Seorang pria berdiri di depan unit seberang, mengenakan pakaian rumah hitam, rambutnya masih sedikit basah. Di tangannya ada ponsel yang juga sedang merekam.
“Sejak dia masuk, CCTV lorong saya sudah merekam semuanya.”
Wajah Nyonya Noemi semakin pucat.
“Marco Reyes, jangan ikut campur!”
Pria itu tidak menggubrisnya. Ia berbicara padaku.
“Ganti baju dulu. Polisi sebentar lagi datang.”
Sepuluh menit kemudian polisi tiba. Nyonya Noemi masih berusaha berdalih bahwa ini hanya “kebiasaan lama.”
Katanya ia punya kunci duplikat dari pemilik lama. Kadang ia diminta membuka pintu atau menerima paket.
Hari ini ia hanya ingin mengambil acar miliknya.
Aku menggeleng.
“Pertama, unit ini sekarang milik saya. Kedua, apa pun hubungan Anda dengan pemilik lama, Anda tidak punya hak masuk tanpa izin saya. Ketiga, kenapa barang Anda masih ada di rumah saya?”
Ia tidak bisa menjawab.
Polisi memaksanya menyerahkan kunci duplikat itu.
Saat kunci itu jatuh ke tanganku, aku merasakan jijik yang aneh.
Seolah-olah rumah yang kupikir sepenuhnya milikku…
sudah lama dimasuki orang lain.
—
Setelah mereka pergi, aku langsung memanggil tukang kunci.
Biayanya ¥1.200 untuk mengganti seluruh sistem kunci digital.
Tukang itu berkata,
“Kunci lama ini sering sekali dipakai. Mekanismenya sudah longgar.”
Aku tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, Marco mengetuk pintu.
“Boleh masuk?”
Aku mengangguk.
Ia membawa beberapa barang.
“Door stopper dan dudukan kamera tambahan. Supaya malam ini lebih aman.”
Aku terkejut.
“Bagaimana kamu tahu aku butuh ini?”
“Kelihatan di wajahmu.”
Ia tersenyum tipis.
“Dan tadi… kalimatmu bagus.”
“Yang mana?”
“‘Satu langkah lagi, saya tambah laporan.’ Cepat berpikir.”
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah membantu.”
“Sama-sama.”
Ia melirik ke arah unit 902.
“Itu bukan pertama kalinya.”
“Maksudmu?”
“Kadang orang mengira diamnya kita adalah izin.”
Ia pergi setelah itu.
—
Aku duduk di tengah kardus-kardus pindahan.
Dindingnya tipis. Catnya mengelupas. Apartemen ini tidak mewah.
Tapi aku membelinya dengan uang hasil kerjaku sendiri.
Uang yang kukumpulkan sedikit demi sedikit selama lima tahun, lembur tanpa henti.
Setiap meter persegi di tempat ini bernilai keringatku.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya sejak memegang kunci—
aku benar-benar merasa ini rumahku.
Karena rumah bukan hanya soal sertifikat seharga jutaan yuan.
Rumah adalah batas.
Dan kali ini,
batas itu sudah jelas.

Aku menutup pintu itu tanpa menoleh lagi.
Bukan karena aku tidak peduli.
Tapi karena akhirnya aku mengerti—tidak semua orang yang kita perjuangkan layak untuk kita tunggu.
Hari itu, aku kehilangan sesuatu.
Namun bukan cinta.
Yang hilang adalah ilusi.
Aku berhenti menjadi orang yang selalu memaafkan tanpa batas.
Berhenti menjadi orang yang terus mengorbankan diri demi seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar memilihku.
Beberapa bulan kemudian, aku berdiri di tempat yang berbeda.
Bekerja keras, membangun hidupku sendiri, tanpa bayang-bayang siapa pun.
Dan ketika suatu hari dia datang kembali, membawa penyesalan di wajahnya, aku hanya tersenyum.
Bukan senyum sedih.
Bukan senyum rindu.
Tapi senyum seorang perempuan yang sudah sembuh.
“Terima kasih,” kataku pelan.
“Karena pernah pergi. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan pernah belajar mencintai diriku sendiri.”
Lalu aku melangkah pergi.
Kali ini, bukan sebagai seseorang yang ditinggalkan—
tetapi sebagai seseorang yang akhirnya memilih dirinya sendiri.