Ketika Ayahku Menikah Lagi, Semua Orang Mengira Aku Akan Menderita Karena Ibu Tiri yang Kejam—Namun Setelah Ia Datang ke Pertemuan Orang Tua di Sekolah, Ia Pulang dengan Sangat Marah dan Mengubah Seluruh Hidupku
Saat ayahku menikah lagi, seluruh kampung kami di Yogyakarta langsung bergosip.
“Kasihan sekali Liana,” kata Bu Rina, tetangga kami, sambil menjemur pakaian di halaman. “Belum juga sembuh dari sakit hati ditinggal ibunya, sekarang malah punya ibu tiri galak.”
“Lihat saja wajah perempuan itu,” sahut yang lain. “Dingin sekali. Kayaknya susah senyum.”
Aku mendengar semuanya.
Waktu itu aku baru berusia dua belas tahun, tetapi aku sudah terlalu terbiasa menelan rasa sakit tanpa menangis di depan orang lain.
Empat tahun sebelumnya, ibuku meninggalkan kami.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pelukan terakhir. Tidak ada penjelasan yang bisa dimengerti oleh anak delapan tahun.
Suatu pagi saat aku bangun, Ibu sudah pergi.
Yang tersisa hanya sebuah surat untuk Ayah.
Katanya, ia harus mengejar mimpinya di Singapura. Katanya, ia tidak bisa terus menjadi istri dan ibu sementara dirinya sendiri perlahan menghilang.
Namun yang didengar seluruh kampung jauh lebih sederhana dan jauh lebih menyakitkan:
Ia meninggalkan kami.
Sejak saat itu, aku dikenal sebagai “anak yang ditinggal ibunya.”
Di sekolah, beberapa teman sekelas berbisik saat aku lewat.
“Itu dia. Dia sudah nggak punya ibu.”
“Mungkin ibunya nggak sayang sama dia.”
“Kalau aku punya anak kayak dia, aku juga nggak bakal ninggalin.”
Karena itu, saat Ayah bilang ia bertemu seorang wanita dan ingin menikah lagi, aku tidak sedih. Aku juga tidak marah.
Aku justru bahagia.
Kupikir, akhirnya aku akan punya ibu lagi.
Selama beberapa malam aku tidak bisa tidur karena gugup dan senang. Pada hari Ayah membawa wanita itu ke rumah, aku bangun pagi-pagi sekali. Aku memakai gaun putih favoritku, merapikan rambut dengan pita kecil, lalu berkali-kali berlatih di depan cermin.
“Selamat pagi, Mama.”
Aku bahkan tidak tahu senyum seperti apa yang harus kupakai. Haruskah terlihat ceria? Malu-malu? Manja?
Aku takut kalau terlalu bersemangat, dia akan merasa risih. Tapi kalau terlalu diam, mungkin dia mengira aku tidak menyukainya.
Saat pintu terbuka, Ayah masuk bersama seorang wanita tinggi, berkulit putih, elegan, dan tampak seperti orang yang selalu tahu harga semua barang di sekitarnya.
Namanya Mariel Santoso.
Ia tidak seperti ibu-ibu di sinetron yang bersuara lembut dan berwajah ramah. Tatapannya tajam, bibirnya hampir tidak bergerak, dan seluruh auranya terasa seperti kaca dingin yang tidak boleh disentuh.
Tapi dia cantik.
Sangat cantik.
Aku langsung berdiri.
“Liana,” kata Ayah dengan gugup, “sapa Tante Mariel.”
Aku menarik napas panjang. Aku mendekatinya, memaksakan senyum termanisku, lalu mengucapkan kata yang sudah lama ingin kuucapkan lagi.
“Mama.”
Ruangan langsung sunyi.
Wajah Mariel menegang. Ia menatapku dari kepala sampai kaki, lalu berkata dengan dingin,
“Jangan panggil aku Mama. Aku bukan ibumu. Untuk sekarang, panggil saja Tante.”
Rasanya seperti ada yang meremas jantungku.
Senyumku hilang, tetapi aku berusaha keras untuk tidak menangis. Aku hanya mengangguk pelan.
“Iya… Tante.”
Ayah langsung menatapnya.
“Mariel…”
Namun ia hanya mengangkat alis.
“Aku belum terbiasa dipanggil Mama oleh anak sebesar ini. Jangan dipaksakan.”
Hari itu juga mereka menikah di kantor catatan sipil.
Setelah pernikahan sederhana itu selesai, Ayah langsung pergi karena katanya ada urusan mendadak di perusahaan konstruksinya di Surabaya. Aku pun ditinggal bersama Mariel di luar gedung.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
Aku mendengar ia berkata pada temannya,
“Jangan tanya. Baru juga menikah, suamiku sudah pergi kerja. Anaknya juga dititipkan padaku. Aku seperti dijadikan pengasuh.”
Aku langsung menunduk.
Sesampainya di rumah, ia menurunkanku lalu pergi lagi untuk bertemu teman-temannya. Aku tinggal sendirian. Untungnya aku sudah terbiasa. Mbok Siti, asisten rumah tangga yang sejak kecil merawatku, sedang libur dan baru pulang sore hari.
Menjelang siang, ponselku berbunyi.
Nomornya tidak kukenal.
Saat kuangkat, suara Mariel terdengar.
“Ada makanan delivery di depan rumah. Ambil. Jangan sampai dingin.”
Ia langsung menutup telepon sebelum aku sempat menjawab.
Saat kubuka pintu, ada bubur ayam favoritku, lumpia goreng, dan es kelapa muda dari warung kecil dekat masjid. Aku tahu pasti ia menanyakannya pada Ayah.
Aku tersenyum sambil makan.
Mungkin dia sebenarnya tidak jahat. Mungkin dia hanya belum terbiasa.
Namun ketika Mbok Siti pulang dan melihatku sendirian, ia langsung menghela napas panjang.
“Aduh, Nduk Liana… memang begitu kalau sudah ada ibu tiri. Kadang ayah juga ikut berubah.”
Malam itu aku memeluk Ayah erat-erat dan bertanya pelan,
“Yah… Ayah nggak akan ninggalin aku juga kan?”
Suara Ayah bergetar saat menjawab,
“Tidak akan pernah, Nak. Kamu keluarga pertama Ayah.”
Kupikir itulah ketakutan terbesar dalam hidupku.
Sampai akhirnya tiba hari pertemuan orang tua murid di SMP.
Karena Ayah sibuk di kantornya, Mariel terpaksa datang menggantikannya.
Sebelum berangkat, ia bahkan hampir tidak menatapku.
“Acara selesai jam berapa?”
“Sekitar jam empat, Tante.”
“Kalau gurumu mengeluh, itu tanggung jawabmu.”
Sepanjang siang aku gelisah.
Aku memang terbiasa mendapat nilai jelek. Aku bukan bodoh, tapi juga bukan anak pintar. Di kelas aku sering melamun. Saat membaca soal matematika, angka-angka terasa kabur. Saat ujian, tanganku gemetar.
Ketika Mariel pulang, pintu rumah dibukanya dengan keras.
Tas mahalnya dilempar ke sofa.
Aku langsung berdiri ketakutan.
Wajahnya merah karena marah.
“LIANA SANTOSO!” teriaknya.
Aku terkejut.
Ia mendekat sambil memegang raporku, hampir menempelkannya ke wajahku.
“Bagaimana bisa kamu dapat nilai seperti ini? Kenapa anak orang lain masuk ranking, sementara kamu hampir bersyukur cuma karena tidak tinggal kelas?!”
Seluruh tubuhku langsung dingin.
Kupikir dia akan memarahiku. Kupikir dia akan bilang aku memalukan.
Namun tiba-tiba ia membalikkan badan, mengambil ponselnya, lalu menelepon Ayah.
“Carlos,” katanya dengan suara rendah namun penuh amarah, “pulang sekarang juga.”
Aku tidak bisa mendengar jawaban Ayah.
Tapi aku mendengar kalimat berikutnya.
“Tidak. Ini bukan soal aku. Ini soal anakmu.”
Ia berhenti sejenak lalu menatapku.
“Dan mulai malam ini… aku yang akan mengatur hidup anak ini.”
Baca kelanjutan cerita lengkapnya di kolom komentar 👇

Malam itu, Ayah pulang hampir pukul sembilan malam.
Begitu masuk rumah, ia langsung melihat wajah Mariel yang masih penuh emosi dan aku yang duduk diam di sudut sofa sambil memeluk tas sekolahku erat-erat.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Ayah pelan.
Mariel berdiri. Untuk pertama kalinya sejak menjadi istrinya, suaranya terdengar benar-benar keras.
“Apa kau tahu apa yang dikatakan wali kelas Liana padaku hari ini?”
Ayah mengerutkan kening.
“Nilainya jelek?”
“Bukan cuma itu!” bentak Mariel. “Anakmu kesulitan membaca angka sederhana saat gugup. Tangannya gemetar waktu disuruh maju ke depan kelas. Dia bahkan minta maaf setiap kali menjawab pertanyaan, seolah-olah keberadaannya sendiri adalah kesalahan!”
Aku menunduk makin dalam.
Mariel berjalan mondar-mandir sambil menahan emosi.
“Dan yang paling membuatku marah…” suaranya mulai bergetar, “…semua guru bilang dia anak yang baik. Sangat baik. Terlalu baik sampai membiarkan dirinya diinjak-injak.”
Ayah terdiam.
“Apa kau tahu,” lanjut Mariel, “anak-anak di sekolah memanggilnya ‘anak buangan’? Apa kau tahu dia makan siang sendirian hampir setiap hari?”
Wajah Ayah langsung pucat.
Aku buru-buru berkata pelan, “Aku nggak apa-apa, Yah…”
“DIAM.”
Aku tersentak. Itu pertama kalinya Mariel membentakku seperti itu.
Namun saat aku mengangkat kepala, matanya justru memerah menahan air mata.
“Aku muak mendengar kamu bilang ‘aku nggak apa-apa’ padahal jelas-jelas kamu terluka.”
Rumah langsung sunyi.
Mariel menarik napas panjang sebelum akhirnya duduk di depanku.
“Liana,” katanya lebih lembut, “lihat Tante.”
Aku perlahan mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak terasa dingin.
“Aku marah bukan karena kamu bodoh.”
Ia menggenggam raporku pelan.
“Aku marah karena selama ini tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan kalau kamu sedang hancur.”
Dadaku terasa sesak.
Empat tahun.
Empat tahun aku menahan semuanya sendirian.
Mariel lalu menoleh ke arah Ayah.
“Mulai besok aku yang antar-jemput dia sekolah.”
“Mariel, kamu tidak perlu—”
“Aku belum selesai.”
Ia memotong ucapan Ayah tanpa menoleh.
“Aku juga sudah mendaftarkan dia les matematika dan konseling anak.”
Aku langsung panik.
“Aku nggak mau konseling… nanti mereka pikir aku aneh…”
Mariel kembali menatapku.
“Dengar baik-baik, Liana. Anak yang terluka bukan anak aneh.”
Air mataku langsung jatuh.
Aku buru-buru mengusapnya karena malu, tapi Mariel tiba-tiba menarikku ke pelukannya.
Tubuhku langsung membeku.
Pelukan itu… hangat.
Sangat hangat.
Sudah bertahun-tahun aku tidak merasakan pelukan seorang ibu.
“Aku tidak tahu cara menjadi Mama yang baik,” bisiknya pelan di atas kepalaku. “Aku bahkan tidak pernah ingin punya anak.”
Aku menggigit bibir menahan tangis.
“Tapi setelah melihatmu hari ini…” suaranya mulai pecah, “…aku tidak tahan melihat ada anak kecil yang merasa dirinya tidak layak dicintai.”
Malam itu aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Ibu pergi, ada seseorang yang memelukku tanpa terburu-buru melepaskan.
Hari-hari setelah itu berubah total.
Mariel benar-benar mengambil alih hidupku.
Ia membatasi jam bermain gadgetku.
Ia duduk menemaniku belajar matematika sampai tengah malam meski kadang kami sama-sama pusing.
Kalau aku salah menjawab, ia tidak membentak. Ia hanya berkata,
“Coba lagi. Kamu bukan gagal hanya karena belum bisa.”
Ia juga mulai datang ke sekolahku.
Dan entah bagaimana, anak-anak yang dulu suka mengejekku perlahan berhenti setelah melihat Mariel berani memarahi orang tua murid yang menghina anak mereka sendiri di grup sekolah.
“Kalau kalian mengajari anak mengejek orang lain,” katanya dingin waktu itu, “jangan heran kalau suatu hari mereka tumbuh menjadi manusia kejam.”
Sejak hari itu, tidak ada lagi yang memanggilku “anak buangan.”
Enam tahun kemudian, aku berdiri di atas panggung wisuda universitas di Jakarta sebagai lulusan terbaik fakultas psikologi.
Tanganku gemetar saat memberikan pidato.
Di barisan depan, Ayah menangis tanpa malu-malu.
Dan di sebelahnya…
Mariel.
Wanita yang dulu melarangku memanggilnya Mama.
Kini ia menangis paling keras.
Aku tersenyum sambil memegang mikrofon.
“Dulu,” kataku pelan, “aku pernah berpikir bahwa ditinggalkan berarti aku tidak pantas dicintai.”
Ruangan hening.
“Tapi seseorang datang ke hidupku dan marah besar karena melihat aku menyerah pada diriku sendiri.”
Aku menatap langsung ke arah Mariel.
“Orang itu tidak memberiku kehidupan yang sempurna.”
Suaraku mulai bergetar.
“Dia memberiku sesuatu yang lebih penting…”
Aku tersenyum sambil menahan air mata.
“Seorang ibu.”
Mariel langsung menutup wajahnya sambil menangis.
Dan setelah acara selesai, untuk pertama kalinya di depan semua orang, aku memeluknya erat lalu berkata,
“Terima kasih, Mama.”
Kali ini…
Ia tidak menolak.