Ketika pacarku bilang ingin putus, jawabanku bahkan lebih cepat darinya.

Ketika pacarku bilang ingin putus, jawabanku bahkan lebih cepat darinya.

“Baik.”

Karena terlalu cepat, dia terdiam dua detik.

“Kamu… nggak mau menahanku?”

“Sudah dulu ya, GrabFood sudah sampai.”

Aku turun untuk mengambil makanan. Saat kembali, dia masih duduk di sofa.

“Hanya itu?”

Kubuka kotaknya. Satu porsi Sop Buntut Kemang dengan nasi tambahan.

Dia menatap makananku lama.

“Sejak kapan kamu pesan porsi satuan?”

Aku berpikir sejenak.

“Mungkin sejak kamu selalu menjawab ‘terserah’ setiap kali aku bertanya.”

Dia mengambil jaketnya dan berjalan ke pintu. Sempat menoleh ke kulkas.

Foto instax kami masih tertempel di sana.

Tapi alamat pengiriman di aplikasiku sudah kuganti ke kondoku yang baru di BGC Jakarta Selatan sejak tiga hari lalu.

Hari ini terakhir kali aku kirim makanan ke alamat ini.

Yang tidak dia tahu—

Di pesanan itu, aku menambahkan kikil. Bagian favoritnya.

Mulai besok, aku tidak akan pernah memesan itu lagi.


1

“Kak Celine? Ini Bianca. Kata Kak Arga aku minta password admin akun ‘Dapur Arga’ ya?”

Ponselku berbunyi tepat tiga menit setelah Arga menutup pintu.

Kotak makanan sudah di tempat sampah. Masih ada satu potong kikil tersisa di dasar kotak.

“Dia tidak ingat?”

“Katanya selama ini Kakak yang pegang, jadi dia nggak hafal…”

Suara Bianca terlalu manis.

“Kamu lagi sama dia?”

Hening sejenak.

“Iya… Arga lagi nggak enak hati, jadi aku temani minum craft beer di Kemang. Kak, jangan terlalu sedih ya…”

Belum dua puluh menit putus, sudah ada perempuan lain yang menemaninya minum.

“Nanti passwordnya kukirim ke email dia.”

“Oh iya, sekalian file resep saus yang Kakak edit ya. Kata Kak Arga itu creative property channel.”

Resep-resep itu hasil kelilingku ke lebih dari seratus tempat makan di Bandung, Surabaya, sampai Glodok. Uji coba berulang di dapur kecilku.

Setengahnya bahkan belum pernah dia cicipi saat kubuat.

“Nanti.”

Kututup telepon dan membuka Instagram.

Postingan Arga muncul paling atas.

Tag lokasi di sebuah craft beer pub di Kemang. Foto segelas IPA, di sampingnya terlihat ujung casing ponsel warna pink.

Bukan miliknya.

Jojo langsung komentar:

【Akhirnya sadar juga! Kamu nggak cocok sama Celine, dia terlalu membosankan.】

Balasan Arga:

【Namanya juga harus move on.】

Aku bahkan belum sempat membuang sampah kikil itu, dia sudah “move on”.

Bianca tidak komentar.

Tapi dia membagikan video review Arga tiga hari lalu dengan caption:

“Excited banget kolaborasi sama Arga!”

Tiga hari lalu.

Hari ketika Arga bilang, “Kita perlu bicara,” ternyata semuanya sudah dia siapkan.


Jojo menelepon.

“Celine, kalian putus ya?”

“Iya.”

“Baguslah. Maaf ya, tapi kalian memang nggak selevel. Arga butuh partner yang punya karisma. Kamu itu terlalu—”

“Terlalu apa?”

“Terlalu hambar. Kayak nasi tanpa lauk. Mengenyangkan, tapi nggak ada yang mau bayar cuma buat nasi.”

Kalimat yang sama yang dulu Arga ucapkan tentang masakanku.

“Aku tahu.”

“Editing dan color grading yang kamu lakukan? Siapa pun bisa. Tapi karisma Arga di depan kamera itu bakat. Nggak tergantikan.”

Grup chat teman-teman kami juga ramai.

【Celine kalau kumpul cuma duduk kupas kacang.】

【Bianca lebih seru. Mereka berdua lebih cocok jadi content creators.】

Padahal lelucon Arga di pesta terakhir adalah skrip yang kurevisi tiga kali.

Semua tertawa untuknya.

Namanya saja yang tercantum di video.

Aku mengetik:

“Resep handmade chicken noodles juga milik channel?”

Tiga menit kemudian, balasannya satu kata:

“Iya.”


2

“Kamu datang pas banget. Ambil saja botol-botol bumbu kamu. Bianca mau taruh barangnya.”

Arga berdiri di pintu studio di Kemang, seperti menunggu kurir mengambil paket.

Dari dalam terdengar suara Bianca:

“Arga, angle lampunya sudah oke belum?”

Aku masuk.

Dia memakai apron krem linen milikku. Kubeli saat workshop memasak di Kyoto. Hanya ada satu.

Tripod yang kurakit sendiri berdiri tegak. Lensa mengarah ke “spice wall” yang kubangun lebih dari setahun.

“Sedang apa?”

“Oh Kak Celine! Aku lagi live untuk perkenalkan studio baru.”

“Studio BARU?”

“Ini studio ‘Dapur Arga’.”

Komentar live berderet:

“Setupnya keren!”
“Bianca rapi banget!”
“Vibenya beda sekarang!”

Setiap toples di dinding itu kupilih sendiri.

Cabe rawit dari Lombok.
Terasi dari Cirebon.
Cuka apel impor yang kubeli pakai uang iklan pertamaku—Rp 12.500.000.

Semua berlabel tulisan tanganku.

“Aku yang bereskan barangku,” kataku.

“Jangan ambil properti studio,” Arga menahan tanganku.

“Yang mana milik studio?”

“Tripod, lampu, blender—”

“Blender itu kubeli Rp 8.700.000 dari honor brand deal pertamaku.”

“Itu dari komisi channel.”

“Komisi adalah upah kerja.”

Dia terdiam.

Aku memasukkan laptopku, hard drive, dan buku resep tulisan tangan ke dalam koper.

“File resep saus dan chicken noodles,” katanya dingin, “kirim malam ini.”

Aku menatapnya.

“Baik.”


3 — Penutup

Malam itu, aku tidak mengirim file apa pun.

Sebaliknya, aku menghapus aksesku dari semua akun.

Lalu aku membuka laptop, membuat channel baru:

“Rasa Celine.”

Tidak ada wajah flamboyan.

Tidak ada teriakan dramatis.

Hanya suara pisau memotong bawang, air mendidih, dan resep yang diceritakan pelan.

Video pertama:
“Handmade Chicken Noodles – Versi Asli.”

Dalam 24 jam, ditonton 1,2 juta kali.

Komentar teratas:

“Jadi selama ini… Celine yang jeniusnya?”

Seminggu kemudian, sebuah brand peralatan dapur menawariku kontrak Rp 2,3 miliar untuk satu tahun.

Aku menolak.

Sebulan kemudian, subscriber-ku melampaui “Dapur Arga.”

Tanpa drama.

Tanpa kebisingan.


Tiga bulan setelah itu, aku menerima pesan dari Arga.

【Bisa kita bicara?】

Aku sedang di balkon kondoku di Jakarta Selatan.

Kupesan sop buntut.

Satu porsi.

Tanpa kikil.

Aku mengetik:

【Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan.】

Lalu kublokir nomornya.

Di dapur kecil apartemen baruku, kamera menyala.

Aku tersenyum ke lensa.

“Resep hari ini sederhana,” kataku pelan.

“Kalau sesuatu tidak lagi terasa enak, jangan dipaksa. Tinggalkan. Masak yang baru.”

Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak merasa seperti nasi tanpa lauk.

Aku adalah hidangannya.

Setahun berlalu.

“Rasa Celine” bukan lagi channel kecil yang diremehkan.

Studio baruku pindah ke SCBD. Lebih luas. Lebih tenang. Lebih terang.

Tidak ada teriakan. Tidak ada sensasi murahan.

Hanya rasa.

Hari itu aku diundang sebagai pembicara di sebuah Food Creator Summit di Jakarta. Topiknya:

“Authenticity vs Persona di Dunia Digital.”

Ketika namaku dipanggil ke panggung, tepuk tangan memenuhi ruangan.

Di barisan tengah, aku melihat wajah yang sangat familiar.

Arga.

Dia duduk sendirian.

Channel-nya turun drastis setelah beberapa kontroversi soal resep yang “terlalu mirip” dengan milikku. Brand mulai menjaga jarak. Bianca? Sudah lama tidak muncul di kontennya.

Aku naik ke panggung.

Lampu menyinari wajahku.

“Ada yang pernah bilang pada saya,” kataku pelan ke mikrofon,
“bahwa saya terlalu hambar. Seperti nasi tanpa lauk.”

Beberapa orang tertawa kecil.

“Saya percaya itu selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari saya sadar—nasi bukan hambar. Nasi itu dasar dari segalanya. Tanpa nasi, lauk kehilangan makna.”

Ruangan hening.

“Kita sering berpikir bahwa yang paling keras suaranya adalah yang paling berbakat. Padahal kadang yang bekerja dalam diamlah yang membangun fondasi.”

Aku melihat ke arah Arga.

Matanya tidak lagi penuh percaya diri seperti dulu.

“Saya tidak membenci masa lalu saya,” lanjutku.
“Karena tanpa diremehkan, mungkin saya tidak pernah belajar menghargai diri sendiri.”

Tepuk tangan meledak.


5 — Pesan Terakhir

Malam itu, setelah acara selesai, Arga mendekat.

“Celine…”

Nada suaranya berbeda. Tidak lagi tinggi.

“Aku salah,” katanya lirih. “Aku terlalu percaya pada citra. Aku pikir karisma cukup.”

Aku menatapnya tenang.

“Dan sekarang?”

“Aku sadar… tanpa kamu, aku cuma suara keras tanpa rasa.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku bukan kehilangan kamu, Arga,” kataku pelan.
“Kamu yang kehilangan fondasinya.”

Dia terdiam.

“Apa kita bisa—”

“Tidak.”

Jawabanku lembut, tapi tegas.

“Aku tidak marah lagi. Tapi aku juga tidak kembali.”

Aku berjalan melewatinya.

Tidak ada dramatisasi. Tidak ada air mata.

Hanya langkah ringan menuju mobilku.


6 — Porsi Sendiri

Malam itu aku pulang ke apartemen.

Kupesan makanan.

Satu porsi.

Tanpa kikil.

Tapi kali ini, bukan karena patah hati.

Melainkan karena aku memang tidak suka kikil.

Selama tiga tahun, aku memesannya demi orang lain.

Kubuka kotak makan.

Hangat.

Aromanya naik perlahan.

Aku tersenyum.

Kadang kita tidak kehilangan seseorang.

Kita hanya berhenti mengecilkan diri agar muat dalam hidup orang lain.

Dan untuk pertama kalinya,

aku tidak lagi merasa seperti nasi tanpa lauk.

Aku adalah chef-nya.