Ketika setengah tubuhku terlempar keluar dari kaca depan mobil, darah terus mengalir tanpa henti membasahi wajahku.


Ketika setengah tubuhku terlempar keluar dari kaca depan mobil, darah terus mengalir tanpa henti membasahi wajahku.

Anakku yang berusia tujuh tahun, Paolo, hanya berdiri di sana, menatapku… dengan kilatan aneh di matanya.

“Ayah yang potong rem mobil Mama.”

“Karena aku mau Tante jadi Mama aku!”

“Sudah dua bulan Tante hamil anak Ayah… dan sekarang Ayah bawa dia ke vila di Puncak supaya bisa istirahat!”

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.

Sampai detik terakhir, aku masih berusaha meyakinkan diri… mungkin ini cuma candaan anak kecil.

Namun ketika kami sudah berada di depan ruang IGD, aku memaksa diri menatap Mateo.

Suaranya dingin. Tidak ada rasa bersalah.

“Lagian akta nikah kita juga cuma formalitas. Mau pergi atau tetap tinggal, terserah kamu.”

“Anak yang dikandung Celine itu… terjadi waktu kamu keguguran terakhir.”

“Dia takut waktu itu. Aku cuma mau menenangkannya. Tapi… terjadi sesuatu di kamar sebelah tempat tidur rumah sakitmu.”

“Aku juga nggak nyangka… bisa langsung jadi.”

Kata-katanya menghancurkan sisa harapanku.

Di tengah keputusasaan, aku mengirim pesan ke satu nomor lama:

“Tujuh tahun lalu kamu pernah bilang… kalau Mateo menyakitiku, kamu akan menghancurkannya.”

“Janji itu… masih berlaku?”


Setelah tujuh jam operasi, kaki kiriku hancur dan kini dibalut gips tebal. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat tangan.

Mateo berdiri di samping ranjang, menatapku seperti orang asing.

Perawat harus mengingatkannya,
“Pasien butuh perawatan intensif pasca operasi,”
baru dia mendekat dan merapikan selimutku.

“Kapan kalian mulai?”

Aku menahan rasa nyeri yang menembus dada.

Tangannya berhenti sesaat… lalu wajahnya kembali dingin.

“Tiga tahun? Lima tahun? Atau mungkin lebih lama.”

“Yang paling kuingat… waktu kamu kesakitan karena haid dan nggak bisa bangun dari tempat tidur.”

“Aku mau ambil air buat kamu, tapi Celine nangis dan peluk aku.”

“Dia cerewet kalau mabuk. Dia tarik aku ke kamar mandi. Di situlah pertama kali.”

“Kamu lupa? Kamu bahkan kasih kami handuk lewat celah pintu.”

Seperti disambar petir.

Jadi… memang benar dia ada di dalam waktu itu.

Sejak melahirkan dan mengalami komplikasi, setiap datang bulan aku seperti mau mati karena sakit.

Hari itu aku dengar suara samar dari kamar mandi. Aku mau buka pintu, tapi Mateo membentakku:

“Kamu ini cemburuan nggak masuk akal! Di kantor kamu cek aku, sekarang di kamar mandi juga?”

“Celine itu adikmu! Kamu pikir bisa terjadi apa?”

Aku mundur… merasa mungkin memang aku yang gila.

Dengan penuh rasa bersalah, aku bahkan menyerahkan handuk melalui celah pintu.

Sekarang aku sadar…

Itu bukan kecurigaan.

Itu kebenaran.

“Mateo… kamu binatang!!”

Saking marahnya, selang infus di tanganku tercabut.

Tiga hari lalu kami masih merayakan anniversary di Jakarta. Di depan banyak orang dan media, dia bersumpah:

“Kamu sudah banyak berkorban. Mulai sekarang, aku akan jadi pelindungmu apa pun yang terjadi.”

Kami berciuman di bawah kembang api.

Dan hari ini…

Dialah yang mendorongku ke jurang.


Alarm monitor berbunyi. Celine masuk dengan panik.

“Kak! Ada apa?!”

“Kak, jangan emosi. Dokter bilang kamu baru selesai operasi!”

Dia memelukku. Mengelus rambutku seperti dulu aku melakukannya saat dia demam.

Anak yatim dari desa terpencil yang dulu kuangkat menjadi adikku…

yang kubiayai sekolahnya dengan hasil melukis sampai dini hari…

yang memakai margaku…

yang setiap rupiah uang kuliahnya berasal dari kerja kerasku…

Dialah yang mengambil semuanya dariku.

Aku menatap perutnya yang mulai membesar.

“Enak ya… tidur dengan suami kakakmu, sementara aku ada di kamar sebelah?”

Wajahnya pucat.

Tujuh tahun lalu aku menemukannya di desa berlumpur, memakai seragam penuh tambalan. Aku melihat diriku sendiri di dalam dirinya.

Aku biayai sekolah desainnya.

Menolak beasiswa luar negeri demi dia.

Menjual lukisan-lukisanku demi Rp800 juta untuk biaya kuliahnya.

Ketika aku menikah dengan Mateo, aku membawanya tinggal bersama kami agar dia tidak kesepian.

Dia selalu membelaku.

“Mateo harus jaga Kakak! Jangan pernah sakiti dia!”

Aku pikir itu keluarga.

Ternyata… bukan.


Sekarang dia menangis.

“Kak, maaf… aku nggak sengaja…”

“Marah sama aku, pukul aku, tapi tolong… anak ini nggak salah.”

“Kalau kamu mau, setelah lahir aku kasih ke kamu. Aku pergi. Aku nggak akan muncul lagi.”

“Cukup!” Mateo menariknya.

“Semua keputusan ini aku yang ambil. Jangan salahkan Celine.”

Cara dia melindunginya… membuat hatiku berdarah.

Aku teringat bagaimana dulu aku memohon pada Mateo agar Celine diterima kerja di perusahaannya.

Awalnya mereka menjaga jarak.

Lalu Celine mulai terlalu nyaman.

Menyuapi Mateo dengan sendok bekasnya.
Memakai rok pendek di depannya.
Mabuk di setiap pesta kantor supaya bisa bergelayut di lengannya.

Aku memperingatkan Mateo.

“Dia perempuan lajang. Kamu sudah menikah. Jaga batas.”

Dia justru memarahiku.

“Kamu paranoid. Bahkan adik sendiri nggak kamu percaya.”

Aku mulai menunggu mereka pulang kantor. Ikut semua acara.

Takut.

Karena satu adalah adik yang kubesarkan.

Satu lagi suami yang kucintai tujuh tahun.

Tapi sekuat apa pun kamu menjaga…

Kamu tak bisa menghentikan orang yang rakus.

Aku menatap Celine dengan mata dingin.

“Celine… kamu tahu nggak apa sebutan untuk perempuan seperti kamu?”

“…Perempuan seperti kamu,” suaraku pelan tapi tajam, “disebut pengkhianat.”

Ruangan itu hening.

Celine terisak, Mateo memandangku dengan rahang mengeras. Tapi kali ini… aku tidak menangis.

Aku tertawa.

Tawa yang membuat mereka berdua terpaku.

“Kalian pikir aku cuma perempuan yang bisa kalian injak begitu saja?”

Mateo menyipitkan mata.
“Kamu mau apa sekarang? Drama lagi?”

Aku menoleh pelan ke arah pintu.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka.

Seorang pria masuk dengan setelan hitam rapi, diikuti dua orang berseragam dan seorang pengacara.

Wajah Mateo berubah pucat.

Pria itu berdiri di samping tempat tidurku, suaranya tenang.

“Maaf saya terlambat.”

Aku menatap Mateo.

“Kenalkan. Ini Arga.”

Tujuh tahun lalu, sebelum aku menikah dengan Mateo, Arga pernah memintaku menunggunya. Dia pergi membangun bisnis keluarganya di Singapura. Sebelum berangkat, dia berkata:

“Kalau suatu hari kamu disakiti, panggil aku.”

Dan aku memanggilnya.

Arga adalah pemilik mayoritas saham perusahaan tempat Mateo bekerja. Perusahaan itu—yang Mateo banggakan selama ini—ternyata berdiri dari investasi keluarga Arga.

Mateo terhuyung selangkah.

“Ini… ini nggak ada hubungannya dengan pekerjaan!”

Arga tersenyum tipis.

“Pemotongan rem kendaraan adalah percobaan pembunuhan. Dan dana perusahaan yang kamu gelapkan untuk vila di Puncak atas nama orang ketiga… juga bukan perkara kecil.”

Wajah Mateo kehilangan warna.

Aku mengangkat ponselku.
“Rekaman dashcam mobilku tersimpan otomatis ke cloud. Termasuk rekaman teknisi bengkel yang kamu bayar.”

Tangan Celine gemetar.

“Dan vila yang kalian pakai?” lanjutku pelan. “Atas namaku. Kamu lupa? Semua aset dibeli dari rekening pribadiku.”

Selama ini aku diam.
Diam bukan karena bodoh.

Aku memang mencintai Mateo.

Tapi aku bukan perempuan yang tidak punya cadangan.

Perusahaan desainku menghasilkan miliaran rupiah setiap tahun. Seluruh properti, saham, dan investasi—semua atas namaku.

Mateo hanya “direktur operasional” yang kupromosikan agar harga dirinya tidak terluka.

Tangannya mulai gemetar.

“Kamu… kamu menjebak aku?”

Aku tersenyum tipis.

“Tidak. Kamu menjebak dirimu sendiri.”

Polisi mendekat.

Celine berlutut.

“Kak, jangan… anak ini—”

Aku memotongnya.

“Anak itu memang tidak salah. Tapi orang tuanya harus bertanggung jawab.”

Mateo menatapku untuk terakhir kalinya.

“Setelah tujuh tahun… kamu bisa setega ini?”

Aku menatapnya lurus.

“Tidak. Justru karena tujuh tahun itu, aku belajar berhenti jadi bodoh.”

Mereka dibawa keluar.

Ruangan kembali sunyi.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena kehilangan mereka.

Tapi karena aku akhirnya kehilangan versi diriku yang dulu—yang terlalu percaya, terlalu memberi, terlalu mencintai.

Arga duduk di sampingku.

“Kamu masih selembut dulu,” katanya pelan.

Aku menggeleng.

“Tidak. Sekarang aku hanya lebih kuat.”

Beberapa bulan kemudian, aku berdiri dengan tongkat terapi di galeri seni baruku di Jakarta.

Kaki kiriku masih belum sempurna. Tapi aku bisa berjalan.

Paolo berdiri di depanku, menunduk.

Dia masih anak kecil. Dia hanya mengulang kata-kata ayahnya.

Aku berlutut perlahan di depannya.

“Mama tidak akan meninggalkan kamu.”

Anak itu menangis.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu… aku merasa menang.

Bukan karena Mateo hancur.

Bukan karena Celine kehilangan segalanya.

Tapi karena aku tetap hidup.

Dan kali ini—

Aku memilih diriku sendiri.