KRIM PEMBERSIH BULU DI SHAMPOOKU — SUAMIKU BERPIKIR AKU AKAN BERSEMBUNYI KARENA MALU. TAPI SAAT AKU NAIK KE PANGGUNG DENGAN KEPALA BOTAK, RAHASIA PALING MENJIJIKKAN YANG KUBONGKAR LANGSUNG MENGHANCURKAN HIDUPNYA.

KRIM PEMBERSIH BULU DI SHAMPOOKU — SUAMIKU BERPIKIR AKU AKAN BERSEMBUNYI KARENA MALU. TAPI SAAT AKU NAIK KE PANGGUNG DENGAN KEPALA BOTAK, RAHASIA PALING MENJIJIKKAN YANG KUBONGKAR LANGSUNG MENGHANCURKAN HIDUPNYA.

Suami yang Iri Hati

Namaku Clara Wijaya, usia tiga puluh tahun, Senior Marketing Director di perusahaan raksasa bernama Arunika Global Group di Jakarta.

Sudah lima tahun aku menikah dengan Troy Santoso. Kami bekerja di perusahaan yang sama, tetapi sementara karierku terus naik karena kerja keras dan kemampuan yang kumiliki, Troy tetap berada di posisi Junior Manager.

Bukannya bangga padaku, dia justru semakin dingin dan penuh iri hati.

Dia sering menyindir bahwa aku dipromosikan karena “wajah cantik,” bukan karena kemampuan.

Dan hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku.

Perusahaan akan mengadakan Corporate Gala besar di hotel mewah kawasan Sudirman, dan di depan para direktur serta media nasional, aku akan diumumkan sebagai Chief Operating Officer (COO) baru perusahaan.

— “Nggak usah terlalu dandan, Clara. Kamu juga bakal jatuh suatu hari nanti,” katanya dingin pagi itu sebelum lebih dulu pergi ke hotel tempat acara berlangsung.

Aku memilih mengabaikannya.

Aku masuk ke kamar mandi untuk bersiap.

Racun di Dalam Shampoo

Di bawah shower air hangat, aku menggunakan shampoo mahal favoritku.

Namun beberapa menit kemudian, kulit kepalaku mulai terasa panas dan perih luar biasa.

Saat kusentuh rambutku untuk membilas… dunia seakan berhenti berputar.

Segumpal besar rambut rontok di tanganku.

Jatuh ke lantai kamar mandi.

Aku menjerit panik.

Setiap kali kusentuh kepalaku, semakin banyak rambut panjangku yang copot, meninggalkan bagian-bagian botak yang mengerikan.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil botol shampoo itu dan menciumnya.

Bau bahan kimia yang sangat tajam langsung menusuk hidungku.

Krim penghilang bulu.

Seseorang mencampurkan bahan kimia industri ke dalam shampooku.

Dan saat itu juga… aku teringat Troy masuk ke kamar mandi tadi pagi ketika aku masih tidur.

Aku jatuh berlutut di lantai yang basah sambil menangis.

Dia sengaja melakukan ini.

Dia ingin menghancurkan penampilanku.

Dia ingin aku malu dan tidak datang ke acara promosi terpenting dalam hidupku.

Dia ingin aku tetap berada di bawah bayangannya.

Kebangkitan Sang Ratu

Selama satu jam aku menangis di depan cermin.

Rambutku sudah hancur tidak beraturan.

Aku tampak seperti pasien yang sedang sakit parah.

Lalu aku melihat pesan dari Troy:

— “Sayang, acaranya sudah mulai. Kalau kamu nggak enak badan, nggak usah datang. Aku saja yang bilang ke Board kalau kamu membatalkan promosi.”

Air mataku perlahan berhenti.

Digantikan oleh amarah yang membara.

Dia pikir aku akan kalah?

Dia pikir kekuatanku hanya ada pada rambutku?

Aku mengambil electric razor milik Troy dari lemari.

Tanpa ragu, aku mencukur habis seluruh sisa rambut di kepalaku sampai benar-benar botak licin.

Lalu aku memakai lipstik merah paling berani yang kupunya… dan mengenakan power suit merah marun paling elegan.

Malam ini…

mereka akan melihat siapa Clara sebenarnya.

Saat aku melangkah masuk ke ballroom hotel di kawasan Sudirman malam itu…

seluruh ruangan langsung hening.

Ratusan pasang mata menatap ke arahku.

Para direktur.
Investor.
Media.
Karyawan perusahaan.

Dan di tengah mereka semua… Troy.

Wajahnya langsung pucat saat melihatku.

Botak.

Tanpa sehelai rambut pun.

Namun aku berjalan dengan kepala tegak, memakai setelan merah elegan dan tatapan setajam pisau.

Beberapa orang terlihat terkejut.

Beberapa berbisik pelan.

Tapi aku tidak melihat rasa kasihan di mata mereka.

Aku melihat rasa hormat.

Karena untuk pertama kalinya… mereka melihat seorang wanita yang benar-benar tidak takut pada apa pun.

Troy buru-buru mendekat sambil panik.

— “Clara… kamu ngapain datang ke sini?!” bisiknya tegang.

Aku tersenyum tipis.

— “Bukankah ini malam terpenting dalam hidupku?”

Tangannya mulai gemetar.

Dia tahu.

Dia tahu aku sudah mengetahui semuanya.

Namun sebelum dia sempat bicara lagi, MC sudah memanggil namaku ke atas panggung.

— “Mari kita sambut COO baru Arunika Global Group… Clara Wijaya!”

Tepuk tangan menggema di seluruh ballroom.

Aku melangkah naik ke atas panggung.

Lampu sorot langsung menerangi kepalaku yang botak.

Ruangan kembali sunyi.

Presiden Direktur perusahaan sempat terlihat khawatir.

— “Clara… apa kamu baik-baik saja?”

Aku mengambil mikrofon perlahan.

Lalu tersenyum.

— “Malam ini saya belajar satu hal.”

Aku menatap seluruh ruangan.

— “Kadang orang yang paling takut melihat kita sukses… adalah orang yang tidur di samping kita sendiri.”

Wajah Troy langsung berubah.

Para tamu mulai saling berpandangan.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

— “Dua jam sebelum acara ini dimulai, seseorang mencampurkan krim penghilang bulu ke dalam shampoo saya.”

Ruangan langsung gempar.

Beberapa orang berdiri kaget.

Dan Troy… mulai mundur perlahan.

Tapi aku belum selesai.

Aku mengangkat remote kecil dari saku blazerku.

— “Untungnya… saya bukan hanya Marketing Director.”

Klik.

Layar LED raksasa di belakangku langsung menyala.

Dan seluruh ballroom membeku.

Karena yang muncul bukan presentasi perusahaan.

Melainkan rekaman CCTV rumah kami.

Terlihat jelas Troy masuk ke kamar mandi pagi tadi.

Membuka botol shampooku.

Dan menuangkan sesuatu dari tube putih ke dalamnya.

Suara napas kaget langsung terdengar di seluruh ruangan.

— “Ya Tuhan…”

— “Itu Troy…”

— “Dia benar-benar melakukannya…”

Troy panik.

— “Itu tidak seperti yang kalian pikirkan!”

Tapi video belum selesai.

Klik.

Muncul rekaman kedua.

Kali ini… rekaman dari laptop kantor Troy.

Isi email-email rahasia.

Bukti bahwa selama dua tahun terakhir…

dia diam-diam mencuri data klien perusahaan dan menjualnya ke kompetitor.

Ruangan langsung kacau.

Para direktur berdiri marah.

Presiden Direktur sampai memukul meja.

— “TROY SANTOSO!”

Troy terlihat seperti kehilangan napas.

— “Clara… jangan lakukan ini…”

Aku menatapnya tanpa emosi.

— “Kamu ingin menghancurkan hidupku hanya karena kamu tidak tahan melihatku lebih sukses.”

Aku melangkah mendekatinya di atas panggung.

— “Tapi yang paling menyedihkan…”

Aku tersenyum dingin.

— “Aku pernah mencintaimu.”

Beberapa detik kemudian, petugas keamanan hotel datang.

Di belakang mereka… ada dua polisi cybercrime yang sudah menunggu sejak satu jam lalu.

Karena sebelum datang ke gala ini…

aku sudah menyerahkan semua bukti.

Troy langsung diborgol di depan semua orang.

Dan saat dia dibawa keluar ballroom…

seluruh hidup yang selama ini dia banggakan runtuh dalam satu malam.

Kariernya habis.
Reputasinya hancur.
Dan semua orang akhirnya melihat wajah aslinya.

Sementara aku…

tetap berdiri di atas panggung dengan kepala botak dan lipstik merah menyala.

Lalu aku mengangkat daguku tinggi-tinggi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku merasa lebih cantik daripada sebelumnya.