Kupikir Dia Hanya Pacar Online-ku… Sampai Ponsel Profesor Baru Itu Berbunyi di Depan Satu Kelas, dan Aku Baru Sadar Dialah Pria yang Setiap Hari Kupanggil “Sayang”

Hari pertama kuliah saja, aku sudah ketahuan diam-diam merekam dosen baru.

Bukan karena aku mahasiswa malas.

Tapi karena suara pria itu… persis suara pacar online-ku.

Dan ketika tanpa sengaja aku menekan tombol call, ponselnya langsung berbunyi di depan seluruh kelas.

Nada deringnya?

“Ring ring ring, baby love, ada yang nelepon kamu! Angkat dong, aku kangen banget!”

Satu ruangan langsung diam.

Bahkan kipas angin di langit-langit seolah ikut malu berputar.

Berdiri di depanku Professor Elias Monteverde, dosen termuda Fakultas Teknik di San Aurelio University Jakarta, terkenal di kampus sebagai “Ice Prince Engineering.”

Tinggi.
Rapi.
Selalu memakai kemeja putih, celana hitam, jam tangan silver, dan wajah dingin yang terlihat seperti tidak pernah tersenyum pada mahasiswa dengan nilai rendah.

Kata senior-senior, terlambat tiga menit di kelasnya sama seperti melakukan kejahatan. Main HP saat lecture dianggap penghinaan pribadi. Dan meminta keringanan nilai darinya lebih mustahil daripada hujan turun di tengah musim kemarau.

Jadi saat dia berjalan mendekati mejaku tadi, dengan tatapan tajam dan wajah dingin, rasanya hidup kuliahku tamat hari itu juga.

“Miss,” katanya dengan suara rendah dan serius. “Hari pertama kuliah sudah sibuk pegang handphone. Itu cara kamu mau lulus?”

Tanganku langsung gemetar.

Aku tidak berniat merekam untuk menyebarkan apa pun. Aku cuma ingin memastikan firasatku benar atau tidak.

Karena sejak dia mulai mengajar di depan kelas, ada sesuatu yang menusuk dadaku.

Nada suaranya.

Cara dia mengucapkan kata.

Cara dia bilang, “listen carefully.”

Semuanya sama persis dengan “Kai,” pacar online-ku yang sudah enam bulan menemaniku setiap malam.

Kai, pria yang belum pernah kulihat jelas di video call karena katanya lampu apartemennya selalu rusak.

Kai, yang memanggilku “baby,” “sayang,” dan “little sunshine.”

Kai, yang super manja di chat dan suka drama kalau aku telat balas pesan.

Tapi tidak mungkin dia Professor Monteverde.

Professor Monteverde terlihat seperti alergi terhadap romantisme.

Karena terlalu panik, aku berniat mengunci layar HP. Tapi bukannya menekan tombol power, jariku malah menekan tombol call di chat Kai.

Cuma satu detik.

Lalu…

ponsel Professor Monteverde langsung berbunyi.

Dan seluruh ruangan dipenuhi suaraku sendiri yang sengaja kubuat imut malam sebelumnya.

“Ring ring ring, baby love, ada yang nelepon kamu! Angkat dong, aku kangen banget!”

Seseorang langsung tersedak di belakang.

Ada yang hampir tertawa tapi buru-buru menutup mulut.

Teman sebangkuku, Mica, menatapku seperti baru melihat kecelakaan live.

Sementara aku…

sudah tidak bisa bernapas.

Professor Monteverde perlahan mengeluarkan ponselnya dari saku.

Dan dalam dua detik, dunia langsung runtuh.

Foto kontak yang muncul di layar HP-nya adalah avatar anime cewek yang kupilih sendiri untuk akun chat-ku.

Rambut pink.
Kacamata berbentuk hati.
Dan stiker stroberi kecil di pipi.

Itu bukan avatar umum.

Aku sendiri yang memilihnya sambil bilang ke Kai waktu itu:
“Kalau lihat ini, harus langsung ingat aku.”

Telinga Professor Monteverde langsung merah.

Ya.

Merah.

Pria yang wajahnya seperti bisa membuat satu kelas gagal tanpa emosi itu mendadak merah telinganya sambil buru-buru mematikan panggilan.

Di HP-ku, telepon juga langsung terputus.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

[Kai: Baby, aku lagi kerja. Nanti aku call balik ya.]

Aku perlahan mendongak.

Dia juga menatapku.

Dan dalam satu detik itu…

kami berdua langsung mengerti.

Dia adalah Kai.

Pacar online-ku.

Profesorku sendiri.

Dan aku adalah mahasiswa yang baru saja dia tegur di depan empat puluh orang.

Dia berdeham lalu memaksa kembali memasang ekspresi dingin.

“Nama.”

Aku terlalu syok untuk menjawab.

“Nama kamu,” ulangnya lebih pelan. “Dan nomor mahasiswa.”

“Sir, saya—”

“Saya tidak tanya alasan,” potongnya dingin. “Saya tanya nama.”

Rasanya ada sesuatu panas menyumbat tenggorokanku.

Apa dia tidak mengenaliku?

Atau dia mengenaliku… tapi memilih mempermalukanku supaya dirinya aman?

“Klarissa Dela Cruz,” jawabku pelan. “2021-08317.”

Dia menulisnya di notebook kecil.

“Miss Dela Cruz,” katanya dingin sekali. “Attendance hari ini nol. Anggap ini peringatan. Di kelas saya tidak ada perlakuan khusus.”

Beberapa mahasiswa langsung menoleh.

Ada yang mulai berbisik.

Nol attendance?

Hari pertama?

Mata kuliahnya termasuk major subject. Tiga SKS. Kalau aku gagal di sini, aku bisa terlambat lulus setahun.

Aku ingin menjelaskan.
Ingin bilang:
“Sir, saya panik karena yang saya telepon itu Anda.”

Tapi aku tidak bisa.

Karena di depan semua orang…

dia bukan Kai lagi.

Dia Professor Monteverde.

Dan aku hanya mahasiswinya.

Begitu kelas selesai, dia langsung keluar tanpa melihat kami.

Lalu HP-ku langsung penuh notifikasi.

[Kai: Baby, aku selesai ngajar.]

[Kai: Kamu marah ya?]

[Kai: Maaf aku nggak bisa jawab tadi.]

[Kai: Baby ko, jangan diemin aku.]

[Kai sent Rp5.200.000]

[Kai: Hukuman buat aku. Mau beli milk tea, tas, apa aja terserah. Jangan ngambek ya.]

[Kai: Sayang?]

[Kai: Aku nangis nih. Sedikit aja sih.]

Aku cuma menatap layar.

Pria yang memberiku attendance nol adalah pria yang sama yang mengirim uang dan emoji menangis karena aku belum membalas chat-nya.

Mica langsung mencengkeram lenganku.

“Klar… kamu nggak apa-apa? Mukamu pucat banget.”

Aku bahkan tidak tahu harus tertawa atau menangis.

“Kayaknya…” bisikku pelan, “aku baru tahu sesuatu yang seharusnya nggak aku tahu.”

“Ringtone Sir tadi?” Mata Mica membesar. “Gila sih. Aku kira dia nggak punya perasaan. Ternyata punya pacar. Dan ringtone-nya alay banget!”

Aku menggigit bibir.

Aku pacarnya.

Aku suara di ringtone itu.

Aku alasan kenapa Ice Prince Fakultas Teknik itu merah telinga di depan satu kelas.

Tapi bagaimana caranya aku menjelaskan itu?

Malam itu, setelah hampir satu jam berdiri di depan ruang dosen, akhirnya aku pulang dengan kepala penuh kekacauan.

Aku mematikan lampu kamar.
Menjatuhkan diri ke kasur.
Lalu menatap langit-langit sambil memeluk bantal.

Dan tepat pukul 11:47 malam…

notifikasi masuk lagi.

[Kai: Baby… masih marah?]

Aku menatap pesan itu lama.

Lucu sekali.

Beberapa jam lalu aku masih mengira Kai hanyalah pacar online manis yang suka drama dan kirim uang random.

Sekarang aku tahu dia adalah dosen paling ditakuti di fakultas.

Aku mengetik balasan pendek.

[Klarissa: Jadi selama ini kamu dosen killer itu?]

Typing…

Berhenti.

Typing lagi.

Lalu muncul pesan:

[Kai: Dan selama ini kamu mahasiswa yang bikin aku nggak bisa tidur habis ngajar.]

Dadaku langsung berdebar tidak jelas.

Aku benci karena bahkan setelah semua kekacauan hari ini…

aku masih tersenyum membaca chat-nya.

Tapi sebelum aku sempat membalas, pesan lain masuk.

[Kai: Besok jangan datang terlalu pagi.]

Aku mengernyit.

[Klarissa: Kenapa?]

[Kai: Aku takut lihat kamu terus aku lupa lagi kalau aku harus jadi dosen yang profesional.]

Mukaku langsung panas.

Aku melempar ponsel ke samping bantal sambil menutupi wajah.

“Ya Tuhan…”

Esok paginya, suasana kampus sudah kacau.

Entah siapa yang mulai menyebarkan cerita tentang ringtone kemarin, tapi seluruh Fakultas Teknik terlihat seperti baru menemukan hiburan nasional.

Begitu aku masuk kelas, Mica langsung menarikku.

“Klar! Ada rumor kalau Professor Monteverde punya pacar secret dari fakultas kita!”

Aku pura-pura tidak tahu.

“Oh ya?”

“Dan katanya ringtone dia suara cewek manja banget!”

Aku hampir tersedak minuman sendiri.

Sementara itu, di depan kelas, Professor Monteverde masuk seperti biasa.

Dingin.
Rapi.
Tegang.

Tapi kali ini…

aku tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

Di balik wajah tanpa ekspresi itu adalah pria yang spam chat:
“baby makan belum?”
“jangan begadang.”
“kalau capek video call aku.”

Dan entah kenapa, rahasia itu membuatku ingin tertawa terus.

Professor Monteverde mulai menjelaskan materi sambil menulis rumus di papan.

“Listen carefully.”

Sial.

Nada itu lagi.

Nada yang biasanya membuatku susah tidur karena terlalu nyaman mendengarnya lewat voice note malam-malam.

Aku buru-buru menunduk supaya tidak ketahuan senyum sendiri.

Tapi mungkin Tuhan memang suka mempermalukanku.

Karena tiba-tiba…

ponsel Professor Monteverde berbunyi lagi.

Satu kelas langsung diam.

Dan sedetik kemudian—

“Ring ring ring, baby love, ada yang nelepon kamu—”

“MATIKAN!”

Professor Monteverde langsung mematikan ponselnya dengan wajah merah untuk kedua kalinya minggu itu.

Satu kelas meledak tertawa.

Bahkan mahasiswa paling serius di barisan depan sampai menepuk meja.

Aku spontan menutup wajah pakai buku.

Malu.
Sangat malu.

Professor Monteverde menatap seluruh kelas tajam.

“Kalau masih ada yang tertawa, saya kasih quiz mendadak sekarang.”

Semua langsung diam.

Tapi sebelum kembali mengajar, matanya sempat melirik ke arahku sepersekian detik.

Dan untuk pertama kalinya…

aku melihatnya hampir tersenyum.

Hampir.

Setelah kelas selesai, aku sengaja keluar paling akhir.

Saat mahasiswa lain sudah pergi, aku memberanikan diri mendekati mejanya.

“Sir…”

Dia mengangkat kepala perlahan.

Di ruangan kosong itu, suasana terasa berbeda.

Tidak ada mahasiswa lain.
Tidak ada gosip.
Tidak ada Dean.

Hanya aku dan dia.

Professor Monteverde menghela napas panjang.

“Klarissa.”

Aku menggigit bibir pelan.

“Masih mau kasih attendance nol?”

Dia langsung memijat pelipis seolah pusing.

“Aku udah nggak tidur semalaman mikirin itu.”

Aku menahan senyum.

“Terus?”

Dia membuka laci meja lalu mengeluarkan lembar attendance.

Kemudian perlahan menulis sesuatu.

Ceklis hadir.

Aku langsung membelalak.

“Sir…”

“Tapi cuma kali ini,” katanya cepat. “Dan jangan pernah rekam dosen lagi.”

Aku tertawa kecil.

“Kalau dosennya pacar sendiri gimana?”

Dia langsung menatapku.

Sunyi beberapa detik.

Lalu sangat pelan…

Professor Elias Monteverde tersenyum.

Bukan senyum sinis.
Bukan senyum sopan.

Tapi senyum kecil yang hangat dan sangat manusiawi.

Dan jujur saja…

itu jauh lebih berbahaya dibanding wajah dinginnya.

Karena saat itulah aku sadar:

aku mungkin tidak cuma jatuh cinta pada Kai si pacar online.

Aku juga mulai jatuh cinta pada Elias…
lelaki nyata di depanku.

Pria yang terlihat sempurna dan dingin di luar,
tapi diam-diam menyimpan ringtone paling memalukan sedunia hanya karena suara dariku.

Dan sejak hari itu…

setiap kali Professor Monteverde berkata “listen carefully” di kelas,

aku selalu jadi orang pertama yang tidak bisa fokus.