Lucas ada di gendonganku, tidur nyenyak, tidak menyadari apa yang sedang terjadi di ruangan mewah itu.

Lucas ada di gendonganku, tidur nyenyak, tidak menyadari apa yang sedang terjadi di ruangan mewah itu.

Semua mata perlahan mulai tertuju padaku.

Troy tampak panik sesaat, tapi dengan cepat ia tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.

“Oh, itu?” katanya santai. “Itu… pengasuh anak saya, Pak.”

Ruangan langsung hening.

Aku menatapnya.

Tidak ada ekspresi di wajahku.

Tidak ada emosi yang terlihat.

Hanya dingin.

“Pengasuh?” ulang Direktur Fernandez pelan.

Valerie tersenyum sinis sambil menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

“Iya, Pak. Yaya anaknya. Dia cuma ikut bantu-bantu malam ini.”

Troy mengangguk cepat, seolah itu penjelasan paling masuk akal di dunia.

“Dia memang sering bantu di rumah,” tambahnya. “Tidak penting.”

Aku hampir tertawa.

Tidak penting.

Kata itu terdengar sangat ringan… untuk sesuatu yang akan menghancurkan hidupnya.

Direktur Fernandez menatapku lagi.

“Tapi… kenapa aku merasa pernah melihatmu sebelumnya?”

Sunyi.

Troy langsung memotong.

“Pak, dia cuma yaya biasa. Mungkin Bapak salah lihat.”

Aku perlahan menurunkan Lucas ke kursi yang ada di dekat meja.

Lalu aku melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sepatu hakku menyentuh lantai marmer ballroom itu dengan suara yang pelan tapi tegas.

Semua orang mulai memperhatikan.

Aku berhenti tepat di depan mereka.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku berbicara.

“Yaya?”

Aku menatap Troy lurus.

“Begitu kamu memperkenalkan aku di depan semua orang?”

Troy mengernyit.

“Isabella, jangan bikin masalah di sini—”

Aku mengangkat tangan.

Seketika.

Semua layar di ballroom besar itu tiba-tiba menyala.

Proyektor di dinding berubah.

Logo perusahaan muncul.

VALDERAMA GLOBAL EMPIRE

Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.

Troy membeku.

Valerie berhenti tersenyum.

Direktur Fernandez melangkah maju, matanya membesar.

“Valderama…?” gumamnya.

Aku perlahan melepas kartu akses kecil dari tas tanganku dan menunjukkannya.

“Perkenalkan ulang,” kataku tenang.

“Isabella Valderama.”

Ruangan seperti kehilangan udara.

Troy menatapku seperti baru melihat hantu.

“Tidak… itu tidak mungkin…”

Aku tersenyum kecil.

“Lucu ya,” kataku pelan.

“Kamu mempermalukanku sebagai yaya…”

Aku menatapnya lebih dekat.

“…padahal tangan yang kamu hina tadi pagi adalah tangan yang menandatangani gajimu.”

Sunyi.

Valerie mundur selangkah.

“Direktur… apa ini benar?” suaranya gemetar.

Fernandez menoleh ke arah Troy, wajahnya langsung berubah dingin.

“Troy,” katanya berat, “CEO yang kamu sebut ‘tidak pernah muncul’… ada di depanmu sekarang.”

Troy pucat.

Tangannya gemetar.

“Isabella… aku… aku bisa jelaskan—”

Aku menggeleng pelan.

“Tidak perlu.”

Aku menatap seluruh ruangan.

“Mulai hari ini…”

“jabatan Senior Manager Troy akan ditinjau ulang.”

Aku berhenti sebentar.

Lalu menambahkan dengan suara pelan tapi mematikan:

“Dan semua keputusanmu selama ini… juga.”

Troy langsung jatuh ke kursi di belakangnya.

Valerie tidak lagi berani menatapku.

Aku berbalik, berjalan ke arah Lucas.

Menggendongnya lagi.

Sebelum pergi, aku berhenti sekali lagi.

“Troy,” kataku tanpa menoleh.

“Kamu tidak dipermalukan oleh yaya malam ini.”

Aku menoleh sedikit.

“Kamu dipermalukan oleh istrimu sendiri.”

Lalu aku berjalan keluar dari ballroom itu.

Tanpa suara.

Tanpa air mata.

Hanya langkah seorang wanita yang akhirnya berhenti bersembunyi.

Lampu-lampu ballroom masih berkilau ketika Mr. Fernandez menatapku dengan alis terangkat, menunjuk ke arahku yang berdiri di belakang Troy seperti seorang pengasuh.

“Dan… siapa wanita itu?” tanyanya lagi, kali ini lebih serius.

Troy tertawa kecil, gugup tapi tetap sombong.
“Oh, itu? Yaya anak saya, Sir. Biar simple saja malam ini.”

Beberapa tamu ikut tertawa kecil. Valerie bahkan tidak repot menyembunyikan senyumnya.

Aku menunduk, menatap Lucas yang menggenggam tanganku. Tapi kali ini… bukan rasa sakit yang aku rasakan.

Melainkan waktu yang sudah tepat.

Aku melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Suara heels-ku bergema di lantai marmer, memotong tawa di sekeliling.

“Yaya?” ulangku pelan.

Semua mata perlahan tertuju padaku.

Aku menatap Troy langsung untuk pertama kalinya malam itu.

“Lucu sekali,” kataku tenang.

Troy mengernyit. “Isabella, jangan bikin malu diri sendiri. Kembali ke belakang.”

Aku tidak bergerak.

Sebaliknya, aku mengangkat teleponku.

Dan menekan satu tombol.

Layar besar di ballroom tiba-tiba menyala.

Awalnya hanya logo perusahaan: C-Tech Solutions.

Lalu berubah.

Menampilkan struktur kepemilikan saham.

Nama-nama direktur.

Dan satu baris terakhir yang membuat seluruh ruangan mulai sunyi:

MAJORITY SHAREHOLDER: ISABELLA VALDERAMA — 87.3%

Bisik-bisik mulai muncul.

“Siapa itu Valderama?”

“Itu… CEO rahasia?”

Troy langsung tertawa, tapi kali ini terdengar dipaksakan.
“Anong kalokohan ’to?! Palsu ’yan!”

Aku menatapnya.

“Palsu?” ulangku.

Aku mengangkat kartu akses emas dari dalam clutch bag-ku.

“C-Tech Solutions bukan perusahaanmu, Troy.”

Langkahku mendekat.

“Perusahaan itu milik keluarga Valderama.”

Aku menatap Valerie, lalu kembali ke Troy.

“Dan kamu… hanya karyawan yang aku promosikan.”

Ruangan langsung hening.

Wajah Troy berubah pucat.

“Hindi… hindi totoo ’yan…”

Aku menoleh ke arah Mr. Fernandez.

“Pak, mohon maaf atas kebingungan ini. Saya baru kembali secara publik malam ini.”

Fernandez langsung berdiri tegak.
“Ms. Valderama…?”

Aku mengangguk kecil.

“Semua kontrak atas nama C-Tech Solutions,” lanjutku, “dibekukan mulai malam ini. Termasuk promosi ilegal, dan penyalahgunaan jabatan.”

Troy langsung mundur satu langkah.

“Isabella… anong sinasabi mo?”

Aku akhirnya menatapnya benar-benar.

“Nama asliku bukan Isabella ‘simple housewife’ seperti yang kamu pikir.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku Isabella Valderama.”

Hening.

“CEO dari Valderama Global Empire.”

Seakan seluruh udara di ruangan itu hilang.

Valerie langsung melepaskan tangan Troy.

“Ano… ano ’to, Troy?!”

Tapi Troy tidak menjawab.

Teleponnya bergetar.

Satu panggilan masuk.

Dari HR pusat.

Dia mengangkat dengan tangan gemetar.

“Hello?”

Suara di seberang terdengar keras, bahkan dari jarak jauh.

“Sir Troy Santos, you are hereby terminated effective immediately.”

Telepon jatuh dari tangannya.

Brak.

Semua orang terdiam.

Aku berbalik, menggandeng Lucas.

Sebelum pergi, aku berhenti sebentar di samping Troy yang kini sudah tidak berani menatapku.

Aku berbisik pelan:

“Kamu tidak mempermalukan seorang yaya malam ini.”

Aku menatapnya dingin.

“Kamu baru saja mempermalukan pemilikmu.”

Lalu aku melangkah pergi, tanpa menoleh lagi.

Di belakangku, suara panik mulai pecah. Tapi itu sudah bukan urusanku lagi.

Karena malam itu, di bawah lampu emas ballroom Jakarta, Troy akhirnya mengerti satu hal:

Wanita yang dia hina sebagai “yaya”…

adalah orang yang selama ini menandatangani gajinya dalam satuan milyaran rupiah, dan menentukan apakah hidupnya layak dilanjutkan atau tidak.