Malam itu, tepat di hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima, Lorenzo Chu menarik kembali 8% saham yang pernah ia janjikan padaku — dan menyerahkannya kepada “Cinta Sejatanya” yang baru saja pulang dari luar negeri.
Di bawah cahaya gemerlap ballroom Hotel Mulia Jakarta, seluruh ruangan bertepuk tangan.
Olivia Tee mengenakan gaun putih elegan, berdiri di sampingnya. Senyumnya lembut, terkendali — seperti bunga mahal yang baru saja dipetik dari universitas prestisius di Amerika.
Saat ia mengangkat tangan untuk menerima dokumen saham itu, mataku langsung tertuju pada gelang di pergelangan tangannya.
Itu desainku.
Tiga bulan aku mencari pengrajin terbaik di Kota Gede, Yogyakarta, untuk membuatnya. Awalnya ingin kuhadiahkan untuk diriku sendiri sebagai perayaan anniversary.
Sekarang, gelang itu melingkar di tangan wanita lain.
Lorenzo berdiri di atas panggung, suaranya tenang seperti sedang mengumumkan keputusan bisnis biasa:
“Mulai hari ini, Olivia Tee resmi menjabat sebagai Executive Vice President Lumina Intelligent Solutions Indonesia. Ia akan memimpin putaran pendanaan Seri B serta rebranding perusahaan. Mengenai equity incentive yang telah disepakati: 8% saham.”
Beberapa orang terdiam.
Karena seluruh perusahaan tahu — 8% itu dulu dijanjikan untukku.
Tiga bulan lalu, di ruang kerja pribadinya, Lorenzo memelukku dan berkata:
“Trina, setelah funding round ini selesai, 8% itu akan jadi milikmu. Kamu sudah menemaniku dari nol. Saat kita IPO di Bursa Efek Indonesia, kamu harus berdiri di sampingku.”
Kini yang berdiri di sampingnya adalah Olivia.
Beberapa kolega diam-diam melirik ke arahku. Ada yang pura-pura tidak melihat. Ada pula yang buru-buru mengetik di ponsel, takut ketinggalan drama “Istri Sah vs Cinta Lama.”
Asisten Lorenzo mendekat, membawa map.
“Bu Trina, Pak Lorenzo minta Ibu menandatangani ini malam ini. Besok investor akan menandatangani perjanjian final. Beliau tidak ingin ada konflik keluarga yang memengaruhi valuasi perusahaan.”
Kubuka map itu.
Halaman pertama: Perjanjian Perceraian.
Halaman kedua: Pembagian Harta Bersama.
Halaman ketiga: Pernyataan Pelepasan Hak atas apartemen yang kubeli sebelum menikah.
Halaman keempat: Addendum Lisensi Teknologi antara studio desainku, Tri-Z Creative Lab, dan Lumina Intelligent.
Namaku sudah tercetak rapi di bagian tanda tangan.
Aku mengangkat kepala.
Lorenzo menatapku dari atas panggung. Alisnya berkerut, tatapannya penuh peringatan yang sudah sangat kukenal:
Jangan buat keributan.
Tetaplah patuh.
Seperti ribuan kali dalam lima tahun terakhir.
Olivia juga menatapku. Bibirnya sedikit melengkung. Bukan mengejek. Bukan sombong.
Tapi lebih menyakitkan daripada tamparan di depan umum.
Aku menutup map itu, lalu tersenyum.
Mengambil segelas champagne, dengan high heels setinggi delapan sentimeter, aku berjalan perlahan ke atas panggung.
Seluruh ballroom mendadak hening.
Ekspresi Lorenzo berubah. Ia mencoba menahanku.
“Trina, jangan buat masalah di sini.”
“Masalah?” Aku menoleh padanya, senyumku tak pudar.
“Bukankah ini anniversary kita? Kamu memberi hadiah besar. Aku juga ingin memberi ucapan.”
Aku menghadap para tamu, berbicara dengan suara tidak keras, tapi cukup jelas terdengar:
“Selamat, Tuan Lorenzo Chu. Akhirnya Anda berhasil membawa pulang Cinta Sejati Anda.”
Ruangan langsung riuh.
Senyum Olivia menghilang.
“Trina Joy!” Lorenzo menegur keras.
Aku mengabaikannya. Mengayunkan gelas sedikit, menatapnya lurus.
“Aku akan membaca dokumennya. Dan aku akan menandatangani. Tapi Lorenzo… pastikan besok kamu tidak menyesal.”
Aku meneguk champagne itu habis, lalu turun dari panggung.
Bisik-bisik terdengar di belakangku.
“Bu Trina sudah gila ya?”
Aku mendengarnya.
Tapi aku tidak menoleh.
Yang gila bukan aku.
Yang gila adalah mereka — jika mengira aku akan diam saja melihat panggung yang kubangun dari nol, lalu membiarkan dua orang tak tahu malu berdiri di atasnya sementara aku bertepuk tangan.
Hampir pukul sebelas malam ketika aku tiba di rumah.
Baru saja melepas sepatu, Lorenzo masuk dengan membanting pintu.
Ia tidak melepas jasnya. Tidak mengganti sepatu. Langsung melempar berkas perceraian ke meja.
“Trina Joy, apa maksudmu tadi?”
Aku memungut kertas-kertas yang berserakan.
“Kamu menyerahkan saham itu pada Olivia tanpa bertanya padaku. Kamu pernah berpikir bagaimana perasaanku?”
“Itu keputusan perusahaan, bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Ah.” Kubalik halaman perceraian. “Kalau ini? Juga keputusan perusahaan?”
Lorenzo terdiam. Duduk di depanku dengan wajah tegang.
“Trina… jujur saja. Kamu sudah tidak cocok lagi berada di perusahaan. Olivia lebih paham pasar modal, punya koneksi internasional. Kembalinya dia demi Lumina. Dan tentang kita…”
Ia berhenti sejenak.
“Kita memang sudah tidak bisa bersama lagi.”
Aku menatapnya.
Lalu tertawa pelan.
“Tidak bisa bersama? Atau kamu tidak pernah benar-benar memilihku?”
Ia tak menjawab.
Aku berdiri, mengambil map lain dari lemari.
“Kalau begitu, sebelum aku menandatangani apa pun… ada satu hal yang perlu kamu tahu.”
Aku membuka dokumen itu dan meletakkannya di depan Lorenzo.
Itu adalah akta pendirian Lumina lima tahun lalu.
Di bagian pemegang saham awal:
Lorenzo Chu — 60%
Trina Joy Wijaya — 40%
Aku tersenyum tipis.
“Modal awal Lumina sebesar Rp10 miliar bukan dari keluargamu, Lorenzo. Itu dari dana venture capital milik ayahku — yang masuk melalui namaku.”
Wajahnya memucat.
“Dan 8% yang kamu berikan tadi?” lanjutku pelan,
“Itu bukan hanya saham perusahaan. Itu bagian dari hakku.”
Sunyi.
Hanya suara napasnya yang terdengar.
“Aku memang akan menandatangani,” kataku tenang.
“Tapi bukan sebagai wanita yang ditinggalkan.”
Aku menggeser dokumen terakhir ke arahnya.
Surat pemberitahuan penghentian lisensi teknologi Tri-Z.
“Tanpa teknologi dan sistem desain milik Tri-Z, valuasi Lumina turun 35%. Investor besok akan membaca laporan baru pukul delapan pagi.”
Aku menatapnya lurus.
“Sekarang… pastikan kamu benar-benar tidak akan menyesal.”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku melihat Lorenzo Chu kehilangan kendali.
Dan aku akhirnya sadar:
Cinta mungkin bisa dicuri.
Saham bisa dipindahkan.
Tapi kekuatan?
Itu tidak pernah benar-benar hilang —
hanya menunggu waktu yang tepat untuk diambil kembali.

Lorenzo menatap angka-angka di laporan itu seperti sedang melihat vonis.
“Trina… kamu tidak akan benar-benar melakukan ini, kan?”
Suaranya tak lagi tegas. Untuk pertama kalinya, ada rasa takut di dalamnya.
Aku berdiri tenang.
“Melakukan apa? Melindungi hakku?”
Ia bangkit berdiri. “Investor sudah confirm hadir besok pagi. Kalau valuasi turun 35%, putaran pendanaan Rp120 miliar bisa batal. Kamu tahu artinya?”
“Tahu.” Aku menatapnya lurus. “Artinya kamu seharusnya tidak mengkhianati partner terbesarmu.”
Sunyi.
Hanya detik jam dinding yang terdengar.
Pukul 07.45 pagi.
Ruang rapat utama Lumina penuh oleh investor dan konsultan hukum. Olivia duduk di sisi Lorenzo, wajahnya tetap anggun — tapi matanya tak lagi setenang semalam.
Presentasi dimulai.
Slide pertama berjalan lancar. Slide kedua juga.
Lalu CFO membuka bagian risiko.
“Berdasarkan pemberitahuan tertulis yang kami terima pukul 23.48 tadi malam… Lisensi teknologi inti dari Tri-Z Creative Lab akan dihentikan efektif dalam 30 hari.”
Ruangan gempar.
Investor saling berpandangan.
“Tanpa lisensi itu,” lanjut CFO dengan suara berat, “Lumina harus membangun ulang sistem proprietary-nya dari nol.”
Salah satu investor senior menyilangkan tangan.
“Kenapa risiko sebesar ini baru diinformasikan sekarang?”
Tatapan mereka tertuju pada Lorenzo.
Ia menoleh padaku.
Aku duduk di ujung meja. Elegan. Tenang.
Untuk pertama kalinya, bukan aku yang berada di posisi terpojok.
Setelah dua jam diskusi panas, keputusan diambil.
Pendanaan tidak dibatalkan.
Tapi ditunda.
Syaratnya jelas:
- Konflik kepemilikan saham harus diselesaikan.
- Struktur manajemen harus direvisi.
- Perjanjian lisensi teknologi harus dinegosiasi ulang — langsung dengan pemiliknya.
Dan pemiliknya… adalah aku.
Malam itu, Lorenzo datang ke apartemenku. Kali ini tanpa amarah.
“Trina,” katanya pelan, “apa yang kamu inginkan?”
Pertanyaan itu terlambat lima tahun.
“Aku ingin perceraian yang adil.”
“Tanpa manipulasi.”
“Tanpa pemaksaan.”
“Dan tanpa kamu menyentuh hak yang bukan milikmu.”
Ia mengangguk perlahan.
“Dan Olivia?”
Aku tersenyum tipis.
“Itu bukan lagi urusanku.”
Tiga bulan kemudian.
Perceraian resmi disahkan.
Aku menjual 30% sahamku kepada investor strategis dengan nilai yang bahkan lebih tinggi dari penawaran awal. Sisanya tetap kupegang.
Lumina tetap berdiri.
Olivia tetap menjabat.
Lorenzo tetap menjadi CEO.
Tapi tidak lagi berkuasa penuh.
Dan tidak lagi tak tersentuh.
Suatu sore, aku berjalan keluar dari gedung Lumina untuk terakhir kalinya sebagai istri pemilik.
Langit Jakarta berwarna keemasan.
Olivia berdiri di lobi. Ia menghampiriku.
“Aku tidak pernah berniat menghancurkanmu,” katanya pelan.
Aku menatapnya.
“Kamu tidak menghancurkanku.”
“Aku hanya berhenti membiarkan diriku diinjak.”
Ia terdiam.
Aku berbalik dan melangkah keluar.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada drama.
Hanya langkah sepatu yang mantap di atas marmer.
Beberapa orang berpikir kemenangan adalah berdiri di atas panggung, disorot lampu, memegang saham terbanyak.
Tapi bagiku, kemenangan adalah ini:
Meninggalkan ruangan tanpa air mata.
Tanpa kehilangan harga diri.
Tanpa kehilangan kendali.
Lorenzo pernah berkata bahwa tanpa dirinya, aku tidak akan pernah bersinar.
Ia salah.
Aku bukan bayangan di samping CEO.
Aku bukan istri yang menunggu janji.
Aku adalah pendiri.
Investor.
Pemilik teknologi.
Dan yang paling penting—
Aku adalah wanita yang tahu kapan harus mencintai,
dan kapan harus berhenti.