MALAM SEBELUM PERNIKAHAN, AKU DIAM-DIAM MENJUAL KONDOMINIUM DI BGC DAN MENGHILANG DARI MANILA

Dan saat tunanganku melihat cincin pertunangan yang kutinggalkan di laci…
Keluarga Delos Santos benar-benar kehilangan kendali.


1

Malam itu aku sedang berada di Cebu untuk peringatan kematian nenekku ketika sebuah live streaming Facebook muncul tanpa sengaja di layar ponselku.

Judulnya sederhana:

“Pasangan paling romantis malam ini di Greenhills Bridal Show.”

Aku hampir saja melewatinya.

Sampai aku melihat pria di dalam video itu.

Adrian Delos Santos.

Tunangan yang sudah bersamaku selama delapan tahun.

Dia berdiri di tengah butik gaun pengantin mewah di San Juan, memperbaiki veil seorang perempuan muda dengan lembut.

Dan aku mengenal perempuan itu.

Sangat mengenalnya.

Nicole Ramos.

Mahasiswi miskin yang dulu aku biayai kuliahnya sejak dia berusia 16 tahun.

Aku yang membawanya pertama kali ke BGC saat dia diterima universitas di Manila.
Aku yang memeluknya saat dia menangis karena berhasil lulus.

Dan saat Adrian melamarku di Manila Bay… dia juga yang menangis paling keras di sampingku.

“Kak Sofia… aku akan selalu menganggapmu seperti kakakku sendiri.”

Namun sekarang…

Perempuan itu berdiri dalam gaun pengantin yang bahkan aku sendiri yang mendesainnya.

Dan di sampingnya, pria yang akan menikah denganku.

Kamera livestream bergerak perlahan.

Nicole berputar di depan cermin.

Gaun mermaid warna champagne itu memantulkan cahaya lampu kristal.

Seorang staf tersenyum kecil.

— “Nona Nicole… Anda benar-benar seperti calon Mrs. Delos Santos.”

Adrian tidak menyangkal.

Dia hanya tersenyum kecil.

Dan saat itu…

Aku merasa seluruh tubuhku seperti disiram air es.

Aku menunggu beberapa detik sebelum meneleponnya.

Diangkat.

“Sofia?”

Suara Adrian tenang.

Di belakangnya terdengar musik piano dari showroom.

Aku tersenyum pelan.

— “Katanya kamu sudah ambil gaun utama pernikahan kita?”

Dia terdiam sesaat.

Lalu tertawa kecil.

— “Iya. Aku mau revisi detail terakhir.”

— “Aku mau kasih kamu kejutan.”

Di layar livestream, Nicole kini menggandeng lengannya.

Aku menatap adegan itu lama.

— “Oh ya?”

— “Tinggal di Cebu beberapa hari lagi ya.”

Suara Adrian terdengar lembut.

— “Aku sedang menyiapkan hadiah spesial untuk pernikahan kita.”

Aku menjawab pelan.

— “Baik.”

Setelah telepon ditutup, aku membuka aplikasi bank.

Lalu menghubungi agen properti di Manila.

— “Jual kondominiumnya di One Uptown Residence sekarang.”

Agen itu terkejut.

— “Tapi Ma’am Sofia, itu baru lunas bulan lalu…”

Aku menatap laut gelap di Cebu.

— “Aku tidak membutuhkannya lagi.”


2

Dua hari kemudian.

Aku kembali ke Manila.

Tapi aku tidak pulang ke mansion keluarga Delos Santos.

Taksi berhenti di BGC.

Beberapa pria bersetelan jas sedang memindahkan barang di lobi.

Seorang pria paruh baya menghampiriku.

— “Nona Sofia?”

— “Saya pemilik baru unit ini.”

Aku menyerahkan kunci tanpa banyak kata.

Tidak ada yang tahu…

Bahwa sejak awal, unit itu hanya terdaftar atas namaku.

Adrian hanya mengira itu properti bersama setelah menikah.

Aku naik lift ke lantai 38 dengan koper.

Terakhir kalinya.

Apartemen itu masih sama.

Gaun pengantin contoh masih tergantung di dekat cermin.

Foto prewedding masih terpajang di meja.

Aku melepas cincin tunanganku.

Menaruhnya di samping foto.

Lalu membuka laci.

Di dalamnya ada amplop tebal.

Catatan medis atas nama Nicole Ramos.

Dan tulisan jelas:

Hamil 8 minggu.

Aku menatapnya lama.

Lalu tertawa pelan.

Jadi ini…

“kejutan” yang Adrian maksud.

Tiba-tiba ponselku bergetar.

Grup pernikahan.

Nicole mengunggah foto baru.

Adrian sedang membantu memakaikan sepatu hak tinggi untuknya.

Caption:

“Ada orang yang datang di waktu yang tepat… untuk membuat masa muda jadi sempurna.”

Komentar berdatangan:

  • “Adrian lebih perhatian ke Nicole daripada calon istrinya.”
  • “Mereka lebih cocok daripada Sofia.”
  • “Kasihan Sofia, calon suami selalu hilang.”

Aku keluar dari grup.

Lalu mengirim email ke pengacaraku:

“Batalkan semua kontrak pernikahan.”

Tepat saat itu…

Pintu terbuka.

Suara Adrian terdengar.

— “Nicole, aku sudah bilang… rumah ini juga akan jadi milikmu nanti.”

Aku membeku di tengah ruangan.

Langkah heels terdengar mendekat dari koridor.

Nicole masuk.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku tersenyum.

Bukan karena sedih.

Tapi karena semuanya akhirnya jelas.


**Bersambung… di komentar 👇

Aku tidak bergerak.

Langkah Nicole semakin dekat, disusul suara Adrian yang masih terdengar santai dari arah pintu.

— “Nicole, tunggu di luar dulu…”

Tapi dia sudah melihatku.

Dan untuk sepersekian detik, seluruh ruangan terasa hening.

Nicole tersenyum tipis, seperti seseorang yang sudah menang sebelum bertanding.

— “Oh… Kak Sofia sudah pulang.”

Adrian langsung menoleh.

Wajahnya berubah.

Bukan panik.

Lebih ke… tidak menyangka aku ada di sini sekarang.

— “Sofia… kamu sudah pulang dari Cebu?”

Aku tidak menjawab.

Mataku justru tertuju pada Nicole yang berdiri di sampingnya, memegang perutnya sendiri pelan—seolah mengingatkan semua orang tentang “alasan” keberadaannya.

Aku melangkah masuk ke ruang tamu.

Pelan.

Satu langkah demi satu langkah.

Lalu aku meletakkan tablet di atas meja.

Layar menyala.

Menampilkan satu file yang tadi malam sudah aku kirim ke pengacara.

Pembatalan seluruh kontrak pernikahan.

Adrian langsung mengernyit.

— “Apa ini?”

Aku menatapnya.

— “Kamu bilang ada kejutan untuk pernikahan kita.”

Aku tersenyum kecil.

— “Ini juga kejutan.”

Suasana berubah.

Nicole tertawa kecil, tapi ada getar di suaranya.

— “Kak Sofia, ini cuma salah paham… aku dan Adrian—”

Aku mengangkat tangan, memotongnya.

— “Kamu tidak perlu menjelaskan.”

Lalu aku mengeluarkan map kedua dari tasku.

Menaruhnya di meja.

Di dalamnya:

  • Akta kepemilikan kondominium
  • Bukti transfer pembelian properti (₱42,000,000 / sekitar 3,4 juta yuan)
  • Bukti pinjaman yang tidak pernah diajukan bersama
  • Dan screenshot chat grup keluarga Delos Santos

Adrian membaca cepat.

Wajahnya mengeras.

— “Sofia… kamu jual apartemen itu?”

Aku mengangguk.

— “Sudah.”

Hening.

Nicole tiba-tiba berbicara pelan.

— “Tapi… itu kan rumah kita nanti…”

Aku menoleh ke dia.

Tatapan dingin tapi tenang.

— “Rumah siapa?”

Dia terdiam.

Aku lanjut.

— “Rumah yang kamu isi tanpa izin? Atau rumah yang kalian rencanakan untuk dibagi sebelum aku mati rasa?”

Adrian maju satu langkah.

— “Kita bisa bicara baik-baik…”

Aku menggeleng.

— “Kita sudah bicara baik-baik selama delapan tahun.”

Aku menunjuk cincin di atas meja.

— “Dan ini jawabannya.”

Suasana benar-benar membeku.

Di luar jendela, lampu kota BGC tetap terang seperti biasa, seolah tidak ada drama yang sedang runtuh di dalam ruangan itu.

Aku mengambil koperku.

Adrian menahan suara.

— “Sofia… jangan lakukan ini.”

Aku berhenti di pintu.

Tanpa menoleh.

— “Aku sudah melakukannya sejak kamu memutuskan bahwa kehadiranku bisa digantikan.”

Lalu aku membuka pintu.

Angin malam masuk.

Dingin.

Bebas.

Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun…

Aku tidak berjalan ke arah mereka.

Aku berjalan keluar dari hidup mereka.


Epilog (3 bulan kemudian)

Berita tentang keluarga Delos Santos tersebar di Manila Business Circle.

  • Properti utama dibekukan karena sengketa hukum
  • Investasi pernikahan dibatalkan
  • Dan Adrian Delos Santos mengundurkan diri dari perusahaan keluarga

Nicole? Menghilang dari semua media sosial.

Sedangkan aku…

Aku membuka studio desain sendiri di Cebu.

Nama brand kecil di sudut kantor:

“SOFIA — Not Everyone Deserves a Second Access.”

Suatu malam, seseorang mengirim pesan anonim:

“Kamu benar-benar pergi tanpa menoleh?”

Aku menatap layar sebentar.

Lalu mematikan ponsel.

Di luar jendela, laut Cebu tenang.

Dan untuk pertama kalinya…

Tidak ada yang perlu aku menangkan lagi.

Karena aku sudah menang sejak aku memilih diriku sendiri.