“Mau Pergi ke Mana dengan Pakaian Seperti Itu?” — Untuk Pertama Kalinya Sang Pewaris Benar-Benar Memperhatikan Pembantu yang Selama Ini Seolah Tak Terlihat

Bagian 1

Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga Wijaya memandangku sebagai seorang wanita sungguhan.

Bukan sebagai pembantu.

Bukan sebagai bayangan sunyi yang berjalan di lorong-lorong panjang rumah mewah tempat suara jam di lantai tiga pun bisa terdengar jelas.

Melainkan sebagai seorang wanita.

Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat seluruh tubuhku gemetar.

“Mau pergi ke mana?”

Aku membeku di dekat pintu belakang dapur.

Sepatu hak tinggi yang belum sempat kupakai masih berada di tanganku.

Selama lebih dari setahun bekerja di rumah keluarga Wijaya, Arga belum pernah berbicara lebih dari tiga kalimat kepadaku.

“Kopi.”

“Mana dokumennya?”

“Bersihkan ruang rapat.”

Hanya itu.

Dia seperti badai di lautan—dingin, gelap, dan tak seorang pun tahu kapan akan meledak.

Aku selalu menghindarinya.

Sama seperti semua pelayan di rumah itu.

Karena semua orang tahu bahwa Arga Wijaya bukan hanya pewaris perusahaan pelayaran terbesar di Surabaya.

Dia juga pria yang ditakuti polisi, politisi, dan para pengusaha.

Ada hal-hal yang tidak pernah diucapkan orang secara terang-terangan.

Hanya dalam bisikan.

Bahwa kekayaan keluarga Wijaya tidak sepenuhnya bersih.

Bahwa orang-orang yang berani menentang Arga tiba-tiba menghilang dari kota.

Bahwa dia bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan satu panggilan telepon.

Dan aku…

Hanyalah gadis miskin dari kawasan nelayan dekat Pelabuhan Tanjung Perak.

Karena itu, aku belajar untuk menundukkan kepala.

Belajar untuk tidak menarik perhatian.

Namun malam ini, aku mengenakan gaun putih sederhana yang pas di tubuhku, sedikit lipstik, dan untuk pertama kalinya keluar dari kamar para pembantu dengan rambut terurai.

Aku hanya ingin merasakan menjadi wanita normal, walau hanya satu malam.

Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya.

Dia berdiri di ujung lorong yang remang-remang.

Mengenakan kaus hitam dengan beberapa kancing terbuka, satu tangan di dalam saku, sementara tangan lainnya memegang segelas anggur merah.

Cahaya kuning lampu menerangi wajahnya yang dingin dan tegas.

Dia menatapku lama.

Sangat lama.

Hingga aku hampir lupa cara bernapas.

“Jawab aku.”

Suaranya rendah.

“Mau pergi ke mana jam segini?”

“Aku… hanya mau bertemu teman.”

“Teman yang mana?”

“Aku rasa saya tidak perlu menjelaskan kehidupan pribadi saya, Pak.”

Dia tertawa pelan.

Sangat pelan.

Namun justru membuat suasana semakin mencekam.

Dia berjalan mendekat.

Perlahan.

Tidak tergesa-gesa.

Tetapi cukup membuat jantungku berdetak lebih cepat.

“Kamu gemetar,” katanya.

“Tidak.”

“Iya.”

Aku menggenggam tas lebih erat.

“Pak Arga, hari ini saya libur.”

“Lalu?”

“Saya berhak keluar.”

“Dengan pakaian seperti itu?”

Wajahku memanas.

Aku tidak menyukai cara matanya menyapu dari bahuku hingga pinggangku, seolah-olah ada sesuatu yang menjadi miliknya.

“Apa ada masalah dengan pakaian saya?”

“Ada.”

Aku mengernyit.

“Terlalu banyak pria yang akan melihatmu.”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

Aku belum sempat memahami maksudnya ketika dia berdiri tepat di depanku.

Sangat dekat.

Aku bisa mencium aroma campuran rokok dan parfum mahalnya.

“Lebih dari setahun,” katanya pelan.

“Kamu selalu bersembunyi di balik pakaian longgar, rambut diikat, dan selalu menunduk seolah tidak ingin siapa pun mengingat bahwa kamu ada di sini.”

Aku tidak bisa menjawab.

Karena dia benar.

Sejak kecil aku hanya memahami satu hal:

Jika seorang wanita miskin terlalu mencolok, biasanya akhir yang menunggunya tidak baik.

Karena itu, aku belajar menjadi tak terlihat.

Dia menatap lurus ke mataku.

“Tapi malam ini…”

Suaranya semakin rendah.

“Tiba-tiba kamu muncul seperti ini.”

Aku berusaha tetap tenang.

“Aku hanya mau makan malam.”

“Dengan siapa?”

“Lucas.”

Ekspresinya langsung berubah.

Aku melihatnya dengan jelas.

Rahangnya mengeras.

Gelas anggur di tangannya hampir pecah karena digenggam terlalu kuat.

Dan saat itu aku akhirnya mengerti.

Dia cemburu.

Arga Wijaya…

Cemburu.

Pikiran itu terdengar gila.

Bagaimana mungkin pria seperti dia menyukai seorang pembantu sepertiku?

“Kerja apa dia?”

“Dia koki di warung makan kecil dekat pelabuhan.”

“Sudah berapa lama kalian saling kenal?”

Aku mulai kehilangan kesabaran.

“Apakah Bapak sedang menyelidiki saya?”

Dia tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatapku, seolah sedang bertarung dengan pikirannya sendiri.

Kemudian tiba-tiba dia bertanya:

“Kamu menyukainya?”

Aku terdiam.

Suasana menjadi sangat sunyi.

Namun sebelum aku sempat menjawab, ponselnya bergetar.

Dia melihat layar.

Dan hanya dalam satu detik, wajahnya berubah total.

Lebih dingin.

Lebih berbahaya.

Dia menjawab telepon itu.

“Apa?”

Orang di seberang berbicara dengan cepat.

Wajah Arga menggelap.

“Cari dia.”

Suaranya sedingin es.

“Jangan biarkan dia keluar dari kota.”

Aku belum mengerti apa yang sedang terjadi ketika suara rem mobil yang keras terdengar dari luar rumah.

SKREEECH—

Diikuti oleh teriakan panik.

Seorang pelayan berlari masuk dari pintu depan dengan wajah pucat.

“Pak! Ada orang-orang yang menerobos masuk—”

BOOM!!!

Ledakan keras mengguncang kaca lantai satu dan membuat lampu kristal besar bergoyang hebat.

Dan pada detik berikutnya…

Arga tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya…

Dan pada detik berikutnya…

Arga tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya.

Tubuhku menghantam dadanya yang keras ketika suara tembakan dan teriakan bergema dari luar.

“Jangan keluar dari sisiku!” perintahnya dengan suara rendah.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu di matanya.

Bukan kemarahan.

Bukan dingin yang selama ini membuat semua orang takut.

Melainkan…

Ketakutan.

Ketakutan kehilangan seseorang.

“Pak Arga…”

“Diam.”

Tangannya memelukku semakin erat.

“Kalau terjadi apa pun malam ini, jangan lepaskan tanganku.”


Ternyata orang-orang yang menyerbu mansion keluarga Wijaya adalah anak buah mantan rekan bisnis ayah Arga.

Mereka ingin membalas dendam atas pengkhianatan bertahun-tahun lalu.

Namun yang tidak mereka duga adalah…

Arga sudah mengetahui semuanya.

Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, polisi dan pasukan keamanan pribadi berdatangan.

Keadaan berhasil dikendalikan.

Tetapi malam itu…

Arga terluka.

Pisau yang seharusnya mengenainya lebih dalam berhasil ditahannya dengan tangan kirinya saat melindungiku.

Aku duduk di samping ranjang rumah sakit sepanjang malam.

Dan untuk pertama kalinya, pria yang dijuluki “Singa Surabaya” itu tertidur sambil menggenggam tanganku.

Seolah takut aku menghilang.


Keesokan paginya, ketika Arga membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah aku.

“Kenapa belum pulang?” tanyanya pelan.

“Aku khawatir.”

Dia terdiam.

Kemudian tertawa kecil.

“Jadi, akhirnya ada juga orang yang mengkhawatirkanku.”

Aku mengernyit.

“Tentu saja ada.”

Namun senyum kecil di wajahnya justru menghilang.

“Tidak, Alya.”

Suara pria itu terdengar sangat sepi.

“Sejak ibuku meninggal lima belas tahun lalu, tidak ada seorang pun yang menungguku bangun.”

Air mata tiba-tiba memenuhi mataku.

Karena untuk pertama kalinya…

Aku melihat kesepian yang selama ini disembunyikan oleh pria paling ditakuti di kota itu.


Seminggu kemudian, aku menyerahkan surat pengunduran diri.

Arga membaca surat itu selama beberapa detik.

Lalu merobeknya di depan mataku.

“Pak!”

“Aku tidak setuju.”

“Aku tidak bisa selamanya menjadi pembantu di rumah ini.”

“Siapa bilang?”

Dia bangkit dari kursinya.

Dan berjalan mendekat.

“Karena aku tidak pernah menganggapmu pembantu.”

Aku membeku.

“Alya…”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga Wijaya terlihat gugup.

“Aku tidak tahu sejak kapan.”

“Mungkin saat aku melihatmu diam-diam memberi makan kucing liar di belakang rumah.”

“Atau saat kau menangis sendirian ketika ulang tahun ibumu.”

“Atau mungkin…”

Dia tersenyum kecil.

“Sejak hari pertama aku melihatmu.”

Jantungku berdetak kencang.

“Aku hanya takut.”

“Takut kalau aku terlalu dekat denganmu, hidupmu akan ikut hancur.”

Air mataku jatuh.

“Lalu kenapa sekarang Bapak mengatakan semua ini?”

Karena untuk pertama kalinya…

Pria itu berlutut di depanku.

Sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan para pengusaha besar atau pejabat yang datang menemuinya.

Arga Wijaya berlutut.

Dan dengan mata yang sedikit merah, dia berkata:

“Alya, aku sudah lelah hidup sendirian.”

“Aku sudah lelah pulang ke rumah yang besar tapi kosong.”

“Aku sudah lelah ditakuti oleh semua orang.”

“Bisakah…”

Suaranya bergetar.

“Bisakah kau menjadi alasan bagiku untuk pulang?”


Dua tahun kemudian.

Bukan lagi Mansion Wijaya yang menjadi rumah kami.

Melainkan sebuah rumah sederhana di pinggir Bandung.

Arga menyerahkan posisi CEO kepada adiknya dan memilih membuka perusahaan logistik yang lebih kecil.

Sedangkan aku…

Mantan pembantu yang bahkan dulu takut mengangkat kepala…

Kini menjadi istrinya.

Suatu sore, saat aku sedang menyiram bunga, putri kecil kami yang berusia tiga tahun berlari ke arah ayahnya.

“Papa!”

Arga langsung mengangkatnya tinggi-tinggi sambil tertawa.

Tak ada lagi wajah dingin yang ditakuti seluruh Surabaya.

Tak ada lagi “Singa Surabaya”.

Yang ada hanyalah seorang suami yang selalu pulang sebelum matahari terbenam.

Dan seorang ayah yang rela menjadi kuda-kudaan demi putri kecilnya.

Malam itu, ketika kami duduk di teras sambil memandang hujan, aku bertanya sambil tersenyum:

“Masih ingat pertama kali Bapak benar-benar memperhatikanku?”

Arga tertawa pelan.

“Tentu.”

“Kau memakai gaun putih.”

“Dan aku hampir gila karena tahu ada pria lain yang akan mengajakmu makan malam.”

Aku tertawa.

“Padahal waktu itu aku cuma ingin merasa seperti wanita normal.”

Arga menggenggam tanganku erat.

Lalu mencium punggung tanganku dengan lembut.

Dia tersenyum dan berbisik:

“Sayang…”

“Kau tidak pernah hanya wanita biasa.”

“Di mata seluruh dunia, mungkin kau hanya seorang pembantu.”

“Tapi di mataku…”

“Kau adalah rumah yang selama ini kucari.”

Dan di tengah suara hujan yang lembut…

Aku akhirnya mengerti.

Kadang-kadang…

Orang yang paling ditakuti dunia…

Hanya membutuhkan satu orang yang mau mencintainya tanpa rasa takut.

Dan kadang-kadang…

Wanita yang selama ini berusaha menjadi tak terlihat…

Justru menjadi seluruh dunia bagi seseorang.