Menjadi menantu dari keluarga yang selama sembilan generasi hanya memiliki satu pewaris adalah beban yang sangat besar.

Aku tidak pernah menyangka bahwa pada kehamilan pertamaku, aku langsung mengandung empat anak laki-laki sekaligus.

Ibu mertuaku hampir gila karena terlalu bahagia dan memperlakukanku seperti seorang ratu.

Setahun kemudian, aku hamil lagi.

Saat ibu mertuaku melihat keempat cucunya berlarian dan membuat kekacauan di seluruh rumah, lalu menatap perutku yang mulai membesar, ia langsung menunjuk suamiku dan memarahinya:

“Menjauh dari menantuku! Jangan ganggu dia lagi!”

Bab 1

Namaku Alya Pratama, gadis biasa yang tidak memiliki sesuatu yang istimewa.

Namun karena keberuntungan, aku menikah dengan pewaris keluarga konglomerat terkenal di Jakarta, Rafael Wijaya.

Pada hari pernikahan kami, kemewahan yang mengelilingi kami terasa seperti upacara penobatan seorang raja.

Aku mengenakan gaun pengantin bertabur berlian, sementara Rafael yang tampan menggenggam tanganku erat. Rasanya seperti hidup di dalam drama televisi.

Namun tak lama kemudian, aku menyadari bahwa menjadi menantu keluarga kaya raya bukanlah hal yang mudah.

Keluarga Wijaya memiliki bisnis bernilai triliunan rupiah dan aset yang tersebar di berbagai kota.

Satu-satunya masalah mereka adalah jumlah anggota keluarga yang terlalu sedikit.

Di generasi Rafael, bahkan lebih parah lagi.

Dia adalah satu-satunya pewaris keluarga.

Suatu hari saat hanya aku dan ibu mertuaku yang sedang minum teh bersama, beliau menggenggam tanganku dan berkata dengan penuh arti:

“Alya, keluarga kami tidak memandang status sosial. Yang paling kusukai darimu adalah kamu terlihat sehat dan mudah memiliki anak.”

Cangkir teh di tanganku hampir terjatuh.

Ternyata inilah “target kinerja” yang ditakuti semua menantu keluarga kaya.

“Bu, kami akan berusaha,” jawabku sambil tersenyum canggung.

Ibu mertua mengangguk puas lalu melepas gelang giok mahal dari tangannya dan memakaikannya kepadaku.

“Aku menunggu kabar baik darimu.”

Sejak hari itu, tujuan hidupku hanya satu:

Hamil.

Vitamin dan suplemen mahal mengalir ke tubuhku seperti air minum.

Mulai dari ginseng impor, minyak ikan laut dalam, hingga ramuan kesuburan warisan keluarga.

Jumlah sup yang diminum setiap hari bahkan lebih banyak daripada air mandi.

Saat melihat wajahku yang mulai menderita, Rafael memelukku erat.

“Alya, jangan memaksakan diri. Biarkan semuanya berjalan alami.”

Aku menyandarkan kepala di dadanya.

“Tapi setiap kali ibumu menatapku, rasanya seperti ayam yang belum bertelur.”

Rafael tertawa lalu mencium keningku.

“Ibu hanya ingin punya cucu. Jangan terlalu dipikirkan. Punya anak atau tidak, aku tetap mencintaimu.”

Mudah baginya untuk berkata begitu.

Tapi setiap kali ibu mertua bertanya dengan tatapan tajam:

“Alya, bagaimana kondisi tubuhmu akhir-akhir ini?”

Lututku tetap gemetar.

Demi menyelesaikan “misi” ini, aku dan Rafael mencoba berbagai cara.

Yoga kesuburan, pola makan khusus, doa-doa, hingga berbagai tips aneh dari internet.

Dua bulan kemudian, menstruasiku tidak kunjung datang.

Dengan tangan gemetar, aku melihat hasil test pack di kamar mandi.

Dua garis merah.

Aku hampir menangis karena bahagia.

Aku hamil.

Akhirnya target keluarga Wijaya memiliki harapan.

Bab 2

Sambil memegang test pack seperti harta karun, aku berlari keluar kamar mandi.

“Aku hamil! Aku hamil!”

Di ruang keluarga, ayah mertua sedang membaca berita ekonomi, ibu mertua menikmati kopi pagi, sementara Rafael sedang memeriksa dokumen perusahaan.

Semua menoleh ke arahku.

Ibu mertua yang pertama bergerak.

Beliau merebut test pack itu, memakai kacamatanya, lalu memeriksanya berkali-kali.

“Dua garis!”

“Benar-benar dua garis!”

“Keluarga Wijaya akhirnya akan memiliki pewaris!”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Alya, kamu adalah pahlawan keluarga ini!”

Ayah mertua tertawa keras.

“Ratna, pelan-pelan. Nanti Alya dan bayinya malah ketakutan.”

Rafael bahkan mengangkat tubuhku dan berputar-putar di ruang tamu seperti anak kecil yang memenangkan lotre.

Sejak hari itu, statusku di rumah berubah drastis.

Aku menjadi harta nasional keluarga.

Saat berjalan selalu ada yang menopang.

Saat makan selalu ada yang mengambilkan makanan.

Bahkan ketika ke kamar mandi, ibu mertuaku masih ingin berjaga di depan pintu.

Pada trimester pertama, aku mengalami mual yang sangat parah.

Apa pun yang kumakan selalu dimuntahkan kembali.

Ibu mertua sampai panik.

Beliau langsung mempekerjakan chef hotel bintang lima untuk memasak khusus di rumah.

Setiap hari tersedia delapan menu berbeda hanya agar aku mau makan sedikit.

“Alya, katakan saja apa yang kamu inginkan. Bahkan kalau itu makanan yang hanya ada di ujung dunia, aku akan membelinya.”

Saat terbaring lemas, aku menunjuk iklan restoran hotpot pedas di televisi.

Tanpa ragu, ibu mertuaku langsung membeli cabang restoran tersebut dan memindahkan chef serta perlengkapannya ke rumah.

Teman-teman sosialitaku iri setengah mati.

“Alya, kamu bukan menikah dengan keluarga kaya.”

“Kamu seperti menjadi ratu.”

Aku menikmati semua perlakuan itu.

Bagaimanapun juga, bayi pewaris keluarga ini sedang tumbuh di dalam tubuhku.

Namun saat usia kandunganku memasuki bulan kelima, muncul masalah baru.

Perutku jauh lebih besar daripada ibu hamil normal.

Belum genap lima bulan, tetapi ukurannya seperti orang yang akan melahirkan minggu depan.

Ibu mertua segera memanggil dokter kandungan terbaik di Indonesia.

Dokter itu memegang hasil USG dengan ekspresi tidak percaya.

“Selamat untuk keluarga Wijaya.”

“Selamat, Pak Wijaya.”

Tangannya sedikit gemetar saat berbicara.

“Di dalam kandungan Nyonya Alya…”

“…ada empat janin.”

“Empat bayi sekaligus.”

“Dan berdasarkan hasil pemeriksaan saat ini…”

“…kemungkinan besar semuanya laki-laki.”

Dokter baru saja selesai berbicara ketika seluruh ruangan menjadi sunyi.

Empat bayi laki-laki.

Bahkan dokter spesialis kandungan yang sudah puluhan tahun bekerja pun tampak sulit mempercayai hasil itu.

Ibu mertuaku, Bu Ratna Wijaya, memegang dadanya sambil duduk perlahan.

Matanya memerah.

“Empat cucu laki-laki…”

“Empat pewaris keluarga Wijaya sekaligus…”

Lalu tiba-tiba ia menangis.

Benar-benar menangis.

Ayah mertuaku yang biasanya tenang bahkan tertawa begitu keras sampai kacamatanya hampir jatuh.

Sedangkan Rafael masih berdiri membeku di samping tempat tidur.

“Aku… aku akan jadi ayah dari empat anak sekaligus?”

Aku menatapnya lalu tertawa.

“Sepertinya begitu.”

Malam itu, seluruh keluarga besar Wijaya datang ke rumah sakit.

Begitu mendengar kabar tersebut, mereka seperti memenangkan lotre terbesar dalam hidup mereka.

Paman-paman, bibi-bibi, bahkan kakek buyut Rafael yang sudah berusia lebih dari sembilan puluh tahun datang membawa hadiah.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga Wijaya, tidak ada lagi kekhawatiran tentang penerus keluarga.


Tujuh bulan kemudian.

Empat bayi laki-laki lahir dengan selamat.

Tangisan mereka menggema memenuhi seluruh ruang operasi.

Saat dokter menyerahkan bayi pertama ke pelukanku, air mataku langsung jatuh.

Kemudian bayi kedua.

Ketiga.

Keempat.

Empat kehidupan kecil yang tumbuh di dalam tubuhku selama berbulan-bulan.

Empat alasan baru untuk terus hidup bahagia.

Rafael berdiri di sampingku sambil menangis tanpa malu-malu.

“Aku mencintai kalian semua…”

Suara itu begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.


Namun kebahagiaan ternyata datang bersama kekacauan.

Setahun kemudian, rumah keluarga Wijaya berubah total.

Tidak ada lagi suasana tenang seperti dulu.

Mainan ada di mana-mana.

Dinding penuh coretan.

Sofa mahal berubah menjadi arena panjat tebing.

Keempat putraku berlarian seperti badai kecil yang tidak pernah kehabisan energi.

Setiap pagi terdengar suara:

“Ayah!”

“Ayah!”

“Ayah!”

“Ayah!”

Empat suara sekaligus.

Rafael yang dulunya selalu terlihat tampan dan rapi kini sering berjalan dengan rambut berantakan sambil menggendong dua anak sekaligus.

Aku selalu tertawa melihatnya.


Suatu hari, ketika keempat anak kami sedang berlari mengejar seekor anjing di taman, aku merasa sedikit mual.

Karena penasaran, aku membeli alat tes kehamilan.

Beberapa menit kemudian…

Dua garis merah muncul lagi.

Aku menatap alat itu dalam diam.

Lalu menatap keempat anakku.

Lalu menatap foto Rafael.

Malam itu ketika Rafael pulang kerja, aku menyerahkan hasil tes tersebut.

Wajahnya langsung pucat.

“Kamu… hamil lagi?”

Aku mengangguk.

Belum sempat dia bicara, Bu Ratna yang kebetulan lewat melihat hasil tes itu.

Beliau membeku.

Kemudian perlahan menoleh ke arah putranya.

“Rafael.”

“Iya, Ma?”

“Mulai hari ini…”

“Jangan dekati istrimu.”

“Hah?”

“JANGAN DEKATI ISTRIMU!”

Seluruh rumah langsung meledak oleh tawa.

Empat cucunya yang tidak mengerti apa-apa ikut tertawa dan bertepuk tangan.

Sementara Rafael hanya berdiri di tengah ruang keluarga dengan ekspresi paling putus asa yang pernah kulihat.

Aku memegang perutku dan tertawa hingga air mata keluar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari sesuatu.

Kekayaan terbesar keluarga Wijaya bukanlah perusahaan bernilai triliunan rupiah.

Bukan rumah mewah.

Bukan mobil mahal.

Melainkan suara tawa yang memenuhi rumah setiap hari.

Karena pada akhirnya, keluarga yang penuh cinta adalah harta yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

Dan di tengah kekacauan, tangisan bayi, serta tumpukan mainan yang berserakan…

Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.