“Mereka Mengira Aku Dilahirkan Hanya untuk Menyelamatkan Ibu—Sampai Aku Kembali ke Hari Pertama Jarum Menusuk Lenganku, dan Aku Menunjuk Saudari Kembarku yang Selalu Mereka Istimewakan”

Tiga detik sebelum mesin di samping ranjangku akhirnya berhenti berbunyi, seorang perawat menyelipkan secarik kertas ke telapak tanganku.

Itu adalah surat tulisan tangan dari Ibu.

“Nak, darahmu cocok denganku. Sejak kecil, darahmulah yang memperpanjang hidupku. Itulah alasan mengapa kamu dilahirkan. Setelah ini, kamu bebas.”

Aku tidak meninggal karena penyakit.

Aku meninggal karena keluargaku sendiri.

Di luar ruang operasi, lorong rumah sakit dipenuhi orang. Ada Ayah, para kerabat, para dokter, dan Dinda—saudari kembarku yang sepanjang hidup selalu menjadi favorit keluarga.

Namun wanita yang membutuhkan darahku, wanita yang kupanggil Ibu selama dua puluh tiga tahun, tidak ada di sana.

Dia berada di ruang VIP.

Menggenggam tangan Dinda.

Memujinya.

“Kamu anak yang sangat baik,” katanya. “Untung ada kamu.”

Sementara aku terbaring di meja operasi yang dingin, kehabisan napas, kehabisan darah, kehabisan hidup.

Saat itu Dinda masuk ke ruang operasi. Wajahku pucat, bibirku gemetar, tetapi aku masih hidup.

Dia mendekat lalu tersenyum kecil.

“Mira,” bisiknya, “kamu tahu kan? Kamu sebenarnya bukan anak di keluarga ini. Kamu hanya kantong darah hidup untuk Ibu.”

Aku menatapnya.

Aku ingin marah. Ingin berteriak.

Tetapi aku sudah tidak punya tenaga.

Lalu dia mengucapkan kalimat terakhir yang kubawa sampai mati.

“Semoga di kehidupan berikutnya darahmu tidak lagi langka.”

Setelah itu semuanya menjadi gelap.

Kupikir itulah akhir segalanya.

Namun ketika aku membuka mata lagi, yang kulihat bukan lagi langit-langit ruang operasi.

Lampu putih.

Aroma alkohol.

Kursi plastik kecil.

Stiker kartun di dinding.

Dan lenganku yang mungil—lengan seorang anak perempuan berusia lima tahun.

Aku berada di sebuah klinik di rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.

Dan di hadapanku berlutut Clarissa Wijaya, ibuku.

Cantik. Pucat. Tersenyum lembut seolah sangat menyayangiku.

“Mira,” katanya sambil memegang lengan bajuku, “Ibu sedang sakit. Cuma satu suntikan kecil. Berikan tanganmu pada dokter, ya?”

Seluruh tubuhku membeku.

Aku kembali.

Aku kembali ke hari pertama darahku diambil.

Hari ketika neraka selama dua puluh tiga tahun dimulai.

Di kehidupan sebelumnya, aku menangis sambil mengulurkan tanganku.

Mereka berkata:

“Mira anak yang pemberani.”

“Mira anak yang baik.”

“Mira yang akan menyelamatkan Ibu.”

Dan aku mempercayainya.

Sampai aku berkali-kali dibawa ke rumah sakit.

Sampai aku terbiasa pusing.

Sampai aku belajar menyembunyikan bekas jarum di lenganku.

Sampai menjadi hal biasa bagiku terbangun tengah malam karena “Ibu membutuhkanmu lagi.”

Kini aku menatap wajah Ibu.

Tidak ada kasih sayang di matanya.

Hanya ketakutan.

Takut jika aku tidak menurut.

Perlahan aku menarik tanganku.

“Bu,” kataku dengan suara anak lima tahun, “kenapa harus aku dulu?”

Dia terdiam.

“Apa?”

Aku menunjuk ke arah pintu.

Di luar berdiri Dinda dengan gaun merah muda, berpegangan pada Ayah sambil menangis keras karena tidak mau masuk ke klinik.

“Dinda juga anak Ibu, kan?” kataku. “Mungkin darahnya juga cocok. Coba diperiksa juga.”

Senyum Ibu langsung membeku.

Seolah ada sesuatu yang retak di ruangan itu.

“Mira,” katanya lembut, tetapi matanya menyipit, “adikmu takut jarum. Kamu kakaknya. Kamu harus mengalah.”

Takut jarum.

Di kehidupan sebelumnya aku juga takut.

Tetapi tidak ada yang pernah bertanya.

Dari luar pintu terdengar suara Dinda menangis.

“Aku nggak mau! Aku nggak mau disuntik!”

Lalu terdengar suara Ayah, Robert Wijaya, penuh kasih sayang.

“Kamu nggak akan disuntik, Sayang. Nanti Ayah belikan es krim.”

Es krim.

Aku masih ingat.

Hari itu Dinda makan es krim stroberi di luar rumah sakit.

Sedangkan aku hampir pingsan di dalam klinik dan harus diberi minum oleh perawat.

“Bu,” kataku lagi, “aku juga takut.”

Ibu terdiam sesaat.

Kemudian mengusap rambutku.

“Tapi kamu anak Ibu yang pemberani, kan? Kalau kamu tidak membantu Ibu, Ibu bisa meninggal. Apa kamu mau Ibu meninggal?”

Dulu kalimat itu cukup untuk menghancurkanku.

Apa kamu mau Ibu meninggal?

Aku baru lima tahun.

Tetapi mereka sudah membebankan hidup seorang dewasa di pundakku.

Kini aku hanya menatapnya.

“Tidak. Makanya Dinda juga harus diperiksa. Biar lebih banyak yang bisa membantu Ibu.”

Tidak ada yang salah dari perkataanku.

Jika kami kembar, kemungkinan darah kami sama.

Kalau kami sama-sama anaknya, kenapa hanya aku yang harus menderita?

Kelembutan di wajah Ibu menghilang.

“Mira,” katanya dengan suara lebih rendah, “kalau kamu terlalu banyak membantah, Ibu tidak akan senang lagi padamu.”

Tidak akan senang.

Tidak akan menyayangi.

Tidak akan memeluk.

Kalimat-kalimat yang dulu menjadi rantai di leherku.

Tetapi sekarang aku sudah pernah mati.

Tidak ada lagi yang lebih menyakitkan daripada itu.

Aku mengangguk.

Dia mengira dirinya menang.

Tangannya meraih lenganku.

Namun sebelum dia sempat mengangkat lengan bajuku, aku kembali berbicara.

“Bu, kemarin aku dengar Ayah menelepon. Dokter bilang golongan darah Dinda belum pernah diperiksa.”

Wajah Ibu langsung membeku.

“Dari mana kamu tahu istilah golongan darah?”

“Dokter sering bilang,” jawabku polos. “Dan mereka bilang mungkin darah kami sama karena kami kembar.”

Itu bukan kebohongan.

Di kehidupan sebelumnya aku mengetahui semuanya terlambat.

Terlambat untuk memahami kenapa mereka tidak pernah mau memeriksa Dinda.

Karena mereka takut mengetahui kebenaran.

Jika ternyata Dinda juga cocok, mereka tidak punya alasan lagi untuk terus memanfaatkanku.

Ibu berdiri.

Ia tidak lagi menatapku.

Lalu membuka pintu dan memanggil Ayah.

“Robert,” katanya dingin, “periksa juga Dinda.”

Tangisan Dinda langsung berhenti.

Lalu menjadi lebih keras.

“Aku nggak mau! Ini semua salah Kak Mira!”

Ayah segera menggendongnya.

“Clarissa, memang perlu?”

“Cuma tes usap mulut,” jawab Ibu dengan senyum terpaksa. “Tidak sakit.”

Aku tersenyum tipis.

Langkah pertama.

Tetapi aku tahu ini belum selesai.

Di keluarga Wijaya, kebenaran saja tidak cukup untuk menyelamatkan diri.

Kebenaran harus ditunjukkan di depan semua orang.

Dan mereka harus dipaksa melihat kebohongan mereka sendiri.

Empat hari kemudian, hasil tes keluar.

Aku turun ke ruang makan.

Di meja duduk Ibu dengan selembar laporan di depannya.

Ayah berdiri di belakangnya dengan wajah berat.

Aku mengintip laporan itu.

Nama: Dinda Wijaya
Golongan Darah: AB Rh-negatif
Cocok

Darah yang selama ini mereka jadikan alasan keberadaanku…

Ternyata juga dimiliki oleh Dinda.

“Bu?” panggilku.

Perlahan ia menatapku.

Dia tidak terlihat bahagia.

Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah.

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyanya.

“Karena kami kembar,” jawabku. “Dokter bilang itu mungkin.”

Ayah berdeham.

“Dokter memang mengatakan begitu, Clarissa.”

Ibu tidak menjawab.

Ia membalik laporan itu seolah kebenaran bisa hilang jika tidak dilihat.

Aku menarik napas panjang.

“Bu,” kataku pelan, “kalau darah Dinda juga cocok… berarti mulai sekarang kami bergantian membantu Ibu, kan?”

Ia tidak menjawab.

Tangannya mencengkeram tepi meja begitu kuat.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku melihat sesuatu di matanya yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Ketakutan.

Bukan takut kehilangan hidupnya.

Melainkan takut kehilangan kendali atas diriku.

“Mereka Mengira Aku Dilahirkan Hanya untuk Menyelamatkan Ibu—Sampai Aku Kembali ke Hari Pertama Jarum Menusuk Lenganku, dan Aku Menunjuk Saudari Kembarku yang Selalu Mereka Istimewakan”

Tiga detik sebelum mesin di samping ranjangku akhirnya berhenti berbunyi, seorang perawat menyelipkan secarik kertas ke telapak tanganku.

Itu adalah surat tulisan tangan dari Ibu.

“Nak, darahmu cocok denganku. Sejak kecil, darahmulah yang memperpanjang hidupku. Itulah alasan mengapa kamu dilahirkan. Setelah ini, kamu bebas.”

Aku tidak meninggal karena penyakit.

Aku meninggal karena keluargaku sendiri.

Di luar ruang operasi, lorong rumah sakit dipenuhi orang. Ada Ayah, para kerabat, para dokter, dan Dinda—saudari kembarku yang sepanjang hidup selalu menjadi favorit keluarga.

Namun wanita yang membutuhkan darahku, wanita yang kupanggil Ibu selama dua puluh tiga tahun, tidak ada di sana.

Dia berada di ruang VIP.

Menggenggam tangan Dinda.

Memujinya.

“Kamu anak yang sangat baik,” katanya. “Untung ada kamu.”

Sementara aku terbaring di meja operasi yang dingin, kehabisan napas, kehabisan darah, kehabisan hidup.

Saat itu Dinda masuk ke ruang operasi. Wajahku pucat, bibirku gemetar, tetapi aku masih hidup.

Dia mendekat lalu tersenyum kecil.

“Mira,” bisiknya, “kamu tahu kan? Kamu sebenarnya bukan anak di keluarga ini. Kamu hanya kantong darah hidup untuk Ibu.”

Aku menatapnya.

Aku ingin marah. Ingin berteriak.

Tetapi aku sudah tidak punya tenaga.

Lalu dia mengucapkan kalimat terakhir yang kubawa sampai mati.

“Semoga di kehidupan berikutnya darahmu tidak lagi langka.”

Setelah itu semuanya menjadi gelap.

Kupikir itulah akhir segalanya.

Namun ketika aku membuka mata lagi, yang kulihat bukan lagi langit-langit ruang operasi.

Lampu putih.

Aroma alkohol.

Kursi plastik kecil.

Stiker kartun di dinding.

Dan lenganku yang mungil—lengan seorang anak perempuan berusia lima tahun.

Aku berada di sebuah klinik di rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.

Dan di hadapanku berlutut Clarissa Wijaya, ibuku.

Cantik. Pucat. Tersenyum lembut seolah sangat menyayangiku.

“Mira,” katanya sambil memegang lengan bajuku, “Ibu sedang sakit. Cuma satu suntikan kecil. Berikan tanganmu pada dokter, ya?”

Seluruh tubuhku membeku.

Aku kembali.

Aku kembali ke hari pertama darahku diambil.

Hari ketika neraka selama dua puluh tiga tahun dimulai.

Di kehidupan sebelumnya, aku menangis sambil mengulurkan tanganku.

Mereka berkata:

“Mira anak yang pemberani.”

“Mira anak yang baik.”

“Mira yang akan menyelamatkan Ibu.”

Dan aku mempercayainya.

Sampai aku berkali-kali dibawa ke rumah sakit.

Sampai aku terbiasa pusing.

Sampai aku belajar menyembunyikan bekas jarum di lenganku.

Sampai menjadi hal biasa bagiku terbangun tengah malam karena “Ibu membutuhkanmu lagi.”

Kini aku menatap wajah Ibu.

Tidak ada kasih sayang di matanya.

Hanya ketakutan.

Takut jika aku tidak menurut.

Perlahan aku menarik tanganku.

“Bu,” kataku dengan suara anak lima tahun, “kenapa harus aku dulu?”

Dia terdiam.

“Apa?”

Aku menunjuk ke arah pintu.

Di luar berdiri Dinda dengan gaun merah muda, berpegangan pada Ayah sambil menangis keras karena tidak mau masuk ke klinik.

“Dinda juga anak Ibu, kan?” kataku. “Mungkin darahnya juga cocok. Coba diperiksa juga.”

Senyum Ibu langsung membeku.

Seolah ada sesuatu yang retak di ruangan itu.

“Mira,” katanya lembut, tetapi matanya menyipit, “adikmu takut jarum. Kamu kakaknya. Kamu harus mengalah.”

Takut jarum.

Di kehidupan sebelumnya aku juga takut.

Tetapi tidak ada yang pernah bertanya.

Dari luar pintu terdengar suara Dinda menangis.

“Aku nggak mau! Aku nggak mau disuntik!”

Lalu terdengar suara Ayah, Robert Wijaya, penuh kasih sayang.

“Kamu nggak akan disuntik, Sayang. Nanti Ayah belikan es krim.”

Es krim.

Aku masih ingat.

Hari itu Dinda makan es krim stroberi di luar rumah sakit.

Sedangkan aku hampir pingsan di dalam klinik dan harus diberi minum oleh perawat.

“Bu,” kataku lagi, “aku juga takut.”

Ibu terdiam sesaat.

Kemudian mengusap rambutku.

“Tapi kamu anak Ibu yang pemberani, kan? Kalau kamu tidak membantu Ibu, Ibu bisa meninggal. Apa kamu mau Ibu meninggal?”

Dulu kalimat itu cukup untuk menghancurkanku.

Apa kamu mau Ibu meninggal?

Aku baru lima tahun.

Tetapi mereka sudah membebankan hidup seorang dewasa di pundakku.

Kini aku hanya menatapnya.

“Tidak. Makanya Dinda juga harus diperiksa. Biar lebih banyak yang bisa membantu Ibu.”

Tidak ada yang salah dari perkataanku.

Jika kami kembar, kemungkinan darah kami sama.

Kalau kami sama-sama anaknya, kenapa hanya aku yang harus menderita?

Kelembutan di wajah Ibu menghilang.

“Mira,” katanya dengan suara lebih rendah, “kalau kamu terlalu banyak membantah, Ibu tidak akan senang lagi padamu.”

Tidak akan senang.

Tidak akan menyayangi.

Tidak akan memeluk.

Kalimat-kalimat yang dulu menjadi rantai di leherku.

Tetapi sekarang aku sudah pernah mati.

Tidak ada lagi yang lebih menyakitkan daripada itu.

Aku mengangguk.

Dia mengira dirinya menang.

Tangannya meraih lenganku.

Namun sebelum dia sempat mengangkat lengan bajuku, aku kembali berbicara.

“Bu, kemarin aku dengar Ayah menelepon. Dokter bilang golongan darah Dinda belum pernah diperiksa.”

Wajah Ibu langsung membeku.

“Dari mana kamu tahu istilah golongan darah?”

“Dokter sering bilang,” jawabku polos. “Dan mereka bilang mungkin darah kami sama karena kami kembar.”

Itu bukan kebohongan.

Di kehidupan sebelumnya aku mengetahui semuanya terlambat.

Terlambat untuk memahami kenapa mereka tidak pernah mau memeriksa Dinda.

Karena mereka takut mengetahui kebenaran.

Jika ternyata Dinda juga cocok, mereka tidak punya alasan lagi untuk terus memanfaatkanku.

Ibu berdiri.

Ia tidak lagi menatapku.

Lalu membuka pintu dan memanggil Ayah.

“Robert,” katanya dingin, “periksa juga Dinda.”

Tangisan Dinda langsung berhenti.

Lalu menjadi lebih keras.

“Aku nggak mau! Ini semua salah Kak Mira!”

Ayah segera menggendongnya.

“Clarissa, memang perlu?”

“Cuma tes usap mulut,” jawab Ibu dengan senyum terpaksa. “Tidak sakit.”

Aku tersenyum tipis.

Langkah pertama.

Tetapi aku tahu ini belum selesai.

Di keluarga Wijaya, kebenaran saja tidak cukup untuk menyelamatkan diri.

Kebenaran harus ditunjukkan di depan semua orang.

Dan mereka harus dipaksa melihat kebohongan mereka sendiri.

Empat hari kemudian, hasil tes keluar.

Aku turun ke ruang makan.

Di meja duduk Ibu dengan selembar laporan di depannya.

Ayah berdiri di belakangnya dengan wajah berat.

Aku mengintip laporan itu.

Nama: Dinda Wijaya
Golongan Darah: AB Rh-negatif
Cocok

Darah yang selama ini mereka jadikan alasan keberadaanku…

Ternyata juga dimiliki oleh Dinda.

“Bu?” panggilku.

Perlahan ia menatapku.

Dia tidak terlihat bahagia.

Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah.

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyanya.

“Karena kami kembar,” jawabku. “Dokter bilang itu mungkin.”

Ayah berdeham.

“Dokter memang mengatakan begitu, Clarissa.”

Ibu tidak menjawab.

Ia membalik laporan itu seolah kebenaran bisa hilang jika tidak dilihat.

Aku menarik napas panjang.

“Bu,” kataku pelan, “kalau darah Dinda juga cocok… berarti mulai sekarang kami bergantian membantu Ibu, kan?”

Ia tidak menjawab.

Tangannya mencengkeram tepi meja begitu kuat.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku melihat sesuatu di matanya yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Ketakutan.

Bukan takut kehilangan hidupnya.

Melainkan takut kehilangan kendali atas diriku.