Aku berdiri terpaku beberapa detik.
Dunia terasa begitu kecil hingga membuatku hampir tertawa.
Pria yang baru saja mengusirku dari hidupnya kini, tanpa sadar, sedang berusaha membeli karya yang lahir dari luka yang ia tinggalkan.
Seminggu kemudian, aula utama National Heritage Showcase dipenuhi wartawan, kolektor seni, pengusaha, dan tokoh-tokoh ternama Jakarta.
Di tengah ruangan, karya bordirku berjudul Bulan di Atas Melati menjadi pusat perhatian.
Lampu-lampu sorot menerangi setiap detail jahitan yang kubuat dengan tangan sendiri.
Di antara kerumunan tamu, aku melihat Adrian.
Untuk pertama kalinya setelah perpisahan kami.
Ia tampak lebih kurus.
Matanya menyapu seluruh ruangan sampai akhirnya berhenti padaku.
Wajahnya langsung membeku.
“Mara…?”
Suaranya hampir tak terdengar.
Di sampingnya berdiri Bianca yang masih berusaha mempertahankan senyum, meski jelas terlihat gugup.
Adrian melangkah mendekat.
“Aku tidak tahu… kalau seniman itu adalah kamu.”
Aku tersenyum sopan.
“Banyak hal tentang diriku yang tidak pernah kamu ketahui.”
Ia menunduk.
Dan untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, Adrian tampak kehilangan semua kesombongannya.
“Aku membuat kesalahan.”
Tidak.
Bukan kesalahan.
Kesalahan adalah lupa membawa payung saat hujan.
Kesalahan adalah salah mengirim pesan.
Yang dilakukan Adrian adalah pilihan.
Pilihan yang diulang setiap hari selama bertahun-tahun.
Memilih wanita lain.
Memilih meremehkanku.
Memilih membuatku merasa kecil.

“Aku mencintaimu, Mara.”
Suasana di sekitar kami mendadak hening.
Aku menatapnya lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Kalau benar mencintaiku, kamu tidak akan menungguku pergi dulu untuk menyadari nilainya.”
Wajah Adrian memucat.
Di belakangnya, Bianca mengepalkan tangan.
Namun aku tidak lagi marah kepada mereka.
Karena orang yang sudah sembuh tidak perlu membalas luka.
Ia hanya melanjutkan hidup.
Malam itu, karya Bulan di Atas Melati terjual dengan harga tertinggi dalam sejarah pameran tersebut.
Seluruh media memberitakan namaku.
Bukan sebagai istri Adrian Villareal.
Bukan sebagai wanita yang ditinggalkan.
Tetapi sebagai Mara Dela Cruz.
Seorang seniman.
Seorang perempuan yang berhasil bangkit dari kehancuran.
Saat acara berakhir, Adrian masih berdiri di tempatnya.
Seolah berharap aku akan kembali.
Namun kali ini, aku berjalan melewatinya.
Tanpa kebencian.
Tanpa penyesalan.
Tanpa air mata.
Karena akhirnya aku mengerti sesuatu:
Rumah bukanlah bangunan mewah yang dulu kutinggali.
Rumah bukanlah kamar utama yang pernah diperebutkan.
Rumah adalah tempat di mana harga dirimu dihargai.
Tempat di mana hatimu tidak perlu memohon untuk dicintai.
Dan malam itu…
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,
aku benar-benar pulang.
TAMAT.