PACARKU MENGGUNAKAN SERTIFIKAT KEPAHLAWANAN AYAHKU YANG GUGUR SEBAGAI TENTARA UNTUK MEMASUKKAN RATU KAMPUS KE UNIVERSITAS INDONESIA… TAPI MEREKA TIDAK TAHU, NAMAKU SUDAH KUPINDAHKAN KE AKADEMI ANGKATAN UDARA

Dua jam sebelum pendaftaran kuliah online ditutup, aku membuka portal penerimaan mahasiswa.

Tanganku gemetar saat membaca tulisan di layar:

“Pre-Qualified: Universitas Indonesia – Jalur Khusus Putra-Putri Pahlawan Nasional dan Prajurit Gugur.”

Namun aku tidak pernah mendaftar ke Universitas Indonesia.

Bukan karena aku tidak ingin.

Melainkan karena ada orang lain yang menggunakan namaku.

Aku segera menelepon kantor penerimaan wilayah.

Beberapa menit kemudian, seorang petugas wanita menjawab.

“Saudari Larasati Santoso,” katanya, “dokumen Anda lengkap. Anda terdaftar sebagai putri dari seorang prajurit yang gugur dalam tugas, sehingga memenuhi syarat untuk jalur prioritas khusus.”

Seluruh tubuhku langsung terasa dingin.

Sertifikat penghargaan milik ayahku.

Dokumen yang selama bertahun-tahun disimpan ibu dalam sebuah kotak kayu tua.

Tiga hari sebelumnya, pacarku, Marco Wijaya, meminjam dokumen itu.

Katanya hanya ingin membuat salinan sebagai kenang-kenangan sebelum aku masuk kuliah.

Tapi sekarang aku tahu ke mana salinan itu pergi.

Dokumen itu berada di dalam berkas milik Bianca Prameswari.

Ratu sekolah kami.

Gadis yang selalu tersenyum seperti malaikat, tetapi terbiasa mengambil apa yang bukan miliknya.

Mereka menggunakan namaku.

Mereka menggunakan pengorbanan ayahku.

Mereka menggunakan darah seorang tentara yang sudah tidak bisa lagi membela putrinya.

Aku langsung menelepon Marco.

Belum selesai nada dering pertama, dia sudah mengangkatnya.

“Jadi kamu sudah tahu?” tanyanya santai.

Aku tidak bisa langsung menjawab.

Dia malah tertawa pelan.

“Laras, jangan membuat masalah. Anggap saja kamu membantu orang yang lebih membutuhkan. Keluarga Bianca sedang kesulitan. Dia butuh UI. Kamu masih bisa kuliah di politeknik memakai nilainya. Kamu tidak akan mati, kan?”

Rasanya seperti ditampar.

“Nilainya?” bisikku.

“Iya. Semuanya sudah kami atur. Dokumenmu untuk dia. Dokumennya untuk kamu. Bianca lebih cocok masuk UI. Sedangkan kamu… lebih realistis, Laras.”

Saat itu aku teringat suara Ayah ketika aku masih kecil.

“Kalau seseorang mengambil sesuatu yang kamu perjuangkan, jangan menangis di sudut ruangan. Berdirilah. Tatap langit. Dan ambil kembali milikmu seperti seorang pilot yang tidak mengenal rasa takut.”

Aku tidak menangis.

Aku membuka kembali portal pendaftaran.

Aku menghapus aplikasi Universitas Indonesia yang telah mereka siapkan menggunakan identitasku.

Lalu, pada menit-menit terakhir sebelum sistem ditutup, aku memilih kampus lain:

Akademi Angkatan Udara Republik Indonesia

Program:

Teknik Penerbangan Militer

Setelah menekan tombol submit, aku menatap layar selama beberapa detik.

“Application Successfully Locked.”

Aku tersenyum.

Kalau mereka ingin mencuri namaku, silakan.

Kalau mereka ingin menjadi “Larasati Santoso”, silakan.

Tapi semoga mereka siap menghadapi institusi yang tidak menerima air mata palsu, dokumen palsu, maupun identitas palsu.

Karena akademi itu bukan universitas biasa.

Di sanalah orang-orang yang ingin mengabdi kepada negara belajar untuk terbang.

Ada pemeriksaan latar belakang.

Verifikasi dokumen asli.

Wawancara.

Investigasi keluarga.

Dan yang paling penting…

Fotokopi tidak cukup.

Yang dibutuhkan adalah dokumen asli.

Dan sertifikat asli milik ayahku berada di tanganku.

Malam itu Marco masuk ke kamarku sambil membawa segelas air.

“Laras, sudah selesai daftar? Sistem sebentar lagi tutup.”

Aku langsung menutup laptop.

“Sudah.”

Wajahnya terlihat lega.

“Baguslah,” katanya. “Politeknik juga tidak buruk. Tidak semua orang cocok masuk UI.”

Dia mendekat dan mencoba menyentuh rambutku, tetapi aku menghindar.

Dia tersenyum tipis.

“Masih marah? Aku sudah bilang, Bianca bukan orang egois. Ayahnya sedang sakit. Kalau dia tidak masuk UI, masa depannya bisa hancur.”

“Lalu bagaimana dengan masa depanku?” tanyaku.

Tatapannya langsung berubah.

“Laras, jangan keras kepala. Kalau kamu bicara kepada siapa pun, aku pastikan bahkan politeknik pun tidak akan menerimamu. Dan kalau ibumu tahu semuanya, mungkin dia tidak akan sanggup menerimanya.”

Saat itulah aku sadar.

Ini bukan sekadar pencurian.

Ini juga ancaman.

Setelah Marco pergi, Ibu masuk ke kamar.

Wajahnya pucat.

Di tangannya ada selembar hasil fotokopi dari sebuah percetakan.

“Nak… apa ini?”

Aku mengambil kertas itu.

Tertulis:

Larasati Santoso

Nilai: 96,8%

Program: Universitas Indonesia – Jalur Khusus Putra-Putri Pahlawan

Namun foto yang menempel di berkas itu…

adalah foto Bianca Prameswari.

Ibu langsung terduduk di tepi ranjang.

Tubuhnya gemetar.

“Kertas itu,” katanya dengan suara bergetar, “dibayar dengan nyawa ayahmu.”

Aku berlutut di hadapannya.

“Bu, jangan lapor sekarang.”

Mata Ibu membelalak.

“Jangan? Laras, mereka mencuri identitasmu!”

“Aku tahu.”

“Kalau kita tidak bertindak—”

“Kita akan bertindak,” potongku. “Tapi bukan dengan cara yang mereka bayangkan.”

Aku mengambil jaket tua milik Ayah dari dalam lemari.

Warnanya sudah pudar.

Ada sobekan di bagian lengan.

Namun masih menyimpan aroma logam, hujan, dan mimpi-mimpi lama.

“Mereka tidak mencuri hidupku, Bu,” kataku.

“Mereka hanya meminjam namaku untuk berjalan menuju tempat yang akan membakar semua kebohongan mereka.”

Keesokan harinya aku menghadiri pesta kelulusan di sebuah lounge karaoke mewah di Jakarta Selatan.

Begitu masuk, aku langsung disambut tawa, lampu warna-warni, dan wajah-wajah yang mengira aku sudah kalah.

Di tengah ruangan berdiri Bianca mengenakan gaun putih seperti seorang ratu.

Dia berdiri dan memelukku di depan semua orang.

“Laras! Terima kasih banyak,” katanya manis. “Kalau bukan karena identitasmu sebagai putri pahlawan, aku tidak mungkin diterima di UI.”

Teman-teman sekelas langsung bersorak.

“Laras baik banget!”

“Sayang kalau jalur itu dipakai dia!”

“Bianca memang lebih cocok masuk UI!”

Bianca menggandeng lengan Marco.

“Marco, aku benar-benar beruntung memilikimu.”

Aku memandangi tangan mereka yang saling menggenggam.

Saat itulah aku merasakan sakit untuk pertama kalinya.

Bukan karena kehilangannya.

Melainkan karena aku pernah mencintainya.

Seorang pria bertubuh besar dengan rantai emas tebal mendekat.

Katanya dia adalah Pak Ramon, pemilik lounge tersebut.

Dia mendorong segelas minuman ke hadapanku.

“Minumlah dulu. Setelah itu kita bisa bicara soal pekerjaan. Marco bilang kamu butuh uang.”

Aku menoleh ke arah Marco.

Dia mendekat dan berbisik:

“Malam hari kamu bisa menemani tamu VIP. Penghasilannya besar. Kamu juga bisa membantu biaya hidup Bianca di UI. Anggap saja demi menghormati ayahmu.”

Pada saat itu, aku mengambil gelas tersebut.

Semua orang langsung diam.

Mereka mengira aku akan meminumnya.

Tetapi aku justru menyiramkan seluruh isinya ke wajah Pak Ramon.

Dia langsung berdiri dengan marah.

“Kurang ajar!”

Marco mencengkeram lenganku dengan keras.

“Laras, kalau kamu tidak berlutut dan meminta maaf sekarang juga, kamu tidak akan keluar dari tempat ini.”

Aku memandang mereka semua.

Bianca.

Marco.

Dan teman-teman yang bertepuk tangan saat hidupku dicuri.

Lalu aku tersenyum.

“Marco,” kataku dengan tenang, “apa kamu benar-benar yakin Bianca yang akan masuk Universitas Indonesia?”

Marco langsung terdiam.

Pintu ruang VIP terbuka.

Ibuku masuk bersama dua pria berseragam militer.

Dan di tangan salah satu dari mereka terdapat amplop cokelat bertuliskan:

AKADEMI ANGKATAN UDARA REPUBLIK INDONESIA — DIVISI VERIFIKASI IDENTITAS

Ruangan VIP itu mendadak sunyi.

Senyum di wajah Bianca membeku.

Tangan Marco yang masih mencengkeram lenganku perlahan melemah.

Dua perwira Angkatan Udara melangkah masuk dengan tenang.

Pria yang lebih tua membuka amplop cokelat itu dan mengeluarkan beberapa dokumen resmi.

“Saudari Larasati Santoso?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Beliau lalu tersenyum tipis.

“Kami datang untuk menyampaikan hasil verifikasi akhir. Semua dokumen asli yang berkaitan dengan almarhum Kolonel Arman Santoso telah dinyatakan sah.”

Tatapannya kemudian beralih kepada Bianca.

“Sebaliknya, kami menemukan penggunaan dokumen pahlawan yang tidak sesuai dengan pemilik identitas sebenarnya.”

Wajah Bianca langsung pucat.

“Tidak… tidak mungkin…”

Marco buru-buru maju.

“Pasti ada kesalahan!”

Perwira itu mengeluarkan foto dan salinan berkas.

“Tidak ada kesalahan.”

“Jejak pencetakan dokumen, rekaman pengiriman file, serta bukti komunikasi sudah kami terima.”

“Kami juga telah mengirim laporan kepada Universitas Indonesia.”

Ruangan langsung gempar.

Teman-teman yang tadi memuji Bianca mulai saling berbisik.

Beberapa bahkan menjauh beberapa langkah.

Bianca mulai menangis.

“Aku hanya ingin kuliah…”

“Tolong…”

Namun kali ini tidak ada yang membelanya.

Karena semua orang akhirnya melihat kebenaran.

Bukan tentang siapa yang lebih cantik.

Bukan tentang siapa yang lebih populer.

Tetapi tentang siapa yang jujur.

Marco menoleh kepadaku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di matanya.

“Laras…”

“Aku bisa jelaskan.”

Aku tersenyum.

Senyum yang sangat tenang.

“Sama seperti saat kau menjelaskan mengapa hidupku harus diberikan kepada orang lain?”

Dia tidak mampu menjawab.

Beberapa hari kemudian, Universitas Indonesia secara resmi membatalkan penerimaan Bianca.

Penyelidikan internal dimulai.

Nama Marco tersebar di seluruh sekolah.

Orang-orang yang dulu memujinya mulai menjauh.

Sedangkan Bianca memilih menghilang dari media sosial selama berbulan-bulan.

Mereka kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Kepercayaan.

Sementara itu, aku menerima surat resmi dari Akademi Angkatan Udara Republik Indonesia.

Aku masih ingat hari pertama mengenakan seragam.

Ibuku berdiri di gerbang akademi sambil menangis.

Namun itu bukan tangisan kesedihan.

Melainkan kebanggaan.

Sebelum masuk ke area pendidikan, aku membuka dompetku.

Di dalamnya ada foto lama ayah.

Seragamnya sudah usang dalam foto itu.

Tetapi senyumnya masih sama.

Aku menyentuh foto tersebut perlahan.

“Ayah,” bisikku.

“Dulu aku pikir warisan terbesar yang kau tinggalkan adalah sertifikat penghargaan itu.”

“Ternyata aku salah.”

Angin pagi berembus lembut.

Pesawat latih melintas di langit biru.

Aku tersenyum.

“Warisan terbesar yang kau tinggalkan adalah keberanian untuk tidak menyerah ketika semua orang mencoba mengambil hakku.”

Hari itu aku melangkah memasuki akademi.

Bukan sebagai putri seorang pahlawan.

Bukan karena jalur khusus.

Bukan karena belas kasihan siapa pun.

Aku masuk dengan namaku sendiri.

Dengan usahaku sendiri.

Dan dengan kehormatan yang tidak berhasil dicuri oleh siapa pun.

Di belakangku, masa lalu perlahan tertinggal.

Di depanku, langit terbentang tanpa batas.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

aku merasa benar-benar bebas untuk terbang.