Pada hari aku putus dengan Rafael Wijaya, aku memasukkan ular putih yang sudah tiga tahun ia “pelihara” ke dalam tasku.
Sebenarnya bukan “pelihara”.
Lebih tepatnya… “ditelantarkan.”
Selama tiga tahun, dia bahkan tidak pernah benar-benar melihatnya.
Malam pertamaku di apartemennya di SCBD, Jakarta Selatan, aku melihat sebuah terrarium berdebu di sudut balkon. Kacanya penuh kerak air, kabel pemanasnya kusut dan jelas tak pernah dipasang.
Seekor ular kecil seputih salju melingkar di dalamnya. Diam. Hampir tak bergerak.
“Itu punya siapa?” tanyaku.
“Punya Kakek sebelum beliau meninggal di Surabaya. Nggak ada gunanya. Jangan disentuh, jorok,” jawab Rafael tanpa mengalihkan pandangan dari iPhone-nya.
Belakangan aku tahu dari ibunya bahwa ular putih itu adalah pesan terakhir Kakek Wijaya sebelum wafat.
“Ular ini lebih berharga daripada seluruh aset keluarga Wijaya. Rawat dia baik-baik.”
Tapi setelah pemakaman selesai, tak ada yang percaya lagi pada kata-kata orang tua itu.
Terutama Rafael.
Banyak hal yang tidak penting bagi Rafael.
Termasuk aku.
1. Kepergian
Saat aku memergokinya berselingkuh, aku tidak menangis.
Tidak berteriak.
Tidak membuat keributan.
Aku hanya berdiri di ambang pintu kamar, menatap dua tubuh yang saling berpelukan di atas ranjang.
Tiga tahun.
Tiga tahun aku mencuci kemejanya.
Tiga tahun aku memasak soto ayam kesukaannya.
Tiga tahun aku menemani ibunya kontrol rutin di RS Pondok Indah.
Dan balasannya?
Seorang perempuan asing mengenakan piyama yang aku setrika sendiri.
“Nadia? Ngapain kamu di sini?” Rafael bangun.
Bukan wajah bersalah yang kulihat.
Melainkan kesal.
Perempuan di sampingnya menyibakkan rambut dengan santai, tersenyum mengejek.
Namanya Claudia Hartono, Marketing Director baru di perusahaannya.
“Oh… jadi kamu Nadia,” katanya ringan.
“Kita selesai,” ucapku datar.
“Terserah,” jawab Rafael singkat.
Aku berjalan ke balkon.
Ular putih itu perlahan mengangkat kepalanya. Mata kecilnya menatap lurus ke arahku.
Entah kenapa, aku merasa kami sama-sama tak diinginkan di rumah itu.
Aku membuka tutup terrarium, mengangkatnya, dan memasukkannya ke dalam tas.
Tubuhnya dingin, tapi ia tidak melawan.
Saat lift turun, aku masih bisa mendengar tawa Claudia dari dalam apartemen.
Tak apa.
Di kamar kos kecilku di Kemayoran, aku mengeluarkannya dan menaruhnya di meja samping tempat tidur.
“Kasihan ya kamu,” bisikku.
Aku menatap cermin.
Usiaku 25 tahun. Tidak jelek.
Tapi selama tiga tahun bersama Rafael, cahaya di mataku menghilang.
Karena tak ada AC atau pemanas, udara November terasa dingin.
Saat aku hampir tertidur…
Sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.
Ular itu sudah melingkar di lututku.
Seperti pita hidup.
Saat kusentuh, ia perlahan melepaskan diri dan kembali ke bawah bantal.
Aku mengambil ponselku.
Aku punya akun TikTok dengan 900 pengikut saja.
Aku mengunggah video singkat:
“Day 1 setelah putus: aku nekat bawa kabur ular mantanku.”
Keesokan paginya, notifikasiku meledak.
3,8 juta views.
“Ya ampun putih banget! Itu mahal banget!”
“Itu bukan ular albino biasa!”
“Gila… itu ‘Penjaga’ keluarga Wijaya!”
Penjaga?
Ular yang hampir mati kelaparan itu?
2. Perubahan
Aku sadar ukurannya membesar.
Semalam masih sebesar lenganku.
Pagi ini, saat melingkar, diameternya sebesar piring makan.
Ponselku berdering.
Rafael.
“Nadia, ular itu ada di kamu?”
“Iya.”
“Balikin sekarang juga!”
“Bukannya kamu bilang nggak ada gunanya?”
“Itu warisan Kakek! Nggak boleh hilang!”
Aku mematikan telepon.
Ular itu hanya menatapku.
Seolah tersenyum.
“Sekarang kamu milikku,” candaku.
Malam itu aku terbangun karena hawa dingin.
Jendela terbuka.
Saat aku bangkit untuk menutupnya…
Tubuhku membeku.
Seorang pria berdiri di depan jendela, diterangi cahaya bulan.
Kulitnya pucat. Rambutnya panjang dan hitam legam.
Matanya berwarna emas kehijauan yang aneh.
Tak ada pakaian di tubuhnya, hanya selimut putih melilit di pinggangnya.
Ular itu… sudah tidak ada.
“Dingin,” katanya pelan.
“S-siapa kamu?!” Aku meraih bantal untuk melemparnya.
“Kau yang membawaku keluar dari kurungan kaca itu.”
Wajahnya terlalu sempurna.
Bahkan Rafael tak bisa dibandingkan.
“Kamu… ular itu?”
Ia tersenyum tipis.
“Tiga ribu tahun lamanya… kau satu-satunya manusia yang memperlakukanku dengan belas kasihan.”
Ia melangkah mendekat.
“Nadia… dalam hukum kami, siapa pun yang membebaskan kami… harus bertanggung jawab.”
Udara terasa makin dingin.
“Tanggung jawab apa?”
Matanya bersinar redup.
“Menjadi penjagaku.”
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Sentuhan dingin menjalar di pergelangan tanganku.
“Dan sebagai gantinya… aku akan menjadi pelindungmu.”
Di luar jendela, angin Jakarta berdesir pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku meninggalkan Rafael—
aku merasa… tidak sendirian lagi.

“Aku tidak butuh penjaga,” kataku pelan, meski suaraku gemetar.
Pria itu menatapku lama. Tidak marah. Tidak tersinggung.
“Semua manusia berkata begitu… sampai dunia mulai menghancurkan mereka.”
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Puluhan notifikasi.
Namaku sedang trending.
Video tentang ular itu telah menyebar ke berbagai platform. Judul-judul berita mulai bermunculan:
“Misteri Ular Putih Warisan Keluarga Wijaya”
“Apakah Ini Simbol Kekayaan Tersembunyi?”
Beberapa jam kemudian, Rafael muncul di depan kosku. Wajahnya pucat, napasnya terengah.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan?!” bentaknya.
“Itu bukan sekadar ular! Itu simbol saham rahasia keluarga kami! Kakek menyimpan akses aset offshore lewat kode genetiknya!”
Aku terdiam.
Pria di belakangku — yang kini mengenakan kemeja putih sederhana — tersenyum tipis.
“Jadi akhirnya mereka mengakuinya,” bisiknya di telingaku.
Rafael melangkah masuk tanpa izin.
Namun saat ia hampir menyentuhku—
Tubuhnya terlempar ke belakang seperti didorong angin tak kasat mata.
“Apa— apa ini?!” Rafael panik.
Mata pria itu berubah menjadi keemasan terang.
“Aku sudah memperingatkanmu,” katanya tenang.
Ular putih kecil muncul kembali di bahunya dalam sekejap, lalu berubah lagi menjadi wujud manusia.
Rafael gemetar.
“Siapa kamu sebenarnya?!”
Pria itu menjawab pelan:
“Aku bukan milik keluarga Wijaya. Mereka hanya kebetulan menjagaku sementara. Yang membebaskanku… adalah dia.”
Tangannya menunjukku.
Untuk pertama kalinya, Rafael menatapku bukan dengan jijik.
Tapi dengan takut.
“Nadia… kita bisa bicara baik-baik. Aku bisa jelaskan semuanya. Saham itu, aset itu— kita bisa bagi dua!”
Aku tersenyum kecil.
“Tiga tahun aku memohon sedikit perhatianmu. Sekarang kamu menawarkan miliaran rupiah?”
Wajahnya memucat.
“Aku tidak butuh uang keluarga Wijaya.”
Pria di sampingku berkata lembut:
“Karena takdirnya… jauh lebih besar.”
Epilog
Dua bulan kemudian.
Skandal pajak dan manipulasi saham keluarga Wijaya meledak di media nasional.
Rekening-rekening mereka dibekukan.
Rafael dipanggil untuk investigasi.
Aku?
Aku pindah ke apartemen kecil menghadap laut di Pantai Indah Kapuk. Bukan yang paling mewah. Tapi tenang.
Akun media sosialku berkembang menjadi 12 juta pengikut.
Bukan karena sensasi.
Tapi karena aku mulai membagikan kisah tentang keberanian meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Tentang harga diri.
Tentang memilih diri sendiri.
Pria itu tetap di sisiku.
Kadang sebagai manusia.
Kadang sebagai ular putih kecil yang melingkar di pergelangan tanganku seperti gelang hidup.
Suatu malam, saat matahari tenggelam di ufuk Jakarta, aku bertanya padanya:
“Kalau aku tidak pernah mengambilmu hari itu… apa yang akan terjadi?”
Ia tersenyum lembut.
“Mungkin aku tetap terkurung.
Dan mungkin… kamu juga.”
Aku menatap laut yang berkilau emas.
Aku kehilangan seorang pria.
Tapi aku menemukan kekuatanku.
Dan kadang,
yang terlihat seperti balas dendam…
sebenarnya adalah awal dari kebebasan.