Pada hari ingatan Leon Hartanto benar-benar kembali, aku sedang berlutut di lantai ruang keluarga, terengah-engah dan berkeringat, sementara satu tanganku mencengkeram erat pinggang celana putra sulung kami, Arga, dan tangan lainnya menahan kepala putra kedua kami, Rafi. Keduanya licin seperti belut, berusaha menyelinap ke bawah sofa seolah semuanya hanyalah permainan.

Sementara itu, aku yang sedang hamil tujuh bulan membawa perut yang terasa semakin berat dari hari ke hari. Dadaku sesak, setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

“Leon! Tolong aku sedikit!” teriakku, hampir memohon.

Tak ada jawaban.

Dari pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, terdengar suara seseorang.

Rendah.

Tenang.

Namun dingin.

Itu bukan suara pria yang hidup bersamaku selama tiga tahun.

Bukan pria yang mengusap punggungku setiap kali aku mual di pagi hari.

Bukan pria yang bangun dini hari untuk membuatkan susu anak-anak.

“Proposal merger kuartal ketiga itu kirim kembali ke tim legal. Suruh mereka revisi.”

Hening sejenak.

“Untuk Chu Ming, tidak perlu. Aku yang akan menanganinya.”

Napasanku terhenti.

“Dan satu hal lagi,” lanjutnya dengan nada yang jauh lebih berat.

“Cari tahu seluruh identitas Sabrina Mahendra.”

Itu aku.

Seolah ada ledakan di dalam kepalaku.

Lututku melemas.

Aku melepaskan kedua anak itu.

Mereka langsung berlari pergi, tetapi aku tak punya tenaga untuk mengejar.

Dengan susah payah aku berdiri sambil menopang perutku, berpegangan pada meja agar tidak jatuh.

Pintu ruang kerja terbuka.

Dia berdiri di sana.

Tinggi.

Tegap.

Bayangannya lebih dulu menutupi cahaya.

Saat matanya menatapku, kelembutan yang selama ini kukenal telah hilang.

Tatapannya dingin dan tajam, seolah sedang menguliti seluruh kebohonganku.

“Sabrina.”

Dia memanggil namaku.

Bukan “sayang”.

Bukan “istriku”.

Hanya sebuah nama.

Sebuah nama yang terdengar seperti pisau.

“A-ada apa?” tanyaku dengan suara bergetar.

Dia berjalan mendekat, mengambil setengah biskuit yang dijatuhkan anak-anak ke lantai, lalu meletakkannya di meja seolah tak terjadi apa-apa.

“Mau makan apa malam ini? Aku yang masak,” katanya sambil tersenyum.

Senyum seorang asing.

Malam itu kami makan makanan favoritku.

Dia memasak semuanya sendiri.

Aku tersenyum dan mengangguk seperti biasa.

Namun di dalam kepalaku, ribuan pertanyaan berteriak.

Kenapa dia menyelidikiku?

Apa yang sudah dia ingat?

Seberapa banyak?

Malamnya, dia memelukku dari belakang.

Tangannya berada di atas perutku.

Lembut.

Seolah sedang memberi tanda kepemilikan.

“Tidurlah,” bisiknya.

Aku tidak memejamkan mata semalaman.

Pukul empat pagi, aku bangun dengan hati-hati.

Koper itu sudah lama kusiapkan.

Sejak hari pertama aku membangun kebohongan.

Tiga paspor palsu.

Uang tunai.

Dokumen anak-anak.

Dan tiket sekali jalan menuju Kota Selatan.

Saat meninggalkan rumah bersama kedua anakku dan bayi yang masih berada di dalam kandungan, aku merasa seperti pencuri yang sedang mencuri kehidupannya sendiri.

Di dalam kereta, ketika kota mulai menjauh, aku membuka ponsel untuk terakhir kalinya.

Seratus tiga puluh tujuh panggilan tak terjawab.

Dua puluh pesan.

Aku tidak membaca satu pun.

Pikiranku kembali pada tiga tahun lalu.

Saat dia terbaring di rumah sakit tanpa ingatan.

Dan aku, yang saat itu hanyalah seorang asisten biasa, mengatakan bahwa aku adalah istrinya.

Aku menangis sejadi-jadinya.

Dan dia mempercayaiku.

Pria paling berkuasa di kota mempercayaiku.

Dan sekarang…

Sang raja telah terbangun.

Ketika kami tiba di Kota Selatan, aku mengira pelarian itu telah berakhir.

Aku salah.

Seminggu setelah melahirkan di sebuah klinik kecil, sebuah amplop tiba.

Tanpa alamat pengirim.

Di dalamnya hanya ada satu foto.

Foto diriku.

Foto anak-anakku.

Di depan rumah sakit.

Di bagian belakang terdapat sebuah kalimat pendek.

“Kau pikir bisa melarikan diri?”

Malam itu juga, seseorang mengetuk pintu.

Saat kubuka…

Dia berdiri di sana.

Bukan dengan kemarahan.

Bukan dengan teriakan.

Justru itu yang membuatnya jauh lebih menakutkan.

“Pulanglah,” katanya dengan suara dingin.

“Kita harus bicara.”

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan,” jawabku.

Tubuhku gemetar, tetapi aku tetap berdiri tegak.

Sudut bibirnya terangkat perlahan.

Senyuman tipis yang membuat darahku membeku.

“Benarkah?”

Tatapannya beralih ke tiga anak yang sedang tertidur di dalam rumah.

Lalu kembali kepadaku.

“Aku sudah mengingat semuanya, Sabrina.”

Jantungku serasa berhenti berdetak.

“Aku ingat kecelakaanku.”

“Aku ingat kehilangan ingatan.”

“Aku ingat bagaimana kau berbohong padaku.”

Dia melangkah maju satu langkah.

Dan aku mundur satu langkah.

“Tapi aku juga ingat sesuatu yang lain.”

Aku membeku.

Untuk pertama kalinya, matanya tidak lagi terlihat dingin.

“Aku ingat siapa yang merawatku ketika aku bahkan tidak bisa mengenali diriku sendiri.”

Suaranya rendah.

“Aku ingat siapa yang berjaga selama berhari-hari di samping ranjang rumah sakitku.”

“Aku ingat siapa yang menjual satu-satunya apartemen miliknya untuk membayar operasi yang tidak ditanggung asuransi.”

Air mata mulai memenuhi mataku.

Leon tersenyum pahit.

“Aku menyelidikimu bukan karena ingin menghancurkanmu.”

“Aku ingin tahu kenapa wanita yang mencintaiku seperti itu masih memilih berbohong.”

Aku tidak mampu menjawab.

Karena aku sendiri tidak tahu.

Mungkin karena takut.

Takut kehilangan hidup yang terlalu indah.

Takut kehilangan pria yang akhirnya kucintai dengan seluruh hati.

Leon menatap bayi kami yang baru lahir.

Lalu menatap kedua putra kami.

Dan akhirnya menatapku.

“Tiga tahun lalu kau mencuri identitasku.”

“Aku marah.”

“Benar-benar marah.”

Dia menarik napas panjang.

“Tapi selama tiga tahun itu… kau memberiku keluarga.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu,” bisikku.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan ketakutan, aku melihat pria yang kukenal kembali muncul di balik tatapan dinginnya.

Dia mengulurkan tangan.

“Jadi sekarang pilihan ada di tanganmu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku bisa menyerahkanmu kepada polisi karena semua kebohongan itu.”

Jantungku kembali berdebar.

“Tapi aku tidak akan melakukannya.”

Dia menatapku dalam-dalam.

“Aku datang ke sini bukan untuk membalas dendam.”

“Aku datang untuk menjemput istriku dan anak-anakku pulang.”

Aku menangis tersedu-sedu.

Semua ketakutan yang kupendam selama bertahun-tahun akhirnya runtuh.

Leon melangkah maju.

Lalu memelukku.

Erat.

Hangat.

Nyata.

“Lain kali,” bisiknya di rambutku.

“Kalau mau lari, jangan pilih kota yang hanya berjarak tiga jam dari Jakarta.”

Aku tertawa di tengah tangis.

Dan untuk pertama kalinya sejak hari ingatannya kembali…

Aku bisa bernapas lega.

Karena ternyata yang paling kutakutkan bukanlah kemarahan Leon.

Melainkan kehilangan cinta yang selama ini diam-diam telah menjadi rumah bagiku.

…lanjutan kisah lengkapnya ada di kolom komentar 👇👇

Dua tahun kemudian.

Matahari sore menyinari halaman luas rumah kami di pinggiran Jakarta.

Tawa anak-anak memenuhi udara.

Arga dan Rafi berlari mengejar adik perempuan mereka, Alya, yang kini sudah bisa berjalan dengan kaki mungilnya yang belum terlalu kuat.

“Papa! Papa! Rafi curang!” teriak Arga.

Leon yang sedang memanggang sate di taman langsung tertawa.

“Kalau begitu laporkan ke pengadilan keluarga.”

“Aku hakimnya!” teriak Alya sambil mengangkat tangan kecilnya.

Semua orang tertawa.

Aku berdiri di teras sambil memandangi mereka.

Kadang aku masih merasa semuanya seperti mimpi.

Setelah Leon mengetahui seluruh kebenaran, banyak hal berubah.

Aku mengaku semuanya.

Tentang kebohongan pertama.

Tentang rasa takut kehilangan.

Tentang bagaimana aku awalnya hanya ingin bertahan hidup.

Aku siap menerima hukuman apa pun.

Namun Leon justru berkata sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan.

“Kesalahan terbesar dalam hidupmu adalah berbohong kepadaku.”

Dia menggenggam tanganku saat itu.

“Dan keputusan terbaik dalam hidupku adalah memaafkanmu.”

Beberapa bulan kemudian kami menikah lagi.

Bukan karena hukum membutuhkannya.

Bukan karena masyarakat menginginkannya.

Tetapi karena kami ingin memulai dari awal.

Tanpa kebohongan.

Tanpa rahasia.

Tanpa ketakutan.

Hari itu Leon menatapku di depan altar kecil yang hanya dihadiri keluarga dekat.

Lalu berkata,

“Dulu aku kehilangan ingatanku dan menemukanmu.”

“Sekarang aku sudah mengingat semuanya.”

“Tapi aku tetap memilihmu.”

Aku menangis bahkan sebelum dia selesai berbicara.

Dan ternyata sampai hari ini aku masih menangis setiap kali mengingatnya.

“Bunda!”

Suara Arga membuyarkan lamunanku.

“Ayah bakar satenya lagi!”

“Ayah memang tidak berbakat masak,” tambah Rafi.

“HEI!” teriak Leon dari halaman.

Anak-anak tertawa semakin keras.

Aku ikut tertawa.

Pria itu menoleh ke arahku.

Tatapan kami bertemu.

Masih sama seperti dulu.

Masih membuat jantungku berdebar.

Dia berjalan mendekat, lalu berdiri di sampingku.

Tanpa berkata apa-apa, tangannya mencari tanganku.

Seolah itu kebiasaan yang sudah dilakukan seumur hidup.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya.

Aku menatap anak-anak yang bermain di halaman.

Lalu bersandar di bahunya.

“Aku sedang memikirkan betapa dekatnya aku kehilangan semua ini.”

Leon diam beberapa saat.

Kemudian mencium puncak kepalaku.

“Kita semua pernah tersesat, Sabrina.”

“Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa kamu bisa memaafkanku.”

Dia tersenyum.

Senyum hangat yang selama bertahun-tahun menjadi rumah bagiku.

“Karena saat aku kehilangan masa laluku, kamu memberiku alasan untuk memiliki masa depan.”

Air mataku langsung menggenang.

Bahkan setelah bertahun-tahun, pria ini masih tahu cara membuatku menangis.

Di halaman, matahari mulai tenggelam.

Anak-anak masih berlarian.

Suara tawa mereka bercampur dengan semilir angin sore.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memahami satu hal.

Cinta sejati bukanlah tentang bertemu dalam keadaan sempurna.

Bukan tentang tidak pernah berbuat salah.

Bukan tentang kisah tanpa luka.

Cinta sejati adalah ketika dua orang yang sama-sama terluka memilih untuk saling menyembuhkan.

Ketika dua orang yang bisa saling menghancurkan justru memilih untuk saling menjaga.

Aku menggenggam tangan Leon lebih erat.

Dan di dalam hati, aku berterima kasih kepada takdir.

Karena tiga tahun lalu, seorang pria kehilangan ingatannya.

Dan tanpa kami sadari, pada hari yang sama, kami berdua menemukan kehidupan yang selama ini kami cari.

Sebuah rumah.

Sebuah keluarga.

Dan cinta yang akhirnya berhasil bertahan melewati kebohongan, ketakutan, dan waktu.

Terkadang akhir yang bahagia bukanlah tentang menemukan orang yang sempurna.

Melainkan menemukan seseorang yang tetap memilih tinggal…

Setelah mengetahui semua ketidaksempurnaanmu.

Dan untungnya, kami berdua memilih untuk tetap tinggal.