Pada Hari Keluarga di Sekolah, Suamiku Memilih Anak dari Wanita Simpanannya—Sampai Seekor Ular Menggigit Putri Kami dan Sebuah Rahasia Besar Terungkap tentang Ke Mana Sebenarnya Hati dan Uangnya Pergi

Putriku lahir di sebuah rumah sakit swasta ternama di Jakarta Selatan.

Saat pertama kali menggendongnya, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa dia tidak akan pernah merasakan pahitnya kehidupan yang pernah kualami.

Namun ketika usianya delapan tahun, satu pertanyaan sederhana menghancurkan hatiku.

“Mommy… apakah aku juga harus menyalakan korek api supaya bisa bertemu Daddy lagi?”

Tanganku yang sedang memegang salep bergetar.

Lia duduk di sofa dengan piyama kesayangannya sementara aku membersihkan luka di lututnya dengan hati-hati. Ia hampir tidak mengeluh meski perih.

Bukan luka itu yang membuatnya sedih.

Yang lebih menyakitkan adalah alasan mengapa ia terluka.

Beberapa jam sebelumnya, sekolah internasional tempatnya belajar di kawasan BSD City mengadakan Family Sports Day.

Sudah berminggu-minggu Lia berlatih estafet di lorong rumah sambil menunggu ayahnya pulang.

Namun ketika Adrian Wijaya datang, ia tidak mendekati anak kandungnya sendiri.

Ia justru mengenakan jersey tim lain.

Tim milik Ethan, putra dari mantan bawahannya di kantor, Camila Hartono.

Saat anak-anak sedang berlari di lapangan sepak bola, Ethan hampir tertabrak murid yang lebih besar.

Adrian langsung berlari melindungi anak itu.

Tetapi dalam kepanikannya, ia mendorong Lia dengan keras.

Putriku jatuh tersungkur ke atas beton.

Lututnya berdarah.

Ia jatuh tepat di depan ayahnya sendiri.

Namun Adrian bahkan tidak menoleh.

Ia sibuk memeluk Ethan dan bertanya apakah anak itu ketakutan.

Aku melihat semuanya melalui rekaman kamera keamanan sekolah.

Malam itu, pintu apartemen kami di kawasan Sudirman terbuka.

Adrian masuk seolah tidak terjadi apa-apa.

Tubuhnya masih menyimpan aroma parfum melati murah.

Parfum favorit Camila.

“Kenapa lutut Lia terluka?” tanyanya sambil melepas sepatu.

Aku tidak menjawab.

Aku hanya meletakkan tablet di atas meja.

Video itu terus diputar.

Terlihat jelas bagaimana ia mendorong anaknya sendiri demi melindungi anak wanita lain.

Wajahnya memerah.

Tetapi bukannya meminta maaf, ia malah mengerutkan dahi.

“Itu refleks saja, Mara. Ethan hampir tertabrak.”

“Tapi Lia yang terluka.”

“Dia tidak lemah. Dia tumbuh dengan nyaman. Dia sudah punya segalanya.”

Aku tertawa pahit.

“Kasih sayangmu, Adrian… apakah hanya untuk orang lain? Kalau anakmu sendiri, dia harus belajar kuat sejak kecil?”

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Karena mode speaker aktif, kami mendengar suara Camila yang gemetar.

“Adrian, Ethan demam tinggi. Aku takut. Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Adrian langsung berdiri dan mengambil kunci mobil.

“Aku ke sana sekarang.”

Lia memandang ayahnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ada secercah harapan di matanya.

“Daddy… malam ini Daddy masih mau membacakan dongeng sebelum tidur?”

Adrian terdiam sesaat.

Namun akhirnya ia membalikkan badan.

“Besok saja, Sayang. Ethan membutuhkan Daddy sekarang.”

Aku berdiri.

“Kalau kamu keluar dari pintu itu malam ini, jangan berharap kamu akan menemukan rumah yang sama saat kembali.”

Ia menggelengkan kepala seolah aku yang salah.

“Kamu terlalu dingin, Mara. Camila seorang ibu tunggal. Dia tidak punya siapa-siapa. Sedangkan kamu punya perusahaan, punya orang tua. Tidak bisakah kamu lebih pengertian?”

Pintu tertutup.

Lia memandang lampu mobil ayahnya yang semakin menjauh dari balik jendela.

Lalu ia berbisik.

“Mommy… di cerita Gadis Penjual Korek Api, dia menyalakan korek api supaya bisa melihat neneknya…”

Ia menarik napas pelan.

“Apakah aku juga harus menyalakan korek api supaya bisa melihat Daddy lagi?”

Aku memeluknya erat.

Dan malam itu, kesabaranku benar-benar habis.

Aku menelepon asisten eksekutifku.

“Bu Rina, blokir semua kartu tambahan milik Adrian. Minta tim hukum menyiapkan surat perceraian dan dokumen hak asuh.”

Tak lama kemudian Adrian menelepon dengan marah.

“Apakah kamu sudah gila?! Ethan ada di IGD! Kartuku tidak bisa dipakai!”

“Itu kartu tambahanku.”

“Ini untuk biaya rumah sakit! Kamu cemburu bahkan dalam situasi seperti ini?”

“Ini bukan cemburu. Aku hanya tidak mau membiayai keluarga yang kamu pilih lebih dulu daripada anakmu sendiri.”

Aku menutup telepon.

Keesokan harinya, orang tua Adrian datang bersama dirinya.

Mereka bertingkah seolah Adrian adalah korban.

“Mara,” kata ibu mertuaku, Bu Elena, dengan lembut, “mungkin kita bisa membicarakan ini baik-baik.”

Aku meletakkan sebuah map di atas meja.

Di dalamnya terdapat daftar enam perhiasan yang mereka hadiahkan kepada Lia sejak ia lahir.

Anting-anting.

Gelang emas.

Kalung berliontin.

Semuanya seharusnya diberikan kepada Lia saat ulang tahunnya yang ke-18.

Nilainya mencapai hampir Rp6 miliar.

“Di mana perhiasan milik Lia?” tanyaku.

Adrian langsung pucat.

Namun beberapa detik kemudian ia kembali mengangkat dagu.

“Aku mengubahnya menjadi dana pendidikan untuk Ethan. Lia tidak akan kekurangan apa pun. Keluargamu kaya. Tapi Ethan tidak punya ayah.”

Ayah mertuaku menghantam meja.

“Itu milik cucuku!”

Namun Adrian tetap tidak bergeming.

“Aku berutang budi kepada Camila. Suaminya meninggal setelah membantuku saat aku sedang terpuruk. Aku bertanggung jawab memastikan kehidupan anaknya terjamin.”

Aku mengeluarkan surat perceraian.

“Kalau begitu, tanggunglah mereka dengan uangmu sendiri.”

Ia langsung menandatangani surat itu.

“Kamu tidak akan sanggup meninggalkanku, Mara. Pada akhirnya kamu yang akan memohon.”

Tiga hari kemudian.

Sekolah Lia mengadakan Eco-Family Fair.

Aku membatalkan semua rapat demi menemaninya.

Namun saat memasuki aula kegiatan, aku melihat Adrian.

Di sampingnya berdiri Camila.

Tangannya berada di bahu Ethan seolah mereka adalah keluarga yang sebenarnya.

Lia menundukkan kepala.

“Mommy… kenapa Daddy ada di sana?”

Aku menggenggam tangannya.

Tiba-tiba Ethan berlari mendekati kami.

Di tangannya ada sebuah kotak plastik transparan.

“Lia, lihat hewan peliharaanku!”

Ia membuka tutupnya.

Seekor ular hijau terang langsung melata keluar dan melilit anak ayam yang dibawa Lia untuk stan perawatan hewan.

Lia menjerit.

Kotak itu jatuh ke lantai.

Di depan matanya sendiri, anak ayam yang telah ia rawat selama berminggu-minggu perlahan berhenti bergerak.

Adrian berlari.

Namun bukan menuju Lia.

Ia justru menghampiri Ethan.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan panik.

“Itu cuma seekor anak ayam,” katanya dingin saat melihat Lia menangis. “Jangan berlebihan. Ethan hanya ingin menunjukkan perilaku hewan.”

“Adrian, itu bukan mainan!” teriakku. “Ular itu terlihat berbisa!”

Camila memutar matanya.

“Kelenjar bisanya sudah diangkat. Aman kok.”

Aku segera membawa Lia menuju ruang kepala sekolah.

Hewan seperti itu seharusnya tidak boleh dibawa ke sekolah.

Namun baru lima menit kami berada di sana, terdengar jeritan melengking dari lorong.

Aku berlari keluar.

Di ujung koridor, Ethan memegang ular itu sambil mengejar Lia.

“Ayo lihat seberapa beraninya kamu!” teriaknya.

Lia mundur ketakutan.

Ia terpeleset dan jatuh.

Ular itu terkejut.

Dalam sekejap, hewan itu terlepas dari tangan Ethan dan menyerang.

Taringnya menancap dalam ke kaki putriku.

“LIA!”

Seluruh duniaku seakan berhenti ketika melihat wajah putriku mulai kehilangan warna sedikit demi sedikit.

Dan pada saat yang sama…

Adrian akhirnya berlari ke arah kami.

Tetapi yang keluar dari mulutnya pertama kali justru membuat seluruh lorong sekolah terdiam.

“Ethan! Kamu tidak digigit, kan?!”

Aku menatap pria yang pernah kucintai itu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku menyadari bahwa bukan hanya uangnya yang telah pergi kepada keluarga lain.

Tetapi hatinya pun sudah lama meninggalkan kami.

Setelah melihat warna di wajah Lia perlahan memudar, aku langsung berlari dan memeluk putriku.

“LIA!”

Jeritanku menggema di seluruh koridor.

Para guru panik memanggil ambulans. Kepala sekolah segera meminta semua murid menjauh dari lokasi.

Namun di tengah kekacauan itu, yang membuat semua orang terdiam adalah Adrian.

Dia masih memeluk Ethan dengan erat.

“Kamu tidak digigit, kan? Biar Papa lihat tanganmu!”

Camila juga gemetar sambil menarik putranya ke belakang.

Sementara Lia…

Anak kandungnya sendiri…

Terbaring lemah di lantai.

Barulah ketika dokter sekolah berlutut di samping Lia dan berteriak,

“Pak! Anak ini yang digigit! Bukan anak yang ada di pelukan Anda!”

Adrian seperti baru tersadar.

Dia berlari mendekat.

“Lia! Sayang! Lihat Papa!”

Namun pandangan Lia mulai kabur.

Tangan kecilnya menggenggam bajuku.

“Mommy…”

“Iya, Sayang… Mommy di sini…”

“Daddy… datang?”

Air mataku langsung jatuh.

“Iya… Daddy sudah di sini…”

Lia berusaha tersenyum.

“Aku anak baik… makanya Daddy datang, ya, Mommy?”

Saat itu, hati Adrian seperti dihancurkan.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Camila, dia berlutut sambil menangis seperti anak kecil.


Syukurlah, setelah mendapat pertolongan cepat, Lia berhasil melewati masa kritis.

Ternyata ular yang dibawa Ethan masih memiliki sisa racun.

Lia harus dirawat di rumah sakit selama hampir seminggu.

Selama tujuh hari itu, Adrian tidak pernah meninggalkan kamar rawat.

Dia tidak mencukur janggutnya.

Hampir tidak tidur.

Dan terus menjaga Lia.

Namun Lia justru semakin pendiam.

Ketika Adrian membacakan dongeng, Lia hanya membalikkan badan.

Ketika dia membelikan boneka baru, Lia hanya tersenyum sopan.

“Terima kasih, Om Adrian.”

Setiap mendengar dua kata itu, wajah Adrian langsung pucat.

Suatu malam, saat Lia sudah tertidur, Adrian berlutut di hadapanku.

“Mara… beri aku kesempatan…”

“Sudah terlambat.”

“Aku tahu aku salah…”

“Kamu salah sejak kapan?” tanyaku.

“Saat mendorong Lia sampai jatuh?”

“Saat mengambil perhiasan senilai hampir Rp6 miliar milik putrimu untuk Ethan?”

“Atau saat Lia bertanya apakah dia harus menyalakan korek api agar bisa bertemu ayahnya lagi?”

Adrian menangis.

“Aku mencintai Lia…”

Aku menatapnya lama.

“Tidak.”

“Kamu pernah mencintainya.”

“Tapi kemudian kamu memberikan cinta itu kepada orang lain.”


Dua minggu kemudian, seorang pria tua datang ke rumahku.

Usianya sekitar enam puluh tahun.

Begitu melihat Adrian, pria itu langsung menamparnya.

PLAK!

Camila terkejut.

“Ayah!”

Adrian membeku.

Pria itu adalah ayah kandung Camila.

Dia menoleh kepadaku dan membungkuk dalam-dalam.

“Saya minta maaf.”

“Saya baru kembali dari Kalimantan.”

“Saya tidak tahu putri saya berbohong kepada semua orang bahwa dia seorang janda.”

Semua orang terdiam.

Wajah Adrian berubah pucat.

“Apa… maksud Bapak?”

Pria tua itu menangis.

“Ayah kandung Ethan masih hidup.”

“Dia bekerja di Malaysia.”

“Karena ingin hidup mewah, Camila mengatakan kepada semua orang bahwa suaminya sudah meninggal.”

“Padahal Ethan adalah anak kandung suaminya sendiri.”

“Kami menentangnya, lalu dia memutuskan hubungan dengan keluarga selama bertahun-tahun.”

Ruangan itu seolah membeku.

Adrian tidak mampu berkata apa pun.

“Tidak…”

“Tidak mungkin…”

Camila gemetar.

“Adrian… aku bisa menjelaskan…”

PLAK!

Kali ini Adrian yang menamparnya.

Selama delapan tahun…

Dia telah mengorbankan anak kandungnya sendiri.

Mengambil harta Lia.

Menghancurkan keluarganya.

Hanya demi menjadi ayah bagi seorang anak yang sebenarnya tidak pernah membutuhkannya.


Sidang perceraian berlangsung tiga bulan kemudian.

Aku mendapatkan hak asuh penuh atas Lia.

Pengadilan juga memerintahkan Adrian mengembalikan seluruh uang dan perhiasan yang pernah diambil dari putrinya.

Perusahaanku terus berkembang.

Sedangkan Adrian…

Dia menjual apartemen mewahnya.

Menjual mobilnya.

Mengundurkan diri dari jabatannya.

Dan hidup sendirian di sebuah rumah kecil di Bogor.

Setiap bulan, dia mengirim surat untuk Lia.

Namun tidak satu pun surat itu pernah dibuka.


Dua tahun kemudian.

Lia berusia sepuluh tahun.

Kami merayakan ulang tahunnya di Bali.

Saat kembang api menerangi langit malam, Lia memelukku erat.

“Mommy.”

“Ya, Sayang?”

“Aku tidak perlu menyalakan korek api lagi.”

Aku tersenyum.

“Kenapa?”

Lia menatap langit penuh bintang.

Matanya sejernih dulu.

“Karena aku tahu…”

“Orang yang benar-benar mencintaiku…”

“Tidak akan pernah membuatku harus mencarinya melalui cahaya dari sebatang korek api.”

Di kejauhan, di tengah keramaian pantai, seorang pria berdiri dalam diam.

Rambutnya sudah mulai memutih.

Di tangannya ada kotak hadiah ulang tahun yang belum sempat diberikan.

Adrian.

Dia melihat senyum putrinya.

Lalu perlahan berbalik dan pergi.

Karena akhirnya dia memahami satu hal yang harus dibayar dengan seluruh hidupnya untuk disadari:

Ada anak-anak yang rela menunggu ayah mereka tumbuh menjadi orang yang lebih baik.

Tetapi tidak ada anak yang bisa menunggu selamanya untuk mendapatkan cinta yang seharusnya sudah mereka terima sejak awal.