Pada hari selingkuhan suamiku melahirkan, dia mengira dirinya akhirnya menjadi seorang ayah.

Pada hari selingkuhan suamiku melahirkan, dia mengira dirinya akhirnya menjadi seorang ayah.

Diam-diam aku meninggalkan Jakarta membawa 480 miliar rupiah…

Dan satu hasil tes DNA yang menghancurkan hidupnya selamanya….

Hari ketika sekretaris suamiku melahirkan di sebuah rumah sakit mewah di kawasan SCBD Jakarta…

suamiku menyewa satu lantai VIP penuh dan menempatkan lima belas bodyguard di sepanjang lorong.

—Kalau wanita itu datang… usir dia saat itu juga.

Suara Adrian Wijaya terdengar sangat dingin sampai para perawat di dekatnya pun tak berani menatap langsung ke arahnya.

—Terutama istriku.

Wanita yang dia maksud…

adalah aku.

Namaku Mara Wijaya.

Wanita yang menemaninya sejak masih bekerja di kantor kecil sewaan di Sudirman…

hingga Wijaya Trans Logistics berubah menjadi salah satu kerajaan logistik terbesar di seluruh Indonesia.

Dulu…

akulah orang yang paling dia percaya.

Dan aku juga satu-satunya orang…

yang mengetahui semua rahasia perusahaannya.

Karena itu sekarang…

akulah orang yang paling dia takuti.

Dia pikir aku akan datang ke rumah sakit.

Menarik rambut selingkuhannya.

Menangis.

Mengamuk.

Dan membuat skandal besar yang akan jadi santapan media Indonesia.

Karena itu…

dia bersiap seolah perang akan terjadi.

Lucunya…

orang yang sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi…

justru dirinya sendiri.

Karena pada saat itu…

aku sedang duduk tenang di kursi first class pesawat yang meninggalkan Jakarta.

Lampu kota perlahan mengecil di balik jendela, ditelan awan malam.

Pramugari tersenyum sambil menuangkan champagne ke gelasku.

Aku memegang gelas wine itu perlahan.

Lalu membuka ponselku.

Pesan pertama langsung muncul.

【480 miliar rupiah berhasil ditransfer ke rekening Anda.】

Sudut bibirku terangkat tipis.

Kemudian aku menelepon seseorang.

Pengacara pribadiku di Singapura.

—Mulai pindahkan semua kontrak internasional sekarang.

Ia terdiam beberapa detik.

—Kamu yakin, Mara?

—Wijaya Trans bakal runtuh kalau shipping routes utamanya hilang.

Aku memandang langit gelap di luar jendela pesawat.

Suaraku sangat pelan…

namun membuat bulu kuduk merinding.

—Itu bukan masalahku lagi.

Lalu aku memutus sambungan telepon.

Di waktu yang sama…

di Rumah Sakit Medistra SCBD.

Tangisan bayi menggema dari ruang persalinan.

Sofia Mahendra melahirkan seorang anak laki-laki.

Ibu Adrian hampir menangis bahagia.

—Akhirnya keluarga Wijaya punya pewaris!

Ia memeluk bayi itu erat.

Sementara Adrian berdiri di tengah ucapan selamat para tamu.

Wajahnya dingin dan angkuh…

seperti raja yang baru mendapatkan penerus tahta.

Sampai tiba-tiba ponselnya berdering.

CFO perusahaan menelepon.

Suaranya gemetar panik.

—Pak Adrian… ada masalah besar…

Adrian langsung mengernyit.

—Apa?

—Dana cadangan perusahaan hilang!

—Tiga rekening internasional dikuras habis dua puluh menit lalu!

Wajah Adrian berubah drastis.

—APA?!

—Itu mustahil!

—Cuma aku dan Mara yang punya akses!

CFO hampir menangis.

—Transfernya dikonfirmasi langsung dari akun Bu Mara…

—Dan…

—Semua partner logistik kita di Singapura baru saja mengirim email pembatalan kerja sama…

—Mereka pindah ke perusahaan lain.

Adrian terdiam beberapa detik.

Lalu mendadak menoleh tajam.

—Di mana ponsel Mara?!

Tak ada yang menjawab.

Karena semua orang tahu…

aku sudah menghilang.

Seperti orang gila Adrian berlari keluar rumah sakit.

Kelima belas bodyguard mengejarnya.

Lamborghini hitamnya melaju kencang di jalanan Sudirman yang diguyur hujan deras.

Air menghantam kaca mobil.

Sama buruknya dengan ekspresi Adrian saat itu.

Saat sampai di mansion kami di Menteng…

rumah itu sangat sunyi.

Lampu ruang tamu masih menyala.

Cangkir teh yang kutinggalkan pagi tadi masih ada di meja.

Semuanya terlihat normal.

Kecuali aku…

aku sudah tidak ada di sana.

Adrian langsung berlari ke ruang kerja.

Ia membuka vault pribadi.

Kosong.

Uang tunai.

Dokumen penting.

Perhiasan.

Hard drive.

Semuanya hilang.

Tangannya gemetar saat membuka laptop.

Ia mencoba masuk ke sistem manajemen transportasi nasional perusahaan.

Namun layar langsung menampilkan tulisan merah.

【ACCESS DENIED】

Adrian memukul keyboard dengan marah.

—Sialan!!

Ia mencoba login lagi.

Tetap gagal.

Dan baru saat itulah ia teringat…

bahwa administrator tertinggi seluruh sistem perusahaan…

adalah aku.

Bukan dia.

Keringat dingin mulai turun di dahinya.

Ia mundur perlahan.

Dan saat itu…

ia melihat sesuatu di atas meja.

Sebuah kotak hadiah merah.

Dibungkus sangat rapi.

Dengan catatan kecil di atasnya.

【Selamat atas anak laki-lakimu.】

Tangan Adrian gemetar saat membuka kotak itu.

Hanya ada dua benda di dalamnya.

Sebuah USB silver.

Dan…

hasil tes DNA.

Wajah Adrian langsung memucat ketika membaca kalimat terakhir di hasil tersebut.

Lanjutannya ada di kolom komentar…👇

Wajah Adrian langsung berubah pucat.

Tangannya gemetar hebat saat membaca kalimat terakhir di hasil DNA itu.

【Probability of paternity: 0%】

Anak laki-laki yang baru saja ia rayakan…

bukan anak kandungnya.

Kotak itu jatuh dari tangannya.

Untuk beberapa detik…

seluruh dunia terasa hening.

Lalu Adrian tertawa kecil.

Tawa kosong yang terdengar menyeramkan.

“Tidak…”

“Ini nggak mungkin…”

Ia langsung mengambil ponsel dan menelepon Sofia berkali-kali.

Namun tak ada jawaban.

Sementara di rumah sakit…

Sofia masih memeluk bayinya sambil tersenyum lemah.

Ibu Adrian sibuk membagikan kabar bahagia kepada keluarga besar Wijaya.

Sampai pintu kamar VIP dibuka dengan keras.

BRAK!

Adrian masuk dengan mata merah dan wajah seperti orang kehilangan akal.

“Keluar.”

Suaranya sangat dingin.

“SEMUA KELUAR!”

Para perawat panik.

Ibunya langsung berdiri.

“Adrian, ada apa—”

“Aku bilang keluar!”

Seluruh ruangan langsung sunyi.

Tinggal Adrian dan Sofia.

Sofia mulai pucat.

“A-Adrian…?”

Tanpa bicara, Adrian melempar hasil DNA itu ke atas ranjang.

“Aku cuma mau tanya sekali.”

“Anak ini anak siapa?”

Tubuh Sofia langsung membeku.

Air matanya jatuh seketika.

Namun diamnya…

sudah menjadi jawaban.

Adrian mundur perlahan sambil tertawa pahit.

Selama ini…

ia menghancurkan istrinya sendiri demi wanita yang ternyata mengkhianatinya juga.

Dan yang paling mengerikan—

Mara sudah mengetahui semuanya lebih dulu.

Adrian langsung pulang ke mansion dan membuka USB di laptopnya.

Video pertama muncul.

Rekaman CCTV hotel.

Sofia terlihat masuk ke kamar bersama pria lain beberapa bulan lalu.

Video kedua.

Percakapan rahasia.

Suara Sofia terdengar jelas:

“Begitu aku melahirkan, keluarga Wijaya bakal kasih semuanya buat aku.”

“Adrian gampang dibodohi.”

Tangan Adrian mengepal sampai berdarah.

Namun video terakhir…

adalah yang paling menghancurkan.

Itu rekaman Mara.

Istrinya.

Wanita yang selama ini diam.

Ia duduk tenang di ruang kerja mereka sambil menatap kamera.

“Halo, Adrian.”

Hanya dua kata itu…

sudah membuat dada Adrian sesak.

“Aku pernah mencintaimu lebih dari diriku sendiri.”

“Aku menemanimu dari nol.”

“Aku yang mencari investor pertama untuk perusahaanmu.”

“Aku yang membangun seluruh jalur logistik internasional.”

“Aku bahkan yang menyelamatkan Wijaya Trans saat hampir bangkrut empat tahun lalu.”

Mata Adrian mulai memerah.

Karena semua itu benar.

Namun setelah kaya…

ia mulai percaya bahwa dirinya hebat sendirian.

Di layar, Mara tersenyum kecil.

“Lucu ya…”

“Pria yang takut aku membuat skandal di rumah sakit…”

“Tidak sadar kalau aku sebenarnya sudah selesai meninggalkannya jauh sebelum wanita itu melahirkan.”

Air mata Adrian jatuh untuk pertama kalinya.

Namun Mara melanjutkan dengan suara yang dingin dan tenang:

“Kamu takut aku menghancurkan reputasimu.”

“Padahal yang benar-benar menghancurkan hidupmu…”

adalah pilihanmu sendiri.”

Mara lalu mengangkat gelas wine pelan.

“480 miliar itu bukan pencurian.”

“Itu bagian yang memang menjadi hakku.”

“Dan semua kontrak internasional yang kubawa pergi…”

“Itu harga dari pengkhianatanmu.”

Video hampir selesai.

Namun sebelum layar menjadi hitam…

Mara mengucapkan satu kalimat terakhir:

“Dulu aku membangun kerajaanmu karena cinta.”

“Dan sekarang…”

“aku meninggalkannya sambil melihatmu dihancurkan oleh wanita yang kau pilih sendiri.”

Video berhenti.

Ruangan menjadi sunyi.

Di luar mansion…

hujan turun sangat deras.

Persis seperti malam ketika Mara meninggalkan Jakarta.

Dalam waktu dua minggu…

Wijaya Trans resmi runtuh.

Investor menarik dana.

Partner internasional membatalkan kerja sama.

Saham perusahaan jatuh bebas.

Media Indonesia membongkar perselingkuhan Adrian dan skandal bayi palsu itu.

Nama Adrian Wijaya yang dulu dihormati…

berubah menjadi bahan hinaan publik.

Sedangkan Mara…

tinggal tenang di sebuah penthouse mewah di Singapura.

Suatu malam, ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Itu Adrian.

“Aku mohon… temui aku sekali saja.”

Mara membaca pesan itu cukup lama.

Lalu tersenyum tipis.

Dan tanpa ragu…

ia menekan tombol block.

Karena beberapa pengkhianatan…

tidak pantas mendapat kesempatan kedua.

Dan beberapa wanita…

tidak perlu menghancurkan seorang pria dengan amarah.

Cukup pergi sambil membawa semua hal…

yang dulu membuat pria itu kuat.