Pagi itu suasana sangat ramai. Orang tua lalu-lalang, siswa berlari tergesa-gesa, semuanya tegang karena hari penentuan masa depan.
Tiba-tiba, seorang siswi perempuan berlari menghampiriku dengan wajah panik.
“Aling, saya lupa izin ujian saya. Boleh saya pinjam ponsel sebentar untuk menelepon Mama supaya dia mengantarkannya ke sini?”
Siswi itu sering membeli maruya dariku. Karena itu, tanpa berpikir panjang aku langsung menyerahkan ponselku.
Aku tidak pernah menyangka, setelah ujian selesai, ibu siswi itu tiba-tiba datang ke lapakku dalam keadaan marah besar bersama anaknya.
Ia menuduhku sengaja menyelipkan ponsel ke dalam tas anaknya agar dia ketahuan melakukan kecurangan.
Akibat tuduhan itu, anaknya dianggap melakukan kecurangan dan hasil ujian seluruhnya dibatalkan.
Aku berusaha menjelaskan dengan panik bahwa justru anaknya sendiri yang meminta pinjam ponsel, dan aku tidak ada hubungannya sama sekali.
Namun siapa sangka, siswi itu malah menangis histeris di depan banyak orang:
“Saya tidak pernah meminjam ponsel dari Aling! Kenapa kalian ingin menjebak saya?!”
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku dari ibu siswi itu.
“Kamu masih berbohong! Anak saya tidak pernah menelepon siapa pun!”
Setelah itu, lapak maruya milikku dihancurkan. Aku kehilangan mata pencaharian.
Karena stres berat, menantuku mengalami keguguran.
Belum cukup sampai di situ, mereka merekam video sambil menangis dan mengunggahnya ke media sosial, menuntut DepEd (Department of Education Filipina) untuk mengembalikan hasil ujian anaknya.
Masalah semakin membesar. Polisi turun tangan, dan hasil investigasi menunjukkan tidak ada satu pun panggilan telepon dari ponselku.
Akhirnya, siswi itu diberi kesempatan ujian ulang.
Sementara aku dicap sebagai pembohong, difitnah, dan dihina di jalanan.
Menantuku kehilangan anaknya dan akhirnya mengalami gangguan mental berat. Tidak lama kemudian, aku meninggal dunia akibat tekanan hidup dan stroke.
KEMBALI KE MASA LALU
Saat aku membuka mata…
Aku kembali ke hari ujian itu.
Aku berdiri di depan lapakku yang sama, di gerbang sekolah yang sama di Quezon City.
Di depanku, siswi itu—Angelica (Tiêu Tử Tình)—tersenyum sambil berkata:
“Aling? Bisa dengar saya? Saya ingin pinjam ponsel sebentar untuk menelepon.”
Aku terdiam.
Semua adegan itu… sama persis seperti kehidupan sebelumnya.
“Kalau tidak ada izin ujian, saya tidak akan bisa masuk ruang ujian.”
“Sudah tiga tahun saya belajar keras… tolong, Aling, kasihanilah saya.”
Angelica merapatkan kedua tangannya, terus memohon.
Melihat adegan yang sama persis dengan hidupku sebelumnya, keringat dingin langsung mengalir di tubuhku.
Di kehidupan sebelumnya, aku percaya padanya.
Aku meminjamkan ponselku tanpa ragu.
Dan akibatnya… keluargaku hancur.
Menantuku keguguran dan kehilangan akal, anakku kehilangan pekerjaan, dan keluargaku dihujat habis-habisan oleh tetangga dan netizen.
Tanganku gemetar.
Saat Angelica mencoba meraih ponsel di meja, aku langsung sadar.
Aku menahan tangannya di atas meja dan tersenyum paksa.
“Maaf ya, Nak. Ponsel tante lagi tidak ada pulsa.”
“Kalau mau telepon, coba tanya orang lain.”
Angelica tertegun.
Dia tidak menyangka akan ditolak.
Selama tiga tahun berjualan di sini, semua orang tahu aku ramah.
Dan dia adalah pelanggan tetapku.
“Aling… saya tadi lihat Aling telepon seseorang… kenapa sekarang tidak bisa?”
“Lagi pula kita sudah kenal lama, masa tidak boleh pinjam sebentar saja?”
Wajahnya mulai berubah, ada tekanan di suaranya.
Aku tetap tenang.
“Ponsel tante sedang dibatasi untuk panggilan keluar.”
“Hari ini tanggal cut-off tagihan, jadi tidak bisa digunakan.”
Aku menarik ponsel itu kembali dan memasukkannya ke saku celana.
“Tapi kalau kamu butuh, saya bisa bantu telepon polisi.”
“Nomor 911 atau 117 tetap bisa dipanggil tanpa pulsa.”
Wajah Angelica langsung pucat.
Ia mulai panik, melirik ke sekitar beberapa kali.
Akhirnya ia mundur.
“Baiklah… saya cari yang lain saja.”
Aku menghela napas lega.
Kali ini, ponselku tidak akan jatuh ke tangannya lagi.
Selama hari ini bisa dilewati… semuanya akan aman.
TAPI… TAK DISANGKA
Saat aku sibuk menggoreng maruya lagi, tiba-tiba Angelica muncul lagi—dengan senyum yang berbeda.
Dan kali ini… dia mengarah ke menantuku.
“Terima kasih, Kak! Saya akan segera mengembalikannya setelah telepon.”
Aku membeku.
Di tangan menantuku… ponsel itu sudah berpindah.
Aku langsung melempar spatula ke meja dan berlari.
“Tidak ada pinjam ponsel di sini!”
Aku merebut ponsel itu kembali.
Aku menoleh ke menantuku:
“May-May (Tiểu Dao), masuk ke dalam. Lanjutkan goreng pisang.”
Dia bingung, tapi menurut.
Angelica terlihat kaget.
“Aling, saya cuma mau telepon…”
Aku memotongnya:
“Sudah lebih dari 10 menit kamu mencari telepon.”
“Tidak terlihat seperti orang yang sedang terburu-buru.”
Wajahnya mulai panik.
“Aku sudah tanya orang lain tapi tidak ada yang mau pinjamkan!”
“Ini cuma telepon satu kali!”
Aku tersenyum dingin.
“Benarkah hanya telepon?”
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak mau menelepon di sini saja, di depan saya?”
Dia terdiam.
Matanya mulai gelisah.
Dan sejak saat itu…
Aku tahu satu hal.
Kali ini, aku tidak akan membiarkan tragedi itu terulang lagi.
Bahkan jika dia harus mencoba seribu cara lain.
Aku akan menghentikannya… di sini.

Angin pagi di Quezon City berhembus pelan, membawa aroma manis maruya yang sedang digoreng di wajan panas.
Angelica masih berdiri di sana. Namun kali ini, tidak ada lagi wajah memohon seperti sebelumnya. Yang tersisa hanyalah kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.
Aku menggenggam ponselku erat.
Tidak boleh salah lagi.
Kali ini… aku tidak akan membiarkan semuanya terulang.
“Aling…” suara Angelica melemah. “Aku benar-benar hanya ingin menelepon sebentar…”
Aku menatapnya lurus.
“Kalau begitu, telepon di sini.”
Satu kalimat sederhana, tapi membuatnya langsung membeku.
Di sekitar kami, suara keramaian hari ujian terus berlangsung—pengeras suara, langkah kaki, dan teriakan panitia yang mengarahkan peserta.
Namun di antara semua itu, jarak antara aku dan Angelica terasa berat dan menekan.
Dia menggigit bibirnya.
“Tidak bisa… di sini…”
Aku tersenyum dingin.
“Tidak bisa, atau tidak berani?”
Tiba-tiba, dari pengeras suara sekolah terdengar:
“Peserta diminta segera masuk ruang ujian. Gerbang akan ditutup dalam 5 menit.”
Suasana langsung berubah tegang.
Angelica menoleh panik.
Ini adalah momen yang sama seperti di kehidupan sebelumnya.
Momen awal dari semua kehancuran.
Aku melangkah maju.
“Angelica.”
Untuk pertama kalinya, aku memanggil namanya langsung.
“Kamu tidak lupa kartu ujianmu.”
“Kamu juga tidak benar-benar perlu menelepon siapa pun.”
Wajahnya langsung pucat.
“A-aling… maksudnya apa?”
Aku mengangkat ponselku sedikit, tidak menyerahkannya.
“Kamu hanya mencari kesempatan untuk membawa ini ke dalam ruang ujian.”
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tatapannya mulai goyah.
Dari kejauhan, petugas keamanan mulai mendekat.
“Ada masalah apa di sini?”
Aku menarik napas.
Lalu berkata dengan tenang:
“Dia tidak perlu menelepon siapa pun.”
“Dia mencoba menggunakan ponsel ini untuk mencontek.”
Suasana langsung kacau.
Angelica panik:
“Tidak! Itu tidak benar!”
Tapi semuanya sudah terlambat.
Orang-orang mulai memperhatikan.
Petugas keamanan maju.
“Adik, ikut kami untuk pemeriksaan.”
Angelica menoleh padaku, kali ini bukan lagi memohon, tapi ketakutan.
“Aling… kenapa kamu melakukan ini padaku?”
Aku menatapnya lama.
Tatapanku tidak lagi marah.
Hanya dingin dan tenang.
“Di kehidupan sebelumnya… aku mempercayaimu.”
Suaraku pelan.
“Dan aku kehilangan segalanya.”
Angelica terdiam, bingung dan tidak mengerti.
Tapi petugas sudah menggiringnya pergi.
Gerbang sekolah perlahan tertutup.
Bea menghela napas lega di sampingku.
“Untung kali ini tidak terulang lagi…”
Aku tidak langsung menjawab.
Hanya menatap gerbang besi sekolah yang semakin menjauhkan Angelica.
Lalu aku kembali ke lapak maruya-ku.
Minyak masih mendidih.
Aroma manis masih menyebar.
Aku berbisik pelan:
“Bukan karena keberuntungan.”
“Tapi karena kali ini… aku tidak memberi kesempatan pada tragedi untuk dimulai.”
Angin kembali bertiup.
Uang kertas kecil ₱10 di meja bergetar pelan.
Dan hidup tetap berjalan.
Tapi satu hal sudah berubah selamanya:
Kali ini… aku bukan korban.
Aku adalah orang yang menghentikannya sejak awal.