Pada malam ketika aku mengira aku akan menjadi “ratu” keluarga Dela Cruz, aku dipermalukan oleh “sahabat terbaik” tunanganku di depan semua orang…

Pada malam ketika aku mengira aku akan menjadi “ratu” keluarga Dela Cruz, aku dipermalukan oleh “sahabat terbaik” tunanganku di depan semua orang…

Namun mereka tidak tahu—hanya satu panggilan dariku yang bisa mengguncang seluruh imperium keluarga mereka di Manila, Filipina.

Di seluruh kalangan elite Makati, semua orang iri padaku.

Aku Selena Navarro, mantan penerima beasiswa dari Provinsi Quezon yang kini akan menikah dengan pewaris keluarga Dela Cruz yang sangat berkuasa.

Di mata orang lain, hidupku seperti dongeng.

Tapi sejak awal, aku sudah tahu Bianca Villareal tidak menyukaiku.

Dia mengaku sahabat masa kecil Marco, tunanganku.

Putri dari keluarga kaya lain, cantik, elegan, dan terbiasa mendapatkan semua yang dia mau.

Dan jelas, aku adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dia terima karena tidak bisa dia miliki.


Pada pesta yacht pernikahan kami di Manila Bay, dia tersenyum sambil “membetulkan” pakaian renang desainerku.

“Sayang, tali bajumu agak longgar ya.”

Saat aku menoleh, terdengar tawa kecil dari teman-temannya.

Begitu aku melihat ke bawah, tali swimsuit di punggungku hampir putus.

Dia sengaja melakukannya.

Darahku langsung dingin.

Tapi bukannya panik, aku diam-diam mengambil gunting kecil dari kit jahit kru dan memperbaikinya dengan tenang.

Beberapa menit kemudian, aku keluar lagi dengan bikini elegan hasil kreasiku sendiri.

Seluruh dek tiba-tiba hening.

Band juga berhenti.

Semua orang menatapku.

Aku bahkan mendengar bisikan:

“Dia… malah makin cantik.”

“Seperti artis.”

Wajah Bianca langsung pucat.

Dan sejak saat itu, dia mulai membenciku secara terbuka.


Sejak itu di setiap acara keluarga di Forbes Park, dia selalu menjadikanku sasaran.

Pernah dia menumpahkan wine ke gaunku.

Pernah dia mengganti namaku di seating chart menjadi “tamu”.

Pernah dia mempermalukanku di depan orang banyak sebagai mantan pelayan, padahal aku adalah direktur keuangan di perusahaanku sendiri.

Tapi yang paling menyakitkan…

Marco tidak pernah membelaku.

Dia selalu berkata:

“Sudahlah, Bianca memang seperti itu.”


Hingga malam yang tak akan pernah kulupakan.

Seharusnya itu malam perayaan bulan madu kami di resort pribadi Palawan.

Villa sunyi.

Hanya suara ombak.

Aku berendam di bathtub berbusa, lelah setelah hari pernikahan.

Aku pikir semuanya akhirnya akan baik.

Lalu aku mendengar suara kecil dari bawah wastafel.

Saat aku menoleh—

Serangga mulai keluar.

Satu.

Dua.

Sepuluh.

Kecoak.

Besar.

Hitam.

Bahkan ada yang terbang.

Aku menjerit.

Aku trauma sejak kecil terhadap kecoa setelah dikunci di gudang sekolah.

Marco tahu itu.

Dia yang dulu menenangkanku saat aku panic attack.

Tapi sebelum aku sempat berdiri—

Pintu terbuka.

Bianca masuk bersama teman-temannya sambil tertawa, membawa ponsel.

“Lihat dia!”

“Kita menang taruhan!”

“Kirim ke grup GCASH!”


Aku membeku di dalam bathtub.

“Marco! Tolong keluarkan mereka!”

Beberapa detik hening.

Lalu suara Marco terdengar dingin:

“Kenapa kamu selalu drama?”

Bianca tertawa dan memeluk lengannya.

“Tenang, ini cuma taruhan. 30 menit kita lihat siapa yang kamu pilih.”

Marco bahkan tersenyum tipis.

Seolah aku bukan istrinya.


Teman mereka berkata:

“Bro, sebenarnya ini pernikahan kalian palsu kan?”

Dunia berhenti.

“Apa maksudnya?” suaraku bergetar.

Marco menatapku dingin.

“Benar. Surat nikah kita palsu.”

Dada aku hancur.

Tiga tahun.

Aku yang membangunkan perusahaan Dela Cruz dari hutang dalam rupiah miliaran peso (₱).

Aku yang membuat proposal penyelamatan bisnis mereka.

Aku yang berdiri di samping Marco saat keluarganya ingin menjatuhkannya.

Dan sekarang…

Bianca tersenyum:

“Kamu cuma hiburan sementara.”


Lalu seekor kecoa terbang ke arah bathtub.

Aku menjerit.

Mereka tertawa.

“Rekam! Ini bakal viral!”

Dan saat itu…

Ada sesuatu dalam diriku yang patah.

Bukan cinta.

Bukan sakit.

Tapi amarah.


Aku mengambil ponsel waterproof-ku.

Tanganku gemetar, tapi aku menelepon.

Seluruh ruangan hening.

Lalu aku berkata dingin:

“Mulai sekarang.”

“Bekukan semua rekening Dela Cruz Holdings.”

“Dan kirim tim kita ke sini.”

Marco mengernyit.

“Drama apa lagi ini?”

Aku tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.

Senyum tanpa cinta.

“Marco…”

“Kamu tidak pernah bertanya kenapa tidak ada satu pun orang di lingkaran elite Manila yang berani menyentuhku selama ini…”

“…padahal aku hanyalah ‘pengantin biasa’ di mata kalian?”


Lalu keheningan benar-benar jatuh di seluruh villa.

Bukan keheningan biasa.

Tapi keheningan yang membuat udara terasa lebih berat, seperti seluruh ruangan baru saja kehilangan oksigen.

Marco masih berdiri di ambang pintu.

Tapi untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya.

Bukan bosan.

Bukan dingin.

Tapi… takut.

Telepon di tanganku belum dimatikan.

Dan di ujung sana, suara seorang pria terdengar jelas:

“Semua rekening Dela Cruz Holdings sudah dibekukan, Ma’am Selena.”

“Perintah tambahan?”

Aku menatap Marco.

Lalu Bianca.

Lalu semua orang yang beberapa menit lalu tertawa melihatku terjebak di bathtub seperti tontonan murah.

Aku keluar perlahan dari air.

Langkahku tenang.

Setiap tetes air yang jatuh dari rambutku terdengar seperti hitungan detik menuju kehancuran mereka.

Bianca mundur satu langkah.

“Ini… ini cuma lelucon…” suaranya gemetar.

Aku tersenyum kecil.

“Lelucon?”

Aku mengambil handuk, melilitkannya perlahan.

“Menjebak calon istri pewaris Dela Cruz dengan kecoa…”

“Lalu menyebarkan video untuk taruhan uang ratusan ribu peso (₱)?”

Aku melangkah mendekat.

“Kalau ini lelucon, kalian pasti sangat miskin imajinasi.”

Marco akhirnya berbicara, suaranya serak.

“Selena… hentikan ini.”

Aku menoleh padanya.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar melihatnya sebagai orang asing.

“Berhenti?”

Aku tertawa pelan.

“Marco, kamu yang sudah berhenti menjadi suamiku sejak lama.”

Dia menggeleng cepat.

“Kita bisa bicarakan ini…”

“Tidak.”

Potongku.

“Kamu sudah memilih mereka.”

Aku menunjuk Bianca.

“Dan kamu membiarkan aku dipermalukan demi hiburan mereka.”

Ruangan itu mulai panik.

Salah satu teman Bianca berbisik:

“Dia serius… rekening kita juga ikut bisa kena…”

Bianca akhirnya jatuh terduduk.

“Marco… lakukan sesuatu!”

Tapi Marco tidak bergerak.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Dia sadar dia tidak lagi punya kendali atas apa pun.


Aku berjalan ke meja kecil di dekat pintu.

Mengambil amplop pernikahan yang masih ada di sana.

Membukanya.

Di dalamnya masih tersimpan kontrak pernikahan.

Kontrak yang selama ini mereka anggap palsu.

Aku merobeknya perlahan.

“Pernikahan ini tidak pernah sah.”

“Bukan karena dokumen.”

Aku menatap Marco.

“Tapi karena kalian semua menganggap aku tidak punya nilai selain untuk dipermainkan.”


Di luar villa, suara mobil mulai terdengar.

Satu demi satu.

Lampu hitam.

Plat pemerintah dan korporasi.

Orang-orang berpakaian rapi turun tanpa suara.

Seseorang masuk ke dalam villa.

Membungkuk padaku.

“Semua aset Dela Cruz Holdings di Manila dan Makati sudah dalam pengawasan kami.”

Bianca langsung menangis.

“Ini tidak mungkin… ini hanya Selena Navarro…”

Aku menatapnya pelan.

“Masih berpikir aku hanya Selena Navarro?”

Aku melangkah melewati mereka semua.

Menuju pintu keluar.

Marco memanggil dengan suara patah:

“Selena… aku mencintaimu.”

Aku berhenti.

Tidak menoleh.

Hanya menjawab pelan:

“Cinta yang membutuhkan kebohongan untuk bertahan…”

“…bukan cinta.”


Aku keluar dari villa itu.

Hujan masih turun di Palawan.

Tapi kali ini, aku tidak lagi basah oleh rasa takut.

Di belakangku, aku mendengar teriakan panik, telepon berdering, dan nama Dela Cruz yang mulai runtuh dalam satu malam.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…

Aku tersenyum.

Bukan karena aku menang.

Tapi karena akhirnya aku tidak lagi menjadi seseorang yang bisa dihancurkan siapa pun.