Paolo menatapku lama di depan lobi kondominium di kawasan Sudirman, Jakarta.
Lampu kota memantul di matanya yang dingin.
“Aku tanya sekali lagi,” katanya pelan, tapi nadanya tajam.
“Kamu punya masalah bukan cuma dengan Tessa… tapi juga dengan orang tuaku?”
Jantungku berdegup kencang.
Aku mengangkat tangan, menggunakan bahasa isyarat:
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Tapi di dalam kepalaku—
【Kalau bukan karena uang Rp30 miliar dari kontrak pernikahan ini, siapa juga yang mau menikah denganmu?】
Tangan Paolo yang ada di samping tubuhnya langsung mengepal.
Aku membeku.
Dia… mendengarnya.
Awalnya aku mengira itu kebetulan.
Tapi setiap kali aku mengutuknya dalam hati, reaksinya selalu sepersekian detik lebih cepat dari seharusnya.
Ketika aku berpikir:
【Dasar pria sombong.】
Dia menjawab dingin,
“Aku tidak merasa sombong.”
Ketika aku memaki Tessa dalam hati:
【Wanita tua pura-pura polos.】
Dia langsung menatapku tajam.
Saat itu aku mulai sadar.
Paolo Yenko… bisa membaca pikiranku.
Aku menikah dengannya karena ayahnya menawarkan Rp30 miliar untuk menyelamatkan perusahaan keluargaku yang hampir bangkrut.
Aku bisu sejak kecil.
Dan keluarga Yenko butuh menantu yang “tidak banyak bicara.”
Kesepakatan yang sempurna.
Dia tidak mencintaiku.
Aku juga tidak mencintainya.
Hubungan kami seperti kontrak bisnis yang dibungkus pesta mewah.
Tapi sekarang, rahasia kecil dalam kepalaku bukan lagi milikku sendiri.
Malam itu di depan kondominium, dia melangkah mendekat.
“Berapa lama kamu membenciku?” tanyanya tiba-tiba.
Aku terdiam.
Dalam hati, aku menjawab jujur:
【Sejak hari pertama kamu memandangku seperti barang transaksi.】
Wajahnya berubah.
Ada sesuatu yang retak di matanya.
“Aku memang menikahimu demi uang,” katanya pelan.
“Tapi aku tidak pernah menghinamu.”
Aku hampir tertawa dalam hati.
【Kamu tidak perlu menghinaku dengan kata-kata. Tatapanmu sudah cukup.】
Dia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah… dia terlihat lelah.
Hari-hari berikutnya menjadi aneh.
Aku tak bisa lagi memaki siapa pun sembarangan.
Setiap sumpah serapah terdengar jelas olehnya.
Kadang aku sengaja berpikir buruk hanya untuk melihat reaksinya.
Kadang dia membalas.
Kadang dia diam.
Kadang… dia terluka.
Dan entah kapan, permainan kecil itu berubah menjadi sesuatu yang lain.
Sampai suatu hari.
Aku duduk sendirian di ruang tamu kondominium mewah kami.
Di atas meja ada amplop hasil pemeriksaan medis.
Aku sudah tahu isinya bahkan sebelum membukanya.
Kanker stadium akhir.
Dokter bilang… paling lama enam bulan.
Aku tidak menangis.
Hidupku memang sudah seperti kontrak yang punya batas waktu.
Paolo sedang bekerja ketika aku menerima hasilnya.
Aku duduk di sofa, menatap jendela besar yang menghadap kota.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku… aku tidak mengutuk siapa pun.
Dalam hatiku hanya ada satu kalimat:
【Paolo Yenko… aku akan segera mati. Akhirnya kamu bebas.】
Sunyi.
Tak ada jawaban.
Tak ada sindiran.
Tak ada kemarahan.
Beberapa detik kemudian pintu apartemen terbuka keras.
Paolo berdiri di sana, napasnya tidak teratur, wajahnya pucat seperti kertas.
“Katakan itu sekali lagi,” suaranya bergetar.
Aku menatapnya, kaget.
Dia mendengarnya.
Air mata perlahan jatuh dari matanya—pria yang tidak pernah menunjukkan emosi.
“Kamu tidak boleh mati,” katanya.
Untuk pertama kalinya, bukan nada dingin.
Bukan nada transaksi.
Tapi ketakutan.
Aku tersenyum kecil.
Dalam hati aku berbisik:
【Kenapa? Bukankah ini pernikahan tanpa cinta?】
Dia berjalan mendekat, berlutut di depanku.
“Aku tidak tahu kapan mulai berubah,” katanya serak.
“Mungkin sejak kamu terus mengutukku tanpa pernah benar-benar pergi.”
“Aku bisa membaca pikiran semua orang sejak kecil. Itu kutukan. Tapi denganmu… aku mendengar kejujuran yang tidak pernah berani kamu ucapkan.”
Tangannya gemetar saat menggenggam hasil pemeriksaan itu.
“Kamu bilang aku bebas?”
Dia tertawa pahit.
“Tanpa kamu… rumah ini hanya gedung senilai Rp120 miliar. Kosong.”
Air matanya jatuh ke tanganku.
Aku terdiam.
Selama ini kupikir aku sendirian dalam pernikahan ini.
Ternyata… dia juga terjebak.
Tapi bukan oleh uang.
Melainkan oleh perasaan yang terlambat disadari.
Aku tidak tahu apakah enam bulan itu akan benar-benar menjadi akhirku.
Tapi untuk pertama kalinya, saat aku memandangnya, aku tidak memaki dalam hati.
Hanya ada satu pikiran yang muncul pelan:
【Paolo… kalau ada kehidupan berikutnya, jangan menikahiku karena uang.】
Dia tersenyum samar, seolah mendengar semuanya.
“Kehidupan berikutnya?” bisiknya.
“Kali ini pun… aku tidak akan melepaskanmu.”

Enam bulan.
Waktu yang dulu terdengar seperti vonis… perlahan berubah menjadi hitungan detik yang terlalu berharga untuk dibenci.
Paolo berhenti datang ke kantor setiap hari.
Ia memindahkan pekerjaannya ke rumah.
Ruang kerja mewah di lantai dua apartemen senilai Rp120 miliar itu kini berubah menjadi ruang rawat kecil dengan alat medis dan aroma obat.
Ia membacakan buku untukku setiap malam.
Ironisnya, aku yang tidak bisa berbicara… justru menjadi orang yang paling banyak “didengar” dalam hidupnya.
Karena setiap pikiranku, sekecil apa pun, tidak pernah luput darinya.
Suatu malam, ketika rasa sakit datang lebih kuat dari biasanya, aku memandangnya yang tertidur di kursi samping tempat tidur.
Wajahnya tampak lebih kurus.
Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas.
Dalam hati, aku berbisik pelan:
【Paolo… kalau aku pergi, jangan terlalu lama tinggal di masa lalu.】
Ia terbangun.
Matanya langsung merah.
“Berhenti berpikir seperti itu,” katanya serak.
Aku tersenyum tipis.
【Kamu tidak bisa melarang pikiranku.】
Ia tertawa kecil—tawa yang patah.
“Aku memang tidak bisa menghentikan pikiranmu,” katanya.
“Tapi aku bisa mengubahnya.”
Ia menggenggam tanganku.
“Mitch… tetaplah hidup. Bukan untukku. Tapi untuk dirimu sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak menerima hasil medis itu… aku merasa takut.
Bukan takut mati.
Tapi takut meninggalkannya.
Hari operasi datang lebih cepat dari yang kami duga.
Dokter mengatakan ada satu prosedur eksperimental.
Risikonya besar.
Biayanya hampir Rp8 miliar.
Tanpa ragu, Paolo langsung mentransfer dana.
“Aku menikahimu karena uang,” katanya sambil menandatangani persetujuan.
“Sekarang biarkan uangku bekerja untuk menyelamatkanmu.”
Aku menatapnya lama.
Dalam hati, aku berbisik:
【Paolo Yenko… kalau aku selamat, mungkin aku akan mencoba mencintaimu.】
Tangannya berhenti sesaat.
Matanya berkaca-kaca.
“Katakan itu lagi setelah kamu bangun nanti,” bisiknya.
Ruang operasi dingin dan terang.
Kesadaranku perlahan memudar.
Pikiran terakhirku hanya satu:
【Paolo… kali ini jangan baca pikiranku. Tunggu aku kembali dan dengar langsung dari hatiku.】
Ketika aku membuka mata, cahaya putih menyambutku.
Suara monitor berdetak stabil.
Dan di sisi tempat tidur… Paolo.
Matanya sembab. Rambutnya berantakan. Jas mahalnya kusut.
Saat pandangan kami bertemu, ia langsung berdiri.
“Kamu menang,” katanya dengan suara pecah.
“Untuk pertama kalinya… aku tidak bisa mendengar pikiranmu.”
Aku berkedip pelan.
Sunyi.
Tidak ada gema dalam kepalaku.
Tidak ada sensasi aneh.
Paolo menunduk, tertawa kecil di antara air mata.
“Kemampuanku hilang,” katanya.
“Mungkin karena untuk pertama kalinya aku benar-benar takut kehilangan seseorang.”
Aku menatapnya lama.
Perlahan, aku mengangkat tangan.
Dengan bahasa isyarat yang gemetar, aku berkata:
“Aku mencintaimu.”
Ia tidak lagi bisa membaca pikiranku.
Jadi ia benar-benar melihat gerakan tanganku.
Benar-benar memperhatikan.
Benar-benar memahami.
Air matanya jatuh tanpa ditahan.
“Aku tahu,” katanya lembut.
“Karena kali ini… kamu mengatakannya.”
Kami menikah karena uang Rp30 miliar.
Kami bertahan karena kebiasaan.
Kami hampir berpisah karena ego.
Tapi kami memilih kembali… karena cinta yang tumbuh diam-diam di antara sumpah serapah dan pikiran jujur yang tak pernah disaring.
Beberapa tahun kemudian, di balkon apartemen yang sama, aku berdiri di sampingnya.
Aku masih tidak bisa berbicara.
Tapi aku tidak lagi merasa tak terdengar.
Paolo tidak lagi bisa membaca pikiran.
Tapi ia belajar mendengarkan dengan hati.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku tidak perlu mengutuk dalam diam.
Karena pria yang dulu menikahiku demi uang…
kini memilihku setiap hari, bukan karena transaksi—
melainkan karena cinta.