PENGUSAHA KAYA ITU MELUPAKAN ULANG TAHUN KEEMPAT ANAK KEMBARNYA, TETAPI SAAT SI BUNGSU BERTANYA, “APA KAMU AYAH KAMI?” SEBUAH RAHASIA DI DALAM VILA MEWAH ITU TIBA-TIBA TERBONGKAR

Sudah tiga hari Ardi Pratama tidak pulang ke rumah.

Namun ketika akhirnya ia kembali ke vila mewah keluarga mereka di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, yang menyambutnya bukanlah pesta ulang tahun mewah.

Melainkan keempat anak kembarnya yang sedang duduk di atas tikar tua, membagi sepotong kecil kue cokelat.

Dan pertanyaan dari si bungsu membuat hati Ardi seakan hancur berkeping-keping.

— Apa kamu ayah kami?

Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya saat Ardi mendengar pertanyaan itu.

Ia baru saja menyelesaikan serangkaian rapat bisnis di Surabaya. Jas abu-abu yang dikenakannya masih kusut, matanya merah karena kurang tidur, sementara ponselnya terus bergetar oleh panggilan dari kantor.

Namun ketika mendengar suara tawa kecil dari halaman belakang, langkahnya terhenti.

Ia berjalan pelan menuju taman.

Di bawah pohon mangga besar, terbentang sebuah tikar tua. Di atasnya ada taplak plastik bergambar pahlawan super, beberapa piring kertas, gelas berisi es cincau, roti isi keju dan daging asap, serta sebuah kue cokelat kecil dengan lima lilin yang hampir habis meleleh.

Di sana duduk keempat anaknya.

Rafa, Gavin, Nathan, dan Nico.

Empat anak kembar yang lahir bersamaan lima tahun lalu.

Mereka mengenakan kaus merah sederhana dengan gambar bintang kecil di bagian dada. Bukan pakaian mahal dari butik. Tampaknya dibeli dari pasar tradisional.

Di samping mereka duduk Bu Siti, pengasuh yang telah bekerja untuk keluarga itu selama bertahun-tahun. Dengan celemek kotak-kotak yang sudah pudar, ia dengan hati-hati membetulkan mahkota karton di kepala Nico.

— Ayo, Nak —katanya lembut—. Kita bernyanyi yang keras, supaya Mama di surga bisa mendengar permintaan kalian.

Anak-anak itu tersenyum.

Namun sebelum mereka mulai bernyanyi, Ardi tanpa sengaja menginjak ranting kering.

Semua orang langsung menoleh.

Mata Bu Siti membelalak.

Ia berdiri tergesa-gesa hingga hampir menjatuhkan teko es cincau.

— Pak Ardi… maafkan saya —ucapnya dengan suara gemetar—. Saya tidak tahu Bapak pulang lebih cepat. Sejak kemarin anak-anak terus bertanya apakah mereka punya ulang tahun. Saya hanya tidak ingin hari ini berlalu tanpa ada perayaan kecil untuk mereka.

Ardi tidak langsung bisa berkata-kata.

Anak-anaknya tidak berlari memeluknya.

Tidak ada yang berteriak, “Ayah!”

Tidak ada yang memeluknya.

Mereka hanya memandangnya dalam diam, seolah ia adalah orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam momen pribadi mereka.

Ardi menelan rasa sakit yang mengganjal di tenggorokannya.

— Bu Siti… jangan minta maaf —ucapnya pelan—. Umur mereka sekarang berapa?

Bu Siti menundukkan kepala.

— Lima tahun, Pak.

Seakan dunia berhenti berputar.

Keempat anaknya sudah berusia lima tahun.

Dan ia melupakannya.

Pagi tadi ia menandatangani kontrak senilai lebih dari Rp35 miliar. Ia mengingat setiap angka, setiap nama investor, setiap detail proposal.

Tetapi ia lupa ulang tahun anak-anaknya sendiri.

Perlahan Nico mendekatinya. Krim cokelat masih menempel di pipi kecilnya.

Anak itu menatapnya lama.

— Apa kamu ayah kami? —tanyanya lagi.

Ardi berlutut di atas rumput.

Ia tidak peduli celana mahalnya terkena lumpur.

— Ya, Nak —jawabnya dengan mata berkaca-kaca—. Aku ayah kalian.

Rafa, yang paling berani di antara mereka, mengerutkan kening.

— Kata Bu Siti, Ayah bekerja jauh untuk membangun kastel kami. Makanya Ayah tidak punya waktu bermain bersama kami.

Ardi menoleh kepada Bu Siti.

Alih-alih mengatakan bahwa ia ayah yang tidak peduli, wanita itu menciptakan dongeng yang indah demi melindunginya.

Sebuah kebohongan yang lebih baik daripada kenyataan.

Perlahan Ardi membuka kedua tangannya.

— Boleh Ayah ikut merayakan ulang tahun kalian? —tanyanya.

Keempat anak itu saling berpandangan.

Lalu Nico mengangguk pelan.

Namun sebelum Ardi mendekati kue itu, pintu kaca geser dari teras terbuka dengan keras.

Keluar dari sana Ny. Ratna Pratama, ibu Ardi.

Wanita itu tampak anggun dengan gaun putih dan perhiasan mahal. Di belakangnya berdiri Clara, kakak dari mendiang istrinya, yang selama dua tahun terakhir bertingkah seperti ratu di dalam rumah itu.

Saat melihat pesta sederhana tersebut, wajah Ny. Ratna langsung berubah jijik.

— Apa ini kekacauan di taman rumahku?! —bentaknya.

Ia melangkah ke arah tikar dan menendang gelas es cincau hingga tumpah mengenai sepatu Nico.

Anak kecil itu langsung mundur ketakutan.

— Kami membayarmu untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian, Bu Siti! —teriak Ny. Ratna—. Bukan untuk berpura-pura menjadi ibu dari cucu-cucuku!

Bu Siti memucat.

— Nyonya, saya hanya ingin—

— Diam! —potong Clara—. Lihat anak-anak ini! Kau memberi mereka makanan murahan dan pakaian murah! Apa kata para tamu kalau melihat mereka?

Perlahan Ardi berdiri.

Baru saat itu ia menyadari betapa cepat senyum di wajah anak-anaknya menghilang.

Seolah mereka sudah terbiasa ketakutan.

Seolah ini bukan pertama kalinya mereka dimarahi.

— Ibu —ucap Ardi dingin—. Kenapa tidak ada pesta ulang tahun untuk anak-anakku?

Ny. Ratna mengangkat alis.

— Ada hal yang lebih penting daripada kue dan lilin, Ardi. Mereka tidak boleh tumbuh terlalu dimanjakan. Mereka harus belajar patuh.

— Dan kenapa mereka bahkan tidak mengenalku?

Wanita tua itu terdiam sejenak.

Namun Clara cepat menjawab.

— Karena kamu selalu sibuk. Jangan salahkan orang lain atas kelalaianmu sendiri.

Ucapan itu menyakitkan karena benar.

Tetapi sebelum Ardi sempat membalas, Nathan memegang tangannya.

Dengan suara gemetar anak itu berkata,

— Ayah… jangan bilang Nenek kalau Ayah melihat kami merayakan ulang tahun, ya?

Ardi menunduk.

— Kenapa, Nak?

Bibir Nathan bergetar.

— Karena kalau Nenek tahu kami membicarakan ulang tahun kepada Ayah… Nico akan dikunci lagi di kamar gelap.

Tubuh Ardi langsung membeku.

Dunia seolah runtuh di hadapannya.

Ia memandang Nico.

Anak itu diam sambil memegang mahkota karton di kepalanya.

Dan dari balik lengan panjang kaus merahnya, tampak bekas memar kecil di lengannya.

Ardi perlahan mendekat.

— Nak… siapa yang melakukan ini padamu?

Nico tidak menjawab.

Tetapi ia menoleh kepada Ny. Ratna.

Dan untuk pertama kalinya, Ardi melihat wajah ibunya berubah pucat.

Tiba-tiba Clara berteriak.

— Bu Siti! Apa yang sudah kau katakan kepada anak-anak itu?

Bu Siti mundur dengan tubuh gemetar.

— Saya tidak mengatakan apa-apa, Bu.

Tetapi Ardi tidak lagi memandangnya.

Ia hanya menatap ibunya.

— Ibu —ucapnya dengan suara rendah namun tajam—. Apa yang kalian lakukan kepada anak-anakku selama aku tidak ada?

Ny. Ratna menarik napas panjang.

Lalu ia menoleh kepada Clara.

Namun alih-alih menjawab, Clara buru-buru mencoba merebut tas kecil milik Nico yang terletak di samping tikar.

Tetapi Ardi bergerak lebih cepat.

Ia mengambil tas itu dari tangan wanita tersebut.

— Apa isi tas ini?

— Ardi, berikan itu padaku! —teriak Clara.

Ardi mengabaikannya.

Ia membuka tas tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah ponsel tua, beberapa foto, sebuah amplop dengan namanya tertulis di atasnya, dan sebuah USB yang dibungkus saputangan.

Tulisan tangan di atas amplop itu langsung dikenalnya.

Itu adalah tulisan mendiang istrinya, Elena.

Dan di bagian depan amplop tertulis jelas:

“Ardi, jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi.

Jangan pernah mempercayai ibumu sendiri.”

Tangan Ardi gemetar saat membuka amplop itu.

Tulisan tangan Elena langsung membuat dadanya sesak.

“Ardi…

Jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah pergi.

Dan jika surat ini sampai ke tanganmu, itu berarti aku gagal melindungi anak-anak kita sampai akhir.

Jangan percaya pada Ibumu.

Dan jangan percaya pada Clara.

Mereka tidak pernah menginginkan anak-anak kita.”

Air mata Ardi jatuh ke atas kertas.

Namun isi surat itu belum berakhir.

“Aku tahu penyakitku tidak akan memberiku banyak waktu.

Karena itu, aku diam-diam memasang kamera di kamar anak-anak dan di ruang bermain.

Semua rekamannya kusimpan dalam USB ini.

Aku hanya berharap, jika suatu hari kamu akhirnya melihatnya…

jangan terlambat seperti aku.”

Tubuh Ardi langsung membeku.

Dengan tangan gemetar, ia memasukkan USB itu ke laptopnya.

Video pertama muncul.

Dan dunia Ardi seolah runtuh.

Dalam rekaman itu, terlihat jelas Clara menampar tangan kecil Nico hanya karena anak itu menangis mencari ayahnya.

Video kedua.

Ny. Ratna mengunci Nico di gudang yang gelap.

“Kalau kamu nakal, kamu tidak akan makan malam!”

Tangisan anak kecil itu membuat napas Ardi tersengal.

Video ketiga.

Rafa, Gavin, dan Nathan berdiri di pojok ruangan sambil menangis ketika Clara membuang gambar keluarga yang mereka buat.

“Tidak usah menggambar ayah kalian! Dia tidak pernah peduli pada kalian!”

Video demi video.

Hari demi hari.

Bulan demi bulan.

Dan selama dua tahun…

keempat anaknya hidup dalam ketakutan.

Sementara dirinya sibuk mengejar miliaran rupiah.

Ardi jatuh berlutut.

Ia menangis seperti seorang anak kecil.

“Maafkan Ayah…”

“Maafkan Ayah…”

Keempat anaknya hanya memandangnya dengan bingung.

Karena mereka belum pernah melihat ayah mereka menangis.

Dan Nico kecil perlahan mendekat.

Dengan tangan mungilnya, ia mengusap air mata Ardi.

“Ayah jangan menangis…”

“Ayah sakit?”

Saat itulah hati Ardi benar-benar hancur.

Bahkan setelah semua yang mereka alami…

anak-anaknya masih mengkhawatirkannya.

Hari itu juga, Ardi memanggil pengacara keluarga.

Dalam waktu dua jam, Clara diusir dari rumah.

Ny. Ratna marah besar.

“Ardi! Aku ibumu!”

Namun Ardi menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan mata merah.

“Dan mereka anak-anakku.”

“Selama lima tahun aku gagal menjadi ayah.”

“Tapi mulai hari ini, tidak ada siapa pun yang akan menyakiti mereka lagi.”

Ny. Ratna menangis.

Memohon.

Mengancam.

Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Ardi tidak menyerah.

Seminggu kemudian, Clara ditangkap setelah penyelidikan menemukan bahwa selama bertahun-tahun ia diam-diam mencuri dana pendidikan anak-anak dan memindahkannya ke rekening pribadinya.

Jumlahnya mencapai hampir Rp18 miliar.

Sedangkan Ny. Ratna memilih meninggalkan rumah itu dan tinggal di vila kecil miliknya di Bandung.

Sebelum pergi, wanita tua itu berdiri lama di depan foto Elena.

Dan untuk pertama kalinya…

ia menangis.

“Aku hanya ingin mereka kuat…”

bisiknya.

Tetapi tak seorang pun menjawab.

Karena cinta yang tidak disertai kasih sayang…

bukanlah cinta.

Melainkan luka.


Enam bulan kemudian.

Tidak ada lagi rapat malam.

Tidak ada lagi perjalanan bisnis tanpa akhir.

Ardi memindahkan kantor pusat perusahaan ke Jakarta dan menunjuk direktur baru untuk mengurangi bebannya.

Setiap sore pukul lima tepat…

ia pulang.

Mengantar anak-anak ke taman.

Membacakan dongeng sebelum tidur.

Dan membuat sarapan sendiri setiap pagi.

Suatu malam, saat ulang tahun keenam mereka tiba, taman belakang vila dipenuhi lampu kecil dan balon warna-warni.

Ada kue besar.

Ada badut.

Ada musik.

Dan ada seorang ayah yang mengenakan topi ulang tahun paling konyol.

Nico tertawa keras.

“Ayah jelek!”

Semua orang tertawa.

Lalu Gavin tiba-tiba bertanya:

“Ayah…”

“Kali ini Ayah tidak lupa lagi, kan?”

Ardi tersenyum sambil memeluk keempat putranya.

“Tidak akan pernah.”

“Karena kontrak paling penting dalam hidup Ayah…”

“Bukan yang bernilai miliaran rupiah.”

“Melainkan janji untuk menjadi ayah kalian.”

Dan ketika lilin ulang tahun ditiup bersama-sama, Ardi merasa seolah Elena sedang berdiri di antara mereka.

Tersenyum.

Tenang.

Karena akhirnya…

anak-anak mereka tidak lagi hidup di dalam rumah besar yang dingin.

Mereka akhirnya memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga.

Mereka memiliki seorang ayah.

Dan untuk pertama kalinya sejak kematian Elena…

rumah mewah itu kembali menjadi sebuah keluarga.