Sebelum sempat mengucapkan “saya bersedia”, Arga Pratama menghentikan seluruh pernikahannya.
Bukan karena ia ragu di altar.
Bukan karena mantan kekasih datang tiba-tiba.
Tetapi karena ia melihat satu kursi kosong di barisan depan.
Dan nama yang tertulis di kartu emas kecil itu adalah nama putrinya yang berusia delapan tahun.
Keisha.
Arga Pratama berdiri di tengah taman sebuah vila mewah di Puncak, Bogor, dikelilingi hampir tiga ratus tamu undangan.
Di kejauhan tampak pegunungan yang tertutup kabut tipis.
Dekorasi bunga melati putih, mawar, dan daun eucalyptus menghiasi altar.
Kuartet gesek memainkan lagu dengan lembut.
Para saksi dan keluarga tersenyum seperti adegan dalam film.
Di sampingnya berdiri Vanessa Wijaya, wanita yang akan menjadi istrinya.
Gaunnya sempurna.
Anting berliannya berkilau.
Dan senyumnya adalah senyum yang sudah terbiasa dengan kamera.
Namun ketika penghulu membacakan prosesi pernikahan…
Arga tidak mendengarnya lagi.
Tatapannya terpaku pada kursi di depan.
Ada pita putih.
Keranjang kecil berisi kelopak bunga.
Dan sebuah kartu bertuliskan:
KEISHA PRATAMA — PUTRI MEMPELAI PRIA
Namun kursi itu kosong.
Empat jam sebelumnya, Keisha masih memeluknya erat di suite pengantin.
Gadis kecil itu mengenakan gaun putih yang dipilihnya sendiri.
Dengan mahkota bunga mungil di rambutnya.
“Papa,” bisiknya waktu itu.
“Aku punya kejutan buat Papa. Nanti habis pernikahan aku kasih.”
Arga tersenyum.
Sejak istrinya, Laras, meninggal karena kecelakaan empat tahun lalu…
Keisha adalah alasan mengapa ia masih bangun setiap pagi.
Ia memang bukan ayah yang sempurna.
Ada malam-malam ketika ia terlalu sibuk dengan perusahaan.
Ada pagi-pagi ketika ia kurang tidur.
Tetapi ada satu janji yang tidak pernah ia lupakan.
Di depan makam Laras, ia berjanji bahwa tidak akan ada siapa pun yang masuk ke kehidupan mereka…
jika orang itu tidak bisa membuat Keisha merasa aman dan dicintai.
Karena itulah, ketika melihat kursi kosong itu…
Rasa takut dingin merambat di punggungnya.
Arga mengangkat tangannya.
Prosesi berhenti.
Musik berhenti.
Semua bisik-bisik berhenti.
“Arga?” tanya Vanessa sambil tersenyum, namun jemarinya mulai mencengkeram lengan pria itu.
“Di mana Keisha?”
Vanessa berkedip pelan.
“Mungkin dia ke toilet. Dia masih anak-anak. Sudahlah, Sayang.”
“Dia seharusnya ada di sini.”
“Arga,” bisik Vanessa dengan nada lebih tajam.
“Jangan membuat keributan. Ada media. Ada klien pentingmu di sini.”
Itu bukan jawaban yang diharapkannya.
Vanessa bahkan tidak bertanya apakah Keisha baik-baik saja.
Ia bahkan tidak terlihat panik.
Arga melepaskan tangannya dan turun dari altar.
Suara gaduh mulai terdengar.
Tamu-tamu saling bertanya.
Kakak perempuan Arga, Maya, memanggil dari samping.
“Arga! Ada apa?”
“Cari Keisha!”
Arga berlari ke arah taman.
Ke air mancur.
Ke meja permen.
Ke belakang kursi.
Ke dapur tempat para katering sedang menyiapkan sate dan aneka kue.
Tidak ada.
Ia menelepon pengasuh Keisha, Bu Rini.
Tidak ada jawaban.
Pengasuh itu juga menghilang.
Jantung Arga berdetak semakin cepat.
Saat memasuki koridor menuju kamar-kamar tamu, ia mendengar sesuatu.
Tangisan.
Pelan.
Tertahan.
Tangisan seorang anak yang terlalu takut untuk bersuara keras.
“Keisha!”
Arga berlari menaiki tangga.
Ia berhenti di depan kamar mandi di ujung koridor.
Tangisan itu berasal dari sana.
Ia memegang gagang pintu.
Terkunci.
Bukan dari dalam.
Ada pengait geser tua di bagian luar pintu.
Dan pengait itu tertutup.
Tubuh Arga seperti disiram air es.
“Keisha?” teriaknya sambil mengetuk pintu.
“Sayang, Papa di sini!”
Sunyi.
Lalu terdengar suara kecil yang pecah karena menangis.
“Papa?”
Lutut Arga langsung lemas.
Ia membuka pengait itu dan mendorong pintu.
Di lantai kamar mandi, Keisha duduk sambil memeluk boneka beruang kecilnya.
Pipinya basah.
Gaunnya kusut.
Tangannya gemetar.
Arga langsung berlutut dan memeluk putrinya.
“Sayang… siapa yang melakukan ini?”
Keisha menoleh ke arah pintu dengan ketakutan.
“Papa… jangan marah sama aku…”
“Papa tidak marah. Katakan saja.”
Keisha memeluk bonekanya semakin erat.
Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga sang ayah.
“Papa…”
“Jangan menikahi Tante Vanessa.”
Tubuh Arga membeku.
Dan sebelum ia sempat bertanya…
Keisha berkata dengan suara bergetar:
“Aku dengar sesuatu…”
“Ponselku ada di dalam boneka ini.”
“Aku merekam semuanya…”
(BAGIAN 2 DI KOLOM KOMENTAR 👇👇)

Tangan Arga gemetar saat membuka resleting kecil di punggung boneka beruang milik Keisha.
Di dalamnya…
Ada sebuah ponsel anak-anak berwarna merah muda.
Layar masih menyala.
Dan di sana, terlihat sebuah rekaman berdurasi sebelas menit.
“Papa… aku nggak sengaja dengar,” bisik Keisha sambil menangis.
“Aku mau cari Bu Rini. Tapi Tante Vanessa marah. Aku takut…”
Arga menekan tombol play.
Suara pertama yang terdengar adalah suara Vanessa.
Dingin.
Dan sangat berbeda dari suara lembut yang selama ini dikenalnya.
“Begitu pernikahan selesai, semuanya akan lebih mudah.”
Lalu terdengar suara Bu Rini, pengasuh Keisha.
“Tapi anak itu terlalu dekat dengan ayahnya.”
Vanessa tertawa pelan.
“Makanya dia harus belajar tempatnya.”
“Setelah aku resmi jadi istri Arga, dia akan sekolah di Singapura. Tinggal di asrama.”
“Tuan Arga tidak akan keberatan?”
“Dia mencintaiku. Lagi pula, anak itu selalu mengingatkannya pada Laras. Aku sudah muak hidup di bawah bayang-bayang wanita yang sudah mati.”
Arga membeku.
Namun rekaman itu belum berakhir.
Suara Bu Rini terdengar ragu.
“Keisha anak yang baik.”
“Dia dengar kita bicara tadi.”
Vanessa langsung menjawab.
“Kalau begitu, kunci saja dia sampai acara selesai.”
“Setelah aku menjadi istri sah Arga, tidak akan ada yang bisa mengubah apa pun.”
Dan di akhir rekaman…
Terdengar suara kecil Keisha menangis.
“Tante Vanessa… aku mau Papa…”
Disusul suara keras Vanessa.
“Diam!”
“Jangan merusak hari bahagiaku!”
Rekaman berhenti.
Dunia Arga seakan runtuh.
Wanita yang selama dua tahun ia percaya…
Wanita yang ia pikir mencintai putrinya…
Ternyata hanya menunggu waktu untuk memisahkan mereka.
Arga memeluk Keisha erat.
Dan untuk pertama kalinya sejak Laras meninggal…
Pria itu menangis seperti anak kecil.
“Maafkan Papa…”
“Papa hampir gagal melindungimu…”
Lima menit kemudian.
Semua tamu masih berada di taman.
Vanessa berdiri di altar dengan wajah yang mulai kehilangan kesabaran.
“Mana Arga?” bisiknya.
Tiba-tiba…
Semua orang terdiam.
Arga muncul.
Namun bukan sendiri.
Ia menggendong Keisha.
Gaun kecil putrinya kusut.
Matanya merah karena menangis.
Dan wajah Arga…
Tidak lagi wajah seorang pria yang akan menikah.
Melainkan wajah seorang ayah yang hatinya baru saja dihancurkan.
Vanessa memaksakan senyum.
“Sayang, syukurlah. Kita lanjut saja—”
“Tidak.”
Satu kata itu membuat seluruh taman membeku.
“Apa?”
“Aku bilang, tidak.”
Arga menyerahkan ponsel merah muda kepada operator musik.
“Putar ini.”
Vanessa langsung pucat.
“Arga!”
Namun sudah terlambat.
Suara rekaman memenuhi seluruh taman.
Tiga ratus tamu.
Para pebisnis.
Keluarga.
Media.
Semua mendengar.
Dan ketika suara Vanessa berkata,
“Kunci saja dia sampai acara selesai…”
Seluruh tempat berubah sunyi.
Ibu Vanessa menjatuhkan gelasnya.
Seorang tamu berdiri dengan mulut terbuka.
Kakak Arga, Maya, menangis sambil memeluk Keisha.
Dan wajah Vanessa berubah putih seperti kertas.
“Arga! Aku bisa jelaskan!”
Namun Arga hanya memandangnya.
Dengan mata yang penuh kekecewaan.
“Kamu tidak gagal menjadi istriku.”
“Kamu gagal menjadi manusia.”
Vanessa jatuh berlutut.
Menangis.
Memohon.
Namun tidak ada satu orang pun yang mendekat untuk membelanya.
Bahkan Bu Rini menundukkan kepala karena malu.
Hari itu…
Tidak ada pernikahan.
Dan tidak ada yang menyesalinya.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Arga dan Keisha duduk berdua di taman yang sudah sepi.
Lampu-lampu gantung masih menyala.
Bunga-bunga masih indah.
Makanan masih tersusun rapi.
Namun tidak ada musik.
Tidak ada pesta.
Keisha memegang tangan ayahnya.
“Papa…”
“Papa sedih?”
Arga tersenyum sambil menghapus air matanya.
“Sedikit.”
“Karena Papa hampir membuat kesalahan besar.”
Keisha lalu mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya.
“Ini kejutan yang tadi aku bilang.”
Di dalamnya ada gambar yang dibuat dengan krayon.
Gambar itu menunjukkan tiga orang.
Arga.
Keisha.
Dan Laras yang digambar seperti malaikat di langit.
Di bawahnya tertulis dengan huruf anak-anak:
“Papa, Mama pasti bahagia kalau kita bahagia.”
Tangisan Arga pecah.
Ia memeluk putrinya seerat mungkin.
Dan di bawah langit Puncak yang dingin…
Pria itu akhirnya mengerti sesuatu yang terlambat ia sadari.
Tidak ada cinta yang lebih tulus daripada cinta seorang anak yang hanya takut kehilangan ayahnya.
Dua tahun kemudian.
Di hari ulang tahun Keisha yang kesepuluh.
Rumah mereka dipenuhi tawa.
Tidak ada kamera.
Tidak ada media.
Tidak ada pesta mewah.
Hanya keluarga kecil yang sederhana.
Dan ketika Keisha meniup lilin ulang tahunnya, ia tersenyum kepada ayahnya.
“Papa…”
“Aku sudah dapat hadiah terbaik.”
“Apa itu?” tanya Arga.
Keisha memeluknya erat.
“Kamu.”
Air mata Arga kembali jatuh.
Karena setelah kehilangan Laras…
Dan hampir kehilangan kepercayaan pada cinta…
Ia akhirnya memahami satu hal yang akan ia bawa seumur hidup:
Pasangan yang salah bisa menghancurkan sebuah keluarga.
Tetapi satu pelukan dari anak yang tulus…
Mampu menyelamatkan seluruh hidup seseorang.