Aku dipanggil mendadak ke bandara.
Namun yang menungguku di sana bukan sebuah pesawat…
melainkan sebuah jebakan.
Aku baru saja pulang ke kampung halamanku di Yogyakarta—bahkan belum genap dua puluh empat jam.
Setelah hampir tiga tahun bekerja jauh dari rumah, baru kali ini aku mendapat cuti singkat.
Ibu bahkan belum selesai memasak makanan favoritku.
Ayah masih sibuk merencanakan untuk mengajakku mengunjungi para kerabat yang sudah lama tidak kutemui.
Namun sekitar pukul delapan malam, ponsel aman yang kusimpan terkunci di dalam laci tiba-tiba bergetar.
Hanya satu kalimat yang muncul di layar:
“Segera menuju titik kumpul.”
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada detail apa pun.
Namun itu sudah cukup bagiku untuk mengerti.
Aku langsung berdiri.
Selama bertahun-tahun, baru kali ini aku menerima pesan darurat seperti ini pada jam seperti ini.
Artinya hanya satu—
telah terjadi insiden serius.
Aku segera memeluk Ibu.
“Bu, aku harus pergi.”
Beliau terdiam.
“Kamu baru saja pulang…”
Aku memaksakan senyum.
“Aku akan segera kembali.”
Namun kami berdua tahu kenyataannya.
Ada misi yang tidak pernah menjanjikan kapan seseorang bisa pulang.
Dua puluh menit kemudian, aku sudah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Melalui saluran komunikasi terenkripsi, aku menerima laporan awal.
Bencana mendadak melanda sebuah wilayah terpencil di Sulawesi.
Ratusan orang terjebak.
Tim penyelamat khusus telah dikirim.
Namun mereka kekurangan satu orang.
Dan orang itu adalah aku.
Jika aku tidak tiba sebelum fajar, seluruh operasi penyelamatan akan berubah.
Waktu sangat kritis.
Untungnya, masih tersedia satu kursi kelas bisnis pada penerbangan berikutnya.
Tim logistik langsung membelikanku tiket.
Aku berlari menuju gerbang keberangkatan.
Semuanya berjalan lancar.
Sampai aku tiba di pintu boarding.
Seorang petugas wanita menghentikanku.
“Maaf, Bu.”
“Anda tidak dapat naik penerbangan ini.”
Aku mengira aku salah dengar.
“Apa?”
Dia melihat layar komputernya.
“Tiket Anda telah dipindahkan ke penerbangan besok.”
Aku membeku.
“Besok?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Dia menjawab dengan tenang,
“Penyesuaian operasional.”
Aku menunjukkan boarding pass-ku.
“Aku memiliki tiket yang sah.”
“Aku datang tepat waktu.”
“Kenapa tiketku dipindahkan?”
Dia hanya mengangkat bahu.
“Itu keputusan sistem.”
Aku melihat jam.
Kurang dari tiga puluh menit lagi pesawat akan lepas landas.
Jika aku kehilangan penerbangan ini…
Aku bahkan tidak berani memikirkan akibatnya.
“Aku harus naik pesawat ini.”
“Aku sedang dalam keadaan darurat.”
Petugas itu mulai kesal.
“Bukan hanya Anda yang punya keadaan darurat.”
“Semua penumpang punya alasan masing-masing.”
“Jangan mengganggu pekerjaan kami.”
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Aku tidak mengganggu.”
“Aku hanya ingin tahu siapa yang mengubah tiketku.”
Seorang pria berseragam datang.
Sepertinya dia kepala tim.
Dia melihat layar komputer lalu tersenyum sinis.
“Oh.”
“Kasus seperti ini lagi.”
“Penumpang terlambat yang menyalahkan bandara.”
Aku segera membalas.
“Aku tidak terlambat.”
“Silakan periksa CCTV.”
Namun dia bahkan tidak mendengarkan.
“Nona.”
“Kami sedang sibuk.”
“Kalau ingin mengajukan keluhan, silakan.”
“Tapi Anda tidak akan naik pesawat ini.”
Beberapa penumpang mulai memperhatikan.
Sebagian bahkan berhenti untuk menonton.
Nada suara kepala tim itu tiba-tiba berubah seolah-olah dia yang menjadi korban.
“Kami sudah membantunya.”
“Kami bahkan memindahkannya ke penerbangan besok secara gratis.”
“Tapi dia tetap tidak mau.”
Orang-orang mulai berbisik.
“Sepertinya petugasnya tidak salah.”
“Iya, sudah dibantu malah bikin masalah.”
“Mungkin dia hanya mencari perhatian.”
Tatapan mereka perlahan berubah menjadi tidak bersahabat.
Aku tidak menjawab.
Aku tidak menjelaskan.
Aku hanya terus menatap papan informasi penerbangan.
Hanya ada satu hal dalam pikiranku.
Aku akan naik pesawat itu.
Apa pun yang terjadi.
Tiba-tiba seorang pria berjas hitam datang.
Semua petugas langsung terdiam.
“Supervisor datang.”
bisik beberapa orang.
Pria itu mendekat dengan tatapan tajam.
“Apa yang terjadi di sini?”
Kepala tim segera menjelaskan semuanya—tentu saja versi yang menguntungkan dirinya.
Katanya aku terlambat.
Katanya aku membuat keributan.
Katanya akulah masalahnya.
Supervisor itu menatapku.
“Tunjukkan kartu identitas Anda.”
Aku menyerahkannya.
Dia melihatnya.
Lalu berhenti sejenak.
Seolah menemukan sesuatu yang aneh.
Ekspresinya berubah.
Dia menatapku lagi.
Lebih lama.
Seolah sedang memastikan sesuatu.
Kemudian dia membungkuk ke depan komputer.
Mengetik dengan cepat.
Keringat mulai terlihat di dahinya.
Ada sesuatu yang salah.
Aku bisa merasakannya.
Beberapa menit kemudian, dia tersenyum.
Senyum palsu.
“Maaf, Bu.”
“Catatan sistem menunjukkan bahwa pemindahan tiket ini sah.”
Aku terdiam.
Bukan karena jawabannya.
Tetapi karena reaksinya tadi.
Dia berbohong.
Aku yakin.
Tiba-tiba ponsel amanku bergetar.
Aku segera mengambilnya.
Namun seorang petugas tiba-tiba menabrakku.
Ponsel itu terjatuh.
Meluncur.
Langsung menghantam troli bagasi.
CRACK!
Layarnya pecah.
Perangkat itu mati.
Tidak ada sinyal.
Tidak ada komunikasi.
Tidak ada kontak dengan tim penyelamat.
Dan pada saat itulah…
aku melihat ketakutan di mata supervisor itu.
Bukan karena ponselku rusak.
Tetapi karena dia tahu jenis perangkat apa itu.
Dia benar-benar tahu.
Aku perlahan mengangkat kepala.
Menatap lurus ke arahnya.
Dan dari ujung lorong…
tiga pria berpakaian sipil masuk.
Mereka tidak membawa koper.
Tidak mengatakan sepatah kata pun.
Mereka hanya menatapku.
Tatapan yang dingin.
Mengerikan.
Salah satu dari mereka menyentuh earpiece di telinganya.
Seolah sedang mendengarkan sesuatu.
Pada detik berikutnya…
ponsel supervisor berdering.
Dia melihat layar.
Wajahnya langsung pucat.
Perlahan dia berdiri.
Ponselnya terjatuh ke lantai.
Dan ketika layarnya menyala, aku melihat sebuah pesan muncul:
“TAHAN DIA DENGAN CARA APA PUN.”
Dan tepat pada saat aku membaca pesan itu…
ketiga pria di ujung lorong tersebut mulai berjalan ke arahku secara bersamaan…
Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita… Semoga harimu menyenangkan! 👇

Ketiga pria berpakaian sipil itu berjalan mendekat.
Tatapan mereka dingin.
Langkah mereka mantap.
Seluruh area boarding tiba-tiba menjadi sunyi.
Namun yang membuatku semakin waspada adalah—
tidak ada satu pun petugas keamanan bandara yang mendekat.
Seolah-olah mereka sengaja membiarkan semuanya terjadi.
Aku mundur selangkah.
Dan pada saat itu, salah satu pria itu mengeluarkan sebuah kartu identitas.
“Alya Pradipta?”
Aku mengangguk pelan.
“Ikut dengan kami.”
“Berdasarkan perintah siapa?” tanyaku.
Pria itu tidak menjawab.
Namun pria di tengah tiba-tiba berkata dengan suara rendah,
“Kalau saya jadi Anda, saya akan mulai berlari.”
Aku tertegun.
“Apa?”
Belum sempat aku bereaksi—
BRAKK!
Lampu di area boarding mendadak padam.
Jeritan terdengar dari segala arah.
Dan seseorang menarik tanganku.
“Ikut saya!”
Aku hampir menyerang refleks, namun suara itu sangat kukenal.
“Kapten Arga?”
“Jangan bicara. Lari!”
Kapten Arga Mahendra.
Komandan tim penyelamat khusus.
Dan orang yang seharusnya sudah berada di lokasi bencana.
Kami berlari menuju tangga darurat.
Di belakang kami terdengar suara langkah kaki mengejar.
“Kenapa mereka mengejarku?” tanyaku sambil terengah-engah.
Wajah Arga terlihat suram.
“Karena bencana itu palsu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Tidak pernah ada gempa.”
“Tidak pernah ada ratusan korban.”
“Seluruh misi itu hanyalah umpan.”
“Dan target sebenarnya adalah kamu.”
Kami berhasil masuk ke ruang keamanan yang kosong.
Arga menyerahkan sebuah tablet kepadaku.
Di layar terlihat sebuah dokumen rahasia.
Nama ayahku.
Nama ibuku.
Dan namaku.
Aku hampir tidak bisa bernapas.
“Ini…”
Arga mengangguk.
“Dua puluh lima tahun lalu, kedua orang tuamu adalah anggota tim peneliti teknologi komunikasi satelit militer.”
“Mereka menemukan kebocoran besar.”
“Namun sebelum sempat melaporkannya, seluruh tim mereka menghilang.”
“Semua orang mengira mereka sudah mati.”
“Padahal mereka bersembunyi.”
Aku menggenggam tablet itu dengan tangan gemetar.
“Lalu kenapa aku diburu?”
“Karena sebelum menghilang, ayahmu meninggalkan satu kunci akses.”
“Dan kunci itu…”
Arga menatapku.
“…ada padamu.”
Belum sempat aku bertanya lebih jauh—
BUM!
Pintu ruangan dihantam dari luar.
“Mereka menemukan kita!”
Arga langsung menarikku.
“Kita harus pergi!”
Kami berlari menuju landasan.
Dan di sana…
Sebuah helikopter hitam sudah menunggu.
Namun saat kami hampir tiba—
DOR!
Sebuah tembakan terdengar.
Kapten Arga berhenti.
Tubuhnya goyah.
Darah mengalir dari bahunya.
“Kapten!”
“Aku tidak apa-apa!”
Namun saat itu, seseorang berjalan keluar dari kegelapan.
Pria berjas hitam.
Supervisor bandara tadi.
Tetapi kali ini, seluruh sikap hormatnya telah hilang.
Ia tersenyum.
“Ternyata Kapten Arga sendiri yang datang.”
“Aku benar-benar tersanjung.”
Dan saat itulah…
Suara sirene tiba-tiba bergema di seluruh bandara.
Puluhan kendaraan taktis masuk dari segala arah.
Pasukan bersenjata lengkap mengepung lokasi.
Ekspresi supervisor itu berubah.
“Tidak mungkin!”
Seorang pria tua turun dari kendaraan paling depan.
Rambutnya sudah memutih.
Namun sorot matanya tajam.
Dan saat melihatnya—
air mataku langsung jatuh.
“Ayah…?”
Pria itu tersenyum.
“Maaf karena membuatmu menunggu selama dua puluh lima tahun, Putriku.”
Seluruh tubuhku membeku.
Ayahku.
Pria yang selama ini kukira telah meninggal.
Ternyata masih hidup.
Enam bulan kemudian.
Jaringan kriminal internasional yang bersembunyi di balik berbagai identitas resmi berhasil dibongkar.
Puluhan orang ditangkap.
Termasuk supervisor bandara dan dalang utama di belakang semuanya.
Sedangkan kedua orang tuaku akhirnya bisa hidup kembali dengan identitas asli mereka.
Dan aku…
akhirnya kembali pulang.
Suatu malam, saat makan malam bersama keluarga, Ibu tersenyum sambil mengambilkan lauk untukku.
“Sudah tiga tahun kamu tidak makan masakan Ibu.”
Ayah tertawa.
“Kali ini tidak ada yang boleh memanggilmu pergi lagi.”
Aku tersenyum.
Namun seseorang tiba-tiba meletakkan secangkir teh hangat di sampingku.
Kapten Arga.
Bahunya sudah sembuh.
Dan seperti biasa, wajahnya tetap tenang.
“Kamu masih akan kembali bertugas?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Untuk sementara, aku ingin tinggal bersama keluarga.”
Arga tersenyum kecil.
“Bagus.”
“Karena aku sudah menunggu jawabanmu.”
“Hah?”
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.
“Selama bertahun-tahun aku selalu lebih cepat dari kamu dalam setiap misi.”
“Tapi dalam urusan ini…”
“Aku tidak ingin terlambat.”
Ia membuka kotak itu.
Sebuah cincin sederhana berkilau di bawah cahaya lampu.
“Alya Pradipta.”
“Maukah kamu pulang bersamaku… untuk selamanya?”
Air mataku jatuh.
Bukan karena kesedihan.
Melainkan karena akhirnya aku mengerti—
kadang-kadang, pesan darurat yang datang di tengah malam tidak selalu membawa kehilangan.
Karena malam yang hampir merenggut segalanya dariku…
justru mengembalikan keluarga yang hilang.
Dan mempertemukanku dengan seseorang…
yang diam-diam selalu melindungiku.
TAMAT.