“Pak Polisi!”
“Kalau suatu hari nanti aku tahu Mama benar-benar penculik, bolehkah aku menelepon Bapak untuk melaporkannya?”
Polisi itu terdiam.
Lalu menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Pada akhirnya, dia menyerahkan kartu namanya kepada putriku.
“Kalau ada sesuatu yang penting, teleponlah.”
Aku memaksakan senyum.
Tetapi setelah pintu ditutup, seluruh tenagaku seolah menghilang.
Aku terduduk di sofa.
Suamiku, Ardi, juga tidak mengatakan apa-apa.
Sedangkan putri kami, Bella, malah tersenyum puas.
“Mama, lihat? Aku pintar, kan? Aku selalu mengatakan yang sebenarnya.”
Malam itu, aku menangis sendirian di kamar mandi.
Enam tahun.
Aku dan Ardi menghabiskan enam tahun hidup kami untuk membesarkannya.
Ketika dia demam, aku begadang semalaman.
Ketika dia takut petir, aku memeluknya sampai pagi.
Ketika dia mulai sekolah, aku bahkan berhenti bekerja demi bisa mengantarnya setiap hari.
Tetapi setiap kali aku terluka oleh kata-katanya…
aku selalu melihat kepuasan di matanya.
Seolah-olah melihatku sedih membuatnya bahagia.
Dan setiap kali aku menangis, dia hanya akan berkata:
“Aku cuma jujur.”
Dua minggu kemudian.
Aku sedang membersihkan kamar Bella ketika menemukan sebuah buku catatan kecil.
Di halaman pertama tertulis:
“Rahasia Bella.”
Awalnya aku ingin meletakkannya kembali.
Tetapi sebuah kalimat membuat tanganku membeku.
Hari ini Mama menangis lagi.
Aku senang.
Tubuhku membeku.
Aku membuka halaman berikutnya.
Waktu Mama dimarahi Nenek karena membeli tas Elsa, aku senang.
Waktu Mama sedih karena aku bilang dia jelek, aku juga senang.
Kalau Mama marah, wajahnya lucu.
Tanganku mulai gemetar.
Lalu aku membuka halaman terakhir.
Tulisan itu dibuat dengan huruf besar.
Kalau Mama pergi, apakah Papa akan lebih menyayangiku?
Air mataku langsung jatuh.
Bukan karena marah.
Melainkan karena takut.
Aku tidak takut dibenci.
Aku takut…
anak yang selama ini kubesarkan ternyata tidak memahami apa itu kasih sayang.
Malam itu, aku menunjukkan buku itu kepada Ardi.
Wajah suamiku langsung pucat.
Untuk pertama kalinya sejak kami menjadi orang tua…
kami tidak bisa tidur.
Keesokan harinya, kami membawa Bella menemui psikolog anak.
Awalnya Bella tertawa-tawa.
“Kenapa aku harus ke sini?”
“Aku tidak sakit.”
Tetapi setelah beberapa sesi pemeriksaan…
dokter terdiam cukup lama.
Lalu ia berkata perlahan:
“Anak Anda sangat cerdas.”
“Tetapi dia memiliki masalah dalam memahami empati.”
“Dan selama ini…”
“Dia salah mengartikan kata ‘jujur’.”
“Dia percaya bahwa selama sesuatu itu benar, maka tidak masalah jika hal itu menyakiti orang lain.”
“Tetapi yang lebih mengkhawatirkan…”
“Dia mulai menikmati reaksi sedih orang lain.”
Tubuhku dingin.
Ardi menggenggam tanganku erat.
Dokter melanjutkan:
“Masih bisa diperbaiki.”
“Tetapi harus dimulai sekarang.”
Selama dua tahun berikutnya, kami menjalani terapi keluarga.
Bella belajar meminta maaf.
Belajar memahami perasaan orang lain.
Belajar bahwa kejujuran tanpa kasih sayang bisa menjadi pisau yang melukai.
Perubahannya lambat.
Sangat lambat.
Tetapi sedikit demi sedikit, dia berubah.
Saat usianya sembilan tahun, untuk pertama kalinya dia berkata:
“Mama, hari ini aku hampir bilang teman sekelasku jelek.”
“Tapi aku ingat kata Bu Dokter.”
“Kalau kata-kataku membuat orang lain menangis, aku harus memikirkan cara yang lebih baik.”
Hari itu aku menangis.
Dan untuk pertama kalinya…
Bella tidak tersenyum melihatku menangis.
Dia malah panik.
“Mama! Jangan menangis!”
“Aku salah?”
Aku memeluknya.
“Tidak.”
“Kali ini, Mama menangis karena bahagia.”
Sepuluh tahun kemudian.
Bella diterima di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
Pada hari wisuda SMA, dia berdiri di atas panggung sebagai perwakilan siswa.
Di hadapan ribuan orang, dia berkata:
“Waktu kecil, aku selalu bangga karena merasa diriku anak yang paling jujur.”
“Aku pikir mengatakan kebenaran adalah alasan untuk menyakiti orang lain.”
“Aku pernah membuat orang yang paling mencintaiku menangis berkali-kali.”
“Aku pernah berkata bahwa aku berharap ibuku mati saat tua.”
Suasana aula menjadi sunyi.
Air mata mulai mengalir di wajahku.
Bella juga menangis.
Lalu dia menatapku.
“Dan penyesalan terbesar dalam hidupku…”
“Adalah aku baru menyadari betapa besar cinta ibuku setelah aku tumbuh dewasa.”
“Untungnya…”
“Beliau tidak menyerah padaku.”
Bella turun dari panggung.
Di depan semua orang, dia berlutut di hadapanku.
“Mama…”
“Maaf.”
“Aku menyesal.”
“Dan aku akan menyesali kata-kata itu seumur hidupku.”
Aku memeluknya erat sambil menangis.
Karena pada saat itu aku tahu…
Anak yang dulu selalu melukai orang lain dengan alasan “jujur”…
akhirnya telah belajar sesuatu yang lebih penting daripada kejujuran.
Yaitu…
kasih sayang.
TAMAT

Namun, Bella benar-benar menepati janjinya.
Selama kuliah, dia mengambil jurusan Psikologi Anak.
Semua orang mengira ia memilih jurusan itu karena cita-cita.
Hanya aku yang tahu.
Karena rasa bersalah.
Karena selama bertahun-tahun, dia tidak pernah bisa melupakan kata-kata yang pernah diucapkannya kepadaku.
“Mama, kalau sudah tua, lebih baik mati saja.”
Kalimat itu seperti duri yang tertancap di dalam hatinya sendiri.
Tahun kedua kuliahnya, aku didiagnosis menderita kanker payudara stadium awal.
Saat menerima hasil pemeriksaan, aku justru yang paling tenang.
Tetapi ketika Bella membaca laporan medis itu…
dia langsung jatuh terduduk di lantai rumah sakit.
Tangannya gemetar hebat.
Dan untuk pertama kalinya sejak lahir, aku melihat putriku menangis seperti anak kecil.
“Mama…”
“Aku pernah bilang aku ingin Mama mati…”
“Aku pernah bilang begitu…”
“Ini semua salahku…”
Dia memelukku erat sambil menangis tersedu-sedu.
Bahkan para perawat di sekitar kami ikut terdiam.
Aku mengusap rambutnya perlahan.
“Bella, penyakit ini bukan hukuman.”
“Tidak ada hubungannya dengan kata-katamu dulu.”
Tetapi dia terus menggeleng.
“Tidak…”
“Aku anak yang jahat…”
“Aku anak yang paling jahat di dunia…”
“Mama sudah mencintaiku, tapi aku malah menyakiti Mama.”
Hari itu, Bella menangis sampai suaranya habis.
Dan sejak hari itu pula, dia tidak pernah meninggalkanku sendirian.
Selama delapan bulan kemoterapi, Bella menolak tinggal di asrama kampus.
Dia pindah kembali ke rumah.
Setiap pagi, dia yang memasak.
Setiap malam, dia yang mencuci rambutku ketika aku sudah terlalu lemah untuk mengangkat tangan.
Ketika rambutku mulai rontok satu demi satu, aku mencoba tersenyum.
“Sepertinya Mama jadi jelek sekarang.”
Bella langsung menangis.
Dia berlutut di samping tempat tidurku.
“Lalu bagaimana kalau jelek?”
“Bagiku, Mama adalah wanita tercantik di dunia.”
Kalimat itu membuatku terpaku.
Karena dua puluh tahun sebelumnya…
anak yang sama pernah berkata:
“Mama adalah ibu paling jelek di sekolah.”
Dan sekarang…
dia berkata sebaliknya dengan mata yang penuh air mata.
Aku tersenyum.
Anak kecil itu…
akhirnya sudah tumbuh dewasa.
Tiga tahun kemudian.
Aku dinyatakan sembuh total.
Dan pada hari Bella lulus sebagai psikolog anak, dia mengadakan seminar kecil untuk para orang tua.
Di akhir acara, di hadapan ratusan orang, dia mengeluarkan sebuah surat tua yang sudah menguning.
Surat itu ditulis tangan.
Semua orang penasaran.
Bella tersenyum sambil menangis.
“Ini adalah surat yang sudah saya tulis selama sepuluh tahun.”
“Lima puluh kali saya menulisnya.”
“Dan lima puluh kali saya merobeknya.”
“Karena saya merasa kata-kata saya tidak pernah cukup.”
Dia menarik napas panjang.
Lalu membaca isi surat itu.
“Mama.”
“Maaf karena aku pernah menggunakan kejujuran sebagai alasan untuk melukai hatimu.”
“Maaf karena aku pernah tertawa saat melihatmu sedih.”
“Maaf karena aku pernah berharap hal-hal yang tidak seharusnya diucapkan seorang anak.”
“Aku tidak bisa menghapus masa lalu.”
“Tetapi selama sisa hidupku, aku ingin menjadi alasan mengapa Mama tersenyum.”
“Terima kasih karena tidak menyerah padaku.”
“Terima kasih karena tetap memilihku menjadi anakmu.”
“Kalau ada kehidupan berikutnya…”
“Aku masih ingin menjadi putrimu.”
“Dan aku berharap…”
“Aku bisa belajar mencintaimu lebih cepat.”
Seluruh ruangan menjadi sunyi.
Banyak orang mulai menangis.
Sedangkan aku…
aku sudah tidak bisa melihat jelas karena air mata yang memenuhi mataku.
Bella berjalan turun dari panggung.
Seperti saat wisuda dulu.
Dia berlutut di hadapanku.
Namun kali ini, aku tidak membiarkannya.
Aku segera memeluknya.
Dan sambil menangis, aku berbisik di telinganya:
“Bella…”
“Kamu tidak perlu menyesal seumur hidup.”
“Karena sejak hari pertama aku memelukmu enam tahun setelah menyelamatkanmu dari para pelaku perdagangan manusia…”
“Kamu sudah menjadi anakku.”
“Anak kandung atau bukan, itu tidak pernah penting.”
“Dan selama aku masih hidup…”
“Aku akan selalu memilihmu.”
Bella menangis semakin keras.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
dia menangis bukan karena rasa bersalah.
Melainkan karena akhirnya dia benar-benar mengerti…
bahwa cinta seorang ibu…
tidak pernah membutuhkan hubungan darah.
TAMAT.