Aku adalah satu-satunya pewaris dari salah satu konglomerat keluarga terbesar di Indonesia.
Namun sejak kecil, kakekku selalu mengajarkan satu hal kepadaku:
“Jika kau ingin melihat wajah asli manusia, jangan pernah biarkan mereka tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Karena itu, selain beberapa orang kepercayaan keluarga, hampir tidak ada yang mengetahui identitasku yang sebenarnya.
Bahkan Adrian Hartono—sahabat masa kecilku—hanya tahu bahwa keluargaku cukup berada.
Ketika ia kembali setelah bertahun-tahun bekerja di luar negeri, akulah yang secara pribadi menyiapkan sebuah jamuan untuk menyambutnya.
Aku tidak pernah menyangka bahwa malam itu justru menjadi awal dari serangkaian kejadian yang memperlihatkan wajah asli beberapa orang.
Tunangan Adrian bernama Claudia Wijaya.
Sejak pertama kali bertemu, aku sudah bisa melihat kecurigaan di matanya.
Sepanjang malam, setiap kali aku berbicara dengan Adrian, ia selalu menyela.
Kupikir ia hanya cemburu, jadi aku memilih untuk mengabaikannya.
Hingga pesta hampir berakhir.
Tiba-tiba ia mengambil segelas minuman dan menyiramkannya ke pakaianku.
Seluruh ruangan langsung terdiam.
Semua orang terkejut.
Sebelum aku sempat berbicara, Claudia sudah melipat tangannya dan tersenyum dingin.
“Jangan pikir aku tidak tahu wanita seperti apa dirimu.”
“Kau berpura-pura menjadi sahabat, padahal sebenarnya ingin merebut pacar orang lain.”
“Menurutmu aku buta?”
Adrian segera menarik lengannya.
“Tenanglah.”
“Kami hanya berteman sejak kecil.”
Claudia tertawa sinis.
“Teman?”
“Teman macam apa yang saling mengirim hadiah setiap tahun?”
“Teman macam apa yang mengadakan pesta pribadi untuk menyambut kepulangan satu sama lain?”
Aku menatap Adrian.
Berharap ia menjelaskan semuanya.
Namun yang lebih menyakitkan adalah ketika ia menoleh kepadaku dan berkata,
“Sudahlah.”
“Dia memang agak emosional.”
“Bisakah kali ini kamu yang mengalah?”
Hatiku langsung terasa dingin.
Aku yang dipermalukan.
Aku yang disiram minuman.
Tapi justru aku yang harus mengalah.
Aku tidak mengatakan apa pun.
Aku hanya meninggalkan pesta itu dengan tenang.
Namun sejak hari itu, semuanya mulai berubah.
Berbagai rumor mulai menyebar di kalangan bisnis.
Katanya, aku telah lama mencintai Adrian.
Katanya, aku menggunakan uang dan koneksi keluargaku untuk membantunya sukses.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa aku sengaja ingin menghancurkan hubungannya dengan Claudia.
Awalnya aku menganggap itu hanya gosip tak berarti.
Sampai seorang teman mengirimkan screenshot media sosial.
Itu adalah unggahan Adrian.
Di sana tertulis:
“Ada orang yang semakin memaksa ketika mereka tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.”
Ribuan komentar membanjiri unggahan itu.
Dan semuanya menganggap bahwa orang yang dimaksud adalah aku.
Setelah membacanya, aku hanya tersenyum.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku menyadari bahwa ada orang-orang yang menjadikanmu tokoh utama dalam cerita yang mereka ciptakan sendiri.
Aku tidak menjelaskan apa pun.
Aku juga tidak membela diri.
Aku hanya diam-diam menarik seluruh dukungan yang selama ini diberikan keluargaku kepada perusahaan Adrian.
Seminggu kemudian…
Satu demi satu mitra bisnis mereka mundur.
Beberapa proyek besar terhenti.
Dan perusahaannya mulai mengalami kemunduran.
Lucunya?
Adrian bahkan tidak tahu penyebabnya.
Ia terus menghubungiku.
Setiap hari mengirim pesan.
Mulai dari menyalahkanku.
Kemudian memohon.
Dan akhirnya meminta untuk bertemu.
Namun aku tidak pernah membalas satu pun.
Sebulan kemudian…
Sahabat terbaikku mengadakan pesta ulang tahun di sebuah resort eksklusif di Bali.
Ia memaksaku untuk datang.
Dan akhirnya aku setuju.
Namun ketika aku tiba sore itu…
Aku merasa ada yang aneh.
Tidak ada tamu.
Tidak ada musik.
Tidak ada tanda-tanda pesta ulang tahun sama sekali.
Begitu aku memasuki vila…
Pintu di belakangku tiba-tiba tertutup dengan keras.
Saat aku berbalik…
Aku melihat Claudia duduk di tengah ruang tamu.
Dikelilingi oleh teman-temannya.
Semua menatapku dengan tatapan tidak bersahabat.
Claudia berdiri perlahan.
Senyum mengejek terlihat di wajahnya.
“Akhirnya kau datang juga.”
Aku mengernyit.
“Di mana sahabatku?”
“Bukankah ini pesta ulang tahun?”
Ia tertawa keras.
“Pesta ulang tahun?”
“Kau benar-benar percaya?”
Saat itu juga…
Layar besar di dalam ruangan menyala.
Ribuan penonton terlihat melalui siaran langsung.
Aku langsung mengerti.
Ini adalah jebakan.
Claudia mendekat sambil memegang mikrofon.
“Hari ini…”
“Aku akan menunjukkan kepada semua orang wajah asli wanita perebut pria orang ini.”
Orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan.
Seorang wanita membawa sebuah kotak tua.
Perlahan ia membukanya di depan semua orang.
Dan ketika aku melihat isinya…
Wajahku langsung berubah.
Karena itu adalah buku harian satu-satunya yang ditinggalkan ibuku sebelum meninggal.
Barang yang paling berharga dalam hidupku.
Dan kenangan terakhirku tentang dirinya.
Claudia tersenyum puas.
“Ingin mengambilnya kembali?”
“Berlututlah di depanku terlebih dahulu.”
Aku mengepalkan tanganku erat.
Mataku tidak lepas dari buku harian itu.
Karena aku tahu…
Jika buku itu dibuka di depan ribuan penonton…
Rahasia yang selama bertahun-tahun kusimpan…
Rahasia tentang identitasku yang sebenarnya…
Tidak akan bisa disembunyikan lagi.
Dan tepat ketika Claudia mengulurkan tangannya untuk membuka buku harian itu di depan kamera…
BRAKK!!
Pintu vila terbuka dengan keras.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa bergema dari luar.
Semua orang menoleh.
Sedangkan aku…
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Aku tersenyum tipis.
Karena aku tahu…
Orang yang selama ini kutunggu…
Akhirnya telah datang.
Bagian selanjutnya dari cerita ini ada di kolom komentar. Pilih “SEMUA KOMENTAR” untuk membaca kisah lengkapnya…
Semoga harimu menyenangkan! 👇

Suara langkah kaki itu semakin mendekat.
Dan detik berikutnya…
Semua orang yang berada di dalam vila terdiam.
Karena pria yang masuk bukanlah Adrian.
Melainkan…
Kakekku.
Hendra Santoso.
Pendiri Santoso Group.
Salah satu konglomerat keluarga terbesar di Indonesia.
Di belakangnya berdiri belasan pengacara, asisten pribadi, dan petugas keamanan.
Wajah Claudia langsung memucat.
Bahkan para penonton siaran langsung mulai membanjiri kolom komentar dengan tanda tanya.
“Apa itu Pak Hendra Santoso?”
“Pendiri Santoso Group?”
“Kenapa beliau ada di sana?”
Namun yang paling terkejut adalah Adrian.
Ia berdiri dari sudut ruangan dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
“Kakek Hendra?”
Belum sempat siapa pun bereaksi…
Pria tua yang telah berusia tujuh puluh lima tahun itu berjalan melewati semua orang.
Lalu…
Di depan ribuan penonton…
Beliau membungkukkan badannya sedikit kepadaku.
“Maaf, Nona Besar.”
“Kami terlambat.”
Seluruh ruangan seketika membeku.
Nona Besar?
Para penonton siaran langsung meledak.
Claudia sampai kehilangan pegangan mikrofon.
Sedangkan Adrian membelalakkan matanya.
“Nona Besar?”
“Dia…?”
Kakekku menoleh dengan tatapan dingin.
“Perkenalkan.”
“Ini adalah cucu satu-satuku.”
“Dan pewaris tunggal Santoso Group.”
“Anindya Santoso.”
“Pemilik masa depan seluruh aset keluarga kami.”
BRAKK!
Mikrofon di tangan Claudia jatuh ke lantai.
Tubuhnya gemetar hebat.
“Tidak…”
“Tidak mungkin…”
“Dia hanya wanita yang mengejar Adrian…”
“Dia…”
“Dia…”
Tampar!
Suara tamparan keras bergema.
Semua orang terkejut.
Karena yang menampar Claudia adalah Adrian sendiri.
Matanya memerah.
“Diam!”
“Diam!”
“Aku tidak pernah mengatakan Anindya mengejarku!”
“Aku yang selalu berutang budi pada keluarganya!”
“Kau tahu tidak…”
“Selama ini perusahaan kami bisa bertahan karena bantuan diam-diam dari keluarga Santoso!”
“Dan aku…”
“Aku bahkan tidak tahu!”
Claudia terduduk lemas di lantai.
Sedangkan aku hanya memandang buku harian ibuku.
Kakekku mengambilnya dengan hati-hati.
Lalu menyerahkannya kembali ke tanganku.
“Nenekmu berpesan agar buku ini tidak pernah jatuh ke tangan orang yang salah.”
Air mataku akhirnya jatuh.
Karena itu adalah peninggalan terakhir ibuku.
Namun saat itulah…
Adrian berjalan mendekat.
Matanya dipenuhi penyesalan.
“Anindya…”
“Aku tidak tahu…”
“Aku sungguh tidak tahu…”
“Aku seharusnya melindungimu…”
“Maafkan aku…”
Ia bahkan berlutut.
Namun aku hanya tersenyum.
“Adrian.”
“Orang yang benar-benar melindungi seseorang…”
Tidak akan menunggu sampai orang itu terluka terlebih dahulu.”
Wajahnya langsung pucat.
“Aku…”
“Masih bisakah kita kembali seperti dulu?”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Karena persahabatan kita telah berakhir saat kau memilih mempercayai kebohongan orang lain daripada mempercayai aku.”
Untuk pertama kalinya sejak kecil…
Aku melihat Adrian menangis.
Namun kali ini…
Aku tidak merasa sedih.
Karena ada beberapa hubungan yang memang ditakdirkan untuk berakhir.
Bukan karena kebencian.
Melainkan karena rasa kecewa yang terlalu dalam.
Enam bulan kemudian.
Claudia dan keluarganya bangkrut.
Teman-teman yang dulu selalu mengelilinginya satu per satu meninggalkannya.
Sedangkan Adrian menjual sebagian saham perusahaannya untuk menyelamatkan bisnis keluarga.
Ia beberapa kali mencoba menemuiku.
Namun aku tidak pernah muncul.
Sampai suatu malam.
Dalam acara ulang tahun ke-76 kakekku.
Para pengusaha paling berpengaruh di Indonesia berkumpul.
Dan untuk pertama kalinya…
Kakekku mengumumkan secara resmi identitasku kepada publik.
Saat aku berdiri di atas panggung…
Tiba-tiba seseorang berjalan maju dari tengah kerumunan.
Seorang pria tinggi dengan setelan hitam.
Wajahnya asing.
Namun matanya hangat.
Dia tersenyum.
“Maaf.”
“Sepertinya aku terlambat.”
Aku terkejut.
Karena pria itu adalah Daniel Wijaya.
CEO muda dari Wijaya Capital.
Pria yang selama ini hanya kukenal melalui konferensi video.
Ia mengambil sebuah kotak kecil.
Lalu berkata sambil tersenyum,
“Aku sudah menunggu lima tahun untuk bertemu langsung dengan wanita yang selalu mengalahkan proposal bisnisku.”
Seluruh ruangan tertawa.
Sedangkan wajahku memerah.
Kakekku bahkan tertawa paling keras.
“Daniel!”
“Kalau mau melamar cucuku, jangan terlalu lama!”
Suasana menjadi riuh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Aku tertawa tanpa beban.
Karena aku akhirnya mengerti.
Tidak semua orang yang datang ke dalam hidupmu ditakdirkan untuk tinggal.
Sebagian datang untuk mengajarkanmu pelajaran.
Sebagian datang untuk memperlihatkan wajah asli mereka.
Dan sebagian lagi…
Datang pada waktu yang tepat.
Untuk membuatmu percaya lagi pada kebahagiaan.
Sedangkan orang yang pernah meremehkanmu…
Pada akhirnya akan menyadari bahwa hal paling menyakitkan bukanlah kehilangan kekayaan.
Melainkan kehilangan seseorang…
Yang selama ini diam-diam telah menjadi keberuntungan terbesar dalam hidup mereka.