Ponselku bergetar di atas meja seperti seekor ikan yang sekarat.

Notifikasi di grup WhatsApp kelas terus berdatangan tanpa henti.

“@Arga, gila, kamu sudah sampai di lokasi ujian? Kirim foto dong, biar kami bisa ketawa puas, hahaha!”

“Hahaha! Serius dia benar-benar pergi? Kupikir Dimas cuma bercanda.”

“Dimas: Aku sudah bilang jangan datang, tapi dia keras kepala. Ya sudah, biarkan saja dia berdiri di depan gerbang sekolah dan kena angin selama dua jam.”

“Memangnya anak ini tidak punya otak? Pak Budi sendiri sudah mengirim pesan di grup kalau ujian dipindahkan ke hari Jumat, tapi dia tetap nekat datang.”

“Dasar kutu buku, hidupnya cuma tahu belajar.”

Seseorang mengirim foto punggungku yang diam-diam diambil saat aku menunggu bus tadi pagi.

Grup itu langsung dipenuhi stiker tertawa.

Ketua kelas kami, Dimas Pratama, bahkan mengirim pesan suara dengan nada pura-pura khawatir.

“Arga, jangan keras kepala lagi, pulang saja. Pak Budi sudah bilang kalau ujian seleksi Program Bibit Nusantara mendadak diundur ke hari Jumat jam sembilan pagi. Sekalipun kamu datang hari ini, kamu tidak akan diizinkan masuk. Jangan menyiksa dirimu sendiri.”

Nada suaranya terdengar begitu tulus, seolah aku adalah adik kecil yang bandel dan tidak mau mendengarkan nasihat.

Ibu masuk ke kamar sambil membawa sepiring buah.

Sekilas saja, beliau langsung melihat riwayat percakapan di layar ponselku.

Alisnya langsung berkerut.

“Arga, kamu mau pergi ujian lagi? Semua teman sekelasmu bilang ujian itu hari Jumat. Kenapa kamu tidak mau mendengarkan?”

Aku mengangkat tas ranselku tanpa berkata apa-apa.

“Apa sebenarnya yang salah dengan anak ini?” suara Ibu semakin tinggi. “Apa kamu merasa dirimu istimewa? Apa cuma kamu yang pintar? Ada lebih dari lima puluh murid di kelasmu yang mengatakan ujian itu hari Jumat!”

Beliau sengaja menekankan kata “Jumat”.

“Selama ini kamu sudah tidak pandai bergaul dengan teman-temanmu, sekarang bahkan gurumu pun tidak kamu percaya? Dimas itu ketua kelasmu. Dia sudah repot-repot menghubungimu, tapi kamu bahkan tidak membalas satu pesan pun. Tidak sopan sekali!”

Ayah yang berada di ruang tamu ikut berteriak.

“Biarkan saja dia pergi! Anak ini tidak akan belajar kalau belum merasakan sendiri. Biar saja dia dipermalukan di depan gerbang sekolah, nanti juga pulang sendiri!”

Karena marah, Ibu membanting piring buah di atas meja.

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mengenakan sepatu dan berjalan menuju pintu.

Ponselku kembali bergetar seperti orang gila.

Pesan pribadi dari Dimas muncul.

“Bro, dengarkan saranku. Ini bukan ujian biasa. Ini seleksi Program Bibit Nusantara. Seluruh kota hanya punya tiga kuota. Yang lolos bisa langsung diterima di Universitas Indonesia atau Institut Teknologi Bandung. Nilaimu bagus, kamu pesaing terbesarku, tapi aku bukan orang jahat. Aku tidak ingin kamu menghancurkan masa depanmu karena salah jadwal.”

Dia bahkan mengirim tangkapan layar pesan Pak Budi di grup kelas.

【@Everyone Pengumuman: Ujian seleksi Program Bibit Nusantara minggu ini untuk sementara dipindahkan ke hari Jumat pukul 09.00 karena bersamaan dengan acara tingkat kota. Mohon saling mengingatkan agar tidak ada yang datang sia-sia.】

Di bawah gambar itu, Dimas segera mengetik lagi.

“Lihat? Pak Budi sendiri yang bilang. Aku tahu kamu cuma percaya pengumuman resmi, tapi perubahan mendadak seperti ini biasanya belum sempat dikirim lewat email. Kita harus mengikuti pemberitahuan wali kelas.”

Aku membaca semua pesannya tanpa membalas satu kata pun.

Layar ponsel kumatikan dan kusimpan di saku jaket.

Kemudian aku membuka email sekali lagi.

Pengirimnya adalah Kantor Penerimaan Resmi Program Bibit Nusantara dengan domain pemerintah Indonesia.

Judul email itu berbunyi:

【PENGUMUMAN PENTING】Konfirmasi Akhir Ujian Seleksi Program Bibit Nusantara (Pusat Ujian Nomor 3)

Di dalamnya tercantum dengan jelas namaku, nomor NISN, dan nomor peserta.

Waktu ujian:
Rabu, pukul 09.00.

Lokasi:
Ruang 301, Gedung A, SMA Eksperimental Jakarta.

Dan di bagian paling bawah, terdapat tulisan merah tebal.

【Ini adalah tahap seleksi terakhir. Sistem absensi menggunakan pengawasan ketat. Sistem akan terkunci otomatis setelah waktu dimulai. Peserta yang terlambat tidak akan diizinkan masuk dan dianggap mengundurkan diri secara sukarela. Harap datang tepat waktu.】

Email ini kuterima tiga hari yang lalu.

Sedangkan pesan Pak Budi di grup baru muncul tadi malam.

Aku menutup pintu rumah.

Dari dalam, aku mendengar desahan Ibu.

“Anak ini terlalu banyak belajar sampai jadi bodoh.”

Angin pagi bertiup kencang.

Pepohonan di pinggir jalan bergoyang hebat.

Aku menurunkan resleting jaket dan berjalan menuju halte bus.

Aku percaya pada apa yang kulihat.

Dan aku percaya pada penilaianku sendiri.

Jika lima puluh orang salah bersama-sama, maka aku rela menjadi satu-satunya orang bodoh di mata mereka.

Bus berhenti sekitar beberapa ratus meter dari SMA Eksperimental Jakarta.

Begitu turun, aku melihat sekeliling.

Gerbang sekolah terbuka lebar, tetapi suasananya sangat sepi.

Tidak ada peserta ujian.

Tidak ada orang tua.

Tidak ada spanduk bertuliskan “Selamat Datang Peserta Ujian”.

Yang ada hanya beberapa satpam yang sedang mengobrol di pos penjagaan.

Dadaku mulai berdebar.

Apa aku benar-benar salah?

Apakah email itu hanya penipuan?

Atau lelucon yang sangat kejam?

Aku berjalan mendekati gerbang.

Seorang satpam segera menghentikanku.

“Dik, sekolah tutup hari ini, tidak boleh masuk.”

“Pak, saya peserta ujian.”

Aku menyerahkan kartu peserta yang sudah kucetak.

Satpam itu melihatnya sekilas.

Tatapan matanya langsung berubah.

“Program Bibit Nusantara?”

“Iya, Pak.”

“Ruang 301, Gedung A?”

“Iya.”

Dia terdiam beberapa detik.

Kemudian mengangkat walkie-talkie.

“Pos Gedung A, ada satu peserta datang. Namanya Arga.”

Suara serak terdengar dari radio.

“Biarkan dia masuk. Antar ke lobi Gedung A.”

Satpam itu mengembalikan kartu pesertaku.

“Masuk saja. Jalan lurus sampai ujung, lalu belok kiri.”

Aku berjalan melewati kampus yang kosong.

Daun-daun mahoni bergesekan tertiup angin.

Matahari bersinar cerah.

Tetapi tubuhku sama sekali tidak merasakan kehangatan.

Suasana yang terlalu sunyi justru membuat keyakinanku mulai goyah.

Ketika sampai di lobi Gedung A, aku melihat seorang pria berjaket hitam bersandar di dinding sambil merokok.

Usianya sekitar empat puluh tahun.

Wajahnya serius dan sama sekali tidak terlihat seperti guru.

Begitu melihatku, dia mematikan rokoknya.

“Arga?”

Aku mengangguk.

Tatapannya tajam seperti pisau.

“Kamu datang sendirian?”

Pertanyaan itu menghantam jantungku.

“…Iya.”

Pria itu hanya berkata pelan.

“Ikut saya.”

Suara langkah kaki kami menggema di lorong kosong.

Lantai satu.

Lantai dua.

Semua ruang kelas tertutup rapat.

Baru di lantai tiga aku melihat satu-satunya ruangan yang terbuka.

Di depan pintunya tergantung papan sederhana.

【Program Bibit Nusantara – Pusat Ujian Nomor 3】

Di dalam ruangan hanya ada satu meja.

Dan satu kursi.

Dua pengawas duduk di depan.

Yang satu membaca koran.

Yang satu lagi memejamkan mata.

Begitu kami masuk, keduanya mengangkat kepala.

Pria berjaket hitam itu berkata singkat.

“Pesertanya sudah datang.”

Lalu dia menoleh kepadaku.

“Nanti pukul 08.45 soal akan dibagikan. Simpan barang-barangmu di loker luar dan matikan ponsel.”

Aku menurut.

Saat ponselku dimatikan dan kusimpan di loker, aku merasa benar-benar terputus dari dunia luar.

Aku duduk di satu-satunya kursi itu.

Cahaya matahari menembus jendela dan jatuh di atas mejaku.

Ruangan itu sangat sunyi.

Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungku sendiri.

Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Dimas sekarang.

Mungkin dia masih menertawakan foto punggung si “bodoh” di grup kelas.

Aku juga tidak tahu apa yang dipikirkan kedua orang tuaku.

Mungkin mereka masih marah karena aku terlalu keras kepala.

Yang kutahu hanyalah…

Aku sudah berada di sini.

Benar atau salah.

Jawabannya akan segera terungkap.

Pukul 08.45.

Bel berbunyi.

Salah satu pengawas membuka amplop cokelat tersegel.

Pengawas lainnya memeriksaku dengan detektor logam dan memintaku menandatangani lembar identitas.

Saat kertas ujian berada di tanganku…

Aku bisa mencium aroma tinta yang segar.

Ini bukan mimpi.

Ini bukan penipuan.

Ini nyata.

Tepat pukul sembilan pagi.

Bel tanda dimulainya ujian bergema di seluruh kampus yang sunyi.

Pengawas berkata dengan tenang.

“Silakan mulai.”

Aku menggenggam pena.

Dan menuliskan garis pertama di atas lembar jawaban.


Bab Terakhir

Pukul sebelas lewat dua puluh menit.

Ujian telah selesai.

Salah satu pengawas mengumpulkan lembar jawabanku, lalu mengangguk pelan.

“Kamu boleh pulang.”

Aku berdiri dan membungkuk sopan.

Namun, pria berjaket hitam yang tadi mengantarku tiba-tiba berkata,

“Arga, tunggu sebentar.”

Aku berhenti.

Dia membuka map tebal di atas meja dan mengeluarkan sebuah daftar.

Di kolom peserta untuk Pusat Ujian Nomor 3, hanya ada satu nama yang ditandai hadir.

Namaku.

Aku tertegun.

“Pak… peserta lainnya?”

Pria itu menatapku dalam-dalam.

“Tidak ada yang datang.”

“Seluruh kota hanya memiliki tiga kuota Program Bibit Nusantara.”

“Dan pusat ujian ini menerima enam puluh dua peserta.”

“Selain kamu, enam puluh satu orang lainnya dinyatakan tidak hadir.”

Aku membeku.

Tidak hadir?

Bagaimana mungkin?

Bukankah seluruh kelasku percaya bahwa ujian diundur ke hari Jumat?

Seolah melihat kebingunganku, pria itu menarik napas pelan.

“Tadi pagi, Kantor Pusat sudah menerima puluhan telepon dari orang tua dan sekolah yang mempertanyakan kenapa tidak ada peserta yang datang.”

“Kami juga terkejut.”

“Karena tidak pernah ada pengumuman penundaan.”

“Jadwal ujian tetap hari Rabu.”

Jantungku berdegup keras.

“Kalau begitu… pesan Pak Budi di grup…”

Salah satu pengawas yang sedang membaca koran akhirnya mengangkat kepala.

“Pak Budi?”

“Kami tidak mengenal guru bernama itu.”

“Kami hanya mengirim pemberitahuan resmi melalui email pemerintah.”

“Tidak pernah ada pemberitahuan melalui grup WhatsApp.”

Aku langsung teringat pada tangkapan layar yang dikirim Dimas.

Dan tiba-tiba…

Sebuah kemungkinan yang mengerikan muncul di benakku.

“Pak…”

“Kalau ada orang yang memalsukan pengumuman ujian…”

Pria berjaket hitam itu langsung menyipitkan matanya.

“Itu termasuk tindak pidana.”

“Terutama jika dilakukan untuk menghalangi peserta lain mengikuti seleksi nasional.”


Begitu keluar dari sekolah, aku menyalakan ponsel.

Dalam sekejap, ratusan pesan masuk secara bersamaan.

Grup kelas kami telah meledak.

【Apa?! Ujiannya hari ini?!】

【Aku baru telepon hotline Program Bibit Nusantara! Mereka bilang tidak pernah ada perubahan jadwal!】

【Sial! Siapa yang bilang hari Jumat?!】

【Dimas! Bukankah screenshot itu dari kamu?!】

【Pak Budi tidak pernah mengirim pesan itu! Grup kelas tadi malam ternyata sudah dihapus!】

【Aku baru saja menelepon Pak Budi! Ponselnya mati!】

Aku langsung membuka chat pribadi dengan Dimas.

Namun…

Akun WhatsApp-nya sudah tidak bisa dihubungi.

Foto profilnya hilang.

Nomornya tidak aktif.

Dia menghilang.


Siang harinya.

Seluruh kota gempar.

Enam puluh satu siswa terbaik kehilangan kesempatan mereka.

Orang tua mereka marah.

Media lokal mulai meliput.

Dinas Pendidikan turun tangan.

Dan akhirnya…

Kebenaran pun terungkap.

Pak Budi yang selama ini menjadi wali kelas kami ternyata sudah dirawat di rumah sakit sejak tiga hari sebelumnya karena serangan jantung ringan.

Ponselnya dipinjam oleh seseorang.

Dan orang itu…

Adalah Dimas Pratama.

Ketua kelas.

Pesaing terbesarku.

Selama bertahun-tahun, ia selalu berada di peringkat kedua.

Setiap kali nilai diumumkan…

Namaku selalu berada tepat di atas namanya.

Dan kali ini, untuk mendapatkan satu dari tiga kuota nasional…

Ia memutuskan menghapus seluruh pesaingnya.

Dengan satu pesan palsu.

Dia memalsukan tangkapan layar.

Menggunakan ponsel Pak Budi.

Dan berhasil membuat enam puluh satu siswa percaya.

Semuanya.

Kecuali aku.


Dua hari kemudian.

Dimas akhirnya ditemukan di rumah pamannya di Bandung.

Saat polisi datang, dia bahkan masih tidak percaya.

“Aku hanya ingin semua orang terlambat!”

“Aku tidak berniat sejauh ini!”

“Aku hanya ingin menjadi nomor satu!”

Namun…

Tidak ada seorang pun yang bersimpati.

Karena demi ambisinya sendiri…

Dia telah menghancurkan masa depan puluhan orang.


Sebulan kemudian.

Hasil akhir Program Bibit Nusantara diumumkan.

Aku mendapatkan nilai tertinggi di seluruh provinsi.

Dan menjadi salah satu penerima beasiswa penuh.

Ketika pengumuman itu keluar…

Ibuku menangis.

Ayahku yang biasanya keras kepala hanya duduk diam sambil memegang surat pengumuman dengan tangan gemetar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Aku melihat mata beliau memerah.

Malam itu, Ayah berdiri di depan pintu kamarku.

Selama beberapa detik, beliau tidak berkata apa-apa.

Lalu akhirnya, dengan suara pelan, beliau berkata,

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Tetapi kata itu membuat hidungku terasa panas.

Karena aku tahu…

Bagi seorang ayah yang keras kepala…

Mengucapkan “maaf” membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada memarahi anaknya.


Hari keberangkatanku ke Jakarta.

Ibu diam-diam memasukkan beberapa lembar uang ke dalam tasku.

Ayah membawakan koperku sampai terminal.

Saat bus mulai bergerak, beliau tiba-tiba mengetuk jendela.

Aku membuka kaca sedikit.

Angin sore bertiup pelan.

Ayah tersenyum canggung.

“Arga.”

“Kalau suatu hari nanti seluruh dunia mengatakan bahwa kamu salah…”

“Jangan langsung meragukan dirimu.”

“Karena terkadang…”

“Enam puluh satu orang bisa salah bersamaan.”

“Dan satu orang yang berdiri sendirian…”

“Justru orang yang paling mendekati kebenaran.”

Aku memandang wajah beliau.

Lalu tersenyum.

Bus perlahan bergerak meninggalkan terminal.

Sinar matahari sore jatuh di atas jendela.

Aku mengeluarkan pena yang kupakai saat ujian hari itu.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti.

Kebenaran…

Tidak pernah ditentukan oleh jumlah orang yang mempercayainya.

Dan keberanian terbesar dalam hidup…

Bukanlah berdiri bersama kerumunan.

Melainkan…

Tetap berjalan maju, bahkan ketika hanya ada dirimu seorang diri.