Aku tidak menangis ketika melihat ibu mertuaku mengatur penjualan rumah yang ditinggalkan orang tuaku.
Aku juga tidak berteriak ketika mendengar ia menjanjikan uang hasil penjualan itu kepada putri kandungnya, padahal uang itu sama sekali bukan miliknya.
Aku hanya tersenyum di lounge Bandara Soekarno-Hatta, menekan tombol panggil, lalu berkata dengan tenang,
“Kapten Arman, kirim delapan belas petugas keamanan. Tutup semua gerbang. Jangan biarkan siapa pun keluar.”
Setelah itu, aku menelepon polisi.
Aku sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta. Penerbanganku ke Surabaya untuk urusan bisnis mengalami penundaan, jadi aku hanya duduk di lounge ketika ponselku bergetar.
Sebuah notifikasi dari sistem smart lock muncul.
Side entrance opened — Villa 8, Pondok Indah.
Selama tiga detik, aku membeku.
Rumah itu adalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan Mama dan Papa setelah mereka meninggal dalam kecelakaan.
Rumah itu hanya atas namaku.
Bukan atas nama suamiku.
Dan sama sekali bukan milik keluarganya.
Aku segera membuka aplikasi CCTV.
Di layar, terlihat jelas ibu mertuaku, Ratna Wijaya.
Dia mengenakan blazer merah menyala dan rambutnya disanggul rapi.
Di tangannya ada sebuah kunci.
Di belakangnya berdiri empat pria asing.
Salah satunya membawa map dokumen.
Yang lain membawa meteran.
Dua sisanya membawa beberapa kotak peralatan.
Aku berkedip sekali.
Aku tidak pernah memberikan kunci kepada Ratna.
“Kita sudah sampai,” katanya sambil mendorong pintu masuk.
“Cepat. Pemilik rumah sedang di luar kota. Lebih baik kita selesaikan proses appraisal hari ini.”
Pria yang membawa map tampak ragu.
“Bu, apakah Ibu benar-benar memiliki wewenang untuk menjual properti ini?”
Ratna mendengus.
“Aku ibu mertua pemilik rumah. Suami anakku adalah pemiliknya. Cepat atau lambat rumah ini akan menjadi milik anakku juga. Kalian tinggal lakukan penilaian.”
Jari-jariku terasa dingin.
Sudah tiga tahun aku menikah dengan Kevin Wijaya.
Selama tiga tahun itu, keluarganya terus membicarakan rumah tersebut.
“Sayang sekali rumah sebesar ini dibiarkan kosong,” kata Ratna berkali-kali.
“Kita keluarga. Harusnya kita semua tinggal di sini.”
Aku selalu menjawab dengan tenang.
“Tidak bisa, Bu.”
Kupikir batas yang jelas sudah cukup.
Ternyata aku salah.
Di layar CCTV, Ratna masuk ke ruang tamu tanpa melepas sepatu.
Dia menginjak karpet krem yang dibeli ibuku sebelum meninggal.
Bahkan menendangnya sedikit.
“Karpet ini sudah kuno. Buang saja kalau rumahnya sudah terjual.”
Tanganku menggenggam ponsel semakin erat.
Di dinding masih tergantung foto Mama dan Papa.
Ratna menunjuk foto itu kepada salah satu pria.
“Itu juga dilepas. Jangan sampai pembelinya sial.”
Saat itulah aku mulai merekam layar.
Mereka naik ke lantai dua.
Membuka ruang kerja ayahku.
Ratna mengambil pena favorit Papa, melihatnya sebentar, lalu meletakkannya kembali seolah benda itu tidak berharga.
“Barang tua semua,” katanya.
“Tidak perlu dimasukkan ke harga rumah.”
Aku langsung menelepon Kevin.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua juga tidak.
Pada panggilan ketiga, dia menolak teleponku dan mengirim pesan.
Kevin:
Aku sedang rapat. Nanti kita bicara.
Aku membaca pesan itu lalu kembali melihat layar CCTV.
Saat itu, ponsel Ratna berdering.
“Bianca!” katanya riang kepada putri kandungnya.
Dia menyalakan speaker.
“Mama, cepat ya. Keluarga Arga sudah menunggu daftar mahar,” kata Bianca.
Ratna tertawa.
“Tenang saja. Begitu rumah ini terjual, kamu dapat apartemen, mobil baru, dan pesta pernikahan mewah. Bahkan dengan harga konservatif pun rumah ini bernilai lebih dari Rp36 miliar.”
“Bagaimana dengan Kak Maya?”
“Apa yang bisa dia lakukan? Orang tuanya sudah meninggal. Dia hanya perempuan yang tidak punya siapa-siapa.”
Aku tidak bernapas selama beberapa detik.
Lalu aku menelepon pusat keamanan kompleks.
“Kapten Arman,” kataku ketika telepon diangkat.
“Ada lima orang yang masuk ke rumahku tanpa izin. Kirim delapan belas petugas keamanan. Tutup gerbang utama, gerbang samping, dan garasi. Rekam semuanya. Jangan biarkan siapa pun keluar.”
“Baik, Bu Maya. Kami segera ke sana.”
Aku juga menelepon pengacaraku, Gabriel Santoso.
“Simpan semua rekaman CCTV, log smart lock, dan sertifikat rumah,” katanya.
“Jangan konfrontasi mereka dulu. Biarkan mereka bicara. Semakin banyak bukti, semakin bersih kasusnya.”
Di layar, Ratna membuka walk-in closet milikku dan mengusap salah satu tas bermerekku.
“Bianca pasti suka yang ini,” katanya.
“Bagaimanapun, semuanya untuk keluarga.”
Aku mengirim pesan kepada Kevin.
Maya:
Ibumu ada di rumahku bersama tim appraisal. Siapa yang memberinya kunci?
Balasannya datang sangat cepat.
Kevin:
Mama hanya ingin melihat-lihat. Jangan membuat masalah.
Maya:
Siapa yang memberinya kunci?
Beberapa saat kemudian, dia menjawab.
Kevin:
Kunci cadangan ada di rumah. Mungkin Mama tidak sengaja menemukannya.
Aku tersenyum.
Tidak sengaja?
Tidak sengaja membawa tim appraisal?
Tidak sengaja memakai warisan orang tuaku untuk membiayai pernikahan Bianca?
Saat itu, pintu depan terbuka.
Kelompok pertama petugas keamanan masuk.
Senyum Ratna langsung menghilang.
“Siapa yang memanggil kalian?” teriaknya.
Aku meneleponnya.
Ketika dia menjawab, aku mendekatkan ponsel ke bibirku.
“Aku, Bu.”
Ratna membeku.
Dan sebelum dia sempat berkata apa pun, suara sirene terdengar dari luar rumah.
Aku tertawa pelan.
“Jangan terburu-buru, Bu.”
“Masih ada kendaraan lain yang baru saja datang…”
“Yang ada lambang polisi di pintunya.”

Sirene mobil polisi bergema di seluruh kompleks perumahan elit Pondok Indah.
Di dalam ruang tamu, wajah Lidia Wijaya langsung pucat.
“Apa-apaan ini?” teriaknya sambil berdiri. “Aku ibu mertuanya! Rumah ini milik keluarga kami!”
Namun sebelum siapa pun sempat menjawab, empat petugas polisi dan delapan belas petugas keamanan telah memasuki halaman.
“Tidak ada seorang pun yang boleh keluar,” kata salah satu petugas dengan tegas.
Para penilai properti yang dibawa Lidia saling berpandangan dengan panik.
“Pak Polisi, kami hanya dipanggil untuk melakukan appraisal,” ujar salah satu dari mereka sambil gemetar.
“Tenang. Kalian akan dimintai keterangan sebagai saksi,” jawab polisi itu.
Di tengah kekacauan itu, ponsel Lidia berdering.
Carlo.
Dengan wajah panik, ia mengangkat telepon.
“Carlo! Cepat datang! Istrimu sudah gila! Dia memanggil polisi!”
Namun suara putranya terdengar jauh lebih panik.
“Mama… aku sedang dalam perjalanan!”
Sepuluh menit kemudian, sebuah BMW hitam berhenti mendadak di depan rumah.
Carlo turun dengan wajah merah padam.
“Mara! Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
Aku tersenyum tenang melalui panggilan video yang masih tersambung.
“Aku hanya melindungi rumah orang tuaku.”
“Ini hanya salah paham!”
“Benarkah?”
Aku mengangkat ponsel dan memperlihatkan rekaman CCTV.
Video ketika ibunya membuka rumah tanpa izin.
Video saat ia menghina foto kedua orang tuaku.
Video saat ia menjanjikan uang hasil penjualan rumah senilai hampir Rp35 miliar kepada Bianca untuk mahar dan pesta pernikahan.
Dan yang paling penting…
Rekaman suara Carlo sendiri.
“Ambil saja kunci cadangan yang kusimpan di laci, Ma. Mara sedang di luar kota. Dia tidak akan tahu.”
Seluruh tubuh Carlo membeku.
Lidia menoleh kepada putranya dengan mata membelalak.
“Carlo…”
Petugas polisi segera meminta keduanya untuk memberikan keterangan.
Di saat itulah Bianca datang bersama tunangannya, Miguel.
Begitu melihat polisi, Bianca menangis histeris.
“Mama! Bagaimana dengan uang pernikahanku?”
Pertanyaan itu membuat seluruh orang yang ada di ruang tamu terdiam.
Karena untuk pertama kalinya, semua orang menyadari bahwa mereka bahkan sudah membagi-bagi uang yang bukan milik mereka.
Sebulan kemudian.
Pengadilan memutuskan bahwa Lidia dan Carlo terbukti melakukan pelanggaran hukum terkait akses ilegal dan percobaan penjualan properti tanpa hak.
Bianca membatalkan pernikahannya setelah keluarga calon suaminya mengetahui seluruh skandal itu.
Sedangkan Carlo…
Ia kehilangan pekerjaannya.
Beberapa klien besar menarik kerja sama karena tidak ingin berurusan dengan orang yang mencoba mengambil warisan istrinya sendiri.
Tiga bulan kemudian, ia datang ke rumahku.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
“Mara…” katanya pelan. “Aku salah.”
“Aku tahu.”
“Bisakah kita mulai lagi dari awal?”
Aku memandangnya lama.
Lalu tersenyum.
“Carlo, rumah ini dibangun oleh kedua orang tuaku dengan cinta.”
“Dan pernikahan kita dulu juga dibangun dengan cinta.”
“Sayangnya…”
“Kamu sendiri yang menjual keduanya.”
Air mata jatuh dari matanya.
Tetapi hatiku sudah tidak lagi terluka.
Aku menutup pintu dengan tenang.
Dan untuk pertama kalinya sejak Mama dan Papa pergi, aku tidak merasa sendirian.
Karena akhirnya aku mengerti.
Keluarga sejati bukanlah orang yang merasa berhak atas apa yang kita miliki.
Melainkan mereka yang tetap menjaga kita, bahkan ketika tidak ada apa pun yang bisa mereka ambil.
Dan sejak hari itu…
Villa nomor 12 di Pondok Indah tidak lagi menjadi simbol kehilangan.
Melainkan awal dari hidup baru yang tidak lagi dipenuhi pengkhianatan.