Tanganku gemetar ketika membuka notifikasi transfer gaji di ponsel. Aku berkedip tiga kali berturut-turut.
22 rupiah.
Bukan dua puluh dua juta.
Bukan dua puluh dua ribu.
Melainkan hanya dua puluh dua rupiah.
Kupikir sistem bank sedang error. Aku segera menelepon Rina dari bagian keuangan perusahaan.
Dia malah tertawa pelan.
“Ya ampun, Bu Maya, cuma salah titik desimal saja kok. Nanti bulan depan kita gabungkan dengan gaji berikutnya.”
Aku lalu menelepon Pak Hendra, atasanku.
Suaranya terdengar santai.
“Rina cuma bercanda, jangan terlalu serius.”
“Ibu saya sedang dioperasi sekarang.”
“Kalau begitu pinjam dulu ke orang lain.”
Sambungan langsung diputus.
Bahkan setelah telepon mati, aku masih bisa mendengar suara tawa mereka dari seberang sana.
Aku meminjam uang ke mana-mana, menjual barang-barang yang kumiliki, bahkan menggesek kartu kredit sampai batas terakhir.
Aku seperti seekor anjing yang memohon belas kasihan di lorong rumah sakit.
Syukurlah…
Operasi ibu akhirnya selesai.
Beliau berhasil keluar dari ruang operasi dalam keadaan selamat.
Aku duduk di bangku lorong rumah sakit.
Menangis.
Menghapus air mata.
Lalu…
Aku justru tertawa.
Keesokan harinya, aku datang ke kantor di kawasan Sudirman dengan blazer rapi seperti biasa.
Bahkan senyumku lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya.
Saat melihatku, Pak Hendra masih sempat memujiku.
“Wah, bagus juga. Kupikir kamu bakal izin beberapa hari.”
Aku tersenyum.
Kemudian meletakkan sebuah map cokelat tepat di hadapannya.
“Pak Hendra…”
“Kali ini giliran saya yang bercanda dengan Bapak.”
01
Angka di layar kasir rumah sakit begitu menyilaukan.
Uang muka operasi: Rp38.000.000.
Perawat terus mendesak.
“Bu, mohon segera diselesaikan. Tim dokter sudah menunggu.”
Aku mengangguk, tetapi jemariku gemetar sampai tidak bisa menekan layar ponsel dengan benar.
Hari itu tanggal sepuluh.
Hari gajian di perusahaan tempatku bekerja, Nusantara E-Commerce Technology.
Bulan lalu aku lembur selama dua puluh tujuh hari.
HRD mengatakan aku akan menerima gaji sebesar Rp22.000.000.
Tetapi yang masuk ke rekeningku…
Rp22,00.
Aku memandang angka itu berulang kali.
Saat kedua kalinya, tubuhku mulai dingin.
Saat ketiga kalinya, telapak tanganku sudah basah oleh keringat.
“Jadi mau dibayar atau tidak, Bu?” tanya petugas kasir.
Aku menoleh ke arah ibuku, Siti Rahma, yang terbaring pucat di atas ranjang dorong.
Beliau masih sempat tersenyum tipis.
“Maya, jangan takut.”
Aku berlari menuju tangga darurat dan menelepon Rina.
Butuh waktu lama sampai akhirnya dia menjawab.
“Bu Rina, apakah ada kesalahan pada gaji saya?”
“Hah? Siapa ini?”
“Maya.”
“Oh, kamu.”
Dia berhenti sejenak.
“Ya ampun, cuma salah titik desimal.”
“Seharusnya saya menerima dua puluh dua juta rupiah, tapi yang masuk cuma dua puluh dua rupiah!”
“Iya, iya.”
Dia tertawa kecil.
“Kami lagi sibuk, salah pencet sedikit.”
Aku hampir menangis.
“Saya sedang di rumah sakit. Ibu saya sedang menjalani operasi. Saya benar-benar membutuhkan uang itu!”
Di ujung telepon sempat hening.
Kemudian dia berkata pelan, seolah takut didengar orang lain.
“Sudah terlanjur diproses. Tidak bisa diubah sekarang.”
Aku mendengar seseorang bertanya di belakangnya.
“Siapa itu?”
Rina menjawab sambil tertawa.
“Si Maya. Protes soal gajinya.”
Tak lama kemudian terdengar tawa beberapa orang.
“Bisakah diproses hari ini?”
“Tidak bisa. Bulan depan saja.”
“Saya sedang berdiri di depan ruang operasi!”
Rina menghela napas.
“Maya, jangan lebay. Cuma sebulan. Pinjam dulu saja sama teman.”
Lalu telepon ditutup.
Bau obat-obatan memenuhi lorong rumah sakit.
Aku lalu menelepon Pak Hendra.
“Ada apa?”
“Pak, bagian keuangan salah transfer gaji saya. Dua puluh dua juta menjadi dua puluh dua rupiah. Saya benar-benar membutuhkan uang untuk operasi ibu saya.”
Dari belakang terdengar suara musik dan orang-orang tertawa.
“Rina cuma bercanda. Jangan dianggap serius.”
“Ibu saya sedang dioperasi!”
“Ya pinjam dulu ke orang lain. Sistem perusahaan tidak bisa dipaksa.”
Aku menggenggam erat pegangan tangga.
“Itu uang hasil kerja saya, Pak.”
“Maya, jangan bikin drama. Telat satu dua hari memang kenapa?”
Aku melihat lampu ruang operasi yang masih menyala.
“Ini sangat penting bagi saya.”
Pak Hendra terdiam setengah detik.
Lalu tertawa.
“Memangnya kamu mau saya mencetak uang buat kamu?”
Terdengar tawa ramai dari belakang.
Kemudian dia memutus sambungan.
Layar ponsel menjadi hitam.
Di sana aku melihat bayanganku sendiri.
Wajah pucat.
Rambut berantakan.
Dan seorang perempuan yang sudah hampir putus asa.
Perawat untuk ketiga kalinya datang menagih.
“Kalau belum dibayar, operasi akan ditunda.”
Aku menggigit bibir.
“Saya akan membayar.”
Aku membuka daftar kontak.
Teman kuliah.
Mantan rekan kerja.
Saudara jauh.
Satu per satu aku mengirim pesan.
“Ibu saya sedang dioperasi. Bisakah aku meminjam sedikit uang?”
Ada yang tidak membalas.
Ada yang hanya mengirim tanda tanya.
Ada yang berkata:
“Maaf, aku juga sedang kesulitan.”
Aku mengerti.
Tetapi pengertian mereka tidak bisa menyelamatkan ibuku.
Aku melepas gelang emas pemberian ibu saat ulang tahunku.
Di luar sedang hujan.
Aku berlari menuju pegadaian.
Pemilik toko memeriksa gelang itu.
“Rp12.000.000.”
“Bisa lebih tinggi sedikit?”
Dia memandangku.
“Sedang butuh uang, ya? Harganya cuma segitu.”
Saat aku menandatangani surat gadai, ponselku bergetar.
Seseorang mengirim pesan di grup perusahaan.
Dan ketika aku membuka pesan itu…
Hatiku langsung membeku.
Karena orang yang baru saja tertawa saat aku memohon uang untuk operasi ibuku…
Sedang mengadakan pesta ulang tahun untuk Pak Hendra di sebuah restoran mewah.
Di foto itu, Pak Hendra mengangkat gelas anggur sambil tersenyum lebar.
Dan Rina, yang tadi mengatakan bahwa kesalahan gajiku hanyalah “candaan kecil”, sedang memegang kue ulang tahun sambil tertawa paling keras.
Di bawah foto itu, tertulis sebuah kalimat:
“Selamat ulang tahun, Bos! Semoga tahun ini bonus kita makin besar!”
Aku menatap layar ponsel dalam diam.
Hujan semakin deras.
Namun untuk pertama kalinya…
Air mataku berhenti mengalir.
Karena pada saat itu juga…
Aku akhirnya mengerti satu hal.
Ada hutang yang tidak bisa dibayar dengan uang.
Dan ada harga yang harus dibayar seseorang… setelah mereka salah memilih orang yang mereka hina.

Aku memandangi foto itu cukup lama.
Lalu perlahan, aku mematikan layar ponsel.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Karena ibu masih berada di ruang operasi.
Dan dibandingkan dengan nyawa ibu, penghinaan mereka bahkan tidak layak mendapatkan emosiku.
Malam itu, aku berhasil mengumpulkan uang dari hasil menggadaikan gelang emas, menjual laptop, dan meminjam dari beberapa teman lama.
Operasi ibu berjalan lancar.
Saat dokter mengatakan, “Pasien sudah melewati masa kritis,” aku akhirnya menangis.
Aku menangis sampai bahuku bergetar.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena aku akhirnya berhasil mempertahankan satu-satunya keluarga yang kumiliki.
Keesokan paginya, aku mengenakan blazer favoritku dan datang ke kantor seperti biasa.
Saat melihatku, Pak Hendra malah tersenyum.
“Bagus, saya kira kamu bakal cuti.”
Rina juga ikut tertawa.
“Gimana, ibumu baik-baik saja? Jangan terlalu tegang, kemarin kan cuma salah transfer kecil.”
Aku ikut tersenyum.
Lalu meletakkan sebuah map tebal di atas meja mereka.
“Pak Hendra.”
“Bu Rina.”
“Kali ini giliran saya bercanda.”
Mereka saling memandang.
“Apaan ini?”
“Surat pengunduran diri saya.”
Pak Hendra tertawa.
“Hanya itu? Saya kira apa.”
“Tidak.”
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka rekaman suara.
Suara tawa mereka dari malam kemarin terdengar jelas.
“Rina cuma bercanda, jangan dianggap serius.”
“Suruh dia pinjam dulu ke orang lain.”
“Memangnya kamu mau saya mencetak uang buat kamu?”
Tawa mereka memenuhi ruangan.
Senyum Pak Hendra langsung membeku.
Wajah Rina berubah pucat.
“Kenapa kamu merekam?”
Aku tersenyum.
“Karena saya takut lupa.”
“Lupa bagaimana perusahaan ini memperlakukan karyawannya saat keluarganya berada di ambang hidup dan mati.”
“Lupa bagaimana gaji hasil kerja satu bulan dianggap sebagai bahan lelucon.”
“Dan lupa bagaimana kalian tertawa saat saya memohon.”
Untuk pertama kalinya, Pak Hendra kehilangan ketenangannya.
“Maya, kita bisa bicara baik-baik…”
“Tidak perlu.”
Aku meletakkan satu map lagi.
Kali ini, wajahnya benar-benar berubah.
Karena di atas map itu tertulis:
LAPORAN PENGADUAN KE KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN DAN BUKTI PELANGGARAN PENGGAJIAN.
“Aku sudah menyerahkan semuanya.”
“Riwayat lembur.”
“Slip gaji.”
“Bukti transfer 22 rupiah.”
“Dan rekaman suara kalian.”
Tubuh Rina mulai gemetar.
“Maya… kita satu perusahaan…”
Aku memandangnya tenang.
“Justru karena kita satu perusahaan, aku memberi kalian kesempatan semalam.”
“Sayangnya, saat aku berdiri sendirian di depan ruang operasi…”
“Tak satu pun dari kalian memilih untuk menjadi manusia.”
Seminggu kemudian.
Inspektorat ketenagakerjaan datang melakukan pemeriksaan.
Kasus keterlambatan pembayaran gaji, manipulasi jam lembur, dan pelanggaran hak karyawan di perusahaan terbongkar satu demi satu.
Pak Hendra langsung dicopot dari jabatannya.
Rina dikenai sanksi dan akhirnya mengundurkan diri.
Seluruh kantor gempar.
Tak ada lagi yang tertawa.
Tak ada lagi yang mengatakan bahwa semua itu hanyalah “candaan”.
Sebulan kemudian.
Aku sedang menemani ibu berjalan santai di taman rumah sakit untuk kontrol rutin.
Beliau sudah jauh lebih sehat.
Di bawah sinar matahari sore, ibu menggenggam tanganku.
“Maya.”
“Maaf ya… gara-gara Ibu, kamu jadi menderita.”
Aku langsung memeluknya.
“Bu…”
“Selama Ibu masih di sini, aku tidak pernah menderita.”
“Karena selama masih bisa mendengar Ibu memanggil namaku…”
“Aku masih menjadi orang paling beruntung di dunia.”
Ibu tersenyum sambil menitikkan air mata.
Dan pada saat itulah, ponselku bergetar.
Pesan dari perusahaan baru yang selama ini kuimpikan.
“Selamat, Ibu Maya Prasetyo.”
“Anda diterima sebagai Senior Operations Manager.”
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa pelan.
Ternyata benar.
Ada orang yang kehilangan segalanya setelah mendapatkan kekuasaan.
Dan ada orang yang justru mendapatkan seluruh dunianya kembali…
Setelah kehilangan pekerjaan yang salah.
Aku menggenggam tangan ibu lebih erat.
Lalu menatap matahari senja di langit Jakarta.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
Aku tidak lagi takut pada hari esok.
Karena aku akhirnya mengerti.
Orang yang benar-benar mencintaimu…
Tidak akan pernah menganggap penderitaanmu sebagai lelucon.
Dan Tuhan mungkin tidak selalu datang tepat waktu.
Tetapi Dia tidak pernah meninggalkan orang yang masih berusaha bertahan.