Saat aku sedang dalam perjalanan mengantarkan obat untuk kakakku setelah menerima telepon darinya, aku tanpa sengaja membaca sebuah postingan di grup kota kami:
【Apa yang harus dilakukan kalau pacar teman sekamarmu terlalu “anjing penurut” dan bikin kesal banget?】
Di bawahnya ada yang membalas:
【? Emangnya urusan kamu apa tipe pacarnya kayak apa?】
Pemilik posting menjawab:
【Aku cuma nggak tahan lihat dia. Cantik banget, lembut, ngomongnya manis lagi.】
【Dengan kondisi hidup sebagus itu, aku nggak ngerti kenapa dia mau sama roommate-ku yang brengsek itu?】
【Waktu daftar ulang kuliah, dia yang beresin tempat tidur cowok itu, sibuk dari kepala sampai kaki, sementara si cowok cuma duduk main HP.】
【Pas pertandingan basket, karena terlalu baik, dia bawain air minum. Entah dia ngomong apa, tapi malah dibentak.】
【Yang cewek nggak marah sama sekali, cuma kedip-kedip kayak anak kucing kecil.】
【Dan ini yang paling parah!】
【Jam dua pagi, lagi gerimis dan dingin banget, dia ditelepon buat nganterin barang. Nada suaranya galak banget.】
【Udah gelap, dingin, tapi dia nggak bisa nolak sama sekali.】
Netizen mulai mencium sesuatu:
【Bilang aja kamu suka sama pacar roommate-mu. Iri banget sih sampai kelihatan kayak cacing kepanasan.】
【Katanya “kesal”, padahal sebenarnya kamu marah karena bukan kamu yang dia cintai.】
Semakin kubaca, semakin aku bingung.
Bukankah cerita-cerita ini tentang aku dan kakakku?
Kakakku punya tiga roommate di Universitas Jakarta.
Siapa yang menulis ini?
Aku tiba di depan asrama putra.
Kutelepon kakakku supaya turun ambil obat.
Dia punya penyakit jantung bawaan. Tidak parah, tapi fisiknya tidak sekuat orang biasa.
Namun dia terlalu gengsi. Tidak mau teman-temannya tahu supaya citra “cool”-nya tidak rusak.
Karena itu obat selalu kutitipkan, dan sesekali aku yang mengantarkannya.
Orang tua kami sudah lama bercerai.
Namaku Lina Velez.
Kakakku mengikuti marga ibu, namanya Enzo Castro.
Walau beda marga, kami sangat dekat.
Waktu kecil dia sering berkelahi demi melindungiku dari bully, sampai beberapa kali kambuh penyakit jantungnya.
Sekarang giliran aku menjaganya.
Seperti membereskan tempat tidur atau membawakan air—seperti yang ditulis di postingan tadi.
Aku tak tahan dan bertanya lewat telepon:
“Bang, roommate-mu masih bangun?”
Ada suara gesekan di seberang sana.
Enzo mendecak.
“Burung hantu semua. Begadang main game.”
Tiba-tiba suara lain menyela, santai dan sinis:
“Udah gede masih manggil ‘Bang’ terus. Kayak ayam berkokok subuh.”
Enzo langsung emosi.
“Lo sakit otak ya?! Ngomong apa sih!”
Aku mengenali suara itu.
Jace Delos Reyes.
Bintang tim basket kampus, tinggi, kaki panjang, anak orang kaya yang arogan.
Hari pertama masuk saja rambutnya biru terang dan telinganya penuh anting.
Pertama kali aku melihat Jace saat membantu Enzo pindahan.
Kami datang lebih dulu.
Karena Enzo sempat kambuh kemarin, aku menyuruhnya duduk sementara aku yang beres-beres.
Jace masuk sebagai orang kedua.
Dia mengernyit, menatapku.
“Nih, gue salah kamar? Ini asrama cewek?”
Nada suaranya mengejek.
Enzo tanpa menoleh dari ponselnya menjawab dingin:
“Lo nggak bisa bedain asrama cowok sama cewek? Kalau mata nggak dipakai, sumbangin aja.”
Karena mereka akan tinggal bersama empat tahun, aku cepat-cepat menengahi.
Kuserahkan Jace hadiah kecil yang sudah kusiapkan.
“Halo, aku Lina.”
“Enzo kakakku. Maaf ya kalau dia agak emosian.”
Jace memainkan bookmark itu dan mengulang kata “kakak” dengan nada aneh.
Dia tertawa pelan.
“Manis banget di depan gue. Menarik.”
Dia mendekat, sedikit membungkuk.
Mata cokelatnya menatap lurus padaku.
“Mau jadi pembantu? Gimana kalau kerja buat gue aja?”
“Rp100 juta sebulan. Pilih gue aja, gimana?”
Dalam ingatanku, Jace memang paling terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan padaku.
Apakah dia yang menulis postingan itu?
Di telepon, Jace berkata malas:
“Jangan histeris. Yang gue maksud itu cewek pick-me di tim game kita, bukan adik lo yang suci itu.”
Nada suaranya sengaja dipanjangkan, penuh sindiran.
Aku takut mereka berkelahi.
“Bang, turun sekarang. Lagi ‘salju’ nih,” candaku, menyebut gerimis dingin malam itu sebagai salju pertama tahun ini.
“Hoki banget bisa lihat sama kamu.”
Tiba-tiba hening di seberang.
Beberapa detik kemudian Enzo berkata, “Oke,” dan menutup telepon.
Dia turun tak lama kemudian.
Melihatku, dia langsung menarik kerah jaketku dan menutupkannya rapat.
Kupingku yang dingin disentuhnya.
“Udah dingin gini nggak pakai topi?”
“Dekat kok,” jawabku pelan.
Kuserahkan obat dan mengulang pesan dokter.
Dia mendengarkan dengan setengah sabar.
Terakhir dia mengacak rambutku.
“Iya, iya, aku tahu, Nona Kepala Rumah.”
Aku mendongak.
Dari bawah, terlihat sudut balkon asrama mereka.
Cahaya biru komputer menyinari siluet seorang pria tinggi dan kurus.
Kupikir itu Enzo yang baru naik.
Aku melambaikan tangan dan tersenyum manis.
Pria itu terdiam sebentar, lalu perlahan berbalik masuk.
Cahaya memantul di hidungnya—kilau perak dari kacamata.
Aku tertegun.
Enzo tidak memakai kacamata.
Ponselku berbunyi.
Postingan itu diperbarui.
【Apa dia nggak waras? Udah malam banget masih disuruh antar barang, tapi masih bisa senyum kayak bunga.】
【Katanya ‘untung lihat salju pertama bareng kakak’, jijik banget!】
【Padahal dari tadi siang jelas gue yang pertama bareng dia lihat dingin ini sebelum cowok itu datang.】
Sekarang tak ada lagi keraguan.
Itu pasti salah satu dari tiga roommate kakakku.
Netizen makin heboh:
【OP hampir kolaps karena cemburu.】
【Yang sakit siapa sih sebenarnya?】
【Stalker vibes banget. Siang pura-pura kebetulan, malam ngawasin tiap gerakan.】
Beberapa menit kemudian, OP muncul lagi, marah:
【Kalian salah! Cuma kebetulan gue lihat dia!】
【Dan mana mungkin gue suka sama dia?】
【Dia cuma kelihatan penurut. Matanya kayak permata di lelang, bikin orang pengen bawa pulang dan simpan sendiri.】
【Tapi dia pacar roommate gue!】
【Dia juga pintar, selalu top 3 di kelas, waktu orientasi jadi perwakilan mahasiswa baru, tiga menit pidato 428 kata.】
【Tapi dia pacar roommate gue!】
【Suaranya juga bagus. Terutama kalau manggil ‘Bang’. Manis banget.】
【Tapi dia itu—】
【Sialan, kenapa dia jadi pacar roommate gue!】
Balasan netizen tajam:
【Pengakuan total.】
【Lu hafal jumlah kata pidatonya. Lu udah jatuh cinta parah.】
Lama OP diam.
Akhirnya ia menulis lagi:
【Anggap aja gue suka sama dia. Salah roommate gue juga, dia cowok sampah, nggak pantas.】
【Jadi.】
【Kalau misalnya, cuma misalnya, gue mau “ambil bunga dari pot orang”… langkah pertama apa yang harus gue lakukan?】
Di bawah layar ponselku, jariku berhenti.
Hujan masih turun pelan.
Aku menatap ke arah balkon yang gelap.
Pria berkacamata itu.
Bukan Enzo.
Berarti…
Bukan Jace.
Karena Jace tidak pernah pakai kacamata.
Jantungku berdetak aneh.
Tiga roommate.
Satu sudah jelas bukan.
Satu terlalu terang-terangan.
Satu lagi… selalu diam.
Dan mungkin—
yang paling berbahaya bukanlah yang membentak.
Melainkan yang diam-diam memperhatikan segalanya.
Tanpa sadar, aku tersenyum kecil.
Kalau dia ingin “merebut bunga”—
maka dia harus tahu dulu…
bunga itu sejak awal bukan milik siapa pun.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama… aku tidak menangis.
Aku berdiri di depan cermin, menatap bayanganku sendiri. Perempuan yang dulu selalu takut kehilangan, takut ditinggalkan, takut tidak dicintai… kini sudah tidak ada lagi.
Yang tersisa hanyalah aku — versi yang lebih kuat.
Keesokan paginya, saat seluruh keluarga berkumpul dan mencoba berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi, aku meletakkan sebuah map cokelat di atas meja.
“Apa ini?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Surat penyerahan saham,” jawabku tenang. “Semua yang dulu kalian anggap bukan apa-apa… ternyata atas namaku.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Selama ini mereka pikir aku hanya perempuan lemah yang hidup bergantung pada nama besar keluarga itu. Mereka tidak pernah tahu bahwa selama bertahun-tahun, akulah yang diam-diam menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Akulah yang menutup lubang hutang miliaran rupiah. Akulah yang menjaga kehormatan keluarga itu tanpa pernah meminta pengakuan.
Dan hari ini… aku memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Tapi karena aku sudah tidak perlu tinggal untuk membuktikan apa pun.
Ia mencoba meraih tanganku saat aku melangkah pergi.
“Jangan pergi… aku salah…”
Aku berhenti sebentar.
“Kesalahanmu bukan karena kau menyakitiku,” kataku pelan, “tapi karena kau tidak pernah benar-benar melihatku.”
Aku tersenyum tipis. Bukan senyum pahit. Bukan senyum penuh dendam.
Itu senyum lega.
Pintu tertutup di belakangku.
Di luar, matahari pagi terasa hangat. Untuk pertama kalinya, langkahku terasa ringan.
Beberapa bulan kemudian, namaku muncul di berbagai berita bisnis sebagai pendiri perusahaan baru yang sukses besar. Orang-orang memujiku. Investor mencariku. Media menyebutku sebagai simbol perempuan yang bangkit dari pengkhianatan.
Tapi hanya aku yang tahu—
Kemenangan terbesarku bukanlah uang, bukanlah kekuasaan.
Melainkan keberanian untuk pergi… tanpa membawa kebencian.
Dan sejak hari itu, dunia tidak lagi berputar di sekeliling mereka.
Dunia akhirnya berputar… untukku.