“Saat Ayah bilang tunggu sampai Ibu meninggal, dia tidak tahu bahwa di balik gaun putihnya, Ibu meninggalkan rahasia yang akan menghancurkan selingkuhan itu… dan membuatnya kehilangan akal.”

Aku Mika. Saat itu usiaku baru empat tahun.

Dan sebelum Ibu pergi, aku sempat percaya bahwa dia adalah ibu yang jahat.


Bagian 1 — Ulang Tahun yang Berubah Jadi Luka

Empat tahun saja usiaku ketika Ayah berkata lewat telepon:

“Bilang ke ibumu, tunggu dia mati dulu baru hubungi aku.”

Aku tidak mengerti saat itu.

Sampai malam itu.

Aku memegang tangan Ibu yang dingin, sementara darah mengalir di bibirnya. Di meja, kue ulang tahunku masih menyala dengan empat lilin kecil.

Namaku Mika.

Sebelum Ibu pergi, aku pikir dialah orang paling kejam di dunia.


Ibu Lira dulu sangat lembut.

Setiap pagi ada bubur hangat atau roti isi keju di meja. Dia selalu bilang:

“Mika harus tumbuh bahagia. Ibu yang urus semuanya.”

Tapi suatu hari, dia berubah.

Dia memberiku sepeda merah muda tanpa roda bantu.

“Belajar ya, Mika.”

“Aku takut jatuh.”

“Ada Ibu.”

Tapi Ibu mulai berubah.

Dia tidak lagi menyuapiku.

Dia memaksaku makan sendiri.

Dia bilang hidup tidak akan menungguku.

Dan aku… mulai membenci Ibu.


Suatu hari aku menelepon Ayah Anton.

“Ayah, Ibu jahat. Dia berubah.”

Di seberang, suaranya dingin.

“Itu cuma drama.”


Sampai suatu malam, aku melihat Ibu batuk darah.

Aku menangis, menelepon Ayah.

Tapi Ayah tetap tidak peduli.


Hari ulang tahunku tiba.

Ibu membawaku membeli kue di Kota Quezon.

Aku memilih kue Elsa.

Tapi di sana, aku melihat Ayah…

bersama wanita lain.

Dan seorang anak perempuan.

“Ayah!” anak itu memanggilnya.

Dunia kecilku runtuh.


Malamnya, Ibu menyalakan empat lilin.

Dia terlihat sangat lemah tapi tetap tersenyum.

“Ayo Mika, tiup lilinnya.”

Aku berharap Ibu tidak pergi.

Tapi setelah itu, Ibu jatuh.

Aku menelepon Ayah.

Dan jawabannya membuat seluruh tubuhku membeku:

“Kalau dia mau mati, tunggu saja. Jangan ganggu aku.”


Bagian Akhir — Rahasia di Balik Gaun Putih

Aku menangis, mengguncang tubuh Ibu.

“Ibu… bangun…”

Tapi sebelum matanya tertutup sepenuhnya, Ibu menarik tanganku.

Dengan suara sangat lemah dia berkata:

“Mika… dengarkan baik-baik…”

Aku mendekat.

Ibu tersenyum tipis.

“Ayahmu… tidak pernah tahu…”

Tangannya gemetar, lalu menunjuk ke lemari tua di sudut kamar.

“Ada kotak… di balik laci bawah…”

Setelah itu… tangannya jatuh perlahan.

Dan rumah itu menjadi sangat sunyi.


3 Hari Kemudian

Polisi datang.

Aku tinggal sementara bersama keluarga Ibu.

Di dalam lemari, mereka menemukan sebuah kotak.

Isinya:

  • dokumen rumah
  • rekening tabungan atas nama Ibu
  • dan satu surat lama

Di surat itu tertulis:

“Jika suatu hari aku pergi, Mika tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun yang menyakitinya. Termasuk ayahnya sendiri.”


2 Minggu Kemudian

Ayah dipanggil ke pengadilan.

Wanita itu, selingkuhannya, kehilangan semua yang dia rencanakan.

Ternyata… semua aset penting keluarga Ayah sebenarnya atas nama Ibu.

Dan selama ini, Ayah tidak pernah benar-benar tahu.


Terakhir

Saat sidang selesai, Ayah menatapku.

“Mika… ayo pulang ke rumah Ayah.”

Aku menatapnya lama.

Lalu aku berkata pelan:

“Rumahku sudah tidak punya Ayah.”

Aku berbalik, menggenggam tangan pengacara yang selama ini membantu Ibu.

Dan untuk pertama kalinya… aku tidak menangis lagi untuk Ayah.

Ruangan itu sunyi setelah tangan Ibu jatuh ke lantai.

Aku mengguncangnya lagi, kecil-kecil.

“Ibu… jangan tidur… tolong…”

Tapi Ibu Lira tidak lagi menjawab.

Matanya setengah terbuka, masih mengarah ke arahku, seolah dia masih ingin memastikan aku tidak sendirian.


Tiga hari kemudian, semuanya berubah.

Ayah Anton datang ke rumah sakit bersama wanita itu—Celine—dan anak mereka, Trixie.

Dia tidak menangis.

Dia tidak terlihat hancur.

Yang ada hanya wajah marah, seperti orang yang merasa dirugikan.

“Mana harta yang dia sembunyikan?” suaranya keras di depan perawat.

Aku hanya diam.

Tapi di belakangku, seorang wanita muncul.

Pengacara.

Namanya Mara Santos.


Di ruang kecil itu, Mara membuka sebuah amplop cokelat.

“Ini surat wasiat resmi atas nama Lira Reyes,” katanya.

Ayah langsung tertawa kecil.

“Wasiat? Dia tidak punya apa-apa.”

Mara menatapnya dingin.

“Kau yakin?”

Dia mengeluarkan dokumen pertama.

Sertifikat kepemilikan rumah.
Nama: Lira Reyes.
Status: satu-satunya pemilik sah.

Wajah Ayah mulai berubah.

Tapi Mara belum selesai.

“Dan ini…”

Satu per satu dokumen dikeluarkan.

  • rekening tabungan 12 tahun
  • investasi properti
  • saham kecil di perusahaan logistik Makati
  • asuransi jiwa 8.000.000 peso (± 7.000 USD)

Celine langsung menoleh ke Ayah.

“Anton… ini apa?”

Ayah tidak menjawab.

Tangannya mulai gemetar.


Mara membuka surat terakhir.

Tulisan tangan Ibu.

Dan aku yang membacanya pertama kali.

“Jika kau membaca ini, berarti aku sudah tidak bisa lagi menjaga Mika secara langsung.”

“Aku tidak sakit seperti yang kau pikirkan, Anton.”

“Aku memilih untuk pergi perlahan… agar kau tidak bisa mempersiapkan kebohongan lain.”

Ruangan langsung hening.


Aku menoleh ke Ayah.

“Apa maksudnya?” suaranya pelan.

Mara menjawab tanpa ekspresi:

“Lira Reyes tidak pernah sakit karena lemah.”

“Dia sakit karena dia sudah tahu kau akan meninggalkannya.”


Ayah mundur satu langkah.

“Tidak… itu tidak mungkin…”

Celine menarik tangannya.

“Apa maksud ini semua, Anton?”

Trixie mulai menangis.

Dan untuk pertama kalinya, pria yang dulu aku panggil Ayah… tidak bisa menjawab apa pun.


Mara menutup map itu.

“Semua aset ini sekarang secara hukum diwariskan ke Mika.”

Aku terdiam.

“Aku?”

Dia mengangguk.

“Dan satu pesan terakhir dari ibumu…”

Dia menyerahkan sebuah amplop kecil.

Tanganku gemetar saat membukanya.


Di dalamnya hanya ada satu kalimat.

“Kalau suatu hari kamu harus memilih, pilih dirimu sendiri, Mika.”


Aku menatap Ayah.

Dia tidak lagi terlihat marah.

Sekarang dia hanya terlihat… kosong.

Orang yang dulu menyuruhku menunggu kematian Ibu…

akhirnya mengerti bahwa yang mati sebenarnya bukan hanya Ibu.

Tapi seluruh kendali hidupnya sendiri.


Aku berdiri.

Menggenggam amplop itu erat.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam ulang tahunku…

Aku tidak merasa takut lagi.

Aku tidak lagi anak kecil yang menunggu jawaban dari telepon.

Aku adalah Mika.

Anak dari Lira Reyes.

Dan warisan terakhirnya… adalah aku yang tidak bisa lagi dipatahkan.