Saat efek obat perlahan memudar, aku terbangun di kamar utama sebuah vila mewah di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, karena suara tawa keras yang menusuk telinga.

Saat efek obat perlahan memudar, aku terbangun di kamar utama sebuah vila mewah di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, karena suara tawa keras yang menusuk telinga.

Saat membuka mata, aku melihat gaun pengantinku yang mahal sedang digunting perlahan oleh sahabat perempuan Caleb Wijaya — Livia Tan.

Sambil memainkan gunting di tangannya, dia bahkan melakukan siaran langsung di Instagram untuk mengejekku.

“Ini yang katanya calon nyonya besar keluarga Wijaya? Lihat saja… seperti hewan kurban, tidur pulas sementara kita bisa melakukan apa saja padanya.”

Teman-teman Caleb yang gemar pesta berdiri di samping, ikut tertawa.

“Caleb sendiri yang mencampurkan obat tidur ke dalam susunya. Mau badai sekalipun, dia nggak bakal bangun.”

Di layar ponsel, komentar-komentar jahat mengalir deras — menghina aku sebagai gadis kampung yang ingin masuk ke dunia elite Jakarta.

Caleb hanya tersenyum tipis, seolah menyetujui semuanya. Bahkan dia sempat mengusap kepala Livia dengan manja.

“Sudah, cukup ya. Matikan livestream-nya. Kalau dia bangun dan bikin drama, besok kita yang repot atur ulang pesta pernikahan.”

Setelah semua orang pergi, Caleb duduk di tepi tempat tidur dan merapikan selimutku.

“Livia mentalnya lagi nggak stabil, nanti aku jelaskan semuanya… Lagipula, kamu cocok pakai gaun lain.”

“Aku sudah siapkan private jet untuk kirim gaun cadangan dari Paris. Harganya hampir dua miliar rupiah, pasti lebih indah.”

Tanganku mengepal kuat di balik selimut.

Diam-diam, aku mengirim pesan pada satu nama yang sudah tiga tahun tidak pernah kusentuh:

Lorenzo Varela.

“Pernikahanku dibatalkan. Tawaranmu dulu… masih berlaku?”


“Hanna, jangan marah padaku.”

Suara bariton Caleb terdengar lembut.

“Posisi Mrs. Wijaya tidak akan pernah direbut siapa pun. Itu milikmu.”

Dia menepuk bahuku pelan melalui selimut, seolah menenangkan.

Aku memejamkan mata, mengatur napas agar terdengar stabil.

Aku tidak bergerak.

Aku mendengar langkah kaki menjauh.

Pintu dikunci.

Kamar kembali sunyi.

Aku membuka mata.

Tatapanku jatuh pada potongan-potongan kain renda di lantai.

Gaun yang kupesan langsung dari atelier di Paris.

Dua tahun proses pembuatan.

Sepuluh tahun hubungan.

Sekarang hanya kain compang-camping di atas karpet mahal.

Aku bangkit.

Kakiku menyentuh lantai marmer yang dingin.

Di atas meja samping tempat tidur, masih ada gelas kristal dengan sisa noda susu.

Dua jam lalu, Caleb sendiri yang memegang gelas itu.

“Hanna, kamu terlalu capek urus persiapan pernikahan. Minum susu hangat ini biar besok kamu jadi pengantin tercantik.”

Suara penuh perhatian.

Ternyata hanya kepura-puraan.

Obat itu seharusnya resep dokter untuk insomnia-ku.

Tapi dia memanfaatkannya agar Livia bisa melampiaskan “emosinya”.

Dia tahu Livia membenciku.

Tetapi tetap membiarkannya masuk ke kamar kami.

Menghancurkan mimpiku.

Aku memungut sisa-sisa gaun itu.

Tanpa ragu, kumasukkan semuanya ke tempat sampah.

Lalu aku mengambil ponselku.

Membuka daftar kontak WhatsApp.

Jariku berhenti pada satu nama dengan foto profil hitam yang sudah lama kublokir.

Enzo.

Tiga tahun lalu, saat Caleb masuk ICU karena pendarahan lambung akibat kerja berlebihan demi pesta lamaran kami, aku berdiri di luar ruang ICU sambil menangis.

Hari itu juga, aku menolak Enzo — pria yang selalu mencintaiku diam-diam, yang siap meninggalkan semuanya demi aku.

Kupikir Caleb rela mati untukku.

Betapa naifnya aku.

Dari luar pintu terdengar lagi suara manja Livia.

“Mas Caleb, tadi kamu galak banget sama aku.”

“Kamu harus tahu batas, Livia. Gaun itu hanya benda. Tapi posisi Mrs. Wijaya hanya untuk Hanna.”

“Kalau besok aku masih mau bikin drama?”

“Jangan coba-coba. Aku tetap menikahinya di depan publik.”

“Tapi aku nggak suka dia pura-pura polos begitu. Siapa suruh dia ambil kamu dariku?”

Senyum dingin muncul di bibirku.

Akhirnya aku melihat wajah asli Caleb.

Dia terlalu yakin aku akan tetap menikahinya.

Terlalu yakin aku tidak punya pilihan.

Aku membuka pengaturan.

Menghapus Enzo dari daftar blokir.

Pesan terakhirnya tiga tahun lalu masih ada:

“Hanna Wijaya, kalau suatu hari kamu menoleh, aku akan tetap di sini.”

Aku meletakkan ponsel.

Masuk ke kamar mandi.

Membiarkan air shower mengalir di atas kepalaku.

Menghapus sisa aroma parfum Caleb dari kulitku.

Besok hari pernikahan.

Kalau dia ingin semuanya berjalan sempurna…

Baik.

Akan kubiarkan berjalan.

Setelah mandi, aku duduk di depan cermin rias.

Wajahku pucat.

Tapi mataku penuh keputusan.

Pintu terbuka.

Caleb masuk membawa segelas air hangat.

Melihatku duduk tenang, dia tampak terkejut.

Matanya melirik ke sudut ruangan.

Tempat gaun itu seharusnya berada.

Sekarang kosong.

“Hanna, kamu sudah bangun?”

“Ya. Aku haus.”

Aku meminum sedikit air itu.

Dan tersenyum tipis.

Senyum yang tidak lagi mencintainya.

Senyum seseorang yang sudah memutuskan pergi.

Caleb menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Ada sesuatu dalam tatapanku yang membuatnya tidak nyaman.

“Kamu… nggak marah?” tanyanya pelan.

Aku berdiri perlahan, merapikan rambutku di depan cermin.

“Kenapa harus marah?” jawabku tenang. “Besok kan hari besar kita.”

Nada suaraku begitu lembut hingga dia tidak menemukan celah untuk curiga.

Dia tersenyum lega.

Mendekat.

Mencoba memelukku dari belakang.

Tapi aku melangkah sedikit ke samping.

Hanya sedikit.

Cukup untuk membuatnya menyadari ada jarak.

Namun dia terlalu percaya diri untuk memikirkan lebih jauh.


Keesokan harinya.

Ballroom hotel bintang enam di Jakarta dipenuhi para pengusaha besar, pejabat, selebriti, dan keluarga elite.

Dekorasi bunga impor bernilai miliaran rupiah memenuhi ruangan.

Logo keluarga Wijaya terpampang megah di layar LED raksasa.

Semua media sudah siap menayangkan pernikahan “abad ini”.

Caleb berdiri gagah di altar.

Jas hitam custom-made dari Italia.

Senyum penuh kemenangan.

Dia pikir semuanya berada dalam kendalinya.

Musik pernikahan mulai dimainkan.

Pintu ballroom terbuka perlahan.

Semua orang menoleh.

Aku berjalan masuk.

Bukan dengan gaun pengantin putih.

Melainkan dengan setelan pantsuit putih elegan.

Sederhana.

Tegas.

Tanpa veil.

Tanpa buket bunga.

Tanpa senyum pengantin.

Seluruh ruangan langsung berbisik.

Wajah Caleb membeku.

“Hanna… apa ini?” bisiknya saat aku berhenti di depannya.

Aku mengambil mikrofon dari tangan MC.

Suaraku terdengar jelas di seluruh ruangan.

“Terima kasih semua sudah datang.”

“Hari ini memang seharusnya menjadi hari pernikahan saya dengan Tuan Caleb Wijaya.”

Hening.

“Namun sebelum itu, saya ingin memutar satu video.”

Layar LED di belakang kami menyala.

Muncul rekaman livestream Livia malam sebelumnya.

Suara tawa.

Suara gunting mengoyak gaun.

Komentar menghina.

Dan yang paling jelas—

Kalimat tentang obat tidur.

Ballroom yang tadi megah berubah menjadi kuburan sunyi.

Beberapa tamu berdiri.

Beberapa langsung mematikan ponsel.

Ayah Caleb memucat.

Ibunya gemetar.

Caleb mencoba merebut mikrofon.

“Hanna, ini salah paham—”

Aku mundur satu langkah.

“Tidak.”

Aku menatapnya lurus.

“Ini bukan salah paham.”

“Ini harga diri.”

Aku menoleh ke arah Livia yang duduk di barisan depan.

Wajahnya putih seperti kertas.

“Kalian boleh menghancurkan gaun saya.”

“Tapi kalian tidak akan pernah menghancurkan saya.”

Aku menarik napas dalam.

“Pernikahan ini dibatalkan.”

Gasps terdengar di seluruh ruangan.

“Dan sebagai tambahan—”

Aku mengangkat satu map merah.

“Seluruh saham yang selama ini saya investasikan atas nama Caleb di proyek digital startup keluarga Wijaya… sudah saya tarik pagi ini.”

Ruangan meledak.

Proyek itu bernilai hampir 300 miliar rupiah.

Itu adalah fondasi ekspansi bisnis Caleb.

Wajahnya kehilangan warna.

“Kamu nggak mungkin—”

“Aku bisa,” jawabku tenang.

“Karena dana itu berasal dari trust fund keluarga saya.”

Dia tidak pernah benar-benar menyadari.

Selama ini dia mengira akulah yang masuk ke dunianya.

Padahal—

Justru dia yang hidup dari kekuatanku.

Aku menurunkan mikrofon.

Dan saat semua orang masih shock—

Pintu ballroom kembali terbuka.

Seorang pria masuk dengan langkah tenang.

Setelan abu-abu gelap.

Tatapan tajam.

Tenang.

Berbahaya.

Enzo.

Seluruh ruangan kembali berbisik.

Beberapa orang langsung mengenalinya.

Investor besar Asia Tenggara.

Pria yang namanya bahkan lebih disegani daripada keluarga Wijaya.

Dia berhenti di sampingku.

Tidak menyentuhku.

Hanya berdiri.

Sebagai pilihan.

Sebagai masa depan.

“Ayo pulang,” katanya pelan.

Sederhana.

Tanpa drama.

Aku menoleh sekali lagi ke arah Caleb.

Tidak ada kebencian di mataku.

Hanya ketenangan.

“Terima kasih atas sepuluh tahun.”

“Tanpa kamu, mungkin aku tidak akan pernah belajar bagaimana rasanya dihina.”

“Dan bagaimana rasanya bangkit.”

Aku berjalan melewati altar.

Melewati para tamu.

Melewati keluarga Wijaya yang hancur reputasinya dalam satu pagi.

Di luar ballroom, matahari Jakarta bersinar terang.

Enzo membukakan pintu mobil untukku.

Sebelum masuk, aku menoleh sekali lagi ke arah gedung itu.

Bukan dengan air mata.

Tapi dengan senyum kecil.

Karena kadang—

Gaun yang dihancurkan semalam

adalah awal dari mahkota yang jauh lebih besar.

Dan kali ini,

aku tidak pergi sebagai calon istri seseorang.

Aku pergi sebagai wanita

yang memilih dirinya sendiri.