Dia bisa mengikat sistem itu dengan seseorang sehingga nilai ujian masuk universitas mereka akan sama persis.
Begitu mendengarnya, aku langsung menjatuhkan diri ke sofa dan mengeluh seperti orang malas.
“Aku nggak mau belajar lagi. Cepat ikat aku dengan sistem itu.”
Ya Tuhan, akhirnya aku bisa lolos ujian masuk universitas tanpa harus menderita belajar siang malam!
“Kamu masih punya peluang masuk universitas top kok. Nggak perlu pakai sistem itu denganku.”
Kata Arga tanpa berkedip.
Namun matanya diam-diam melirik ke arah Celine, gadis tercantik di sekolah yang terkenal lemah dalam pelajaran, yang saat itu sedang merapikan poni di dekat jendela.
Aku mengernyit.
“Kalau begitu, kamu mau mengikat siapa?”
“Celine.”
“Gadis itu bahkan kesulitan mencapai nilai minimum untuk masuk universitas tingkat menengah. Kalau aku nggak membantunya, rasanya aku bersalah setelah tiga tahun bertengkar dengannya.”
1
Nada suara Arga terdengar seperti seorang kakak yang kesal tetapi tetap menyayangi adiknya.
Celine adalah “musuh bebuyutan”-nya sejak kelas sepuluh.
Saat Arga menjadi peringkat satu dan dipuji guru, Celine pura-pura mual.
Saat Arga bermain basket, Celine datang untuk mendukung tim lawan.
Saat nilai ujian bulanan Arga turun, Celine tertawa paling keras.
Karena itu, seharusnya Arga membencinya.
Tapi siapa sangka dia justru ingin membagikan nilai ujian masuk universitasnya kepada gadis itu?
“Kenapa?”
Butuh waktu lama sebelum aku bisa bertanya.
Dadaku terasa sesak.
“Jangan salah paham soal dia.”
Arga tersenyum.
“Dia sebenarnya nggak jahat.”
“Pertengkaran kami dulu cuma gara-gara sepeda kami tabrakan di gerbang sekolah dan poninya jadi berantakan.”
Dia tertawa pelan.
“Bulan depan ujian masuk universitas.”
“Dia juga sudah sadar dan memaafkanku.”
Lalu Arga menyerahkan sebuah sticky note berwarna merah muda.
Kertas itu beraroma parfum lembut.
Aku membukanya.
Di sana tertulis:
‘Dasar Arga menyebalkan.
Sebentar lagi ujian masuk universitas.
Aku nggak akan bertengkar lagi denganmu.
Semangat ya!
Dari Celine paling imut sedunia.’
Pantas saja beberapa hari terakhir Celine tidak lagi menggangguku.
Aku menggigit bibir dan tanpa sadar meremas kertas itu.
Arga langsung merebutnya kembali.
“Jangan diremas.”
2
Aku memperhatikan bagaimana dia menyimpan kertas itu dengan hati-hati seperti benda paling berharga di dunia.
Sebodoh apa pun aku, aku tahu arti semua itu.
Suaraku sedikit bergetar.
“Kalau kamu mengikat sistem itu dengan dia dan membawanya masuk Universitas Indonesia… lalu bagaimana denganku?”
Nilai akademikku tidak stabil.
Kalau aku gagal saat ujian, mungkin aku bahkan tidak bisa masuk universitas impianku.
Setelah lulus SMA, jalan hidupku dan Arga mungkin akan benar-benar berpisah.
Sepuluh tahun kebersamaan kami.
Apa semuanya akan berakhir begitu saja?
“Kamu tinggal belajar yang rajin.”
Arga menjawab seolah semuanya sederhana.
“Kamu pasti bisa masuk universitas bagus.”
“Nanti pilih kampus di Jakarta.”
“Kita tetap tinggal di kota yang sama dan bisa bertemu kapan saja.”
Itulah solusi yang dia berikan.
“Menurutku ini situasi yang menguntungkan semua pihak.”
“Aku tetap bisa bersamamu.”
“Dan Celine nggak perlu masuk kampus sembarangan.”
“Dia pantas mendapatkan masa depan yang lebih baik.”
Aku terdiam.
Karena aku tahu.
Begitu Arga membuat keputusan, tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.
Sejak dulu selalu begitu.
Kata-katanya adalah keputusan akhir.
Dan dia tidak akan mengubahnya demi siapa pun.
Termasuk demi aku.
Aku tiba-tiba tertawa kecil dengan pahit.
Lalu mengangguk.
“Baiklah.”

3
Hari ujian masuk universitas akhirnya tiba.
Seluruh sekolah dipenuhi suasana tegang.
Bahkan Celine yang biasanya santai terlihat membawa setumpuk buku catatan ke mana-mana.
Sementara itu, aku justru menjadi jauh lebih tenang.
Mungkin karena aku akhirnya mengerti satu hal.
Ada beberapa orang yang tidak akan pernah memilihmu, tidak peduli berapa lama kamu menunggu.
Selama sepuluh tahun, aku selalu berpikir bahwa aku adalah orang terpenting bagi Arga.
Sampai Celine muncul.
Baru saat itu aku sadar bahwa posisi itu sebenarnya tidak pernah ada.
…
Seminggu setelah ujian, hasilnya diumumkan.
Website pengumuman langsung macet karena terlalu banyak pengunjung.
Tanganku sedikit gemetar ketika memasukkan nomor peserta.
Lalu layar menampilkan hasilnya.
Aku membeku.
Universitas Indonesia.
Fakultas Ekonomi.
Diterima.
Aku mengulang membacanya tiga kali.
Lalu empat kali.
Sampai akhirnya aku tertawa sambil menangis.
Aku berhasil.
Tanpa sistem apa pun.
Tanpa bantuan siapa pun.
Aku berhasil.
Tepat saat itu, ponselku bergetar.
Nama Arga muncul di layar.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku merasa tidak bersemangat menjawab teleponnya.
Namun akhirnya aku mengangkatnya.
Suara Arga terdengar aneh.
“Maya…”
“Ada apa?”
“Kamu sudah lihat hasilmu?”
“Sudah.”
“Selamat.”
Aku tersenyum.
“Makasih.”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Arga berkata pelan:
“Celine gagal.”
Aku terdiam.
“Apa?”
“Dia gagal.”
Suara Arga terdengar sangat lelah.
“Padahal sistem seharusnya membuat nilai kami sama.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Apa maksudmu?”
“Aku juga tidak tahu.”
“Nilainya jauh di bawah nilai kelulusanku.”
“Tidak mungkin seperti itu.”
Terdengar suara napas berat dari seberang telepon.
Lalu untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Arga terdengar kebingungan.
“Aku mengorbankan semuanya untuk membantunya.”
“Tapi ternyata…”
“Dia tidak pernah benar-benar percaya padaku.”
…
Baru kemudian aku mengetahui kebenarannya.
Sistem itu memiliki satu syarat tersembunyi.
Kedua pihak harus memiliki kepercayaan dan ketulusan yang sama.
Jika salah satu pihak hanya memanfaatkan yang lain, efek sistem akan terus melemah sampai akhirnya hilang sepenuhnya.
Celine tidak pernah menyukai Arga.
Tidak pernah.
Dia hanya tahu tentang keberadaan sistem itu.
Karena itulah beberapa bulan terakhir dia tiba-tiba menjadi ramah.
Karena itulah dia menulis surat.
Karena itulah dia berpura-pura berdamai.
Semuanya demi nilai ujian.
Ketika hasil keluar dan sistem gagal bekerja, Celine langsung menghapus semua foto mereka.
Memblokir nomor Arga.
Dan menghilang begitu saja.
…
Satu bulan kemudian.
Aku sedang bersiap berangkat ke Jakarta.
Koper sudah selesai dikemas.
Saat keluar dari rumah, aku melihat seseorang berdiri di depan pagar.
Arga.
Dia tampak lebih kurus.
Matanya juga terlihat lelah.
Kami berdiri saling diam cukup lama.
Akhirnya dia tersenyum pahit.
“Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
“Maya.”
“Hm?”
“Maaf.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat penyesalan di matanya.
“Aku baru sadar.”
“Saat aku selalu berusaha menyelamatkan orang lain…”
“Aku justru mengabaikan orang yang selalu berada di sampingku.”
Angin sore berhembus perlahan.
Aku tersenyum.
Namun kali ini, tidak ada lagi rasa sakit.
Karena aku sudah melepaskannya.
“Aku tahu.”
Wajah Arga sedikit memucat.
Mungkin karena dia mengerti arti jawabanku.
Aku tahu.
Aku sudah tahu sejak lama.
Dan justru karena aku tahu, aku memilih pergi.
…
Kereta menuju Jakarta berangkat pukul lima sore.
Saat kereta mulai bergerak, ponselku menerima pesan terakhir dari Arga.
“Hati-hati di Jakarta.”
“Kalau suatu hari nanti kamu membutuhkan bantuan, telepon aku.”
Aku membaca pesan itu cukup lama.
Lalu membalas singkat.
“Terima kasih.”
“Semoga kamu juga menemukan kebahagiaanmu.”
Setelah itu aku menutup layar ponsel.
Di luar jendela, matahari senja menyinari rel-rel kereta yang memanjang tanpa akhir.
Dulu aku selalu berpikir bahwa cinta terbesar adalah menunggu seseorang.
Namun kini aku mengerti.
Cinta terbesar adalah berani melangkah pergi ketika seseorang tidak pernah memilihmu.
Dan sejak hari itu, aku tidak lagi mengejar bayangan di belakang orang lain.
Aku berjalan menuju masa depanku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun…
Aku memilih diriku sendiri.