Sebelum kami keluar untuk kencan malam itu, suamiku melihat tiga tray besar telur di kulkas dan terdiam.
“Thina, kita berdua tidak suka telur. Kenapa kamu beli sebanyak ini?”
Aku mengambil jaket dari gantungan dan memakainya dengan tenang.
“Bukannya Sarah Hernandez suka telur? Kebetulan sedang diskon di supermarket. Jadi aku beli saja, supaya kamu tidak perlu repot keluar lagi membelinya.”
Aku menatap Luke Valleramos. Kulihat jelas kekecewaan dan rasa tidak nyaman di wajahnya. Aneh… hatiku justru terasa lebih ringan.
“Kenapa masih berdiri di situ? Filmnya hampir mulai.”
Aku berkata begitu, tapi dalam hati aku tahu: sebentar lagi pasti ada “keadaan darurat”.
Dan benar saja. Baru saja kami mengunci pintu, ponselnya berdering.
Ekspresinya langsung berubah. Suaranya terdengar panik.
“Keluarga Sarah menelepon. Kondisinya tidak stabil dan dia menolak pengobatan. Aku harus ke sana.”
Aku tersenyum tipis.
“Kenapa setiap dia tidak mau bekerja sama, kamu yang dipanggil? Kalau dia tidak mau sembuh, ya biarkan saja dia mati.”
Alisnya berkerut. Suaranya menjadi dingin.
“Apa yang kamu katakan?”
“Tidak ada. Pergilah. Aku akan nonton sendiri.”
Dia menghela napas, lalu memelukku.
“Maaf ya. Nanti aku tebus. Kita makan di restoran favoritmu. Aku sudah reservasi.”
Setelah itu, dia mengambil kunci mobil dan pergi.
Aku menepuk bahuku, seolah ingin menghapus sisa hangat pelukannya.
Dari dalam tasku, aku mengeluarkan berkas perceraian dan meletakkannya di atas meja makan.
Lalu aku memesan taksi menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Perusahaanku di Manila menawarkanku posisi di Düsseldorf, Jerman. Gaji besar dalam Euro, lengkap dengan stock option dan komisi tahunan. Dulu Luke menahanku. Katanya, pernikahan tidak boleh dijalani jarak jauh.
Sekarang?
Dia tidak punya hak lagi untuk melarangku.
Mulai hari ini, satu-satunya yang akan kucintai adalah uang dan harga diriku sendiri.
1
Setelah tiba di Düsseldorf dan menyelesaikan urusan apartemen, barulah aku membuka pesan dari sahabatku.
Sebelum meninggalkan Indonesia, aku memintanya menunggu di restoran tempat Luke katanya sudah reservasi.
Aku ingin tahu… apakah dia benar-benar datang untuk makan malam bersamaku.
Sahabatku mengirim banyak foto.
Luke datang.
Tapi bersama Sarah Hernandez.
Mereka duduk berhadapan di salah satu restoran paling romantis di kota, tersenyum, berbicara akrab.
Aku menarik napas panjang.
Tidak ada lagi rasa ragu. Tidak ada lagi rasa sedih.
Keputusanku benar.
Sahabatku juga mengirim voice note panjang, penuh amarah.
“Sarah itu tidak tahu malu! Dia tahu Luke sudah menikah tapi tetap menempel terus!”
Aku membalas singkat:
“Kenapa cuma dia yang disalahkan? Luke juga bajingan.”
“Pria yang tidak bisa pasang batas pada perempuan lain, lebih buruk dari anjing.”
Sahabatku setuju.
“Kalau kamu pulang nanti, beri dia pelajaran!”
Aku membalas dengan emoji senyum.
“Aku sudah ajukan cerai.”
Balasannya langsung panik.
“Tunggu dulu! Jangan gegabah! Mereka cuma makan. Tidak ada bukti aneh-aneh. Aku juga lihat setelah itu mereka ke rumah sakit, bukan ke hotel!”
Aku membaca pesannya.
Lalu hanya menjawab satu huruf.
“K.”
Semua orang menganggap Luke pria sempurna.
Dokter sukses, tampan, tenang.
Mencintaiku sepenuh hati.
Kami menikah seperti dongeng.
Sampai Sarah muncul.
2
Awalnya, Sarah hanyalah pasien yang hampir meninggal dan “diselamatkan” oleh Luke. Ia bahkan mendapat penghargaan dari rumah sakit karena kasus itu.
Aku bangga.
Tapi perlahan, Sarah menjadi bagian dari hidup kami.
Luke mulai sering diam di rumah. Membuka rekam medisnya sambil menghela napas.
“Cake ini enak. Besok beli lagi ya. Sarah suka.”
“Thina, kamu tahu restoran Chinese yang enak? Sarah ingin makan.”
Sejak kapan seorang pasien diperlakukan seperti putri?
Setiap kami berkencan, selalu ada ringtone khusus.
Ringtone milik Sarah.
Begitu berbunyi, ia langsung berdiri. Melepaskan tanganku. Pergi tanpa menoleh.
Aku bertanya. Kami bertengkar.
Dia selalu berkata, “Dia pasienku. Aku bertanggung jawab.”
Aku mulai mempertanyakan kewarasanku sendiri.
Apakah aku cemburu berlebihan?
Atau memang ada yang salah?
Enam bulan.
Enam bulan nama Sarah menghantui rumah tanggaku.
Sampai suatu malam, aku memintanya memilih.
Aku atau dia.
Saat ponsel itu berdering, dia mendorongku dan berlari menjawabnya.
Aku sudah tahu jawabannya.
Aku kalah.
3
Di pagi terakhir sebelum aku pergi, aku demam.
Suaraku serak saat berkata, “Kita perlu bicara.”
Dia pasti tahu aku sakit.
Tapi dia sibuk merebus telur.
Setiap hari merebus telur.
Untuk siapa?
“Sarah pasienku. Itu tanggung jawabku. Jangan berpikir aneh-aneh.”
Jangan berpikir?
Aku menatap punggungnya.
Tiba-tiba semuanya terasa jelas.
Masalahnya bukan Sarah.
Masalahnya adalah pria yang memilih menjadi pahlawan bagi wanita lain, tapi gagal menjadi suami bagi istrinya sendiri.
Hari itu, aku berhenti menangis.
4
Tiga bulan kemudian, hidupku di Düsseldorf stabil.
Gajiku dalam Euro masuk rutin setiap bulan. Aku membeli mobil pertamaku sendiri. Aku bahkan menandatangani kontrak proyek besar dengan komisi yang nilainya lebih dari ₱5 juta jika dirupiahkan.
Suatu malam, ponselku berdering.
Nama Luke.
Aku tidak mengangkat.
Dia mengirim pesan.
“Thina, aku dan Sarah tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku membaca tanpa emosi.
Lalu pesan kedua masuk.
“Dia pindah rumah sakit. Dia bilang dia tidak ingin merusak rumah tangga orang lagi.”
Aku tersenyum tipis.
Lucu.
Ketika aku sudah pergi, baru semua orang belajar tentang batasan.
Pesan terakhirnya:
“Aku salah. Bisakah kita mulai lagi?”
Aku menatap jendela apartemenku. Kota Düsseldorf berkilau dalam cahaya malam.
Aku mengetik perlahan:
“Luke, kamu tidak memilih Sarah.”
“Kamu hanya tidak pernah benar-benar memilihku.”
Lalu aku memblokir nomornya.
Cinta yang membuatmu merasa kecil bukanlah cinta.
Pria yang membuatmu meragukan nilai dirimu bukanlah pasangan.
Aku dulu berpikir aku kalah dari seorang pasien.
Ternyata tidak.
Aku hanya berhenti bersaing untuk pria yang tidak layak diperebutkan.
Sekarang aku berdiri sendiri.
Tanpa pengkhianatan.
Tanpa ringtone khusus.
Tanpa telur-telur yang bukan untukku.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
Aku merasa utuh.

Setahun kemudian, namaku mulai sering muncul di rapat direksi.
Proyek yang kutangani di Düsseldorf sukses besar. Bonus dalam Euro yang dulu hanya angka di kontrak, kini benar-benar masuk ke rekeningku. Aku membeli apartemen kecil dengan uangku sendiri—bukan hadiah, bukan hasil kompromi, bukan atas nama suami.
Atas namaku.
Suatu sore musim gugur, aku menerima email dari kantor pusat di Manila. Mereka ingin aku memimpin divisi baru di Asia Tenggara. Posisi regional. Gaji dua kali lipat dari sebelumnya.
Dulu, kalau mendapat kesempatan seperti ini, aku akan melihat ke arah Luke dan bertanya, “Bagaimana menurutmu?”
Sekarang, aku hanya tersenyum dan menjawab:
“Saya terima.”
Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke Manila untuk urusan proyek.
Di bandara, udara tropis menyambutku seperti kenangan lama yang sudah tidak menyakitkan.
Sahabatku menjemputku.
“Dia terlihat sangat kurus,” katanya tiba-tiba di mobil.
“Siapa?”
“Luke.”
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Malam itu, aku bertemu dengannya untuk pertama kali sejak perceraian kami selesai. Bukan karena rindu. Bukan karena ingin kembali.
Hanya karena aku ingin menutup bab itu dengan tenang.
Dia duduk di seberangku di sebuah kafe yang dulu sering kami kunjungi.
Wajahnya memang lebih kurus. Matanya lelah.
“Thina… kamu terlihat berbeda.”
Aku tersenyum.
“Aku memang berbeda.”
Dia menunduk.
“Setelah kamu pergi, aku baru sadar… rumah terasa kosong.”
Aku tidak merasa tersentuh. Tidak marah juga. Hanya datar.
“Rumah itu sudah kosong sejak lama, Luke. Hanya saja dulu aku masih tinggal di dalamnya.”
Dia terdiam.
“Aku kira menjadi dokter yang baik sudah cukup,” katanya pelan.
“Masalahnya,” jawabku lembut, “aku tidak butuh pahlawan. Aku butuh suami.”
Hening beberapa detik.
“Apa kamu bahagia sekarang?” tanyanya.
Aku melihat ke luar jendela. Lampu kota memantul di kaca.
“Ya,” jawabku jujur.
“Untuk pertama kalinya, aku tidak perlu bersaing dengan siapa pun untuk mendapatkan perhatian.”
Dia mengangguk pelan.
“Maaf.”
Kali ini, aku benar-benar tersenyum.
“Aku juga berterima kasih.”
Dia terkejut. “Untuk apa?”
“Karena kalau bukan karena kamu, mungkin aku masih tinggal dalam hidup yang setengah.”
Malam itu, saat kembali ke hotel, aku berdiri di depan cermin.
Tidak ada lagi cincin di jariku.
Tidak ada lagi rasa curiga.
Tidak ada lagi ringtone yang membuat jantungku berdebar karena takut kehilangan.
Aku menyadari sesuatu.
Aku dulu berpikir aku meninggalkan Luke karena perempuan lain.
Padahal sebenarnya, aku pergi karena aku memilih diriku sendiri.
Cinta tidak seharusnya membuatmu merasa seperti cadangan.
Tidak seharusnya membuatmu memohon untuk diperhatikan.
Dan tidak seharusnya membuatmu bertahan hanya karena takut sendirian.
Sekarang aku mencintai karierku.
Mencintai kebebasanku.
Dan yang terpenting—
Aku mencintai diriku sendiri.
Dan anehnya…
Itulah pertama kalinya aku benar-benar merasa dicintai.