Sekretaris suami saya hamil.
Kembar empat.
Ibu mertua saya meletakkan Rp170 miliar di depan saya sambil tersenyum sangat ramah.
“Anak adalah takdir. Dan uang ini… tanda niat baik saya. Saya yakin kamu wanita pintar, Bianca. Kamu pasti mengerti.”
Saya menerima uang itu.
Hari itu juga saya pergi.
Tanpa meninggalkan satu jejak pun.
Dua bulan kemudian…
saya membeku menatap hasil USG di tangan saya.
Kembar empat juga.
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya…
saya merasa Tuhan punya selera humor yang sangat kejam.
Pada hari pernikahan mantan suami saya, mansion mereka penuh tamu dan pesta mewah.
Dari sisi lain dunia, saya mengirimkan hadiah pernikahan.
Hasil tes DNA empat bayi dalam kandungan wanita itu.
Dari empat anak…
hanya satu yang benar-benar anak mantan suami saya.
Pernikahan mereka langsung berubah menjadi medan perang.
1
Perut Clarissa semakin membesar.
Ibu mertua saya, Madam Teresa Wijaya, mendorong sebuah kartu bank ke depan saya.
Wajahnya yang dirawat skincare mahal menampilkan senyum lembut seperti seorang dermawan suci.
“Bianca.”
“Di dalam kartu itu ada Rp170 miliar.”
“Itu kompensasi untukmu.”
Saya hanya menatapnya diam.
Saya ingin melihat seberapa jauh dia sanggup memainkan sandiwara ini.
“Kamu tahu sendiri… Clarissa sudah bersama Mateo bertahun-tahun.”
“Sekarang dia mengandung empat bayi.”
“Dokter bilang kembar empat. Ini berkah besar bagi keluarga Wijaya.”
Nada bangga di suaranya sulit disembunyikan.
Seolah empat janin itu adalah trofi terbesar keluarga mereka.
Sedangkan saya…
istri sah yang menikah tiga tahun namun belum pernah hamil…
adalah noda terbesar kehormatan keluarga itu.
“Keluarga Wijaya tidak akan melupakan orang yang berjasa.”
“Tapi kami juga tidak akan membiarkan anak-anak lahir tanpa nama hukum.”
Ia berhenti sebentar.
Lalu akhirnya masuk ke inti pembicaraan.
“Anak adalah takdir.”
“Dan uang ini adalah niat baik saya.”
“Kamu wanita cerdas, Bianca.”
“Saya yakin kamu mengerti.”
Saya mengerti.
Sangat jelas.
Dia menyuruh saya mengambil uang itu…
dan menghilang.
Menyerahkan posisi nyonya keluarga Wijaya kepada wanita itu dan empat bayi di rahimnya.
Saya mengambil kartu itu.
Dingin di ujung jari saya.
Lalu saya tersenyum.
“Transfer sekarang.”
Madam Teresa langsung membeku.
Mungkin ia mengira saya akan menangis.
Atau marah.
Atau memohon.
Sayangnya…
tidak ada satu pun.
Saya membuka aplikasi mobile banking dan menunjukkan nomor rekening saya.
“Transfer sekarang.”
“Saya tidak percaya kartu tanpa tahu isinya.”
Senyumnya perlahan hilang.
Namun akhirnya ia menelepon sekretaris keuangannya.
Beberapa menit kemudian…
ponsel saya berbunyi.
[Saldo masuk: Rp170.000.000.000]
Deretan nol yang sangat panjang.
Utuh.
Tanpa potongan.
Saya berdiri.
Mengambil tas kecil saya.
Di mansion besar Jakarta Selatan ini…
tidak ada satu barang pun milik saya.
Dulu saya datang membawa satu koper.
Sekarang saya pergi membawa satu tas.
“Permisi.”
Saya berjalan keluar.
Tanpa menoleh.
Tanpa penyesalan.
Pintu terbuka.
Pintu tertutup.
Dan hidup kami resmi berpisah.
Matahari di luar terasa sangat indah.
Saya menghirup udara panjang.
Rasanya seperti kebebasan.
Selamat tinggal, Mateo.
Selamat tinggal pada tiga tahun lelucon hidup saya.
Hari itu saya menyewa apartemen baru.
Menandatangani seluruh dokumen.
Lalu pergi ke rumah sakit untuk medical check-up lengkap.
Saya pikir…
hidup baru saya harus dimulai dari sini.
Namun saat hasil keluar…
dokter menatap saya dengan ekspresi aneh.
“Selamat, Bu Bianca.”
“Dan… tolong siapkan mental Anda.”
Saya bingung.
“Untuk apa?”
Dokter mendorong hasil USG ke arah saya.
“Anda hamil.”
“Sesuai hasil pemeriksaan…”
“Ini kembar empat.”
Saya terpaku.
Empat kantung kecil terlihat berdampingan.
Seperti empat bintang kecil.
Dan untuk pertama kalinya…
saya merasa Tuhan benar-benar punya selera humor yang brutal.
Saya pulang ke apartemen baru saya.
120 meter persegi.
Tidak terlalu besar.
Namun nyaman.
Saya meletakkan hasil USG di meja samping tempat tidur.
Mereka…
adalah satu-satunya keluarga saya sekarang.
Saya menyewa ahli nutrisi terbaik.
Membaca puluhan buku tentang multiple pregnancy.
Mengatur hidup saya dengan disiplin.
Uang Rp170 miliar itu memberi saya sesuatu yang tidak pernah saya miliki selama tiga tahun pernikahan:
rasa aman.
Saya hampir melupakan keluarga Mateo.
Hingga suatu hari…
saya melihat wawancara bisnisnya di televisi.
Mateo mengenakan setelan mahal.
Tersenyum sempurna.
Pembawa acara bertanya:
“Karier Anda sukses besar. Kehidupan keluarga pasti bahagia juga?”
Ia menatap kamera.
Dan tersenyum manis.
“Oh tentu.”
“Saya mencintai keluarga saya.”
“Istri saya wanita yang lembut, dan kami sebentar lagi menyambut anak-anak kami.”
Saya mematikan TV.
Tidak ada rasa sakit.
Hanya dingin.
Karena saya tahu satu hal yang belum dia ketahui.
Saya juga mengandung empat anaknya.
Namun malam itu…
morning sickness saya sangat parah.
Saya muntah sampai pandangan saya gelap.
Tubuh saya gemetar di atas ranjang.
Saya memegang perut saya.
Air mata jatuh tanpa sadar.
“Anak-anak…”
“Mommy nggak berguna ya?”
“Kalian cuma punya Mommy…”
Lalu tiba-tiba—
sebuah suara kecil terdengar jelas di kepala saya.
[Sialan… keluarga mantan suami Mommy ini gila apa gimana?!]
Saya langsung membeku.
Apa?
Halusinasi?
Lalu suara kedua yang lebih tenang berbicara.
[Kakak, jangan kasar. Nanti hormon Mommy makin kacau.]
[Menurut analisisku, kondisi emosional Mommy sedang tidak stabil.]
[Kita harus hibur dia.]
Saya langsung duduk tegak di ranjang.
Bukan halusinasi.
Saya mendengar semuanya.
Suara ketiga terdengar lembut dan manis.
[Mommy jangan nangis… Mommy hebat kok.]
[Kita harus jadi anak baik.]
Lalu suara keempat muncul…
malas, arogan, dan penuh percaya diri.
[Siapa pun yang bikin Mommy nangis… habis lah dia.]
[Cowok bernama Mateo itu? Tunggu aja gue lahir.]
Tangan saya langsung gemetar hebat.
Tidak mungkin…
Apa ini…
empat bayi saya?
Saya…
mendengar pikiran mereka?
Dan tepat saat saya masih membeku—
suara pertama berbicara lagi dengan kesal.
[By the way… ada hal yang harus Mommy tahu.]
[Empat bayi Clarissa? Situasinya agak rumit.]
Saya langsung berhenti bernapas.
“Rumit…?”
Suara kedua menjawab tenang.
[Hasil probabilitas genetik menunjukkan…]
[Dari empat janin di kandungan wanita itu…]
[Hanya satu yang biologis milik Mateo.]
Saya membeku total.
Apa…?
Lalu suara keempat tertawa jahat.
[Heh. Seru nih.]
[Kayaknya pesta pernikahan Daddy bakal meledak.]
Dan tanpa saya sadari…
perlahan…
senyum pertama saya setelah berbulan-bulan akhirnya muncul.
Bersambung… 👇

Malam sebelum pernikahan Mateo dan Clarissa…
langit Singapura diguyur hujan deras.
Saya berdiri sendirian di depan jendela apartemen penthouse sambil memegang sebuah amplop cokelat.
Di dalamnya—
empat hasil tes DNA.
Empat janin.
Empat ayah biologis.
Dan hanya satu nama yang cocok dengan Mateo Wijaya.
Saya tersenyum kecil.
Pelan.
Dingin.
Karena untuk pertama kalinya…
saya tidak lagi merasa menjadi korban.
Sebulan sebelumnya, saya diam-diam menyewa investigator terbaik.
Awalnya hanya untuk memastikan satu hal:
apakah Clarissa benar-benar hanya bersama Mateo?
Ternyata…
jawabannya jauh lebih kotor daripada yang saya bayangkan.
Clarissa bukan hanya tidur dengan Mateo.
Ia juga memiliki hubungan dengan:
seorang model fitness terkenal,
anak komisaris perusahaan farmasi,
dan bahkan mantan tunangannya sendiri.
Dan yang paling lucu—
semua pria itu percaya bahwa salah satu bayi adalah anak mereka.
Namun Clarissa memilih Mateo.
Karena hanya Mateo yang punya nama keluarga besar dan warisan miliaran.
Sayangnya…
dia terlalu rakus.
Dan keserakahan selalu meninggalkan jejak.
Pagi hari pernikahan mereka tiba.
Mansion keluarga Wijaya dipenuhi bunga putih mahal dan tamu kelas atas Jakarta.
Media bisnis datang.
Para investor hadir.
Semua orang ingin melihat “keluarga sempurna” yang selama ini dipamerkan Mateo.
Clarissa berjalan anggun mengenakan gaun mewah dengan perut besarnya.
Madam Teresa tersenyum bangga pada semua tamu.
Hari itu…
mereka merasa menang.
Sampai sebuah kotak hadiah dikirim ke ruang utama.
“Atas nama siapa?” tanya salah satu pelayan.
Pengirimnya hanya tertulis:
“Dari seseorang yang mengucapkan selamat atas keluarga baru kalian.”
Clarissa sempat tersenyum senang.
Ia membuka kotak itu di depan semua orang.
Dan wajahnya langsung pucat.
Di dalamnya terdapat:
empat amplop merah.
Dan satu flashdisk.
Mateo mengernyit.
“Apa ini?”
Lalu video mulai diputar di layar besar ballroom.
Wajah Clarissa langsung muncul.
Bukan sendirian.
Melainkan bergantian bersama beberapa pria berbeda di hotel yang berbeda.
Suasana langsung sunyi total.
Para tamu membeku.
Madam Teresa berdiri dengan tubuh gemetar.
“MATIKAN ITU!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Slide berikutnya muncul.
HASIL TES DNA JANIN
Janin 1 — 99.99% cocok dengan Mateo Wijaya.
Janin 2 — tidak cocok.
Janin 3 — tidak cocok.
Janin 4 — tidak cocok.
Ruangan langsung meledak.
“Apa-apaan ini?!”
“Ya Tuhan…”
“Clarissa selingkuh?!”
Clarissa menjerit panik.
“Itu bohong! Semuanya bohong!”
Namun investigator yang saya bayar sangat profesional.
Setiap data lengkap.
Setiap tanggal valid.
Bahkan hotel dan CCTV tercantum jelas.
Mateo menatap Clarissa seperti baru melihat monster.
“Kamu bilang semua anak itu milikku…”
Clarissa langsung menangis histeris.
“Aku cinta sama kamu!”
PLAK!
Tamparan Mateo membuat seluruh ballroom terdiam.
Madam Teresa hampir pingsan.
Karena demi mempertahankan “keturunan keluarga,” ia telah membayar Rp170 miliar…
untuk menyingkirkan menantu yang sebenarnya sedang mengandung empat cucu kandungnya.
Di apartemen saya di Singapura…
saya menonton kekacauan itu lewat livestream media sosial.
Komentar netizen bergerak liar.
“Ini lebih gila dari drama!”
“Kasihan mantan istrinya!”
“Keluarga Wijaya tamat!”
Lalu tiba-tiba—
empat suara kecil terdengar di kepala saya lagi.
[Wahhhh… Daddy ngamuk.]
[Secara statistik, kemungkinan tekanan darah nenek naik drastis sekarang mencapai 97%.]
[Mommy jahat tapi keren.]
Dan suara si bungsu tertawa puas.
[Mantap. Balas dendam level dewa.]
Saya tidak bisa menahan tawa untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Air mata bahkan keluar karena terlalu lama tertahan.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena lega.
Beberapa hari kemudian…
Mateo akhirnya menemukan alamat apartemen saya.
Ia datang dengan wajah berantakan.
Jauh berbeda dari pria sempurna di TV dulu.
Saat saya membuka pintu…
matanya langsung jatuh ke perut saya yang mulai membesar.
Tubuhnya membeku.
“Bianca…”
Suaranya bergetar.
“Kamu… hamil?”
Saya tersenyum kecil.
“Ya.”
Ia menatap perut saya lama sekali.
Lalu bibirnya mulai gemetar.
“Anak… siapa?”
Saya hampir tertawa.
Namun sebelum saya sempat bicara—
empat suara kecil ribut di kepala saya.
[Woi. Dia nanya serius?]
[Secara biologis jelas anak dia.]
[Aduh Daddy lemot banget.]
[Pukul aja nggak sih, Mommy?]
Saya menahan senyum.
Lalu perlahan mengeluarkan hasil USG.
“Kembar empat.”
Wajah Mateo langsung hancur total.
Karena akhirnya…
dia sadar.
Wanita yang benar-benar membawa keturunannya—
adalah wanita yang dulu dia buang dengan uang.
Air mata mulai jatuh dari matanya.
“Bianca… aku salah…”
Saya memandangnya tenang.
Dulu, saya mungkin akan menangis melihat pria ini menyesal.
Namun sekarang…
hati saya sudah terlalu jauh untuk kembali.
“Salah?”
Saya tersenyum lembut.
“Tidak, Mateo.”
“Kamu cuma kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaimu.”
Lalu saya menutup pintu perlahan di depan wajahnya.
Dan di balik pintu itu…
empat suara kecil langsung bersorak heboh.
[MENANG TELAK!]
Saya tertawa sambil memegang perut saya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup…
saya merasa benar-benar bebas.
TAMAT.