SEKRETARIS TUNANGANKU MENGIRIMKAN FOTO “PERNIKAHAN” MEREKA UNTUK MENGEJEKKU…

Dan aku membalasnya dengan menjadikan foto itu sebagai poster yang tersebar di seluruh pusat perbelanjaan milik keluarga mereka.

Pesan itu masuk ketika aku masih sibuk memeriksa laporan penjualan akhir bulan.

Pengirimnya adalah seorang wanita bernama Bella.

Dia baru dipromosikan menjadi manajer sekitar tiga bulan yang lalu.

Dan dia juga wanita yang selalu terlihat bersama tunanganku.

Sudah banyak gosip yang kudengar tentang hubungan mereka.

Namun selama ini aku memilih mengabaikannya.

Sampai malam itu.

Bella mengirimkan sebuah foto.

Di dalam foto itu, dia mengenakan gaun pengantin putih yang sangat indah.

Di sampingnya berdiri Arga.

Pria yang telah menjadi kekasihku selama lima tahun dan kini menjadi tunanganku.

Mereka bergandengan tangan di depan sebuah gereja tua di Bali.

Lengan Arga melingkar di pinggang Bella.

Sedangkan Bella bersandar manja di bahunya.

Mereka tampak seperti pasangan pengantin yang baru saja menikah.

Di bawah foto itu tertulis:

“Terima kasih karena sudah merawatnya selama bertahun-tahun.”

“Tapi akulah wanita yang ingin dia nikahi.”

“Semoga kamu tidak menyalahkanku.”

Aku membaca pesan itu.

Aku tidak marah.

Aku juga tidak menangis.

Dengan tenang aku memperbesar foto tersebut.

Memperhatikannya dengan saksama.

Lalu aku tersenyum.

Senyum yang bahkan membuat diriku sendiri merinding.

Aku berdiri.

Memakai mantelku.

Dan keluar dari kantor.

Lima belas menit kemudian.

Aku tiba di toko percetakan dan periklanan terbesar di Jakarta.

Pemiliknya langsung mengenaliku.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu Sofia?”

Aku menunjukkan foto di ponselku.

“Tolong buatkan poster yang paling bagus.”

Dia terkejut.

“Mau dipasang di mana?”

Aku tersenyum.

“Di semua tempat.”

Satu jam kemudian.

Tiga puluh poster berukuran besar selesai dicetak.

Di bagian bawahnya tertulis dengan huruf besar:

“PASANGAN PALING BAHAGIA TAHUN INI?”

Dan tepat di bawah tulisan itu terdapat foto mesra Bella dan Arga.

Aku segera menyewa tim pemasangan iklan.

Dan mengirim semua poster itu ke pusat perbelanjaan milik keluarga Arga.

Besoknya, di sana akan diadakan peluncuran proyek terbesar perusahaan mereka.

Lebih dari seribu tamu diperkirakan hadir.

Puluhan wartawan.

Dan banyak investor besar.

Malam itu.

Satu per satu poster dipasang.

Mulai dari area parkir.

Pintu utama.

Eskalator.

Bahkan sampai ke aula pameran.

Keesokan paginya.

Aku tidur dengan sangat nyenyak.

Aku baru bangun hampir pukul sembilan.

Saat membuka ponsel.

Lebih dari tiga ratus panggilan tak terjawab langsung menyambutku.

Dari Arga.

Bella.

Ibunya.

Bahkan direktur komunikasi perusahaan mereka.

Telepon kembali berdering.

Arga.

Aku mengangkatnya.

Dan langsung mendengar teriakannya yang penuh amarah.

“Kamu sudah gila, ya?!”

Aku bertanya dengan tenang.

“Kenapa?”

“Jangan pura-pura!”

“Seluruh mal penuh dengan foto aku dan Bella!”

“Semua orang sedang membicarakan kami!”

Aku tersenyum.

“Bukankah itu bagus?”

Dia terdiam.

Lalu aku mendengar napasnya yang berat.

“Datang ke sini sekarang juga!”

“Untuk apa?”

“Karena kamu tunanganku!”

“Benarkah?”

Aku menjawab pelan.

“Kalau begitu, siapa wanita yang memakai gaun pengantin di foto itu?”

Dia langsung terdiam.

Dan aku pun menutup telepon.

Sepuluh menit kemudian.

Seorang teman dari divisi media mengirimkan siaran langsung acara tersebut kepadaku.

Seluruh lokasi sudah kacau.

Para tamu menunjuk setiap poster.

Para wartawan berebut mengambil gambar.

Wajah Bella pucat pasi.

Sedangkan Arga mati-matian menyuruh orang menurunkan semua poster itu.

Namun semakin banyak poster yang mereka lepaskan.

Semakin banyak orang yang memotretnya.

Video-video itu dengan cepat menyebar di media sosial.

Dalam waktu kurang dari dua jam.

Seluruh Jakarta membicarakan Arga dan Bella.

Tetapi ketika semua orang mengira kekacauan itu sudah berakhir…

Sebuah akun misterius mengunggah video lain.

Video itu berasal dari rekaman CCTV tiga bulan sebelumnya.

Dan di dalam rekaman tersebut…

Pria pertama yang menggenggam tangan Bella ternyata bukan Arga.

Melainkan ayah Arga.

Surya Wijaya.

Ketua perusahaan yang sangat berkuasa.

Internet langsung meledak.

Aku terpaku.

Karena beberapa detik setelah itu.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Hanya satu kalimat.

“Apakah kamu ingin tahu siapa sebenarnya dalang di balik semua ini?”

“Resor pantai. Pukul tujuh malam. Datang sendirian.”

Bersama pesan itu…

Ada foto cincin pertunanganku.

Cincin yang telah hilang selama tiga bulan.

Aku menatap layar itu lama.

Dan untuk pertama kalinya.

Jantungku berdegup sangat kencang.

Karena aku tahu…

Kebenaran yang akan kutemukan malam ini…

Mungkin jauh lebih mengerikan daripada pengkhianatan Arga.

Bagian selanjutnya dari kisah ini ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca kelanjutan cerita secara lengkap…

Semoga harimu menyenangkan! 👇

Malam itu.

Pukul tujuh tepat.

Aku tiba di sebuah resor mewah di pinggir pantai Bali.

Aku datang sendirian.

Sesuai instruksi dalam pesan misterius itu.

Seorang pelayan membawaku menuju sebuah vila pribadi.

Namun saat pintu terbuka…

Aku membeku.

Pria yang duduk di sana ternyata adalah Daniel.

Kakak tiri Arga.

Pria yang sudah lima tahun tinggal di luar negeri dan hampir tidak pernah muncul di hadapan keluarga Wijaya.

Di atas meja terdapat cincin pertunanganku yang hilang.

“Daniel?”

Aku menatapnya dengan bingung.

Dia tersenyum pelan.

“Sudah lama tidak bertemu, Sofia.”

“Aku rasa sudah waktunya kamu mengetahui semuanya.”

Kemudian dia menyerahkan sebuah map tebal.

Isi di dalamnya membuat tubuhku gemetar.

Selama ini…

Bella bukanlah kekasih Arga.

Dan video CCTV yang tersebar di internet juga bukan kebetulan.

Karena…

Bella adalah wanita simpanan Surya Wijaya.

Ayah Arga sendiri.

Sedangkan Arga…

Hanya dijadikan tameng agar hubungan terlarang itu tidak terbongkar.

Aku tidak percaya.

Namun Daniel mengeluarkan lebih banyak bukti.

Rekening bank.

Foto-foto.

Rekaman suara.

Bahkan kontrak rahasia.

Dan yang paling mengejutkan…

Orang yang mencuri cincin pertunanganku tiga bulan lalu adalah Bella.

Atas perintah Surya Wijaya.

Mereka ingin memaksaku membatalkan pertunangan dengan Arga.

Karena keluarga Wijaya telah menyiapkan pernikahan politik bagi Arga dengan putri seorang konglomerat besar.

Sedangkan aku…

Hanya dianggap penghalang.

Air mata perlahan jatuh.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena aku menyadari bahwa selama lima tahun…

Aku hanyalah bidak dalam permainan mereka.

Daniel menatapku dengan tenang.

“Aku menghubungimu karena ibuku pernah menerima kebaikan dari ibumu.”

“Aku tidak bisa membiarkan mereka menghancurkanmu.”

“Aku sudah mengumpulkan bukti selama bertahun-tahun.”

“Dan sekarang…”

“Giliran mereka membayar semuanya.”

Keesokan paginya.

Seluruh Indonesia diguncang oleh berita besar.

Media membongkar skandal keluarga Wijaya.

Harga saham perusahaan mereka jatuh bebas.

Para investor menarik dana.

Surya Wijaya dipaksa mundur dari jabatannya sebagai ketua perusahaan.

Bella menghilang tanpa jejak.

Sedangkan Arga…

Baru mengetahui bahwa wanita yang selama ini dia lindungi ternyata adalah kekasih ayahnya sendiri.

Dia mengalami kehancuran total.

Tiga hari kemudian.

Arga datang mencariku.

Di bawah hujan deras.

Dia berlutut.

Menangis.

“Sofia…”

“Aku salah…”

“Tolong beri aku kesempatan lagi…”

Namun aku hanya tersenyum.

Dan meletakkan sebuah undangan di tangannya.

Dia membukanya.

Dan wajahnya langsung pucat.

Karena di sana tertulis:

Sofia Pratama
Sebagai Pendiri dan Direktur Utama
Pratama Group International

Saat itulah Arga baru mengetahui kebenaran yang selama ini tidak pernah kukatakan.

Bahwa aku bukan wanita biasa.

Aku adalah pewaris tunggal salah satu konglomerat terbesar di Indonesia.

Dan perusahaan keluargaku…

Baru saja mengakuisisi seluruh saham perusahaan keluarga Wijaya yang bangkrut.

Dengan kata lain…

Mulai hari itu.

Arga bekerja untukku.

Air matanya jatuh semakin deras.

Namun semuanya sudah terlambat.

Aku memandang pria yang pernah kucintai selama lima tahun itu.

Lalu berkata dengan tenang:

“Arga…”

“Terima kasih karena telah mengkhianatiku.”

“Karena tanpa pengkhianatanmu…”

“Aku tidak akan pernah tahu betapa berharganya diriku.”

Aku berbalik.

Dan berjalan menuju mobilku.

Di kejauhan.

Daniel berdiri sambil tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Aku tidak lagi membawa luka.

Aku membawa kebebasan.

Dan sebuah kehidupan baru yang jauh lebih indah menantiku.

Karena pada akhirnya…

Pengkhianatan mereka tidak menghancurkanku.

Melainkan mengantarkanku menjadi wanita yang lebih kuat…

Dan lebih bahagia daripada sebelumnya.

TAMAT.