SEMINGGU SEBELUM PERNIKAHAN, AKU MENEMUKAN BAHWA TUNANGANKU DIAM-DIAM MEMBAYAR BIAYA RUMAH SAKIT SEORANG WANITA YANG TIDAK KUKENAL… DAN SAAT MELIHAT NAMA BELAKANGNYA, SELURUH TUBUHKU MEMBEKU

Awalnya, aku mengira itu hanya kesalahan administrasi rumah sakit.

Aku tidak pernah menyangka bahwa di dalam mobil kami sendiri, saat sedang memilih suvenir pernikahan di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, hubungan kami yang telah berjalan empat tahun akan mulai runtuh.

Malam itu hujan turun deras.

Aku dan tunanganku, Arga Pratama, baru saja pulang dari sebuah pameran pernikahan di Jakarta Convention Center.

Karena kelelahan, aku meninggalkan tas tote-ku di bagasi mobil. Saat mengambilnya, sebuah amplop cokelat jatuh dari laci dashboard.

Seharusnya aku tidak membukanya.

Tetapi nama Arga tertulis jelas di bagian depan.

Dan di bawahnya terdapat logo sebuah rumah sakit swasta ternama di Jakarta.

Entah kenapa aku tetap membukanya.

Mungkin karena saat seseorang akan menikah, ia menjadi sangat sensitif terhadap segala hal.

Kita merasa berhak mengetahui seluruh kebenaran tentang orang yang akan kita nikahi.

Hanya ada tiga lembar kertas di dalamnya.

Sebuah kuitansi.

Sebuah ringkasan medis.

Dan sebuah surat kuasa pembayaran.

Awalnya aku tidak mengerti.

Namun ketika melihat jumlah tagihannya, rasanya seperti disiram air es.

Rp920.000.000.

Hampir satu miliar rupiah.

Pembayaran rutin selama tiga bulan berturut-turut.

Dan nama pasiennya—

Camila Rahardjo.

Tanganku langsung menegang.

Karena aku mengenal nama itu.

Camila.

Mantan kekasih Arga.

Wanita yang selalu ia katakan sudah lama keluar dari hidupnya.

Aku menarik napas perlahan.

Di luar mobil, Arga sedang membeli kopi dari kios kecil di area parkir.

Lengan kemeja putihnya tergulung sampai siku.

Ia tersenyum ramah kepada penjual.

Ia terlihat baik.

Ia terlihat normal.

Ia terlihat seperti pria yang tidak mungkin mengkhianati siapa pun.

Dan justru itulah yang paling menakutkan.

Aku diam-diam mengembalikan amplop itu ke tempat semula sebelum kembali duduk di kursi penumpang.

Saat masuk ke mobil, ia langsung menyerahkan secangkir kopi favoritku.

“Ini buat kamu.”

Aku tersenyum tipis.

“Makasih.”

Ia tidak menyadari bahwa tanganku sudah mulai gemetar.

Dalam perjalanan pulang ke apartemen kami di kawasan Sudirman, aku hampir tidak berbicara sama sekali.

Justru dia yang membuka percakapan.

“Kamu capek?”

“Sedikit.”

“Setelah menikah nanti, kita liburan ke Bali. Aku nggak suka lihat kamu stres.”

Aku hanya mengangguk.

Sambil menatap lampu-lampu kota di luar jendela, hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.

Kenapa dia membayar biaya rumah sakit mantan pacarnya?

Dan kenapa dia menyembunyikannya dariku?

Malam itu, ketika Arga sedang mandi, aku mengambil tabletnya.

Aku tidak bangga atas apa yang kulakukan.

Tetapi terkadang, ketika intuisi seorang wanita mulai berbicara, ia tidak akan berhenti sampai menemukan kebenaran dengan matanya sendiri.

Aku mencoba satu kata sandi.

Tanggal lahirku.

Dan tablet itu langsung terbuka.

Entah kenapa, itu bahkan lebih menyakitkan daripada apa yang akan kutemukan setelahnya.

Aku langsung membuka emailnya.

Saat mengetik nama “Camila” di kolom pencarian, napasku hampir berhenti.

Lebih dari lima puluh email muncul.

Kuitansi pembayaran.

Permintaan pemeriksaan laboratorium.

Bukti transfer bank.

Dan pesan-pesan yang kubaca berulang kali karena otakku menolak mempercayainya.

“Aku nggak akan sanggup melewati ini tanpa kamu.”

“Maaf karena selalu merepotkanmu.”

“Terima kasih karena meskipun kamu akan menikah, kamu tetap tidak meninggalkanku.”

Jari-jariku mulai bergetar.

Namun pesan berikutnya benar-benar menghancurkanku.

“Jangan bilang ke Alya. Dia tidak akan mengerti.”

Alya.

Itu aku.

Aku adalah wanita yang “tidak akan mengerti.”

Saat itu Arga keluar dari kamar mandi.

Aku masih memegang tabletnya.

Ia langsung membeku.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami saling mengenal, wajahnya kehilangan warna.

“Alya…”

Aku hanya menatapnya.

“Sudah berapa lama?”

Ia tidak langsung menjawab.

Dan keheningannya sudah cukup memberiku jawaban.

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” katanya pelan.

Aku tertawa kecil.

Lucu sekali.

Semua pria yang tertangkap basah selalu mengatakan kalimat yang sama.

“Dia sakit,” katanya cepat.

“Dia tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Kalau begitu, kenapa kamu harus berbohong?”

“Aku tidak ingin menyakitimu.”

“Benarkah?”

Aku berdiri.

“Karena yang kamu lakukan sekarang jauh lebih menyakitkan.”

Ia mencoba memegang lenganku.

Aku langsung menarik diri.

“Aku dan Camila sudah lama berakhir.”

“Tapi kamu juga tidak sanggup meninggalkannya.”

Ia terdiam.

Dan kadang-kadang, diam sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

Malam itu aku tidak menangis.

Ternyata jauh lebih menakutkan ketika seseorang sudah tidak memiliki air mata lagi.

Aku hanya berbaring di samping pria yang selama ini kukira akan menemaniku seumur hidup.

Sambil menatap langit-langit kamar, satu per satu kenangan yang dulu kuabaikan mulai kembali.

Malam-malam ketika ia tiba-tiba pergi karena alasan “rapat darurat”.

Panggilan telepon yang selalu ia tolak di depanku.

Sepasang sepatu bayi yang pernah kulihat di keranjang belanjanya dan ia bilang itu hadiah untuk anak temannya.

Dan yang paling menyakitkan—

Tatapan sedih di matanya setiap kali seseorang bertanya kapan kami akan punya anak.

Sekitar pukul dua dini hari, ponselnya bergetar.

Perlahan ia bangun dan keluar ke balkon untuk menjawab telepon.

Namun pintu kaca balkon tidak tertutup rapat.

Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas.

“Tenang saja… besok aku datang.”

Hening sesaat.

Lalu dengan suara lebih pelan, ia berkata:

“Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkan kalian berdua.”

Kalian berdua.

Tubuhku langsung terasa dingin.

Aku seperti kehilangan udara.

Perlahan aku bangkit dari tempat tidur.

Saat Arga masih membelakangiku di balkon, aku kembali membuka tabletnya.

Kali ini aku masuk ke folder foto tersembunyi.

Dan di sanalah aku menemukannya.

Sebuah foto USG.

Dengan tanggal dua bulan yang lalu.

Di bawahnya ada sebuah caption singkat.

“Daddy will protect you.”

Lututku langsung lemas.

Karena pada saat itulah aku akhirnya benar-benar mengerti.

Bukan mantan kekasih yang sedang dia bantu.

Itu adalah keluarganya.

Dan seminggu sebelum hari pernikahan kami…

ternyata akulah orang ketiga dalam hubunganku sendiri.

Baca kelanjutan kisah ini di bagian komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat cerita lengkapnya… 👇

Aku tidak menangis malam itu.

Sebaliknya, aku tersenyum.

Bukan karena aku bahagia.

Melainkan karena akhirnya aku mengetahui kebenaran sebelum semuanya terlambat.

Tujuh hari sebelum pernikahan.

Tujuh hari sebelum aku mengikat hidupku dengan seorang pria yang ternyata telah memiliki keluarga lain.

Keesokan paginya, Arga bangun dan mendapati aku sedang memasak sarapan seperti biasa.

Aku tersenyum kepadanya.

Aku menyiapkan kopi favoritnya.

Aku bahkan membantunya memilih dasi sebelum berangkat kerja.

Ia tampak lega.

Mungkin ia mengira aku telah mempercayai semua kebohongannya.

Padahal sejak malam sebelumnya, aku sudah mengambil keputusan.

Aku tidak akan membatalkan pernikahan.

Belum.

Aku ingin semua orang melihat siapa dirinya yang sebenarnya.

Termasuk keluarganya.

Termasuk rekan-rekan bisnisnya.

Dan terutama…

Camila.

Selama seminggu berikutnya, aku berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Aku menghadiri sesi foto prewedding.

Aku mencicipi menu resepsi.

Aku bahkan ikut memilih dekorasi ballroom hotel.

Sementara itu, diam-diam aku mengumpulkan semuanya.

Bukti transfer.

Foto USG.

Email.

Percakapan.

Rekaman telepon.

Sampai tidak ada lagi ruang bagi siapa pun untuk berbohong.

Hari pernikahan akhirnya tiba.

Grand ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta dipenuhi ratusan tamu.

Keluarga.

Teman.

Mitra bisnis.

Semua hadir untuk menyaksikan kisah cinta yang mereka kira sempurna.

Arga berdiri di atas panggung dengan setelan jas hitam.

Tampan.

Percaya diri.

Dan sama sekali tidak menyadari bahwa hidupnya akan berubah dalam beberapa menit.

Saat musik pernikahan mulai dimainkan, aku berjalan menuju panggung.

Semua orang berdiri.

Semua mata tertuju kepadaku.

Arga tersenyum.

Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.

Sampai aku berhenti tepat di depannya.

Lalu mengambil mikrofon.

“Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan sebelum pernikahan ini dimulai.”

Ruangan mendadak hening.

Arga terlihat bingung.

“Alya?”

Aku tidak menjawab.

Sebaliknya, aku memberi isyarat kepada operator layar LED.

Layar raksasa di belakang panggung langsung menyala.

Foto pertama muncul.

USG bayi.

Kemudian bukti transfer rumah sakit.

Lalu email-email mereka.

Dan terakhir…

Foto Arga sedang memegang perut Camila sambil tersenyum.

Di bawah foto itu tertulis:

“Daddy will protect you.”

Seluruh ballroom membeku.

Tak seorang pun berbicara.

Tak seorang pun bernapas.

Wajah Arga langsung pucat.

“Alya, tunggu—”

“Jangan.”

Suara itu keluar dari mulutku dengan tenang.

Sangat tenang.

“Selama empat tahun aku mencintaimu.”

“Selama empat tahun aku percaya padamu.”

“Dan ternyata selama itu juga aku hanya menjadi cadangan ketika kamu tidak bisa bersama keluarga aslimu.”

Air mata mulai mengalir dari wajah ibunya.

Ayahnya menunduk.

Beberapa tamu mulai berbisik.

Sedangkan Arga…

Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.

“Aku bisa menjelaskan.”

Aku tersenyum.

“Tidak perlu.”

Lalu aku menatap ke arah pintu ballroom.

Dan tepat saat itu, pintu terbuka.

Camila masuk.

Dengan perut yang sudah terlihat jelas.

Semua orang langsung mengenalinya.

Wajahnya pucat ketika melihat ratusan pasang mata menatap ke arahnya.

Aku berjalan mendekatinya.

Kemudian menyerahkan buket pengantinku.

“Ini milikmu.”

Tangannya gemetar.

“Alya… aku…”

“Jangan khawatir.”

Aku tersenyum.

“Ternyata sejak awal memang kamu yang menjadi pengantin wanita hari ini.”

Tangis Camila pecah.

Namun aku tidak lagi merasakan marah.

Tidak juga benci.

Karena pada saat itu aku sadar…

Aku tidak kehilangan seorang pria yang baik.

Aku hanya berhasil menghindari kesalahan terbesar dalam hidupku.

Aku melepas cincin tunanganku.

Lalu meletakkannya di tangan Arga.

“Terima kasih.”

“Karena menunjukkan siapa dirimu sebelum aku menjadi istrimu.”

Setelah itu aku berbalik.

Dan berjalan keluar dari ballroom.

Di belakangku terdengar suara orang-orang mulai meninggalkan acara.

Terdengar juga suara Arga memanggil namaku berulang kali.

Namun aku tidak menoleh.

Tidak sekali pun.

Karena beberapa cinta memang tidak berakhir dengan pernikahan.

Beberapa cinta berakhir dengan sebuah pelajaran.

Dan hari itu…

Aku kehilangan seorang tunangan.

Tetapi aku mendapatkan kembali harga diriku.

Enam bulan kemudian, aku membuka sebuah yayasan kecil untuk membantu pasien yang kesulitan membayar biaya rumah sakit.

Ironisnya, itulah tempat pertama yang membuatku kembali percaya bahwa masih ada orang-orang baik di dunia ini.

Suatu sore, saat sedang membantu seorang ibu dan anaknya mengurus administrasi rumah sakit, aku menerima sebuah pesan singkat.

Nomor yang tidak kukenal.

Isinya hanya satu kalimat.

“Aku menyesal setiap hari.”

Aku tersenyum tipis.

Lalu menghapus pesan itu tanpa membalas.

Karena beberapa pintu memang diciptakan untuk ditutup selamanya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku tidak lagi menunggu seseorang kembali.

Aku sudah menemukan jalan pulangku sendiri.