Seminggu sebelum pernikahan, Cody memintaku meminjamkan gaun pengantinku kepada “Cinta Pertamanya”, Lianne.

Seminggu sebelum pernikahan, Cody memintaku meminjamkan gaun pengantinku kepada “Cinta Pertamanya”, Lianne.

“Ini pertama kalinya Lianne berjalan di red carpet sejak kembali ke Indonesia. Dia harus terlihat sempurna. Setelah acara selesai, gaunnya langsung dikembalikan. Jangan pelit begitu.”

Hatiku langsung membeku.

Tujuh tahun bersama, tapi pada akhirnya tetap saja tidak bisa menandingi karier cinta pertamanya yang baru kembali.

Jadi aku belajar untuk murah hati.

Gaun pengantin?
Aku tidak membutuhkannya lagi.

Pria ini?
Aku juga tidak membutuhkannya lagi.


01

Seminggu sebelum pernikahan, Cody ingin meminjamkan gaun pengantinku pada Lianne.

“Acara ini penting sekali untuk karier Lianne. Ini penampilan publik pertamanya sejak pulang ke Indonesia. Pinjamkan saja gaunmu.”

Nada bicaranya santai, seolah itu hanya hal kecil yang tak layak diperdebatkan.

Aku mengepalkan tangan, menahan diri.

“Cody, minggu depan kita menikah. Kamu tahu seberapa penting gaun itu untukku.”

Ia mengerutkan kening, mulai kehilangan kesabaran.

“Setelah acara besok malam, langsung dikembalikan. Tidak akan memengaruhi pernikahan kita. Jangan egois.”

Tepat setelah ia selesai bicara, ponselnya menyala. Nama “Lianne” muncul di layar.

Tanpa rasa bersalah, Cody mengangkat telepon dan membelakangiku.

“Pikirkan baik-baik. Aku tidak mau memaksamu.”

Begitu ia menjauh, suaranya yang tadi dingin berubah lembut.

“Iya, jangan khawatir. Kapan aku pernah tidak menepati janji padamu? Gaunnya pasti tepat waktu untuk acaramu…”

Suaranya makin samar, dan hatiku makin dingin.

Dulu Cody mencintaiku. Ia selalu mengutamakanku.

Sampai Lianne kembali.

Karena gaun Lianne terkena noda untuk gala bridal bertema internasional, Cody tanpa ragu meminta gaunku. Keberpihakannya yang terang-terangan sudah cukup menjadi jawaban.

Aku lelah. Tujuh tahun… berakhir seperti ini.

Saat Cody kembali, aku sudah menghapus air mata.

“Sudah pikirkan?” tanyanya.

“Sudah.” Aku tersenyum tipis. “Dia hanya meminjam gaun, bukan calon suamiku. Aku tidak sepelit itu.”

Cody sempat tertegun, tapi lalu menghela napas lega.


02

Enam hari sebelum pernikahan.

Lianne datang mengambil gaun, ditemani Cody.

Senyumnya manis, tapi ucapannya penuh kepalsuan.

“Maaf ya, Trina. Gaunku kotor, tidak sempat cari pengganti. Sebenarnya aku tidak mau datang, tapi kata Cody ini penting untuk karierku. Terima kasih sudah pengertian.”

Belum sempat aku menjawab, Cody menyela.

“Asal kamu bersinar di red carpet, itu sudah cukup.”

Aku melepaskan diri dari rangkulannya.

“Ambil saja gaunnya. Aku lelah.”

Setelah mereka pergi, aku masih mendengar Lianne bertanya manja:

“Cody, Trina marah ya?”

Dan jawabannya:

“Dia memang begitu. Agak menyebalkan kadang. Jangan dipikirkan.”

Hatiku seperti ditusuk.


03

Rumahku penuh barangnya.

Dalam satu sore, aku membereskan semuanya.

Foto-foto kami, bantal pasangan, magnet perjalanan—semua masuk kardus.

Perhiasan mahal pemberiannya? Akan kulelang dan hasilnya kusumbangkan ke panti asuhan.

Tujuh tahun cintaku, selesai dalam satu sore.

Malam itu, berita trending muncul:

“Lianne, artis Indonesia pertama yang mengenakan luxury bridal gown di event internasional.”

Gaunku membuatnya bersinar.

Tapi yang lebih viral adalah kemunculan Kenji—aktor papan atas sekaligus putra miliarder terkenal—yang mengenakan setelan pasangan gaun itu.

Setelan itu… adalah jas yang seharusnya dipakai Cody di pernikahan kami.

Aku memberikannya pada Kenji, sahabatku.

Saat diwawancarai apakah ia dan Lianne berkolaborasi, Kenji menjawab dingin:

“Siapa dia? Saya tidak mengenalnya.”

Tak lama kemudian, Cody menelepon, marah besar.

“Kenapa kamu berikan jas itu ke orang lain? Sudah dipakai pria lain, bagaimana aku memakainya di pernikahan kita?!”

Aku tersenyum pahit.

“Dia hanya meminjam. Setelah acara, dikembalikan. Tidak mengganggu pernikahanmu, kan? Jangan pelit.”

Kata-katanya sendiri, kubalikkan padanya.

Dari telepon, terdengar Lianne menangis.

“Cody, orang-orang bilang aku cari sensasi…”

Jadi mereka bersama sekarang.

“Kalau tidak mau pinjamkan gaun, bilang dari awal! Tidak perlu membalas Lianne begini! Datang sekarang dan minta maaf!”

Tubuhku dingin.

“Cody, menurutmu cuma kamu satu-satunya pria di dunia yang bisa menikah?”

Ia terdiam.

Aku menatap lampu kota Jakarta.

“Cody, kita putus.”

Di ujung telepon, Cody terdiam cukup lama.

Lalu ia tertawa kecil, seperti mengira aku sedang bercanda.

“Trina, jangan kekanak-kanakan. Pernikahan tinggal beberapa hari lagi.”

“Aku sudah membatalkan ballroom,” jawabku tenang.
“Deposit Rp 500 juta hangus. Anggap saja itu harga kebodohanku selama tujuh tahun.”

Hening.

“Kamu gila?!”

“Aku juga sudah membatalkan katering, dekorasi, dan gaun pengantin itu…” Aku berhenti sejenak. “Oh ya, gaunnya tidak perlu dikembalikan. Aku sudah menjualnya.”

“Apa?!” Suaranya pecah.

“Gaun itu dilelang setelah dipakai di red carpet. Harga akhirnya Rp 3,2 miliar. Lumayan.”

Itu memang gaun edisi terbatas rancangan desainer Eropa. Nilainya justru melonjak setelah viral.

“Uangnya ke mana?!” bentaknya.

“Ke rekening yayasan anak yatim. Atas nama… Trina Neri.”

Cody terdiam. Lalu suaranya berubah, lebih panik.

“Trina, kamu cuma marah. Jangan berlebihan. Aku bisa jelaskan soal Lianne—”

“Tidak perlu. Justru aku harus berterima kasih padanya.”

“Berterima kasih?”

“Karena kalau bukan karena dia, aku tidak akan sadar satu hal.”

“Apa?”

“Aku bukan kehilangan calon suami.”

“Aku sedang menyingkirkan beban.”

Telepon langsung kututup.


Keesokan paginya, berita baru meledak.

“Gaun Bridal Viral Terjual Rp 3,2 Miliar untuk Amal.”

Netizen memuji tindakan itu. Namaku mulai dikenal bukan sebagai calon istri Cody, tapi sebagai perempuan yang elegan dan berkelas.

Sementara itu, rumor lain beredar.

Ternyata event yang dihadiri Lianne adalah proyek yang didanai oleh perusahaan keluarga Kenji.

Dan investor terbesar perusahaan itu… adalah ayahku.

Ya.

Selama tujuh tahun, Cody tidak pernah benar-benar tahu siapa aku.

Ia hanya tahu aku bekerja sebagai konsultan kreatif dengan penghasilan “cukup”.

Ia tidak pernah tahu bahwa perusahaan tempat ia bekerja sedang bernegosiasi merger dengan grup investasi milik keluargaku.

Negosiasi yang… dihentikan pagi itu.


Dua hari kemudian, Cody berdiri di depan apartemenku.

Matanya merah, wajahnya pucat.

“Perusahaanku membatalkan kontrak dengan grup investasi itu… Kenapa mereka tiba-tiba menarik dana?”

Aku menatapnya datar.

“Karena mereka tidak mau berbisnis dengan pria yang tidak bisa membedakan prioritas antara tunangan dan mantan.”

Wajahnya memucat.

“Kamu… ada hubungannya dengan ini?”

Aku tersenyum tipis.

“Cody, kamu sendiri yang bilang. Ini hanya soal gaun. Hal kecil.”

Ia akhirnya mengerti.

Tujuh tahun bersamaku, tapi ia tidak pernah benar-benar mengenalku.

Ia memilih mengejar kilau red carpet.

Dan kehilangan seluruh panggung hidupnya.


Seminggu kemudian, tanggal yang seharusnya menjadi hari pernikahanku—

Aku berdiri di bandara.

Kenji menyerahkan secangkir kopi padaku.

“Tidak menyesal?”

Aku tersenyum.

“Menikah dengan orang yang salah itu menakutkan. Membatalkannya? Itu kebebasan.”

Di layar ponsel, berita lain muncul:

“Lianne Dihapus dari Kontrak Brand karena Kontroversi.”

“Perusahaan Cody Alami Kerugian Besar Setelah Investor Mundur.”

Aku mematikan layar.

Beberapa orang kehilangan karier demi red carpet.

Aku kehilangan seorang pria.

Tapi aku mendapatkan kembali harga diriku.

Dan kali ini—

Tidak ada yang perlu kupinjamkan lagi.

Termasuk hatiku.