Senyuman yang membuat semua orang di ruangan itu membeku.

Aku tersenyum.

Senyuman yang membuat semua orang di ruangan itu membeku.

“Kau pikir aku tidak tahu apa-apa?”

Aku mengeluarkan sebuah map dari dalam tas. Bukan kontrak. Bukan bukti perselingkuhan.

Melainkan surat pengalihan saham.

Penerima: Aku.

Seluruh aset, seluruh uang, bahkan rumah mewah ini… sudah resmi atas namaku sejak tiga bulan lalu.

Wajahnya langsung pucat.

“Bagaimana mungkin…?”

Aku memiringkan kepala, suaraku lembut namun dingin.

“Karena sejak awal… aku yang memasang jebakan ini.”

Ternyata, pernikahan ini bukan karena aku membutuhkanmu.

Tapi karena kamulah yang membutuhkan aku.

Perusahaan keluargamu terlilit utang lebih dari 50 miliar rupiah. Satu-satunya pihak yang bisa menyelamatkan mereka adalah grup perusahaanku. Dan satu-satunya syarat yang kuberikan… adalah pernikahan.

Kau pikir kau menikahi wanita polos.

Kau lupa satu hal.

Aku adalah putri dari orang yang dulu mengajarkanmu cara berbisnis.

Dan aku juga orang yang diam-diam membeli seluruh utang keluargamu.

Aku berdiri, merapikan gaunku.

“Sekarang kau punya dua pilihan.”

“Tetap tinggal… sebagai suami dari seorang direktur utama.”

“Atau pergi… sebagai pria tanpa apa-apa.”

Tubuhnya gemetar.

Dan aku melangkah keluar tanpa menoleh.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bukan lagi orang yang ditinggalkan.

Akulah yang mengakhiri permainan.