Hari mulai senja, dan gerimis perlahan turun dari langit.
Dengan tubuh yang sudah membungkuk, Ibu Siti yang berusia 70 tahun berjalan perlahan di jalan tanah yang tidak rata. Sebuah tongkat kayu menopang langkahnya yang gemetar. Di bahunya tergantung tas kain tua yang warnanya sudah memudar, berisi beberapa resep dokter dan uang receh yang bahkan tidak cukup untuk membeli sebungkus roti.
Sudah beberapa hari dapurnya kosong.
Tidak ada beras.
Tidak ada lauk.
Tidak ada siapa pun yang bisa dimintai bantuan.
Akhirnya, dengan sisa harga dirinya, ia memutuskan pergi menemui putranya sendiri, Ardi.
Anak yang ia besarkan seorang diri setelah suaminya meninggal puluhan tahun lalu.
Anak yang dulu rela ia sekolahkan dengan menjual gorengan di pinggir jalan dan bekerja siang malam tanpa mengenal lelah.
Kini Ardi hidup berkecukupan.
Ia memiliki toko bangunan terbesar di kota itu.
Rumah mewah dua lantai.
Mobil SUV baru yang terparkir di halaman.
Dan kehidupan yang jauh berbeda dari ibunya.
Ibu Siti berpikir, sebesar apa pun kesibukan seorang anak, pasti ia tidak akan tega membiarkan ibunya kelaparan.
Sesampainya di depan rumah besar itu, ia menekan bel gerbang.
Beberapa kali.
Sampai akhirnya seorang wanita membuka pintu.
Itu adalah menantunya, Rina.
Tatapannya dingin ketika melihat Ibu Siti dari ujung kepala sampai kaki.
— Ada apa, Bu?
Ibu Siti tersenyum pelan.
— Ibu hanya ingin bertemu Ardi… dan ada sedikit yang ingin Ibu minta.
Tanpa menjawab, Rina berbalik dan memanggil suaminya.
Tak lama kemudian Ardi keluar sambil memegang ponsel.
— Ada apa, Bu? Saya sedang sibuk.
Suara Ibu Siti bergetar.
— Nak… Ibu sudah tidak punya makanan di rumah. Kalau bisa, Ibu ingin meminjam sedikit uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Nanti kalau ada rezeki, Ibu ganti.
Ardi menghela napas panjang.
— Aduh, Bu… sekarang usaha juga lagi susah. Banyak pengeluaran.
Mata Ibu Siti mulai berkaca-kaca.
— Sedikit saja, Nak… Ibu benar-benar tidak punya apa-apa lagi.
Ardi saling berpandangan dengan istrinya.
Lalu ia berkata cepat, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan.
— Ya sudah. Ambil saja satu karung beras ini. Lumayan untuk beberapa hari. Soal uang nanti saja.
Ia mengambil satu karung beras dari bagasi mobilnya dan menyerahkannya kepada sang ibu.
Kemudian membimbingnya keluar menuju gerbang.
— Sudah ya, Bu. Cepat pulang sebelum hujan makin deras.
Gerbang besi besar itu pun tertutup.
Ibu Siti berdiri sendirian di bawah gerimis.
Memeluk karung beras di dadanya.
Menahan air mata yang terus mengalir.
Namun bahkan saat itu pun, ia tidak menyalahkan anaknya.
Dalam hati ia terus berkata:
“Mungkin Ardi memang sedang kesulitan… setidaknya dia masih memberiku beras…”
Perjalanan pulang terasa sangat panjang.
Saat akhirnya tiba di rumah kayunya yang sederhana, ia meletakkan karung beras itu di atas meja.
Perutnya sangat lapar.
Ia berniat mengambil sedikit beras untuk dimasak malam itu.
Namun ketika membuka karung tersebut…
Tangannya tiba-tiba berhenti.
Matanya membelalak.
Karena di antara butiran beras itu…
Terselip sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan…
👇👇 Baca kelanjutannya di kolom komentar.

Dengan tangan gemetar, Ibu Siti merogoh ke dalam karung beras itu.
Di antara butiran-butiran beras putih, ia menemukan sebuah amplop cokelat tebal.
Jantungnya berdegup kencang.
Perlahan ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat uang tunai sebesar Rp50.000.000.
Lima puluh juta rupiah.
Jumlah uang yang bahkan tidak pernah ia pegang sekaligus sepanjang hidupnya.
Namun yang membuatnya semakin terkejut adalah secarik surat kecil yang terselip di bawah uang itu.
Tulisan tangan itu sangat ia kenal.
Tulisan tangan almarhum suaminya.
Air mata langsung mengalir di pipinya.
Dengan suara bergetar, ia membaca surat itu.
“Siti, jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti aku sudah lama pergi.”
“Tolong jangan pernah menyalahkan diri sendiri karena hidup yang sulit.”
“Kamu sudah menjadi ibu terbaik bagi anak kita.”
Tangan Ibu Siti semakin gemetar.
Di bagian bawah surat terdapat penjelasan yang membuatnya terpaku.
Ternyata beberapa bulan sebelum meninggal, suaminya pernah membantu seorang sahabat mendirikan usaha kecil.
Bertahun-tahun kemudian usaha itu berkembang menjadi perusahaan besar.
Sebelum meninggal, sahabat tersebut mencari keluarga almarhum dan menyerahkan bagian keuntungan yang selama ini menjadi hak keluarga mereka.
Namun karena Ibu Siti sulit ditemukan, uang itu dititipkan kepada seseorang.
Dan orang itu adalah Ardi.
Mata Ibu Siti membelalak.
Ardi?
Anaknya?
Lalu mengapa tadi Ardi berkata tidak punya uang?
Mengapa ia terlihat begitu dingin?
Saat itulah ia menemukan lembar kedua.
Kali ini tulisan tangan Ardi.
“Maafkan aku, Bu.”
“Aku sengaja bersikap dingin hari ini.”
“Dokter memberitahuku bahwa penyakit Ibu semakin parah. Aku takut jika aku menunjukkan semuanya sekaligus, Ibu akan terlalu terkejut.”
“Aku sudah membeli rumah kecil dekat rumahku atas nama Ibu.”
“Aku juga sudah menyiapkan biaya pengobatan dan perawat untuk menemani Ibu setiap hari.”
“Besok pagi aku akan datang menjemput Ibu.”
“Tapi sebelum itu, aku ingin Ibu tahu satu hal.”
“Tidak pernah ada satu hari pun aku melupakan semua pengorbanan Ibu.”
“Setiap butir nasi yang pernah Ibu berikan saat aku kecil, tidak akan mampu kubalas meskipun aku menghabiskan seluruh hartaku.”
Tangis Ibu Siti pecah.
Ia memeluk surat itu erat-erat di dadanya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam kesepian, ia merasa dirinya tidak dilupakan.
Namun kejutannya belum berakhir.
Keesokan paginya, suara mobil berhenti di depan rumah kayunya.
Ardi turun dari mobil.
Tapi kali ini ia tidak datang sendiri.
Di belakangnya berdiri puluhan warga kampung.
Tetangga-tetangga lama.
Mantan guru.
Teman masa kecil.
Bahkan kepala desa.
Mereka semua membawa bunga dan makanan.
Ardi menghampiri ibunya lalu berlutut di depan semua orang.
Matanya merah.
Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
“Bu…”
“Maafkan aku karena terlalu lama membuat Ibu menanggung semuanya sendirian.”
Lalu, di depan seluruh kampung, Ardi mencium tangan ibunya dan berkata:
“Hari ini semua orang boleh tahu siapa orang terkaya dalam hidupku.”
“Bukan aku.”
“Bukan pemilik perusahaan mana pun.”
“Tetapi seorang wanita tua yang pernah tidur dalam keadaan lapar agar anaknya bisa makan.”
Seluruh orang yang hadir menangis.
Termasuk Ibu Siti.
Karena pada akhirnya ia menyadari sesuatu yang lebih berharga daripada uang puluhan juta rupiah.
Bahwa harta terbesar seorang ibu bukanlah rumah, bukan tabungan, dan bukan warisan.
Melainkan anak yang akhirnya mengingat siapa yang mengorbankan segalanya demi dirinya.
Dan hari itu, setelah bertahun-tahun merasa sendirian…
Ibu Siti akhirnya pulang ke rumah yang sesungguhnya:
Hati anaknya sendiri.