SEPULUH TAHUN KAMI MENIKAH, TAPI AKU TERKEJUT SAAT MENERIMA SURAT PANGGILAN PENGADILAN.

SEPULUH TAHUN KAMI MENIKAH, TAPI AKU TERKEJUT SAAT MENERIMA SURAT PANGGILAN PENGADILAN.

Orang yang menggugatku bernama Liza Mahardika. Dia menuduhku melakukan “perusakan hubungan” dan merebut pacarnya.

Dalam gugatan itu, semuanya dijelaskan dengan detail. Dia bersikeras bahwa aku menggoda dan merebut pria yang dicintainya. Bahkan dia melampirkan setumpuk “bukti”: screenshot chat, bukti transfer bank, sampai riwayat check-in hotel.

Aku melihat semua “bukti” itu dan hampir tertawa keras.

Karena “pacar” yang dimaksud…

Adalah suamiku sendiri.

Pada hari sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dia datang memakai dress putih, matanya merah seolah habis menangis semalaman—akting korban yang nyaris sempurna. Setiap kata yang keluar dari mulutnya berusaha menempatkanku sebagai pelakor tak tahu malu.

Seluruh ruang sidang sunyi.

Tatapan orang-orang penuh hinaan tertuju padaku.

Hakim memandangku tenang.

“Ada yang ingin Anda sampaikan, Ibu?”

Aku tidak langsung menjawab.

Perlahan, aku membuka tasku dan mengeluarkan satu dokumen.

BRAK.

Aku meletakkannya di atas meja.

Lalu aku menatap tepat ke arah Liza sambil sedikit mengangkat sudut bibirku.

“Anda bilang saya perebut laki orang?”

Aku tersenyum tipis.

“Saya cuma punya satu pertanyaan.”

“Di antara kita berdua… siapa sebenarnya yang tidak punya buku nikah?”

01

Selama sepuluh tahun menikah, lantai rumah kami selalu bersih mengilap tanpa setitik debu.

Begitu mengilap sampai bayangan diri sendiri bisa terlihat di sana.

Begitu juga rumah tanggaku selama sepuluh tahun.

Tenang. Rapi. Bersih.

Dan sedingin es.

Sudah lama suamiku, Joaquin Adikara, jarang pulang makan malam.

Katanya sibuk di kantor pusat kawasan Sudirman. Banyak proyek. Banyak meeting sampai larut malam.

Aku percaya.

Atau mungkin lebih tepatnya…

Aku memilih untuk percaya.

Sampai suatu sore, bel rumah tiba-tiba berbunyi.

Yang datang bukan Joaquin, melainkan seorang kurir berseragam.

Dia menyerahkan amplop cokelat tebal dengan cap merah pengadilan.

Dan di detik itu, jantungku seperti berhenti berdetak.

Tanganku gemetar saat membuka segelnya.

Di dalamnya ada tumpukan dokumen.

Halaman pertama adalah surat panggilan sidang.

Penggugat: Liza Mahardika.

Tergugat: Trina Adikara.

Namaku sendiri.

Aku lanjut membaca.

Gugatan: Perusakan hubungan dan perebutan pasangan orang lain.

Aku hampir tertawa.

Aku, Trina—istri sah selama sepuluh tahun—digugat karena dianggap menghancurkan hubungan orang lain?

Aku membalik halaman berikutnya.

Di sana, Liza menceritakan semuanya dengan gaya seolah tiap kalimat ditulis sambil menangis.

Katanya dia dan “pacarnya”, Joaquin, saling mencintai dan sudah berencana menikah.

Lalu dia menyebutku sebagai wanita murahan yang tidak tahu malu karena mencoba merebut pria miliknya.

Di belakang gugatan itu ada puluhan halaman bukti.

Screenshot chat WhatsApp.

“Good night, sayang.”

“Kamu capek? Aku sudah kirim makanan buat kamu.”

“I miss you.”

Setiap kata terasa begitu manis sampai membuatku muak.

Ada juga bukti transfer bank.

Rp5.700.000.

Rp5.701.000.

Bahkan ada transfer Rp220 juta dengan catatan:

“Untuk mobil kesayangan baby aku.”

Dan yang terakhir…

Riwayat hotel di Bali dan SCBD.

Tanggal, waktu, lokasi—semuanya lengkap.

Aku membaca satu demi satu halaman itu.

Tanganku semakin dingin.

Dan hatiku…

Perlahan membeku.

Sepuluh tahun mempertahankan pernikahan ini, ternyata akhirnya cuma menjadi lelucon besar.

Aku, Trina…

Adalah orang paling bodoh di cerita ini.

Dan Liza Mahardika—wanita yang sibuk mengumpulkan bukti perselingkuhan itu—adalah selingkuhan suamiku sendiri.

Lucunya…

Dia benar-benar percaya kalau akulah pelakornya.

Aku menutup semua dokumen itu perlahan dan memasukkannya kembali ke amplop.

Jam dinding berdetak berat di ruang tamu.

Setiap bunyinya terasa seperti pukulan di dada.

Aku mengambil ponsel lalu menelepon Joaquin.

Lama sekali baru diangkat.

Di seberang sana terdengar musik keras dan suara perempuan tertawa.

“Halo, Trina, ada apa?” katanya malas.

“Kamu di mana?” tanyaku datar.

“Di kantor. Lembur. Sudah kubilang kan proyek lagi banyak.”

Jawabannya cepat dan licin.

“Oh ya?”

“Iya lah. Masa aku bohong sama kamu? Sudah dulu ya, aku sibuk.”

Telepon langsung ditutup.

Aku menatap layar ponsel sambil mendengarkan bunyi tut… tut… tut… yang panjang.

Lalu perlahan aku tersenyum.

Tawaku menggema di rumah yang kosong.

Pahit.

Dingin.

Dan penuh antisipasi.

Joaquin Adikara.

Liza Mahardika.

Kalian memang pasangan yang sempurna.

Karena kalian sudah menyiapkan panggungnya…

Maka aku—sebagai “terdakwa”—akan memastikan aku datang membawa pertunjukan terbaik.

Aku menatap matahari senja di balik jendela.

Tatapanku berubah tajam dan dingin.

Permainan ini…

Akan kuakhiri.

Dan kita lihat nanti siapa yang benar-benar kehilangan harga diri di depan semua orang.

Hari persidangan kedua menjadi hari yang paling ramai di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Semua orang datang karena penasaran.

Kasus “istri sah digugat pelakor” sudah viral di media sosial sejak minggu lalu.

Dan tentu saja…

Liza datang dengan penampilan seperti korban sempurna.

Gaun putih sederhana.

Wajah pucat.

Mata sembab.

Bahkan sebelum sidang dimulai, dia sudah menangis di depan wartawan.

“Aku cuma perempuan yang diperjuangkan cintanya…” katanya sambil terisak.

Sedangkan aku?

Aku datang memakai blazer hitam sederhana, rambut diikat rapi, dan wajah tanpa ekspresi.

Joaquin duduk di sebelah Liza.

Dan untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun menikah…

Suamiku bahkan tidak berani menatap mataku.

Sidang dimulai.

Pengacara Liza berdiri dengan penuh percaya diri.

“Mulia, klien kami mengalami tekanan mental luar biasa karena rumah tangganya dihancurkan oleh terdakwa.”

Aku hampir tertawa mendengar kata rumah tangga.

Rumah tangga?

Mereka bahkan tidak pernah menikah.

Satu per satu “bukti” kembali diputar di depan ruang sidang.

Chat mesra.

Transfer uang.

Video liburan.

Foto mereka berpelukan di hotel.

Orang-orang mulai berbisik sinis ke arahku.

Lalu hakim menatapku.

“Apakah Anda ingin memberikan pembelaan?”

Aku berdiri perlahan.

Sunyi.

Aku membuka map hitam yang sejak tadi kubawa.

Dan kali ini…

Aku mengeluarkan buku nikah asli kami.

BRAK.

Aku meletakkannya tepat di depan hakim.

Seluruh ruangan langsung diam.

“Apa maksud ini?” tanya hakim.

Aku menatap langsung ke arah Liza.

“Yang Anda sebut pacar…”

Aku tersenyum tipis.

“…adalah suami sah saya selama sepuluh tahun.”

Wajah Liza langsung pucat.

“T-tidak mungkin…”

Aku mengeluarkan lagi beberapa dokumen.

Sertifikat pernikahan.

Kartu keluarga.

Data pajak bersama.

Bahkan foto pernikahan kami sepuluh tahun lalu.

Dan yang paling terakhir…

Aku mengeluarkan bukti transfer rekening Joaquin selama bertahun-tahun.

Ke wanita yang sama.

Ke Liza.

Nilainya miliaran rupiah.

Seluruh ruang sidang gempar.

Aku menatap Joaquin untuk pertama kalinya.

“Lucu ya,” kataku pelan. “Selama ini aku pikir kamu sibuk bekerja demi keluarga.”

Suaraku mulai bergetar, tetapi aku tetap tersenyum.

“Ternyata uang perusahaan yang kubangun bersama ayahku… kamu pakai untuk membiayai perempuan simpananmu.”

“Trina, dengarkan dulu—” Joaquin panik berdiri.

“Diam.”

Satu kata itu membuat seluruh ruang sidang membeku.

Aku menarik napas panjang.

“Tahu hal paling menyedihkan dari semua ini?”

Aku menatap mereka bergantian.

“Bukan perselingkuhannya.”

“Bukan uangnya.”

“Tapi fakta bahwa kalian berdua benar-benar berpikir akulah orang jahat di cerita ini.”

Liza mulai menangis histeris.

“Aku tidak tahu kalau dia sudah menikah!”

Aku tertawa kecil.

“Tidak tahu?”

Aku mengeluarkan satu bukti terakhir.

Sebuah screenshot chat.

Pesan dari Joaquin kepada Liza tiga tahun lalu:

“Istriku tidak akan pernah meninggalkanku. Dia terlalu bodoh dan terlalu mencintaiku.”

Tangis Liza langsung berhenti.

Ia perlahan menoleh ke arah Joaquin dengan wajah hancur.

Dan untuk pertama kali…

Wanita itu sadar bahwa dirinya juga hanya dipermainkan.

Joaquin mencoba mendekatiku setelah sidang selesai.

“Trina… aku bisa jelaskan semuanya…”

Aku mundur satu langkah.

Lalu perlahan melepas cincin pernikahanku.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun aku mempertahankan pria itu.

Aku meletakkan cincin itu di telapak tangannya.

“Tidak perlu menjelaskan apa pun lagi.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Tahu kenapa rumah kita selalu bersih?”

Joaquin terdiam.

“Karena selama sepuluh tahun… aku terus membersihkan semua kekacauan yang kamu buat.”

Tangannya gemetar.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat penyesalan di mata pria itu.

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Beberapa bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.

Joaquin kehilangan posisinya di perusahaan setelah skandal itu menyebar. Banyak proyeknya dibatalkan. Nama baiknya hancur.

Sedangkan Liza?

Dia meninggalkan kota itu.

Katanya karena malu.

Dan aku…

Aku akhirnya tinggal sendirian di rumah yang dulu terasa begitu dingin.

Anehnya, untuk pertama kalinya…

Rumah itu terasa hangat.

Suatu malam, aku berjalan tanpa alas kaki di lantai marmer yang dulu selalu kujaga mengilap.

Masih bersih.

Masih tenang.

Tetapi kali ini tidak lagi terasa dingin.

Karena akhirnya…

Tidak ada lagi kebohongan yang tinggal di dalamnya.