Setelah aku menjual SUV baruku, rekan kerjaku yang sedang hamil tiba-tiba menangis di tengah kantor.
Pagi itu, aku baru saja menjual SUV baruku yang bahkan belum seminggu kubeli.
Cat hitamnya masih mengilap, dan mobil itu adalah hasil tabunganku setelah bertahun-tahun bekerja keras.
Teman-temanku sangat menyayangkannya.
Bahkan pria yang membeli mobil itu berkali-kali bertanya kepadaku:
“Yakin, Bu? Mobil ini masih seperti baru sekali.”
Aku hanya tersenyum.
“Iya, aku cuma berubah pikiran.”
Tak ada yang tahu kalau selama beberapa hari terakhir aku terus merasa gelisah.
Seolah akan terjadi sesuatu yang buruk kalau aku tetap memakai mobil itu.
…
Menjelang jam pulang kantor, tiba-tiba Mariela terduduk sambil memegangi perutnya.
Kopi di mejanya sampai tumpah dan mengalir ke lantai.
“Kak Sofia… tolong aku…”
Suaranya gemetar dan wajahnya pucat karena kesakitan.
“Sepertinya aku mau melahirkan…”
Seketika seluruh kantor panik.
Supervisor kami langsung berdiri.
“Cepat panggil taksi!”
“Aku sudah coba… tapi tidak ada yang menerima order di jam sibuk begini…” kata Mariela sambil terengah-engah dan menangis. “Suamiku juga tidak mengangkat telepon…”
Lalu dia menatapku.
“Kak Sofia… kamu punya mobil… bisakah antar aku ke rumah sakit…”
Mendadak seluruh kantor terdiam.
Semua mata tertuju padaku.
“Benar, Sofia punya mobil.”
“Rumah sakit juga tidak terlalu jauh.”
“Tolong antar saja dia.”
Aku menatap Mariela sejenak sebelum menjawab pelan:
“Maaf… tapi aku sudah tidak punya mobil.”
Dia tertegun.
“Hah?”
“Aku sudah menjualnya.”
Rekan-rekan kerja kami langsung saling berpandangan.
“Dijual?”
“SUV baru yang baru kamu beli itu?”
Salah satu rekan kerja tertawa kecil.
“Sofia, kalau memang tidak mau bantu bilang saja terus terang. Jangan bercanda di situasi seperti ini.”
Yang lain ikut menggeleng.
“Iya juga. Mana mungkin ada orang langsung menjual mobil yang baru dibeli?”
Mariela terus memegangi perutnya dengan mata memerah.
“Kak Sofia… sakit sekali…”
Jujur saja, saat itu dia memang terlihat sangat kasihan.
Tapi aku hanya menggeleng pelan.
“Lebih baik panggil ambulans. Itu lebih aman.”
Ekspresi Mariela sedikit berubah.
Seolah dia tidak menyangka aku akan menolaknya.
Supervisor kami mulai kesal.
“Sofia, tolonglah sekali ini saja.”
“Kalian kan rekan kerja.”
Aku tidak menjelaskan apa pun.
Karena tak ada yang tahu bahwa beberapa bulan sebelumnya, saat rumor menyebar di kantor bahwa aku punya hubungan dengan manajer demi mendapat promosi…
Marielalah orang pertama yang menyebarkannya.
Dia bahkan menangis waktu itu dan berkata semuanya hanya “tidak sengaja.”
Sementara aku menjadi bahan gosip seluruh kantor selama berminggu-minggu.
Dan sejak saat itu, aku belajar satu hal.
Ada orang yang terlihat lemah dan polos di luar…
padahal sebenarnya tidak sesederhana itu.
Tiba-tiba Mariela menunduk karena rasa sakit yang hebat.
Semua orang kembali panik.
“Cepat panggil ambulans!”
“Cepat!”
Ponselnya terjatuh ke lantai.
Dan tepat saat itu, layar ponselnya menyala.
Ada pesan baru.
Dari suaminya.
Hanya satu kalimat:
“Jangan lupa rekam semuanya.”
Baca kelanjutan cerita di kolom komentar. Di bagian komentar, pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat lanjutan kisahnya…👇

Begitu pesan itu muncul, seluruh ruangan seperti kehilangan udara.
Mariela masih kesakitan, tetapi matanya tanpa sadar tertuju pada layar ponselnya yang menyala.
“Jangan lupa rekam semuanya.”
Jangan lupa merekam semuanya.
Salah satu rekan kerja yang berdiri dekat berbisik pelan:
“Apa… kenapa suaminya bilang begitu?”
Tidak ada yang menjawab.
Hanya suara napas Mariela yang tersengal dan kepanikan yang makin memuncak di kantor.
Akhirnya ambulans tiba.
Sebelum dibawa pergi, Mariela sempat memegang lengan bajuku erat.
“Kak Sofia… tolong aku…”
Tapi kali ini, aku tidak lagi ragu.
“Aku sudah bilang. Ambulans sudah datang. Mereka akan membantumu.”
Pintu mobil ambulans tertutup.
Suara sirene perlahan menjauh.
…
Dua hari kemudian.
Seluruh kantor heboh setelah sebuah kabar menyebar dari grup chat internal rumah sakit.
Mariela berhasil melahirkan dengan selamat.
Namun yang membuat semua orang terkejut bukan itu.
Melainkan fakta bahwa suaminya telah melakukan livestream seluruh “adegan kesakitan palsu” istrinya di media sosial.
Dalam video itu, Mariela ternyata tidak benar-benar akan melahirkan saat di kantor.
Dia hanya berpura-pura untuk memaksa suaminya menandatangani surat pengalihan aset.
Cerita “akan melahirkan” di kantor hari itu… ternyata bagian dari rencananya.
Seluruh kantor terdiam.
Tidak ada lagi yang berani mengatakan bahwa aku “tidak mau membantu”.
Supervisor memanggilku ke ruangannya.
Untuk pertama kalinya, dia menundukkan kepala.
“Sofia… kami salah paham padamu.”
Aku hanya mengangguk pelan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar.”
…
Sore itu, aku berdiri di depan gedung kantor.
Angin berhembus pelan, langit sangat cerah.
Aku membuka ponsel, melihat pesan penjualan SUV-ku.
Entah kenapa, kali ini aku tidak merasa menyesal.
Hanya ada rasa lega.
Ada hal yang hilang bukan selalu sesuatu yang buruk.
Dan ada keputusan yang terlihat aneh…
ternyata adalah satu-satunya cara untuk menghindari sesuatu yang belum sempat kita lihat.
Aku berbalik dan melangkah pergi.
Tanpa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun lagi.
Karena kali ini, kebenaran sudah berbicara sendiri untukku.