Setelah aku terbangun dari operasi itu, aku benar-benar melupakan suamiku yang seorang miliarder—lelaki yang dulu tanpa ampun menginjak-injak harga diriku.

Setelah aku terbangun dari operasi itu, aku benar-benar melupakan suamiku yang seorang miliarder—lelaki yang dulu tanpa ampun menginjak-injak harga diriku.

Aku juga melupakan sahabatku sendiri, ular yang bersembunyi di belakangku dan merampas kebahagiaanku.

Aku pindah ke sebuah kota kecil di tepi pantai Lombok, dan membuka gerobak kecil penjual pisang goreng dan lumpia pisang di pinggir jalan dekat pasar tradisional.

Semua orang yang mengenalku dulu memasang taruhan. Mereka yakin aku takkan bertahan tiga hari. Katanya aku pasti akan menangis dan merangkak kembali ke mansion keluarga Pratama di Jakarta Selatan untuk memohon ampun pada Adrian Pratama.

Namun setahun berlalu.

Suatu malam, deretan mobil mewah berhenti di depan gerobakku.

Beberapa bodyguard turun dengan wajah penuh kecemasan.

“Nyonya, tolong… pulanglah.”

“Pak Adrian hampir gila mencari Anda. Beliau sampai dirawat di rumah sakit karena stres!”

Aku mendongak dan tersenyum lembut.

“Maaf, saya tidak kenal siapa pun bernama Adrian. Mau beli lumpia pisang?”

“Sepuluh ribu rupiah satu.”

Kepala pengawal itu tertegun.

“Nyonya… jangan bercanda seperti ini.”

Aku tetap berdiri di bawah tenda sederhana, menatap daganganku tanpa emosi.

“Siapa yang bercanda? Kalau tidak beli, jangan menghalangi pelanggan saya.”

Tepat saat itu, pintu mobil paling depan terbuka.

Seorang pria tinggi berjalan menembus hujan.

Setelan jasnya basah kuyup. Wajahnya pucat, mata merah karena kurang tidur.

Meskipun jauh, aura marah dan tertekannya terasa jelas.

Dia berhenti di depanku.

Sebelum aku sempat berbicara, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku dengan keras.

“Aura Wijaya! Sampai kapan kamu mau berpura-pura?!”

Suaranya serak.

“Satu tahun kamu menghilang! Kamu lebih memilih jualan di tempat kumuh seperti ini daripada pulang?! Ini balasanmu untukku?!”

Pergelangan tanganku sakit, tapi aku tidak mengaduh.

“Lepaskan. Sakit.”

Suaraku tenang. Datar.

Dia membeku.

“Aura… lihat aku baik-baik. Ini aku. Adrian.”

Aku menatapnya kosong.

“Mister, kalau mau beli, silakan bayar. Kalau tidak, jangan ganggu usaha saya.”

Wajahnya memucat.

Karena dalam tatapanku… tidak ada apa-apa.

Tidak ada cinta.

Tidak ada benci.

Tidak ada luka.

Hanya ketidakpedulian.


Dia menendang gerobakku dalam kemarahan.

Gerobak itu terbalik. Pisang goreng dan lumpia pisang jatuh ke jalan, tercampur air hujan.

Aku menatap daganganku yang hancur.

Kerugian malam ini sekitar lima ratus ribu rupiah.

Uang itu cukup untuk makan seminggu.

“Ganti rugi,” kataku dingin.

Dia tertawa marah, lalu mengeluarkan ponselnya dan memindai QRIS di gerobakku.

Notifikasi berbunyi:

Transfer masuk: Rp2.000.000.000

Dua miliar rupiah.

“Cukup untuk sampahmu itu? Sekarang masuk ke mobil.”

Karena dia sudah membayar, aku tidak menolak saat dia menarikku masuk ke mobil.

Begitu pintu tertutup, aku mencium aroma sandalwood dingin.

Dan dunia di kepalaku meledak.


Kilatan lampu operasi.

Meja bedah.

Tanganku diikat.

Aku berteriak.

“Adrian! Aku tidak gila! Clara yang menjebakku!”

“Tolong… jangan sentuh otakku… Aku pianis… kalau aku kehilangan emosiku aku akan mati…”

Suara Adrian terdengar dari balik kaca.

“Aura, kamu sakit. Ini demi kebaikanmu.”

“Setelah prosedur ini, kamu tidak akan menyakiti Clara lagi.”

Obat dingin masuk ke nadiku.

Gelap.


Aku muntah di dalam mobil.

Tubuhku mengingatnya.

Mengingatnya sebagai algojo.

Tangannya tanpa sengaja menyibakkan rambutku.

Lampu mobil menerangi bekas luka di dahiku.

Bekas operasi yang kasar.

Tangannya gemetar.

Dia ingin menyentuhnya.

Aku menghindar.

“Jangan sentuh,” kataku tenang.

“Dokter bilang bagian itu rapuh. Kalau rusak lagi, tengkorakku harus dibuka ulang.”

Untuk pertama kalinya… dia terdiam.


Kami tiba di rumah yang dulu kudekorasi sendiri.

Mawar merah kesukaanku sudah hilang.

Diganti bunga lily putih.

Pasti selera Clara.

Di ruang tamu, Clara duduk dengan gaun tidur sutra tipis.

Saat melihatku, wajahnya menegang sesaat, lalu pura-pura takut.

“Aura… kamu sudah sembuh? Kamu tidak akan meracuniku lagi, kan?”

Jika aku adalah Aura setahun lalu, mungkin aku sudah menamparnya.

Tapi sekarang…

Aku hanya menatapnya seperti menonton drama murahan.

Adrian berteriak:

“Minta maaf pada Clara sekarang! Tahun lalu kamu meracuninya!”

Dia mencoba memancing emosiku.

Menunggu aku marah.

Menunggu Aura lama kembali.

Aku memiringkan kepala.

“Dia pelanggan saya?”

“Perlu saya buatkan pisang goreng?”

Suasana ruang tamu membeku.

Adrian memecahkan vas bunga.

“Aura! Sampai kapan kamu mau berakting?!”

Aku memandangnya.

Lalu tersenyum tipis.

“Berakting?”

“Yang berpura-pura selama ini bukan saya.”

Aku melangkah mendekati Clara.

Tatapanku tetap tenang.

“Kalau memang aku yang meracuni kamu… kenapa aku yang dioperasi?”

Clara membeku.

Adrian menoleh cepat ke arahnya.

Aku melanjutkan dengan suara pelan:

“Aneh ya… orang yang diracuni selamat tanpa bekas apa pun.”

“Tapi orang yang dituduh… kehilangan separuh otaknya.”

Keheningan mencekik ruangan.

Aku berbalik menuju pintu.

“Terima kasih atas dua miliar rupiahnya.”

“Besok saya beli gerobak baru.”

Langkahku berhenti sebentar.

“Oh iya.”

Aku menoleh.

“Kalau memang dulu aku sangat mencintaimu…”

“Maka operasi itu berhasil.”

“Karena sekarang… aku tidak merasakan apa-apa lagi.”


Aku keluar dari mansion itu tanpa menoleh.

Hujan masih turun.

Tapi untuk pertama kalinya dalam setahun…

Aku merasa ringan.

Bukan karena uang.

Bukan karena balas dendam.

Tapi karena akhirnya aku benar-benar lupa.

Dan kadang—

Melupakan adalah bentuk pembalasan paling kejam.

Aku menatap pecahan vas di lantai.

Suara pecahannya menggema… tapi hatiku tetap hening.

“Huminta ka ng maaf sekarang!” teriak Sandro lagi. “Kamu hampir membunuh Clara!”

Aku mengerjap pelan.

Lalu bertanya dengan suara yang benar-benar tenang:

“Siapa Clara?”

Keheningan itu… lebih menakutkan daripada teriakan.

Clara yang tadinya pura-pura lemah tiba-tiba kehilangan warna wajahnya.

Sandro menggertakkan gigi. “Berhenti berpura-pura!”

Aku memiringkan kepala sedikit, seperti benar-benar mencoba mengingat.

“Aku tidak ingat pernah meracuni siapa pun. Tapi kalau memang aku melakukannya… mana buktinya?”

Sandro membeku.

Aku melangkah perlahan ke arah Clara.

Ia mundur satu langkah.

Dulu mungkin aku akan gemetar melihat perempuan itu. Sekarang, aku hanya melihatnya seperti melihat orang asing di halte bus.

“Kalau aku benar-benar mencoba membunuhmu,” kataku pelan, “kenapa aku tidak dipenjara?”

Clara membuka mulutnya—lalu menutupnya kembali.

Sandro terdiam.

Aku tersenyum tipis.

Karena aku memang kehilangan banyak emosi…

Tapi bukan akalku.

Aku berjalan menuju rak buku di ruang tamu.

Tanganku berhenti di sudut bawah—tempat tersembunyi yang dulu hanya aku yang tahu.

Sebuah panel kecil.

Klik.

Laci rahasia terbuka.

Di dalamnya ada flashdisk hitam.

Sandro langsung pucat.

“Apa itu?” tanya Clara dengan suara gemetar.

Aku menatap benda itu tanpa ekspresi.

“Aku tidak ingat isinya,” jawabku jujur. “Tapi sepertinya… aku yang menyembunyikannya.”

Sandro berusaha merebutnya.

Tapi kali ini aku melangkah mundur.

“Jangan sentuh aku,” kataku dingin.

Mayordomo yang sejak tadi diam akhirnya berbicara lirih, “Tuan… mungkin lebih baik kita bicara baik-baik…”

Aku menyerahkan flashdisk itu pada kepala keamanan.

“Tolong putarkan di layar.”

Beberapa menit kemudian…

Rekaman CCTV memenuhi layar besar ruang tamu.

Terlihat jelas Clara masuk ke dapur.

Menuangkan sesuatu ke dalam mangkuk supnya sendiri.

Lalu berpura-pura pingsan.

Rekaman berikutnya—

Suara Sandro.

“Operasi saja dia. Setelah itu dia tidak akan mengganggu Clara lagi.”

Tanganku sedikit gemetar.

Potongan ingatan terakhir menyatu.

Bukan aku yang gila.

Aku dibungkam.

Dengan operasi.

Dengan penghapusan emosi.

Dengan lobotomi.

Ruangan itu sunyi.

Clara jatuh terduduk.

Sandro tidak lagi marah.

Ia hanya… hancur.

“Aura… aku… aku hanya ingin semuanya tenang…”

Aku menatapnya lama.

Dan untuk pertama kalinya setelah setahun—

aku merasakan sesuatu.

Bukan cinta.

Bukan benci.

Hanya… kasihan.

“Kamu tidak mengobatiku,” kataku pelan.
“Kamu mematikanku.”

Sandro berlutut.

Seorang pria yang dulu berdiri di puncak bisnis Jakarta… kini runtuh di lantai marmer rumahnya sendiri.

“Aku salah… kembali saja… aku akan memperbaiki semuanya…”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Aku mengeluarkan ponselku.

Membuka notifikasi lama.

Transfer Rp2.000.000.

Aku menatapnya sebentar.

“Terima kasih untuk uangnya. Itu cukup untuk memulai hidup baru.”

Clara akhirnya diseret keluar oleh petugas keamanan setelah polisi dipanggil.

Sandro tidak melawan.

Ia hanya menatapku seperti orang yang baru sadar kehilangan dunia.

Aku berjalan keluar rumah itu tanpa menoleh lagi.

Di luar, hujan sudah berhenti.

Udara malam terasa bersih.

Besok aku akan membeli gerobak baru.

Mungkin bukan lagi banana cue.

Mungkin aku akan membuka kios kecil.

Atau mungkin… aku akan kembali bermain piano.

Tapi kali ini bukan untuk siapa pun.

Bukan untuk keluarga Villanueva.

Bukan untuk cinta.

Hanya untuk diriku sendiri.

Dan ketika Sandro berteriak lirih di belakangku—

“Aura!”

Aku berhenti sejenak.

Tanpa menoleh.

“Maaf, Pak,” jawabku lembut.

“Saya tidak mengenal Anda.”

Lalu aku melangkah pergi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—

aku benar-benar bebas.