SETELAH IBUKU MENINGGAL, AYAH MEMBAWA “IBU BARU” KE RUMAH…
Wanita itu tahu semua kebiasaanku seolah sudah hidup bersamaku sejak lama…
Sampai hari ketika aku mendengar rahasia mengerikan di balik pintu rumah sakit jiwa…
Namanya Celina.
Masakannya sangat enak.
Dia tahu makanan apa yang membuatku alergi.
Dia tahu aku tidak bisa tidur saat hujan deras.
Bahkan lagu nina bobo yang dulu dinyanyikan ibu kandungku waktu kecil… dia hafal semuanya.
Aku semakin membencinya karena itu.
Rasanya seperti dia berusaha menggantikan posisi ibuku.
Suatu hari, saat membersihkan ruang kerja ayahku, aku menemukan sebuah file medis tersembunyi di dalam laci.
Di bagian depan tertulis:
“PSYCHOLOGICAL RECORD — PATIENT: DANICA REYES.”
Itu namaku.
Tanganku gemetar saat membuka folder tersebut.
Isinya penuh sertifikat gangguan mental.
Resep obat antipsikotik.
Laporan perilaku agresif.
Padahal aku tidak pernah dirawat di rumah sakit jiwa.
Dengan marah aku langsung turun ke ruang makan.
“Apa ini?!”
Ayahku membeku saat sedang makan malam bersama Celina.
Wajahnya langsung berubah dingin.
“Siapa yang menyuruhmu masuk ke ruang kerjaku?”
“Jawab aku!” teriakku sambil membanting file ke meja.
“Kenapa di sini tertulis kalau aku gila?!”
Celina buru-buru berdiri.
“Danica… dengarkan Mama dulu…”
“KAMU BUKAN IBUKU!”
Aku membalik meja makan hingga piring-piring pecah berserakan.
Detik berikutnya…
Ayahku menamparku sangat keras sampai bibirku berdarah.
“CUKUP!”
Ia menunjukku penuh amarah.
“Mulai hari ini kau akan dikirim ke San Isidro Discipline Academy!”
“Kau harus belajar menjadi manusia!”
…
San Isidro Academy berada di pegunungan dekat Bandung.
Tempat itu terkenal sebagai sekolah “pendisiplinan” untuk anak-anak nakal keluarga kaya.
Namun sejak hari pertama aku melewati gerbang besi itu…
Aku tahu hidupku sudah berakhir.
Di sana tidak ada murid.
Hanya tahanan.
Kalau membantah, dikurung di ruangan gelap.
Kalau menangis, dipaksa berlutut di tengah hujan.
Kalau melawan, disuntik obat penenang.
Tiga tahun.
Aku hidup seperti bayangan.
Tidak boleh membalas.
Tidak boleh marah.
Tidak boleh menangis.
Satu-satunya kalimat yang boleh kuucapkan hanyalah:
“Maaf…”
…
Hari kelulusan.
Ayah datang bersama Celina untuk menjemputku.
Aku berdiri di ujung lorong dengan gaun putih lusuh sambil memperhatikan mereka diam-diam.
Celina menghela napas pelan.
“Menurutmu Danica masih membenciku?”
Ayah tersenyum dingin.
“Dia sudah seperti boneka sekarang. Tidak punya tenaga lagi untuk marah.”
“Tapi… apa kita tidak keterlaluan waktu itu?”
“Keterlaluan?”
Ayah tertawa pahit.
“Kalau kita tidak mengirimnya ke San Isidro, dia sudah menghancurkan keluarga kita.”
Celina terdiam sesaat.
Lalu berkata pelan:
“Danica baru tiga belas tahun saat tahu aku hamil Sophia…”
Tubuhku langsung membeku.
Hamil?
Sophia?
Ayah melanjutkan:
“Itu salahnya sendiri. Dia terus mencari ibu kandungnya.”
“Padahal waktu itu kamu tidak boleh stres karena kehamilanmu.”
“Lagipula… lebih baik tidak ada yang tahu kalau ibunya masih hidup.”
Dunia seolah berhenti.
Ibuku…
Masih hidup?
Tanganku mengepal sampai berdarah.
Mereka mengurungku selama tiga tahun…
Hanya untuk membungkamku?
Tiba-tiba guru di belakang mendorongku.
“Ayo. Sambut orang tuamu.”
Aku berjalan mendekat.
Dengan senyum sempurna yang diajarkan San Isidro.
“Selamat sore.”
Ayah menatapku puas.
“Akhirnya kamu tahu cara bersikap.”
Saat itu seorang anak perempuan kecil turun dari mobil.
Gaun pink.
Sepatu berkilau.
“Ini Kak Danica?” tanyanya takut-takut sambil memeluk Celina.
“Mama… dia menyeramkan.”
Celina terlihat ragu.
“Sophia, jangan begitu…”
Namun ayah hanya tertawa.
“Kakakmu sekarang baik sekali.”
Ia mengambil permen lalu melemparkannya ke tanah.
“Mau lihat?”
Ia menatapku dingin.
“Ambil.”
Aku menatap permen itu beberapa detik.
Lalu perlahan berlutut.
Mengambilnya.
Dan memasukkannya ke mulut.
Sophia tertawa geli.
“Dia kayak anjing!”
Ayah tertawa keras.
Celina memucat, tetapi tetap diam.
Malamnya…
Mereka merayakan ulang tahun Sophia di mansion besar keluarga di kawasan Pondok Indah.
Sementara aku…
Dipaksa berlutut di luar rumah karena dianggap pulang terlambat.
Hujan turun deras.
Lututku berdarah di atas lantai semen.
Dari balik jendela…
Aku melihat mereka tertawa di depan kue ulang tahun besar.
Tak seorang pun ingat…
Hari ini juga ulang tahunku.
Tiba-tiba ponsel ayah berbunyi.
Dengan kesal ia menjawab.
Dari seberang telepon terdengar suara pria berteriak:
“Pak Reyes! Di mana Anda?!”
“Ada apa?”
“Kami menemukan seorang wanita yang sudah lama dikurung di basement rumah tua di daerah Bekasi…”
Ayah tertawa dingin.
“Lalu kenapa saya harus peduli?”
Hening beberapa detik.
Lalu pria itu berkata lagi:
“Nama wanita itu… Isabella Reyes.”
Gelas di tangan ayah langsung jatuh.
Wajah Celina pucat pasi.
Dan aku…
Perlahan mengangkat kepala di tengah hujan deras.
Karena Isabella Reyes…
Adalah ibu kandungku.
Lanjutan cerita ada di komentar…👇

Malam itu…
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun…
Aku tidak merasakan dingin hujan.
Karena seluruh tubuhku mati rasa.
Nama itu terus menggema di kepalaku.
Isabella Reyes.
Ibuku.
Masih hidup.
Sementara ayahku berdiri membeku dengan wajah sepucat mayat.
Celina gemetar hebat.
“A-aku bisa jelaskan…” bisiknya.
Namun aku perlahan berdiri dari lantai.
Lututku berdarah.
Gaun putihku basah kuyup.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak keluar dari San Isidro…
Aku tidak lagi terlihat seperti boneka.
Aku menatap ayahku lurus-lurus.
“Di mana Mama?”
Suara kecilku membuat seluruh ruangan sunyi.
Ayah menelan ludah.
Namun sebelum ia sempat menjawab, aku langsung berlari keluar rumah di tengah hujan deras.
Aku mendengar Celina memanggil namaku.
Tetapi aku tidak berhenti.
Aku mencuri mobil salah satu sopir dan melaju menuju alamat yang kudengar dari telepon tadi.
Rumah tua di Bekasi.
Sepanjang perjalanan…
Tanganku gemetar di setir.
Kepalaku dipenuhi potongan-potongan ingatan masa kecil.
Lagu nina bobo.
Parfum lembut ibuku.
Dan suara seseorang menangis di malam hari.
Saat tiba di rumah itu…
Polisi sudah berada di sana.
Bangunan itu tua, lembap, dan hampir runtuh.
Seorang petugas mencoba menghentikanku.
Namun saat aku berteriak nama Isabella Reyes…
Mereka akhirnya membiarkanku masuk.
Langkah kakiku terasa berat saat menuruni tangga basement.
Gelap.
Bau obat-obatan dan jamur memenuhi udara.
Lalu…
Aku melihatnya.
Seorang wanita kurus duduk di sudut ruangan kecil.
Rambutnya panjang dan berantakan.
Pergelangan tangannya penuh bekas luka rantai.
Namun saat wanita itu perlahan mengangkat wajahnya…
Dunia seolah berhenti.
Karena mata itu…
Adalah mataku.
Air mataku langsung jatuh.
“Mama…?”
Tubuh wanita itu gemetar hebat.
Bibirnya bergerak pelan.
“Danica…?”
Suara itu…
Suara yang selama bertahun-tahun hanya hidup di mimpiku.
Aku langsung berlari memeluknya.
Dan ibuku menangis histeris sambil memegang wajahku seolah takut aku menghilang.
“Mama pikir Mama nggak akan pernah lihat kamu lagi…”
Aku tidak bisa berhenti menangis.
Tiga tahun.
Tiga tahun aku disiksa untuk melupakan wanita ini.
Sementara dia…
Dikurung seperti binatang.
Tak lama kemudian ayahku datang bersama Celina.
Saat melihat kami berpelukan…
Wajah ayah langsung runtuh.
Ibuku langsung gemetar ketakutan.
“Jangan ambil anakku lagi…” tangisnya lemah.
Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.
Aku berdiri di depan ibuku seperti tameng.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku melawan ayahku tanpa rasa takut.
“Apa yang sudah Ayah lakukan…?”
Ayah menutup mata beberapa detik.
Lalu akhirnya…
Ia berkata jujur.
Dua belas tahun lalu, ayahku jatuh cinta pada Celina saat ibuku mengalami depresi berat setelah kecelakaan mobil.
Bukannya merawat istrinya…
Ia justru mengurung Isabella diam-diam agar tidak kehilangan reputasi dan hartanya dalam proses perceraian.
Ia menyebarkan kabar bahwa ibuku sudah meninggal karena gangguan mental.
Dan ketika aku mulai curiga saat remaja…
Mereka mengirimku ke San Isidro untuk membungkamku.
Celina langsung menangis.
“Aku nggak pernah setuju dia dikurung selama itu!”
“Tapi aku takut kehilangan semuanya…”
Aku menatap wanita itu lama.
Dan anehnya…
Aku akhirnya mengerti kenapa dia tahu semua tentangku.
Karena selama bertahun-tahun…
Ibuku terus menceritakan semua hal tentang diriku kepada Celina.
Tentang makanan favoritku.
Tentang ketakutanku saat hujan.
Tentang lagu nina bobo kesukaanku.
Ibuku tidak pernah melupakanku.
Bahkan saat dunia mengurungnya dalam kegelapan.
Malam itu polisi membawa ayahku untuk diperiksa.
Skandal keluarga Reyes langsung meledak di seluruh Indonesia.
San Isidro Academy ditutup setelah ratusan korban lain mulai bersuara.
Para guru ditangkap.
Dan anak-anak yang selama ini diperlakukan seperti tahanan akhirnya dibebaskan.
Beberapa bulan kemudian…
Aku tinggal bersama ibuku di rumah kecil dekat Bandung.
Ia masih sering ketakutan saat mendengar suara pintu terkunci.
Masih gemetar saat hujan turun.
Dan kadang lupa kalau dirinya sudah bebas.
Tetapi setiap malam…
Aku akan duduk di sampingnya.
Dan menyanyikan lagu nina bobo yang dulu ia nyanyikan untukku.
Suatu malam ibuku menangis pelan sambil memegang tanganku.
“Maaf… Mama gagal melindungi kamu.”
Aku langsung memeluknya erat.
“Tidak.”
“Kita berdua sama-sama korban.”
“Tapi sekarang… kita masih punya satu sama lain.”
Ibuku tersenyum sambil menangis.
Dan di luar jendela…
Hujan kembali turun.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku tidak lagi takut mendengar suara badai.
Karena akhirnya aku tahu—
Ibuku tidak pernah meninggalkanku.
Dia hanya menunggu…
Seseorang menemukan jalan pulang untuk menyelamatkannya.