Setelah ibuku sendiri menjebakku dalam kasus kecurangan ujian masuk universitas, hidupku hancur.
Dan di hari kematianku, tanpa sengaja aku mendengar percakapan antara Mama dan adik angkatku, Marisa.
“Ma, menurut Mama Kak Elena bakal benci sama kita nggak?”
“Benci gimana?” jawab Mama santai. “Waktu itu kan Mama sendiri yang menyelipkan kertas contekan ke tasnya biar dia ketahuan nyontek. Tapi akhirnya dia maafin juga, kan?”
Mama menambahkan, suaranya terdengar ringan seperti membahas harga sayur di pasar:
“Lagipula bukan salah Mama sepenuhnya… kamu yang suruh Mama selipkan kertas itu, dan kamu juga yang lapor ke guru…”
Marisa terkekeh pelan.
“Aku cuma bercanda waktu itu…”
Bercanda.
Hidupku hancur, masa depanku musnah, dan baginya itu cuma lelucon.
Di sanalah aku mati.
Dalam hidup yang sudah tak punya harapan, aku menerima kematian hanya untuk mencari awal yang baru.
Dan ketika aku membuka mata lagi…
Aku kembali ke kelas 12.
Kali ini, aku tidak berniat memaafkan siapa pun.
1
Aku bahkan sudah tak ingat berapa kali tubuhku menerima pukulan.
Saat tinju suamiku, Raka, menghantam bahuku, punggungku, pipiku… aku tak lagi merasa sakit. Hanya mati rasa.
Malam itu, hanya karena aku pulang lembur dan tidak sempat menyiapkan makan malam.
“Kamu istri nggak tahu diri!” bentaknya.
“Kerja sampai malam kayak gitu, siapa tahu kamu genit sama laki-laki lain!”
Aku hanya menjawab dua kalimat pembelaan.
Itu cukup membuat matanya merah menyala.
Dia menarik rambutku dan membenturkan kepalaku ke tembok.
Ketika semuanya selesai, aku berjalan tertatih menuju rumah orang tuaku di Bekasi.
Begitu pintu terbuka, Mama sedang duduk di ruang tamu, memotong kacang panjang.
Dia menatapku sekilas.
“Ada apa lagi?”
“Ma… aku mau cerai dari Raka.”
Marisa muncul dari kamar, bersandar di dinding. Melihat lebam di wajahku, dia tak terkejut sedikit pun. Hanya tersenyum tipis lalu kembali masuk.
Mama menghela napas panjang.
“Cerai lagi, cerai lagi. Kamu pikir gampang? Laki-laki kayak Raka itu jarang. Kerjanya tetap, gajinya Rp18 juta per bulan. Cuma emosinya aja yang meledak-ledak sedikit.”
“Dia mukul aku, Ma…”
Aku menggulung lengan bajuku, memperlihatkan lebam ungu.
Mama melirik sebentar lalu kembali memotong sayur.
“Kalau kamu nurut, dia bakal mukul kamu?”
Papa menurunkan korannya.
“Namanya laki-laki, wajar kalau emosi. Kamu itu istri, tugasmu melayani. Umurmu 30 tahun. Kalau cerai, siapa lagi yang mau sama kamu?”
Aku berdiri di ambang pintu, melihat mereka seolah aku hanya membahas cuaca.
Marisa keluar lagi membawa segelas teh hangat untuk Mama, lalu manja menyandarkan kepala di bahunya.
“Ma, jangan marah sama Kak Elena. Dia memang nggak ngerti…”
Mama menepuk tangannya lembut.
“Kamu memang paling pengertian, Marisa.”
Aku berbalik dan pergi.
Tapi ponselku tertinggal di sofa.
Saat kembali mengambilnya, pintu belum tertutup rapat. Aku berhenti ketika mendengar suara dari dalam.
“Ma, kita nggak boleh biarin Kak Elena cerai.”
Itu suara Marisa—lembut, tapi licik.
“Kita susah payah pilih Raka buat dia. Kalau mereka cerai, Kak Elena pasti kabur ke Jakarta, kerja, lalu lepas dari kita.”
Mama menjawab pelan,
“Kalau dia pergi, siapa yang bakal urus kita di kampung? Siapa yang bantu bayar cicilan rumah Rp3 juta per bulan? Siapa yang beliin obat Papa?”
“Makanya,” lanjut Marisa, “dia harus tetap di sini. Dulu waktu SMA nilainya tinggi banget. Kalau dia masuk universitas top di Jakarta, mungkin sekarang gajinya puluhan juta. Dia nggak bakal peduli sama kita.”
Papa batuk kecil.
“Jangan ungkit yang dulu.”
“Kenapa nggak?” suara Marisa tiba-tiba dingin.
“Kalau bukan karena dia pulang dan Mama lebih perhatian ke dia, aku nggak bakal kabur waktu itu. Aku nggak bakal kecelakaan sampai kakiku pincang begini. Dia berutang sama aku.”
Mama langsung menenangkannya.
“Iya, iya… dia memang harus tanggung jawab.”
Marisa melanjutkan,
“Makanya kita harus ikat dia di sini. Nikahkan sama pria biasa tapi mapan. Biar dia nggak bisa pergi.”
Papa mengangguk pelan.
“Raka memang kasar, tapi penghasilannya stabil. Perempuan kalau sudah menikah harus terima nasib.”
Aku berdiri di luar, tangan gemetar memegang gagang pintu.
Jadi itu sebabnya.
Mereka tahu sejak awal Raka temperamental.
Mereka sengaja memilihnya untukku.
Aku bukan anak.
Aku investasi.
Alat bayar utang.
Sepuluh tahun aku butuh untuk memahami kebenaran itu.
Dan kebenaran itu ternyata tersembunyi di balik satu pintu.
Langkahku terasa ringan saat keluar rumah.
Lampu jalan buram.
Suara mobil mendekat.
Lalu benturan keras.
Dan gelap.
Dalam detik terakhir sebelum kesadaranku hilang, aku hanya memikirkan satu hal—
Kalau saja aku bisa kembali ke awal.
2
Ketika membuka mata lagi…
Yang kulihat adalah langit-langit kelas.
Kipas angin berderit.
Di luar, matahari Mei menyilaukan.
Di depan, pengawas ujian sibuk dengan ponselnya.
Di sekelilingku, suara bolpoin menggesek kertas.
Ini…
Ujian simulasi terakhir sebelum UTBK nasional.
Aku melihat kertas ujianku—Matematika, nomor delapan.
Tulisan tanganku sendiri di kertas coretan.
Aku kembali ke masa lalu.
Seminggu sebelum ujian masuk universitas yang menentukan masa depan.
Jantungku berdetak cepat.
Bukan mimpi.
Tiba-tiba sesuatu menusuk punggungku.
Aku tak menoleh.
Tusukan kedua, lebih keras.
Lalu kursiku ditendang pelan.
Tanganku turun ke bawah kursi.
Dan seperti yang kuingat…
Ada secarik kertas kecil terlipat.
Kertas contekan.
Di kehidupan sebelumnya, aku membukanya.
Lalu saat pengawas memeriksa mendadak, kertas itu “ditemukan” di mejaku.
Skorsing.
Diskualifikasi.
Namaku tercemar.
Dan masa depanku hancur.
Kali ini…
Aku menggenggam kertas itu tanpa membukanya.
Tanpa menoleh ke arah Kristina—sahabat setia Marisa—yang duduk di belakangku.
Kali ini, aku tidak akan jadi korban.
Kali ini, aku akan membalas semuanya.
Dan kali ini…
Aku akan hidup untuk diriku sendiri.

Ujian berakhir.
Aku tidak langsung berdiri. Aku menunggu.
Menunggu seperti pemburu yang sabar menunggu mangsanya masuk perangkap.
Ketika pengawas keluar sebentar untuk mengambil berkas, aku berdiri dan berjalan ke meja guru dengan tenang.
“Bu, saya mau melaporkan sesuatu.”
Suara kelasku langsung hening.
Aku mengeluarkan kertas contekan itu — masih utuh, belum pernah kubuka.
“Saya menemukan ini di bawah kursi saya. Sepertinya ada yang sengaja menaruhnya.”
Wajah Kristina langsung pucat.
“Bu! Itu bukan—”
Aku memotongnya dengan lembut.
“Coba cek CCTV kelas, Bu. Tadi sebelum ujian mulai, ada yang berdiri di belakang saya cukup lama.”
Guru itu mengernyit. Sekolah kami memang baru memasang kamera CCTV karena kasus kecurangan sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, ruang guru menjadi gaduh.
Rekaman jelas memperlihatkan Kristina menyelipkan sesuatu ke bawah kursiku.
Tangannya gemetar saat dipanggil.
“Aku… aku cuma bercanda…”
Bercanda.
Kata yang sama.
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
“Bercanda bisa menghancurkan hidup orang.”
Hari itu, untuk pertama kalinya, bukan aku yang dipermalukan di depan seluruh sekolah.
4
Beberapa hari kemudian, aku pulang.
Mama duduk di ruang tamu seperti biasa.
“Kok sekolah telepon Mama? Katanya ada masalah?”
Aku tersenyum tipis.
“Iya. Ada yang mau menjebak aku.”
Marisa yang sedang makan buah berhenti mengunyah.
Aku melanjutkan dengan tenang,
“Tapi kali ini gagal.”
Aku melihat sesuatu bergetar di matanya.
Bukan rasa bersalah.
Takut.
Aku mendekat sedikit.
“Oh ya, Ma… CCTV sekarang jelas banget. Semua kelihatan.”
Marisa berdiri tiba-tiba.
“Aku ke kamar dulu.”
Punggungnya kaku.
Mama mencoba menguasai keadaan.
“Sudahlah, fokus saja ujian masuk universitas. Jangan cari masalah.”
Aku tersenyum lebih lebar.
“Tentu, Ma. Kali ini aku akan masuk universitas terbaik di Jakarta.”
Dan kali ini, tak seorang pun bisa menghentikanku.
5 – Akhir yang Sebenarnya
Aku diterima di universitas negeri top dengan beasiswa penuh.
Empat tahun kemudian, aku lulus dengan predikat cum laude.
Perusahaan besar di Jakarta langsung menawariku posisi dengan gaji awal Rp25 juta per bulan.
Hari aku resmi menandatangani kontrak kerja, Mama menelepon.
“Elena… Papa sakit. Biaya rumah sakit mahal… kamu bisa kirim uang?”
Suara yang dulu membuatku gemetar.
Sekarang terdengar asing.
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan.
“Aku akan bantu biaya pengobatan Papa. Tapi setelah itu, kita selesai.”
“Habis itu selesai maksudnya apa?”
“Aku bukan investasi. Aku bukan alat bayar utang. Aku anak yang seharusnya dilindungi.”
Di ujung telepon, hening.
Aku melanjutkan dengan tenang:
“Mulai hari ini, hidupku bukan milik kalian.”
Aku mentransfer biaya pengobatan.
Bukan karena rasa bersalah.
Tapi karena aku ingin benar-benar bebas tanpa hutang apa pun.
Beberapa bulan kemudian, aku pindah ke apartemen kecil di Jakarta Selatan.
Di balkon lantai 18, aku memandangi lampu kota yang berkelip seperti bintang jatuh.
Angin malam menyentuh wajahku.
Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan…
Aku merasa ringan.
Bukan karena balas dendam.
Bukan karena mereka kalah.
Tapi karena aku akhirnya memilih diriku sendiri.
Aku tidak lagi anak yang menunggu cinta.
Aku bukan perempuan yang terjebak dalam pernikahan.
Aku bukan korban yang diam.
Aku adalah Elena.
Dan kali ini, hidupku tidak akan lagi ditulis oleh tangan orang lain.
Melainkan oleh tanganku sendiri.